Pak Yamin, At 10:30 AM 11/5/2006 -0800, you wrote: >Pikiran saya sederhana saja, yaitu bagaimana menghadirkan suasana kondusif >dalam bisnis warnet. Apa yang saya sebut tahapan dalam proses sertifikasi >-- ada yang menyebutnya sebagai akreditasi -- sepertinya adalah salah satu >langkah yang mungkin dilakukan oleh komunitas warnet. Langkah lainnya -- >yang sulit direngkuh oleh komunitas warnet -- berkaitan dengan tarif, >seperti tarif koneksi internet dan tarif listrik.
Memang akreditasi dan sertifikasi itu tujuannya positif dan saya yakin betul bisa jadi positif jika betul-betul dijalankan, cuma masalahnya, di dalam komunitas pebisnis warnet ini banyak yang ugal-ugalan dan tidak punya bisnis etik yang bener, sehingga tujuan kita yang mulia ini bisa di plesetin dengan mudahnya. nah ... daripada kita stres nanti, lebih baik jangan dijalanin ... kan ? Contohnya kan sudah banyak saya tulis, dan itu PASTI akan terjadi di komunitas kita, karena orang yang mau cepet kaya dengan jalan pintas, masih terlalu banyak di bumi Indonesia ini. >Sertifikasi akan menjadi proses seleksi secara alamiah dalam komunitas >warnet, yang mungkin saja akan meniadakan perang tarif dan memupus harapan >bonek. Saya pikir, perang tarif dan akal-akalan nipu tidak akan bisa dibendung, terus akan terjadi, selama manusia masih hidup dan bisa berpikir, jadi sebaiknya kita alihkan daya dan upaya kita ke langkah-langkah yang membuat diferensiasi buat warnet, jadi nggak semua sama kasih akses Internet, tapi ada bedanya, misalnya satu warnet spesialisasi kasih layanan ke cewek (ini kalau nggak salah dulu sudah pernah di coba, tapi gagal yah), terus boleh juga bikin komunitas-komunitasnya, karena pada akhirnya, kita nyari duit ini dari komunitas koq, bukan orang asing yang tiba-tiba bawa segepok uang untuk bayar kita. Opa >"Michael S. Sunggiardi" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Pak Yamin, > >Saya pribadi nggak setuju sertifikasi-sertifikasi-an, karena dengan adanya >sertifikasi, kita akan membuat satu komunitas yang akhirnya akan >menghasilkan bodong-bodongan lagi. Sama kejadiannya seperti neon box Legos >ini. > >Dari awal konsep warnet dicetuskan di tahun 1996, keberadaan warnet adalah >untuk memperbesar pengguna Internet karena Indonesia menghadapi kendala >dimana masyarakatnya tidak mampu (tidak mau) membeli komputer. > >Visi dan misi yang sudah jelas ini, akhirnya hancur lebur dengan masuknya >orang-orang yang tergolong cuma mau dapet duit dan mau cepet kaya, atau >bahkan ada yang menggunakan warnet sebagai "barang dagangannya", persis >seperti jualan permen di bus kota. Kelompok bonek (bukan BoNet) inilah >yang merusak tatanan warnet yang sudah ada, bisa dilihat di tahun 1998, >pada saat boom bisnis warnet, ada lebih dari 200 warnet dalam satu kota >skala menengah. > >Jadi, inti persoalan dari bajak-membajak, mengail dalam air keruh dan >saling potong di bisnis warnet adalah mengupayakan membangun komunitas >warnet yang solid dan bersih. > >Kenyataannya, SUSAH SEKALI mengendalikan komunitas yang penyebarannya besar >dan berasal dari berbagai akar yang nggak jelas, sehingga akhirnya warnet >di cap sebagai sarang penyamun, sarang maksiat dan tempat ngumpul yang >berkonotasi negatif. > >Upaya membentuk komunitas yang punya warna dan bersih ini boleh dibilang >sia-sia, seperti melempar garam ke laut, karena pada kenyataannya >perkembangan warnet sudah tidak terkendali, berbagai konflik internal >terjadi, yang ujungnya sebetulnya adalah DUIT. > >Kalau punya waktu membaca arsip milis ini, dari awal pembentukan komunitas >Awari ini, saya selalu bilang, bahwa kalau mau sukses membangun warnet, >kita harus punya diferensiasi, harus punya warna berbeda dengan warnet >lain, jangan mengekor bisnis yang sudah ada - begitu laku jualan duren, >serentak satu jalan jual duren semua. > >Tipikal orang Indonesia memang seperti begitu, membebek terus-terusan tanpa >mikir ba dan bu, sehingga akhirnya, terjadi persaingan yang tidak sehat dan >merontokan bisnisnya secara keseluruhan. Lihat juga bisnis jualan komputer >yang untungnya hanya 2 - 3% saja, bahkan ada yang memperhitungkan >keuntungan hanya dari blind bonus akhir tahun, juga bisnis taxi di Jakarta, >dimana semua taxi di cat warna biru, supaya mirip dengan Blue Bird, karena >Blue Bird memberikan layanan yang terbaik untuk pelanggannya. > >Sebetulnya, solusi terhadap kejadian ini adalah membuat pengusaha warnet >menjadi lebih pinter dan lebih sensitif terhadap lingkungannya, tetapi saya >sudah coba semuanya, dijalankan berbagai upaya dalam kurun waktu lebih dari >lima tahun dan hasilnya selalu kembali ke nol, sehingga saya jadi putus asa >dan tidak punya lagi solusi yang tepat untuk mengatasi hal ini. > >Dari renungan secara intensif selama lebih dari enam tahun terjun ke >komunitas dan masyarakat TI Indonesia, saya menyimpulkan bahwa yang paling >penting dalam kasus ini adalah pendidikan dasar yang harus dibenahi, >sehingga diharapkan, dalam lima atau sepuluh tahun ke depan, dapat >menumbuhkan enterprener warnet yang handal, tidak sekedar membebek dan >meng-eksploitasi komunitas dan yang paling penting dapat berperan dalam >kemajuan TI di Indonesia. > >Opa > >At 01:17 PM 11/3/2006 -0800, you wrote: > > >Beberapa waktu lalu sempat terlintas ide dari beberapa anggota milis ini > >untuk melakukan sertifikasi warnet. Singkatnya seperti yg dilakukan MUI > >melalui sertifikasi halal dgn bukti selembar sertifikat. Untuk warnet > >mungkin sertifikat tersebut dapat bertuliskan Warnet Yang Baik dan Benar. > > > >Tahapan untuk memperoleh sertifikat yang baik dan benar dapat dimulai dari > >(1) penggunaan software yang legal dan perijinan yang lengkap; kemudian > >diikuti (2) dengan penataan perangkat warnet untuk mencegah perbuatan > >maksiat dan kriminal; selanjutnya (3) pengaturan bagi pengunjung warnet > >berupa pembatasan waktu penggunaan untuk di bawah umur dan pencatatan > >identitas pengunjung. > > > >Seandainya sertifikasi untuk warnet berjalan dgn baik, warnet tidak perlu > >lagi memikirkan ada tidaknya neon box yang bertuliskan LegOS -- baik yang > >diberikan secara gratis untuk warnet yang menggunakan software berbayar > >ataupun yang diperoleh dengan membeli untuk warnet yang menggunakan > >software tidak berbayar. Tidak perlu lagi memperhatikan siapa pelanggan > >yang bertandang dan apa yang dilakukannya di warnet. Tidak perlu lagi > >mengkhawatirkan kunjungan mendadak dari orang tua yang mencari anaknya. > >Tidak perlu lagi was-was menunggu panggilan dari aparat kepolisian atas > >tuduhan cybercrime. > > > >tabik, > > > >Yamin Official Web Site : http://www.awari.or.id Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/asosiasi-warnet/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/asosiasi-warnet/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

