Saya kok merasa ini bukan OOT, jadi saya hialngkanlah OOT itu.... Menurut Bank Dunia, yang dimaksud masyarakat miskin adalah yang penghasilannya dibawah $1 kan? artinya kalo sekeluarga adalah 4 orang (Bapak, Ibu + 2 anak) maka Rp. 40000 per keluarga perhari....(kok saya punya feeling kalo angka 30jt itu masih understated...)
Berarti dari Rp.40 rb : Rp. 30.2 rb untuk makan dibagi empat artinya Rp. 7500 per orang, kalo dibagi 3 kali makan artinya cuma Rp. 2500 persekali makan....Sapa yg ahli gizi disini? bisakah dengan uang 7500 memenuhi gizi 2100 kkal perhari? Untuk merokok 7,9 %... artinya kan Rp. 3,100 untuk rokok...ini kira2 sama dengan 1/3 bungkus...make sense sih...tapi itu sama dengan harga 3 butir telur untuk anak dan ibunya... Yang paling menyedihkan dari statistik dibawah adalah bahwa untuk pendidikan cuma 2.4% artinya 1 keluarga hanya menyisihkan kurang dari Rp.1000 per hari atau sekitar Rp. 30.000 perbulan untuk menyekolahkan anak2nya...Bagaimana mungkin mereka akan keluar dari garis kemiskinan, tanpa pendidikan yang baik? kecuali anaknya jenius super duper sehingga bisa menarik beasiswa? Saya kira cuma ada satu jalan...naikkan cukai atau pajak rokok setinggi mungkin, kalo perlu 1 batang rokok harganya harus diatas $1 (jadi tak mungkin mereka merokok).... kampanye stop smoking harus terus digalakan... Btw, saya pakai kriteria miskin $1 dengan rate 10.000 padahal rate tukar 9300 (overstated). Kalo pake kriteria miskin versi Indonesia Rp. 6800 perhari alias 73 sen dollar, gambaran diatas sangat menyedihkan bukan? jelas juga sih sebenarnya bahwa standar kemiskinan Indonesia terlalu rendah..... --- In [email protected], anton ms wardhana <ari.am...@...> wrote: > > ini mungkin masuk kategori OOT > > niatnya sih ingin menambah informasi mengenai inflasi dan cabe merah, yakni > soal alokasi pemenuhan kebutuhan dasar. mengingat 75% alokasi dana adalah > cari makan, jangan remehkan bawang merah :p > > di sisi lain, ada info soal alokasi belanja rokok. setidaknya menurut > statistik ini, rokok menjadi kebutuhan dasar melebihi bayar listrik :) > > *BR, ari.ams > * > > ---------- Pesan terusan ---------- > Tanggal: 1 Juli 2010 15:42 > Subjek: BPS Heran Rokok Belanja Terbesar si Miskin > > *BPS Heran Rokok Belanja Terbesar si Miskin > * "Faktanya mereka ngrokok meski gizi nol, dan mabok iya." > > Kamis, 1 Juli 2010, 15:14 WIB > Heri Susanto, Agus Dwi Darmawan > DR. Rusman Heriawan (Kepala Badan Pusat Statistik) > (Vivanews/Nurcholis Anhari Lubis) > > VIVAnews - Merilis angka kemiskinan per Maret 2010 sebanyak 31,02 > juta, Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan bahwa dominasi > pengeluaran utama si miskin, 73,5 persen adalah untuk makan. Angka ini > hanya berubah sedikit dibandingkan tahun lalu yang tercatat 73,6 > persen. > > Menurut Rusman, makan menjadi kebutuhan dasar yang dicari pada orang > miskin. Setelah itu mereka baru mengalokasikan sebagian pendapatannya > untuk pendidikan dan transportasi dan sisanya untuk kesehatan. > > Secara rinci, Rusman memaparkan bahwa komoditi makanan yang dikonsumsi > orang miskin itu adalah beras untuk lingkungan perkotaan dengan porsi > 25,2 persen, sedang pedesaan mencapai 34,11 persen. > > Meski miskin, kebanyakan mereka juga tercatat memenuhi kebutuhan untuk > pengeluaran berupa rokok kretek filter sebesar 7,93 persen untuk > perkotaan dan di pedesaan sebesar 5,9 persen. > > "Meski merokok itu tidak ada gizi, tetap saja merokok ini kami catat > karena turut menjadi aktivitas pengeluaran mereka," kata Rusman di > Kantor BPS, Kamis 1 Juli 2010. > > Padahal sudah banyak yang tahu bahwa gizi rokok adalah 'nol' untuk > memenuhi kebutuhan kalori manusia sebesar 2100 kkal per hari. > "Faktanya mereka ngrokok meski gizi nol, dan mabok iya," ujar Rusman > mengungkapkan keheranan. > > Selain beras diurutan pertama dalam pengeluaran si miskin dan rokok > menempati urutan kedua, pengeluaran lainnya untuk mereka yang miskin > yakni teralokasi dalam pembelian untuk telur ayam ras 3,42 persen (di > perkotaan) dan 2,61 persen (di pedesaan), gula pasir 3,36 persen (di > perkotaan) dan 4,34 persen (di pedesaan), mie instan 2,97 persen (di > perkotaan) dan 2,51 persen (di pedesaan), tempe 2,24 persen (di > perkotaan) dan 1,91 persen (di pedesaan), tahu 2,01 persen (di > perkotaan) dan 1,55 persen (di pedesaan) bawang merah 1,36 persen (di > perkotaan) dan 1,66 persen (di pedesaan) dan sebesar 1,23 untuk kopi > di perkotaan. > > Pengeluaran lain untuk perumahan yakni 8,43 persen untuk di kota dan > 6,11 untuk di pedesaan. Pengeluaran listrik sebesar 3,30 persen di > perkotaan dan sebesar 1,87 persen di pedesaan. Untuk angkutan sebesar > 2,48 di perkotaan dan 1,19 persen dipedesaan. Untuk alokasi > pengeluaran pendidikan sebesar 2,4 persen di perkotaan dan 1,16 di > pedesaan. > VIVAnews > > http://bisnis.vivanews.com/news/read/161614-bps-heran-rokok-belanja-terbesar-si-miskin > ----- > > > [Non-text portions of this message have been removed] >
