Tatung, Kedamaian di Tanah Seribu Kelenteng
Oleh Welldy Handoko

Perayaan Cap Goh Meh di Singkawang biasanya ditandai dengan
arak-arakan para Tatung menuju vihara atau kelenteng. Perayaan ini
dipercaya telah berlangsung turun temurun sejak 200 tahun yang lalu.

Dalam dunia spiritual dan ilmu pengobatan etnis Tionghoa, Tatung
atau Louya, diartikan sebagai “orang pintar”. Selama arak-arakan menuju
vihara, para Tatung berada di atas tandu, yang beralaskan pedang tajam
atau paku tajam seraya memamerkan kekebalan tubuh mereka.

Para Tatung ini menjadikan tubuh dan jiwa mereka seibarat medium
atau perantara untuk berkomunikasi dengan roh leluhur atau para dewa.
Dengan menggunakan Mantra dan Mudra tertentu, roh dewa dipanggil ke
muka altar untuk kemudian akan memasuki raga para Tatung.

Pemanggilan para Dewa atau roh leluhur ini biasa dilakukan dengan
alasan-alasan dan kepentingan tertentu, misalnya untuk melakukan
kegiatan pengobatan atau meminta nasehat yang dipandang perlu.

Sebagai wujud eksistensi terhadap perayaan Cap Go Meh, mereka
diharuskan menggumpulkan dana dari satu rumah ke rumah lainnya. Tentu
saja mereka yang bertugas mendatangi tiap-tiap rumah akan menutup tubuh
mereka dengan kostum naga.

Salah seorang penduduk lokal yang tampak dalam trailer video ini
bernama Ajung. Dia adalah seorang Tatung, demikian pula kelima anaknya.
Mereka adalah gambaran dari keluarga sederhana yang percaya bahwa
menjadi Tatung adalah takdir hidup yang harus mereka tempuh.

Lihat videonya di 
http://wisataloka.com/wisatalokatv/tatung-kedamaian-di-tanah-seribu-klenteng/


Salam,
TM. Dhani Iqbal



      

Kirim email ke