Ajiiip,aje gile brooo ,bonusnya bukan 1bulan gaji broooo!!!!



                  Selasa, 2009 Agustus 04
                  Mau Jadi direksi BUMN? Inilah gaji para direksi BUMN kita! 
                  Tahukah Anda, direktur badan usaha milik negara kita ada yang 
bergaji Rp614 juta per bulan atau Rp7,3 miliar setahun? Itu pun belum termasuk 
tantiem Rp1,8 miliar per orang. Kedua sumber itu merupakan pendapatan resmi 
yang disetujui dalam rapat umum pemegang saham.

                  Lupakan sementara gaji gubernur Bank Indonesia yang sempat 
mencengangkan publik maupun DPR dengan Rp200 juta per bulan. Sebab, perusahaan 
milik pemerintah ternyata tak kalah hebat dalam memberi penghargaan kepada para 
manajemen puncaknya. Pun ketika perusahaan-perusahaan itu berkali-kali 
bermasalah dan membebani keuangan negara.

                  Data yang dihimpun oleh Divisi Riset & Pengembangan Bisnis 
Indonesia menunjukkan, bank BUMN dengan aset terbesar, PT Bank Mandiri Tbk, 
pada 2005 menyediakan anggaran Rp51,26 miliar untuk gaji serta tunjangan tujuh 
direkturnya dan Rp13,8 miliar untuk tujuh komisaris. Selain itu, juga 
disediakan tantiem senilai Rp26 miliar.

                  Bila dipukul rata saja asumsi semua direktur memperoleh 
pendapatan sama, termasuk direktur utama maka tiap direktur mendapatkan Rp614 
juta sebulan plus tantiem Rp1,8 miliar per tahun. Sementara komisaris 
memperoleh gaji Rp1,97 miliar per tahun plus tantiem Rp1,8 miliar.

                  Data ini di dapat dari laporan keuangan tahunan audited 
lengkap yang dikirim ke Bursa Efek Jakarta. Oleh karena itu, hanya BUMN yang 
telah menjadi perusahaan publik saja yang bisa ditelusuri secara faktual berapa 
pendapatan manajemen..

                  Beberapa perusahaan malah juga merinci berapa ke-pemilikan 
saham direksi/komisaris. Namun, karena hal itu memang tidak diatur secara jelas 
dalam ketentuan pasar modal, maka tidak semua perusahaan menyertakannya.

                  Di Amerika Serikat, manajemen wajib mengumumkan kepemilikan 
saham pada perusahaan yang tengah mereka kelola sebagai bentuk akun-tabilitas 
publik. Bahkan, pendapatan tiap direktur atau komisaris juga dicantumkan secara 
jelas sehingga jaringan berita seperti Bloomberg bisa setiap saat bisa 
menayangkan data siapa saja CEO berpendapatan paling besar di AS.

                  Pendapatan yang bisa di-bawa pulang direksi Bank Mandiri 
memang yang terbesar. Namun, bukan berarti direktur/komisaris BUMN lain bergaji 
kecil. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk, misalnya, memberikan gaji dan tunjangan 
Rp12,75 miliar dan Rp77,62 miliar pada 2005.

                  Angka itu jauh lebih besar dari tahun sebelumnya 
masing-masing Rp10,39 miliar dan Rp45,47 miliar.

                  Saat ini BRI dikelola tujuh direktur dan tujuh komisaris. 
Dengan demikian, setiap orang rata-rata memperoleh Rp6,45 miliar per tahun atau 
Rp537,79 juta per bulan. Tentu saja nilai sebenarnya akan berbeda karena gaji 
dirut pasti lebih besar dari direktur.

                  Namun, Direktur BRI Ahmad Askandar mengaku tidak menerima 
sebesar itu. "Seingat saya total yang saya terima [gaji dan tantiem] Rp2,5 
miliar. Kalau pajak diperhitungkan paling besar Rp3,5 miliar."

                  Menurut Askandar dalam satu tahun gaji hanya berkisar Rp1 
miliar sementara tantiem berkisar Rp1,5 miliar. "Besarnya tantiem tergantung 
posisi, perbandingannya dirut 100, wadirut 95, dan komisaris 50."

                  Manajemen PT Bank Negara Indonesia Tbk, bank dengan aset 
terbesar ketiga, ternyata berpendapatan paling kecil di antara Mandiri dan BRI. 
Pada 2005, gaji dan tantiem direksi/komisaris ditetapkan Rp14,23 miliar dan 
15,68 miliar.

                  Pada 2004, tidak tersedia anggaran tantiem karena BNI baru 
saja kebobolan Rp1,2 triliun akibat letter of credit bodong. Sementara gaji 
pada disediakan Rp13,49 miliar.

                  Saat ini BNI dikelola oleh 10 direktur dan tujuh komisaris. 
Dengan perhitungan yang sama dengan BRI, maka pendapatan masing-masing 
pengelola bank itu adalah Rp1,75 miliar atau Rp146,6 juta per bulan.

                  Malah, menurut pengakuan Direktur BNI Bien Subiantoro, gaji 
bulanan yang ia terima Rp81 juta. Namun, jumlah itu di luar tantiem. "Kalau 
BUMN lain saya tidak tahu ya. Tetapi yang kami terima segitu."

                  Bagaimana dengan BUMN lain? PT Perusahaan Gas Negara Tbk pada 
2005, menganggarkan Rp8,59 miliar untuk gaji direksi.Untuk komisaris, gaji yang 
diberikan Rp3,97 miliar. Pemberian tantiem tidak jelas karena digabungkan 
dengan dana pengembangan usaha sebesar Rp180 miliar.

                  Bila tidak memperhitungkan tantiem, seorang direktur PGN 
membawa pulang Rp1,23 miliar per tahun atau Rp102,34 juta per bulan. Sementara 
komisaris Rp567,28 juta per tahun atau Rp47,27 juta per bulan. BUMN itu 
dikelola oleh tujuh direktur dan tujuh komisaris.

                  PT Aneka Tambang Tbk memberikan gaji Rp12,95 miliar pada 
2005. Itu artinya 10 orang anggota dewan direksi dan komisaris mengantongi 
masing-masing Rp1,29 miliar per tahun atau Rp110 juta per bulan. Tidak tersedia 
data mengenai tantiem yang diberikan.

                  Besaran tantiem juga tidak dijelaskan dalam laporan keuangan 
PT Bukit Asam Tbk. Namun, perusahaan ini menggaji direksi dan komisarisnya 
Rp5,9 miliar pada 2005. Itu berarti masing-masing orang mengantongi Rp536,36 
juta per tahun atau Rp44,69 juta per bulan.

                  Bila dibandingkan dengan perusahaan swasta, gaji direksi BUMN 
masih cukup kompetitif. PT Bank Niaga Tbk misalnya, memberikan gaji dan tantiem 
bagi 14 anggota dewan direksi dan komisaris masing-masing Rp23,47 miliar dan 
Rp21,8 miliar pada 2005.

                  Dengan jumlah itu maka setiap orangnya memperoleh Rp3,2 
miliar per tahun atau Rp265,04 juta per bulannya.

                  Sedangkan gaji terbesar direksi BUMN untuk sementara jatuh 
pada Bank Mandiri.. Pendapatan pengelola bank yang lebih dari seperempat 
kreditnya bermasalah ini hanya bisa disaingi oleh gaji koleganya di PT HM 
Sampoerna Tbk.

                  Perusahaan rokok ini menghargai para eksekutifnya Rp166 
miliar pada 2005. Besarnya tantiem sama sekali tidak disebutkan. Namun dengan 
gaji saja, 16 anggota dewan direksi dan komisaris membawa pulang Rp10,37 miliar 
per tahun atau Rp864,5 juta per bulan!

                  Jika dibandingkan, pendapatan tahunan yang dibawa pulang 
seorang direktur kedua perusahaan itu pada 2005 hanya berselisih tipis yakni 
Rp10,1 miliar (Bank Mandiri) dan Rp10,37 miliar (Sampoerna).

                  Namun, gaji manajemen Sampoerna itu terhitung turun 
dibandingkan 2004 yang mencapai Rp202 miliar atau Rp12,62 miliar per direksi 
dalam satu tahun tanpa tantiem. Sebaliknya, Bank Mandiri mengalami kenaikan 
dibandingkan dengan pendapatan direksi 2004.

                  Saham direksi

                  Selain gaji yang besar, direksi BUMN maupun perusahaan 
terbuka lainnya masih memiliki opsi saham yang disediakan perseroan. Kendati 
tidak semua mau mencantumkan, beberapa BUMN masih sempat merilis berapa saham 
yang dimiliki para direktur.

                  Empat direktur Bukit Asam misalnya kini memiliki 576.000 
lembar saham. Ismeth Harmaini (dirut) memegang 200.000 lembar. Tiga direktur AC 
Purba 150.00 lembar, Mahbub Iskandar 138.000 dan Abdul Aziz Nazori memegang 
88.000 lembar. Bila merujuk harga saat ini Rp2.900, maka saham Ismeth bernilai 
Rp580 juta.

                  Direksi PGN lebih besar lagi. WMP Simandjutak, Direktur 
Utama, kini memiliki 1,45 miliar lembar saham. Belum lagi dua direktur lain 
yakni Djoko Pramono dan Sutikno masing-masing dengan 251 juta dan 544 juta 
lembar saham. Saham PGN kini diperdagangkan pada level Rp12.100.

                  Pertanyaannya sekarang, apa sebenarnya ukuran penentuan gaji 
direksi perusahaan milik pemerintah? Menurut salah satu direktur BUMN saat ini 
tidak ada ukuran yang jelas. Jadi, menurut dia, tidak ada standard berapa 
seorang direktur layak memperoleh gaji dan tantiem.

                  Akibatnya, penghargaan yang diperoleh kadang tidak 
mencerminkan kinerja BUMN yang dikelola. Ada BUMN dengan kinerja buruk tapi 
manajemennya bergaji besar, ada pula yang sebaliknya.

                  Namun, Askandar mengatakan tantiem manajemen BUMN masih jauh 
lebih rendah bila dibandingkan perusahaan swasta. "Kami [BRI] itu paling besar 
0,75% dari laba, jauh dari Astra yang bisa 7,5%."

                 
                 
            
     



--------------------------------------------------------------------------------
Terhubung langsung dengan banyak teman di blog dan situs pribadi Anda? 
Buat Pingbox terbaru Anda sekarang! 


--------------------------------------------------------------------------------



Internal Virus Database is out of date.
Checked by AVG - www.avg.com 
Version: 8.5.283 / Virus Database: 270.11.15/2004 - Release Date: 03/16/09 
07:04:00



--------------------------------------------------------------------------------



Internal Virus Database is out of date.
Checked by AVG - www.avg.com 
Version: 8.5.283 / Virus Database: 270.11.15/2004 - Release Date: 03/16/09 
07:04:00

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit my facebook at [email protected]
thanks for joinning this group.
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

<<image/jpeg>>

Kirim email ke