Hello basuki,

Monday, January 2, 2006, 4:54:02 PM, you wrote:

bs> Kalau di Surabaya , cobalah maen ke daerah area pasar demak ,
bs> disana ada beberapa fasilitas recycle ..

hehehe, ini juga tempat main saya kalo cari barang loakan, terutama
besi. percayalah, yg dimaksud mas bas sebagai fasilitas recycle ini
bukanlah menggunakan peralatan yg canggih atau standar industri yg
ketat. melainkan menggunakan tenaga2 buruh kasar, kuli yg gak sadar
apa bahayanya proses2 "recycle" ini. dikerjakan manual dg alat2 yg
alakadarnya.

bs> Gini saja ,kalau soal environment ,
bs> saya selalu melihat site ini
bs> http://www.epa.gov/
bs> atau
bs> http://www.epa.gov/epaoswer/hazwaste/recycle/ecycling/basic.htm#reuse

bs> Sebagai referensi , Pemerintah Indonesia melalui KLH (Kementrian
bs> Lingkungan Hidup) atau dulu via Bappedal (Badan Pengendalian
bs> Dampak Lingkungan) sering menggunakan referensi dari EPA
bs> (Environmental protection agency) untuk membuat referensi
bs> pengelolaan lingkungan di Indonesia

maaf mas bas, dari web site itu hanya dikutip masalah pemanfaatan
(re-use) perangkat komputer dg status: LAYAK PAKAI. dan saya yakin
akan sangat banyak kriteria dan persyaratan yg hrs ditempuh agar
komputer bekas yg akan disumbangkan itu lolos.

faktanya, yg kita perdebatkan belakangan ini, mengenai impor pc bekas
tdk-lah seperti itu. kebanyakan bener2 sampah, seperti yg sdh saya
tulis sebelumnya, para importir dan broker di luar negeri memang dg
sengaja mengirimkan sampah. bangsa kita memulungnya dg berbagai alasan
dan memang pd akhirnya yg sampai ke end user, terlihat baik2 saja.
tapi coba kita lebih kritis, kemana sisanya yg lebih banyak lagi? di
beberapa kota, saya mendengar para importir ini sampai menyewa gudang
dan setelah tdk muat, ditanam begitu saja dalam tanah.

dlm versi yg lain, mas taufik malah menyatakan dibuang ke laut!

memang barang2 rongsokan ini tdk mudah terlihat begitu saja, karena
harus diingat bahwa masuknya barang2 ini 1/2 gelap, karena ada aturan
yg melarang sebenernya. perilaku kongkalikong dan korupsi inilah yg
membuat para pemain impor pc sampah ini bekerja sembunyi2 dan kita tdk
pernah tahu bagaimana sesungguhnya yg terjadi.

beberapa waktu lalu, sebelum krisis ekonomi 1997 dan sesudahnya, ada
banyak sekali banjir barang elektronika bekas. sampai2 di toko2 kecil
di perumahan, barang2 ini dipajang bebas. istilahnya dulu barang eks
pelabuhan. nyatanya? barang2 itu memang sengaja diimpor bekas, aslinya
adalah sampah di negaranya. ketika itu saya lihat banyak barang dari
rumah tangga dari jepang (mungkin karena merk-nya familier di sini).

masih ingat kisah impor pc bekas beberapa waktu lalu dg alasan untuk
pendidikan? sebagian besarnya ternyata tdk bisa digunakan lagi. ini
fakta yg sudah pernah terjadi. beberapa waktu lalu, sebuah grup media
besar jg pernah berencana memasukkan pc bekas, namun setelah dilihat
kondisi di negara asalnya, ternyata sangat tdk layak dan mereka tdk
mau melakukan rekondisi. bahkan ujung2nya mereka bersedia membayar
asalkan barang2 itu bisa masuk ke indonesia (mereka yg menawarkan pc
bekas ini - dg dalih program bantuan). syukurlah grup media tsb pada
akhirnya menolak bantuan terselubung tsb.

fakta2 itu akan sangat mengundang perdebatan tiada akhirnya. namun
seharusnya kita belajar, hampir semuanya ternyata membawa mudharat
ketimbang manfaat. sampai di sini, secara makro kita tentu mudah utk
mengambil kesimpulan mana yg sebaiknya dilakukan?

kembali ke soal microsoft, mestinya kita bisa meminta supaya mereka
menyumbang dg barang yg lebih layak, baru, bukan bekas. itu kalau
benar mereka entitas yg peduli dan menghargai martabat bangsa ini.

dari web site yg sama:

http://www.epa.gov/epaoswer/non-hw/recycle/jtr/comm/electron.htm

1. Electronics waste may also contain hazardous materials and can
contribute heavy metals to the overall waste stream if disposed of
improperly. Some of this material includes mercury, lead, zinc, and
chromium. Cathode ray tubes (CRTs), from computer monitors and
televisions, contain leaded glass and are one specific type of
hazardous waste. Although hazardous, some recyclers have developed a
process to separate the CRT funnel from the front panel glass if
monitors are separated from the waste stream. The CRT is crushed and
the leaded glass and metal are further separated. The glass is then
sold and made back into CRT glass, and the metal is sold and recycled
as scrap.

2. Plastic poses one of the biggest challenges in recovering material
from electronic equipment for two reasons. First, plastics are often
attached to these other materials such as metal screws and inserts,
coatings and paints, foams, and labels. If not separated from each
other, these other materials will contaminate the plastics. Second,
manufacturers use many different kinds of plastic in electronic
equipment and it is both difficult and costly to sort for utilization
in markets requiring single resin feedstocks. There are also limited
markets for the mixed plastics stream. Recently, however, these
plastics have found a market in roadbed fill. In the future, EPA hopes
these plastics can be used in flooring, computer, and automotive
parts.

so, dig more deeper. search informasi lebih banyak lagi. beberapa
fakta penting lainnya:

1. pemerintah indonesia tdk punya fasilitas pengolah limbah elektronik
2. tdk ada mekanisme atau sistem yg mengarahkan masyarakat utk tertib
   melakukan pengolahan limbah elektronik. jangankan elektronik, utk
   limbah rumahtangga saja berapa banyak diantara kita yg memisahkan
   limbah padat, cair, bahan2 yg bisa dan ditandai recycle?
3. industri di negeri ini juga belum memiliki komitmen jelas utk dapat
   memanfaatkan bahan2 recycle sebagai bahan baku, dg pertimbangan ada
   ketersediaan bahan baku melimpah tanpa hrs memanfaatkan bahan hasil
   recycle, kondisi ini berbeda dg situasi di negara2 maju yg minim &
   mahal bahan baku
4. belum pernah ada pemanfaatan recycle komponen elektronik, karena pd
   umumnya komponen elektronik kalo rusak ya sudah tamat, kecuali utk
   keperluan "kanibalisme" yg kebutuhannya tentu amat terbatas dan tdk
   sebanding dg "pasokan bahan baku"
5. perangkat elektronik seperti IC, transistor seringkali sudah kabur
   atau sengaja dihilangkan nomer seri dan tipenya sehingga praktis
   utk keperluan "kanibalisme" pun sangat sedikit yg bisa dimanfaatkan
   apalagi utk mainboard komputer yg kesesuaian tipe, jenis, modelnya
   sangat menentukan. kebanyakan parts mainboard tdk bisa dikanibal,
   yg bisa dilakukan adalah kanibal peripheral, card dsb. yg ada dlm
   bentuk utuh (modul) bukan kepingan2 komponen. dg kata lain sebagian
   besar komponen elektronik komputer bekas memang benar2 sampah. tdk
   banyak yg bisa di recycle atau di re-use, komponen elektroniknya.
   kalau casing, box dsb. memang mungkin masih bisa. casing pun ada
   keterbatasan model, misalnya casing computer branded umumnya tdk
   bisa diisi dg mainboard jangkrik yg umum ada dipasaran. dimensi &
   bentuknya berbeda. so, useless juga akhirnya.

dg segala silang pendapat ini, apapun alasannya, saya pribadi masih
belum bisa menangkap manfaat yg jelas dr impor komputer ini. kembali
kepada kita semua utk dg arif menimbang untung ruginya.

just fyi, ditengah silang pendapat ini, informasi dr beberapa rekan yg
bermain di bisnis komputer, setiap tahunnya indonesia menerima kiriman
sampah ini dg volume puluhan ribu unit (mungkin ratusan ribu). kalau
setengah diantaranya useless, bisa dibayangkan berapa ton sampah yg
hrs dihadapi generasi kita di masa depan?

-- 
Best regards,
 Pataka                            mailto:[EMAIL PROTECTED]



Official Web Site : http://www.awari.or.id
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/asosiasi-warnet/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke