Seperti system mendidik para ortu di luar negeri, ya Pak...? Di luar negeri, anak harus bekerja dulu memotong rumput di rumahnya klu ingin mendapat uang. Tidak seperti di indonesia. Anak bekerja membantu ortu didoktrin sebagai suatu "kewajiban"....
Menurut saya, semua ada plus minus nya..... Kadang2 anak menjadi tidak "bersemangat" karena tidak mendapatkan balasan nya.... Bukankah saat bekerja di kantor juga, kita mengharapkan "balasan" dari atasan kita....? Klu kita mendapatkan atasan yg terkesan "tidak mau tahu" atas prestasi kita,.....kita menjadi malas utk meningkatkan prestasi kita. Dulu.....saat saya dan suami masih duduk di SMA (sedikit curhat, ya.... Kebetulan sy dan suami satu kelas saat di SMA), suami saya harus "mencari uang sendiri" klu mau traktir nonton saya. Padahal ortunya tergolong berada. Tapi tidak dimanja dengan materi. (Ma'af.....ayahnya saat itu adalah direktur PAM bogor). Caranya.....ortunya punya bbrp angkot (angkutan kota). Nah....jam 4 pagi, dia jadi supir angkot, sampai mendapatkan uang yg kira2 cukup utk mentraktir sang pacar. Hal ini sudah menjadi "rahasia umum".....kawan2 SMA tahu semua..... Tapi kami tidak gengsi. Begitu juga saya....ortu saya tidak akan memberi uang utk nonton atau foya2. Mereka memberi uang pas2an. Jadi....saya harus pandai2 menabung spy bisa melakukan sesuatu seperti kawan2 yg lain. Saya merasakan hasil didikan seperti itu......kami, saya dan suami....menjadi merasa lebih menghargai nilai uang yg kami peroleh. Dan kami juga mendidik anak2 kami dengan cara tidak berlebihan. Mereka diajarkan spy bisa menerima apapun yg mereka dapatkan. Kecuali nilai akademis di sekolah....yg mereka harus selalu perjuangkan....tujuannya bukan utk mendapat rangking pertama, tapi supaya dia mau berusaha semaksimal mungkin. Klu hasil akhirnya berupa "juara kelas"....itu hanyalah bonus saja.... Jika saya lihat mereka sudah sangat berusaha, apapun hasilnya....saya akan memberi hadiah.....bisa dalam bentuk barang, rekreasi ke tempat yg mrk suka, atau sekedar makan di restoran favorit mereka. Regards, YUSRI email: [EMAIL PROTECTED] YM: yusri_smpn1 Sent from my BlackBerry� wireless device -----Original Message----- From: "h45to2772" <[EMAIL PROTECTED]> Date: Wed, 10 Sep 2008 02:56:26 To: <[email protected]> Subject: [Ayahbunda-Online] Re: puasa untuk mbak yusri ... (reward & punishment) dear all tentang ini, saya jadi ingat yang pernah saya ucapkan kepada anak saya yang pertama bahwa untuk memperoleh sesuatu kita harus berusaha atau berjuang dengan cara halal (istilahnya gak ada yang gratis), jadi tidak meminta. contoh: setiap dia melakukan sesuatu yang kami inginkan, saya sisihkan uang atas hal itu dan uang itu adalah hak dia. kami beritahukan uang tersebut saat saya membelikan sesuatu atas permintaan dia, bahwa uang ini atas 'kerja' dia kepada orang tuanya. jadi dia juga punya uang atas 'kerja' dia sendiri. tapi apakah cara begini baik gak ya? (malah nanya balik) terima kasih hasto --- In [email protected], "- Yusri -" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > Bener banget Mbak Myra.... > Sehari-harinya......saya juga "menuntut" mereka utk selalu mendahulukan kewajiban sebelum meminta hak mereka. > Misalnya......jika mereka tidak bertanggung jawab dengan PR mereka, tugas2 sekolah atau kegiatan belajar mereka.....maka saya akan memberikan hukuman yg kami sepakati bersama. > Biasanya....klu utk anak laki2 saya (bagas), saya suka "menghukum" dia utk tidak main PS selama 1 minggu (krn mainan kesayangan dia adala PS). > Dan utk anak perempuan saya (sekar), saya larang dia memainkan barbie2 nya sampai dia bisa bertanggung jawab dengan kewajibannya. > Alhamdulilah.......semakin lama mereka semakin sadar akan kewajibannya. Tidak sulit saya mengingatkan mereka melakukan nya, shalat....PR....belajar harian, atau belajar menjelang ulangan....mereka akan dengan senang hati mengerjakannya. > Utk bangun jam 5 subuh saja, mudah mereka lakukan.
