Yth Rekan milis,

Leaders are always looking specific things to do next Monday,
to make things happen.Leadership depends on having a unique vision,making 
strategic choices, finding the right tools and people to do the job and 
designing and enabling an organization to get it done.
Seperti sekarang ada 4 Pilar Presiden SBY yaitu pro-growth; pro-job; pro-poor; 
pro-environment.
Setiap senin atau jalan kemana saja sang Presiden tanya 
Menko/Menteri/Gubernur/Bupati; mana bukti misalnya pro-job;berapa orang yang 
dapat 
dipekerjakan minggu lalu,dan dipantau tiap senin.
Memantau cukup pakai teknologi komunikasi dan sekali-kali cek ke lapangan 
tentang Pilarnya.

Leadership is about listening and making the real connect with others.
It is a process of Envision, Enable, Empower and Energize.
Sehingga ada semangat menggebu dari para penyelenggara negara untuk sukses. 
Leader bukan posisi/jabatan tetapi proses dari hari kesehari,
sehingga mencapai sesuatu yang didambakan oleh rakyat setelah 65 tahun merdeka.

Kalau ada sesuatu yang terlihat hasil oleh rakyat mau term ketiga rakyat mesti 
mau.
Kalau tidak maka.......cukup sekian dulu.

Wassalam,
Bakri Arbie.


--- In gorontalomaju2020@yahoogroups.com, funcotan...@... wrote:
>
> 
> Pemimpin, Keberanian, dan Perubahan
> Oleh: Adjie Suradji
> 
> Terdapat dua jenis pemimpin cerdas, yaitu pemimpin cerdas saja dan pemimpin 
> cerdas yang bisa membawa perubahan.
> Untuk menciptakan perubahan (dalam arti positif), tidak diperlukan pemimpin 
> sangat cerdas sebab kadang kala kecerdasan justru dapat menghambat 
> keberanian. Keberanian jadi satu faktor penting dalam kepemimpinan 
> berkarakter, termasuk keberanian mengambil keputusan dan menghadapi risiko. 
> Kepemimpinan berkarakter risk taker bertentangan dengan ciri-ciri 
> kepemimpinan populis. Pemimpin populis tidak berani mengambil risiko, bekerja 
> menggunakan uang, kekuasaan, dan politik populis atau pencitraan lain.
> Indonesia sudah memiliki lima mantan presiden dan tiap presiden menghasilkan 
> perubahannya sendiri-sendiri. Soekarno membawa perubahan besar bagi bangsa 
> ini. Disusul Soeharto, Habibie, Gus Dur, dan Megawati.
> Soekarno barangkali telah dilupakan orang, tetapi tidak dengan sebutan 
> Proklamator. Soeharto dengan Bapak Pembangunan dan perbaikan kehidupan sosial 
> ekonomi rakyat. Habibie dengan teknologinya. Gus Dur dengan pluralisme dan 
> egaliterismenya. Megawati sebagai peletak dasar demokrasi, ratu demokrasi, 
> karena dari lima mantan RI-1, ia yang mengakhiri masa jabatan tanpa 
> kekisruhan. Yang lain, betapapun besar jasanya bagi bangsa dan negara, ada 
> saja yang membuat mereka lengser secara tidak elegan.
> 
> 
> Sayang, hingga presiden keenam (SBY), ada hal buruk yang tampaknya belum 
> berubah, yaitu perilaku korup para elite negeri ini. Akankah korupsi jadi 
> warisan abadi? Saatnya SBY menjawab. Slogan yang diusung dalam kampanye 
> politik, isu ”Bersama Kita Bisa” (2004) dan ”Lanjutkan” (2009), 
> seharusnya bisa diimplementasikan secara proporsional.
> Artinya, apabila pemerintahan SBY berniat memberantas korupsi, seharusnya 
> fiat justitia pereat mundusâ€"hendaklah hukum ditegakkanâ€"walaupun dunia 
> harus binasa (Ferdinand I, 1503-1564). Bukan cukup memperkuat hukum (KPK, MK, 
> Pengadilan Tipikor, KY, hingga Satgas Pemberantasan Mafia), korupsi pun 
> hilang. Tepatnya, seolah-olah hilang. Realitasnya, hukum dengan segala 
> perkuatannya di negara yang disebut Indonesia ini hanya mampu membuat 
> berbagai ketentuan hukum, tetapi tak mampu menegakkan.
> Quid leges sine moribus (Roma)â€"apa artinya hukum jika tak disertai 
> moralitas? Apa artinya hukum dengan sedemikian banyak perkuatannya jika moral 
> pejabatnya rendah, berakhlak buruk, dan bermental pencuri, pembohong, dan 
> pemalas?
> Keberanian
> Meminjam teori Bill Newman tentang elemen penting kepemimpinan, yang 
> membedakan seorang pemimpin sejati dengan seorang manajer biasa adalah 
> keberanian (The 10 Law of Leadership). Keberanian harus didasarkan pada 
> pandangan yang diyakini benar tanpa keraguan dan bersedia menerima risiko apa 
> pun. Seorang pemimpin tanpa keberanian bukan pemimpin sejati. Keberanian 
> dapat timbul dari komitmen visi dan bersandar penuh pada keyakinan atas 
> kebenaran yang diperjuangkan.
> Keberanian muncul dari kepribadian kuat, sementara keraguan datang dari 
> kepribadian yang goyah. Kalau keberanian lebih mempertimbangkan aspek 
> kepentingan keselamatan di luar diri pemimpinâ€"kepentingan rakyatâ€"keraguan 
> lebih mementingkan aspek keselamatan diri pemimpin itu sendiri.
> Korelasinya dengan keberanian memberantas korupsi, SBY yang dipilih lebih 
> dari 60 persen rakyat kenyataannya masih memimpin seperti sebagaimana para 
> pemimpin yang dulu pernah memimpinnya.
> Memang, secara alamiah, individu atau organisasi umumnya akan bersikap 
> konservatif atau tak ingin berubah ketika sedang berada di posisi puncak dan 
> situasi menyenangkan. Namun, dalam konteks korupsi yang kian menggurita, 
> tersisa pertanyaan, apakah SBY hingga 2014 mampu membawa negeri ini 
> betul-betul terbebas dari korupsi?
> Pertanyaan lebih substansial: apakah SBY tetap pada komitmen perubahan? Atau 
> justru ide perubahan yang dicanangkan (2004) hanya tinggal slogan kampanye 
> karena ketidaksiapan menerima risiko-risiko perubahan? Terakhir, apakah SBY 
> dapat dipandang sebagai pemimpin yang memiliki tipe kepemimpinan konsisten 
> dalam pengertian teguh dengan karakter dirinya, berani mengambil keputusan 
> berisiko, atau justru menjalankan kepemimpinan populis dengan segala 
> pencitraannya?
> Indonesia perlu pemimpin visioner. Pemimpin dengan impian besar, berani 
> membayar harga, dan efektif, dengan birokrasi yang lentur. Tidak ada pemimpin 
> tanpa visi dan tidak ada visi tanpa kesadaran akan perubahan. Perubahan 
> adalah hal tak terelakkan. Sebab, setiap individu, organisasi, dan bangsa 
> yang tumbuh akan selalu ditandai oleh perubahan- perubahan signifikan. Di 
> dunia ini telah lahir beberapa pemimpin negara yang berkarakter dan membawa 
> perubahan bagi negerinya, berani mengambil keputusan berisiko demi 
> menyejahterakan rakyatnya. Mereka adalah Presiden Evo Morales (Bolivia), 
> Ahmadinejad (Iran), dan Hugo Chavez (Venezuela).
> Indonesia harus bisa lebih baik. Oleh karena itu, semoga di sisa waktu 
> kepemimpinannyaâ€"dengan jargon reformasi gelombang keduaâ€"SBY bisa 
> memberikan iluminasi (pencerahan), artinya pencanangan pemberantasan korupsi 
> bukan sekadar retorika politik untuk menjaga komitmen dalam membangun 
> citranya. Kita berharap, kasus BLBI, Lapindo, Bank Century, dan perilaku 
> penyelenggara negara yang suka mencuri, berbohong, dan malas tidak akan 
> menjadi warisan abadi negeri ini. Sekali lagi, seluruh rakyat Indonesia tetap 
> berharap agar Presiden SBY bisa membawa perubahan signifikan bagi negeri ini.
> 
> Adjie Suradji, Anggota TNI AU
> 
> 
> 
> Powered by Telkomsel BlackBerry®
> 
> -----Original Message-----
> From: ruly_s...@...
> Sender: gorontalomaju2020@yahoogroups.com
> Date: Tue, 7 Sep 2010 03:53:36 
> To: <gorontalomaju2020@yahoogroups.com>
> Reply-To: gorontalomaju2020@yahoogroups.com
> Subject: [GM2020] Perwira Tentara Kritik Presiden SBY | Tribun Timur
> 
> Perwira Tentara Kritik Presiden SBY
> 
> http://www.tribun-timur.com/read/artikel/126859/Perwira-Tentara-Kritik-Presiden-SBY
> 
> ---
> This message was sent by ruly_s...@... via http://addthis.com.  Please note 
> that AddThis does not verify email addresses.
> 
> Make sharing easier with the AddThis Toolbar:  
> http://www.addthis.com/go/toolbar-em
>


Kirim email ke