Pak Noor,
Inget sejarah, akhir masa kekuasaan presiden pertama inflasi 600%, rakyat
juga susah makan antre beras jauh lebih parah dari sekarang, segelintir elit
juga tetap bermewah-mewahan. Ideologi ekonomi kirinya ngga bisa dibilang
berhasil..






On 5/30/08, Noor Haryono <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>   Memang susah kalau negara sudah terlanjur terjerat utang dan hidupnya
> sangat dependent terhadap pasar (baca : para kapitalis). Pilihan2 yang
> bisa diambil hanya optimasi lokal, yang selalu berdampak tidak memuaskan
> di sana-sini. Nyaris tidak pernah ada kebijakan yang radikal dan
> memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat. Terlebih para
> pengambil kebijakannya terlalu risk averse thd reaksi pasar, tapi sangat
> berani mengambil resiko utk mencelakai rakyat. Mungkin memang realita
> yang harus kita akui, bahwa bagi Indonesia pasar (sekali lagi baca :
> para kapitalis, yg bbrp gelintir jumlahnya) jauh lebih berkuasa daripada
> rakyat yang lebih dari 200 juta.
>
> Tentu kondisi ini tidak langsung terjadi begitu saja sejak RI merdeka
> tahun 1945. Dalam pandangan saya, hanya presiden pertama RI yang
> sungguh2 negarawan, yang mempergunakan kekuasaannya semaksimal mungkin
> untuk kepentingan bangsa. Presiden2 selanjutnya, kita tahu track record
> kebijakannya :-(
>
> Deni Ridwan wrote:
> >
> > Saya sepakat dgn Bang Poltak,
> >
> > Tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan harga SUN pada saat ini salah
> > satunya merupakan kontribusi atas ketidak percayaan market atas APBN
> > akibat tingginya subsidi BBM.
> > Kalau harga BBM dipertahankan tapi nilai rupiah kemudian anjlok, sama
> > artinya pemerintah (dan BI) mempertahankan harga BBM tetap tapi
> > "menaikkan" harga semua barang lainnya.
> > Belum lagi kalau kita bicara ttg harga SUN. Jika harga SUN anjlok
> > tentu akan menambah cost of fund yg harus dikeluarkan pemerintah dalam
> > rangka menutup defisit anggaran (yg most likely bakal dibiayai dgn
> > menerbitkan SUN).
> >
> > Mohon koreksinya.
> >
> > Salam,
> > Kangdeni
> >
>
> 
>


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke