A. Pendahuluan 
  
Ikan sidat, Anguilla spp merupakan salah satu jenis ikan yang laku di pasar 
internasional (Jepang, Hongkong, Belanda, Jerman, Italia dan beberapa negara 
lain), dengan demikian ikan ini memiliki potensi sebagai komoditas ekspor. 

Di Indonesia, ikan sidat banyak ditemukan di daerah-daerah yang berbatasan 
dengan laut dalam seperti pantai selatan Pulau Jawa, pantai barat Sumatera, 
pantai timur Kalimantan, pantai Sulawesi, pantai kepulauan Maluku dan Irian 
Barat. 

Tidak seperti halnya di negara lain (Jepang, dan negara-negara Eropa), di 
Indonesia sumberdaya ikan sidat belum banyak dimanfaatkan, padahal ikan ini 
baik dalam ukuran benih maupun ukuran konsumsi jumlahnya cukup melimpah. 

STOP PRESS!!
===============================================
*PELATIHAN LENGKAP BUDIDAYA DAN BISNIS SIDAT!*
*******BAWA 3 ORANG, GRATIS 1 ORANG*******
===============================================
Agromania bekerja sama dengan Direktorat Jendral
Perikanan Budidaya, tanggal 28-29 Maret 2010 akan
mengadakan pelatihan lengkap Budidaya dan Bisnis
Ikan Sidat. Pelatihan juga akan diisi dengan praktek
di pusat budidaya ikan sidat. Pelatihan diisi para
ahli serta pelaku langsung budidaya dan bisnis sidat
paling bonafide. Untuk menjamin kesediaan tempat,
segera daftar dari sekarang di http://tiny.cc/sidat
Dapatkan CD dan 2 DVD Budidaya Ikan Sidat.
INFO: 0217199660 / 0 8 1 1 1 8 5 9 2 9 (SMS)
===============================================

Tingkat pemanfaatan ikan sidat secara lokal (dalam negeri) masih sangat rendah, 
akibat belum banyak dikenalnya ikan ini, sehingga kebanyakan penduduk Indonesia 
belum familiar untuk mengkonsumsi ikan sidat. Demikian pula pemanfaatan ikan 
sidat untuk tujuan ekspor masih sangat terbatas. 

Agar sumberdaya ikan sidat yang keberadaannya cukup melimpah ini dapat 
dimanfaatkan secara optimal, maka perlu dilakukan langkah-langkah strategis 
yang diawali dengan mengenali daerah yang memiliki potensi sumberdaya sidat 
(benih dan ukuran konsumsi) dilanjutkan dengan upaya pemanfaatannya baik untuk 
konsumsi lokal maupun untuk tujuan ekspor. 


B. Sumberdaya Ikan Sidat Di Indonesia 

Indonesia paling sedikit memiliki enam jenis ikan sidat yakni: Anguilla 
mormorata,  Anguilla celebensis,  Anguilla ancentralis, Anguilla borneensis, 
Anguilla bicolor bicolor dan Anguilla bicolor pacifica. Jenis-jenis ikan 
tersebut menyebar di daerah-daerah yang berbatasan dengan laut dalam. Di 
perairan daratan (inland water) ikan sidat hidup di perairan estuaria (laguna) 
dan perairan tawar (sungai, rawa dan danau) dataran rendah hingga dataran 
tinggi. 


C. Upaya Dalam Meningkatkan Pemanfaatan Sumberdaya Ikan Sidat 
 
1. Inventarisasi Potensi Sumberdaya Ikan Sidat di Indonesia 

Data tentang penyebaran dan potensi ikan sidat perlu dikumpulkan dan 
dianalisis. Pada saat ini data-data hasil penelitian tersebar di beberapa 
perguruan tinggi dan lembaga-lembaga penelitian serta lembaga lainnya. Apabila 
dihimpun, akan tampak di lokasi-lokasi mana saja yang masih harus dilakukan 
inventarisasi dan informasi apa saja yang masih harus dikumpulkan sehingga 
datanya dapat dipetakan. 

Kegiatan inventarisasi ini harus dilakukan hingga dihasilkannya suatu "peta 
distribusi dan potensi ikan sidat di Indonesia". Melalui peta tersebut pengguna 
dapat mengetahui dengan mudah mengenai penyebaran jenis, kelimpahan dan stadia 
ikan sidat yang ada di perairan Indonesia. 
  
2. Sosialisasi Pemanfaatan Sumberdaya Ikan Sidat Kepada Masyarakat 

Sebagaimana telah diungkapkan sebelumnya bahwa sebagian besar masyarakat 
Indonesia belum mengenal bentuk / rupa ikan sidat dan mencicipi rasanya. Agar 
ikan sidat dapat dikenal dan dapat diterima sebagai ikan konsumsi oleh 
masyarakat secara luas maka harus ada usaha-usaha penebaran ikan sidat di 
daerah-daerah yang secara alami tidak mungkin akan didapatkan ikan sidat (di 
luar jalur ruayanya). 

Benih ikan sidat yang ditebar di suatu perairan (sungai, rawa dan danau) akan 
tumbuh dan ketika suatu saat tertangkap oleh pemancing atau penangkap ikan, 
maka mereka akan berusaha untuk mengenalinya (mengenal / mengetahui nama 
jenisnya) dan akan mencoba untuk mengkonsumsinya. Melalui usaha ini, lambat 
laun masyarakat akan menerima ikan sidat sebagai ikan konsumsi. Apabila 
masyarakat telah mengenal dan menerima ikan sidat sebagai ikan konsumsi, 
selanjutnya diharapkan masyarakat akan membutuhkan ikan tersebut dan ikan ini 
menjadi komoditas yang diperjualbelikan di pasar lokal. 

Sejalan dengan usaha penebaran ikan sidat di perairan-perairan umum, dilakukan 
pula pengenalan produk-produk olahannya kepada masyarakat (misalnya: dendeng 
sidat, pepes, presto, sop, kobayaki, sidat asap dan lain-lain), baik melalui 
media masa elektronik maupun media masa cetak dan pameran-pameran. 

Kegiatan ini membutuhkan waktu yang cukup lama (3 - 5 tahun), namun harus 
dilakukan bila ingin agar masyarakat mengenal, menyenangi dan membutuhkannya. 
Sasaran akhir dari kegiatan ini adalah meningkatkan permintaan masyarakat akan 
ikan sidat. Apabila permintaan ikan ini telah meningkat maka untuk memenuhinya 
otomatis akan memacu kegiatan penangkapan di tempat yang merupakan daerah 
penyebarannya dan juga akan memacu kegiatan budidayanya. Ikan sidat adalah ikan 
yang bersifat katadromos artinya ikan ini akan beruaya ke laut dalam ketika 
akan bereproduksi. Karena ikan ini tidak mungkin berkembangbiak di lokasi yang 
kita tebari, maka upaya penebaran ikan ini harus dilakukan secara berulang kali.
 
Dalam hal kegiatan penebaran (stocking) ke perairan umum, perlu di awali dengan 
uji coba pada perairan yang luasnya terbatas (misalnya di situ) dan dikaji 
dampaknya terhadap populasi jenis ikan lain yang ada di perairan tersebut. Dari 
kajian ini diharapkan akan diperoleh informasi mengenai dampak (positif atau 
negatif) dari kegiatan stocking tersebut. Stocking benih ikan sidat ini 
nantinya diharapkan selain akan dikenali oleh masyarakat juga akan mampu 
meningkatkan produksi ikan sidat dari perairan umum sebagaimana yang telah 
dilakukan di Australia. 
 
3. Pengembangan Teknik Penangkapan Ikan Sidat di Perairan Umum 

Apabila ikan sidat telah dikenal dan dibutuhkan oleh masyarakat maka kegiatan 
penangkapan ikan sidat di perairan umum akan meningkat. Untuk mengarahkan agar 
kegiatan penangkapan ini tidak bersifat destruktif bahkan mengancam 
kelestariannya maka perlu diperkenalkan teknik penangkapan yang sederhana dan 
ramah lingkungan. Di samping itu juga perlu dipikirkan dari awal, upaya-upaya 
konservasi di lokasi-lokasi tertentu yang merupakan jalur ruaya reproduksi ikan 
tersebut sehingga proses recruitment ikan tersebut tidak terganggu. 

4. Pengembangan Teknik Budidaya Ikan Sidat 

Sejalan dengan upaya sosialisasi ikan sidat kepada masyarakat, upaya pengenalan 
teknik budidayanya pun perlu dilakukan. Teknik budidaya sidat yang perlu 
diperkenalkan kepada masyarakat (petani ikan) adalah teknik budidaya yang 
sederhana yang tidak membutuhkan banyak modal. Agar biaya produksi pada 
budidaya ikan sidat relatif rendah maka petani perlu diberi informasi yang 
memadai mengenai pakan sidat. Hal ini karena 50-60% dari biaya produksi berasal 
dari komponen pakan, sehingga apabila pakan sidat murah maka biaya produksi 
akan menjadi murah (rendah). 

Ikan sidat merupakan ikan karnivora murni yang membutuhkan pakan berupa hewan 
lain. Apabila ikan tersebut diberi pakan buatan maka kadar protein pakannya 
harus tinggi (> 45%) sehingga harga pakannya mahal, hal ini akan menyebabkan 
biaya produksi dalam budidaya sidat menjadi tinggi sehingga harga sidat bila di 
jual akan tinggi pula dan ini akan menghambat sosialisasi ikan sidat sebagai 
ikan konsumsi masyarakat. 

Untuk menyiasati agar biaya produksi rendah, maka petani harus dibiasakan untuk 
mulai menggunakan sumber-sumber protein yang saat ini melimpah namun tidak / 
belum dimanfaatkan secara maksimal, misalnya: keong mas, limbah pengolahan ikan 
dan ternak atau hewan lain yang dapat dibudidayakan secara sederhana dan murah 
(misalnya: bekicot, cacing tanah dan lain-lain). 

Pengembangan teknik budidaya sidat sederhana yang dilakukan oleh masyarakat 
(petani kecil) dengan skala usaha relatif kecil tetapi pelaksananya (jumlah 
petani yang terlibat) banyak diharapkan pada akhirnya mampu menghasilkan 
produksi ikan sidat yang cukup besar dengan harga yang relatif rendah sehingga 
terjangkau oleh masyarakat. 

Bilamana petani-petani ikan sidat telah banyak jumlahnya dan produksi dari 
hasil budidayanya telah cukup tinggi dan stabil maka produksi yang tadinya 
untuk tujuan konsumsi lokal dapat dialihkan ke tujuan ekspor. 

Agar supaya mutu produk petani dan kontinuitas produksi lebih terjamin maka 
petani ikan perlu menghimpun diri dalam asosiasi-asosiasi yang mampu mandiri 
dan mampu mengembangkan usahanya ke arah yang lebih maju. 

Bersamaan dengan pengembangan budidaya di masyarakat dan oleh masyarakat, 
lembaga penelitian dan perguruan tinggi harus melakukan penelitian-penelitian 
yang mengarah pada pemecahan masalah-masalah yang dihadapi oleh petani 
pelaksana dan penciptaan teknologi yang lebih maju dengan tidak mengesampingkan 
aspek produktivitas dan efisiensi. 
 
5. Pengembangan Teknik Pengolahan Produk Ikan Sidat 

Untuk meningkatkan daya terima masyarakat akan ikan sidat dan nilai tambah ikan 
sidat itu sendiri, maka produk yang di jual ke konsumen seyogyanya bukan hanya 
dalam bentuk segar, tetapi juga dalam bentuk olahan. Oleh karena itu maka 
kajian-kajian tentang proses pengolahan ikan sidat perlu dikembangkan terutama 
produk olahan yang sangat diminati oleh konsumen lokal ataupun konsumen 
internasional. 
 
 
D. Penutup 
 
Potensi sumberdaya ikan sidat yang cukup besar namun pemanfaatannya belum 
optimal sebenarnya mampu memberikan manfaat yang signifikan bagi masyarakat 
melalui penciptaan lapangan usaha dan penyerapan tenaga kerja dalam 
kegiatan-kegiatan penangkapan, budidaya, pengolahan dan tataniaganya apabila 
diupayakan secara sungguh-sungguh dan bijaksana. Untuk itu maka perlu dilakukan 
upaya-upaya yang sistematis dan rasional ke arah pemanfaatannya dengan tetap 
memperhatikan aspek kelestarian dan keberlanjutan. 
 
Sumber: Ridwan Affandi, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian 
Bogor.
Dalam Prosiding Seminar Riptek Kelautan Nasional

Daftar Pustaka 

Affandi, R. 2001. Budidaya Ikan Sidat. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan 
Institut Pertanian Bogor.   
Matsui, I. 1970. Theory and Practice of Eel Culture. Ameriind Publishing Co. 
PVT. LTD.
Tesch, F. W. 1977. The Eel. Biology and Management of Anguilla Eels. Chapman 
and Hall. London.

===============================================
*PELATIHAN LENGKAP BUDIDAYA DAN BISNIS SIDAT!*
SEGERA DAFTAR SEKARANG DI http://tiny.cc/sidat
===============================================



Kirim email ke