Dear all moms,
Saya Lydia, mamanya Jonathan. Saya anggota milis pasif tapi kayanya
harus ikutan memperkenalkan diri lagi seperti mommy2 yg lain, he3x....
Sekalian berbagi informasi yg mungkin berguna bagi para mom's sekalian.
GBU all.
![Daisypath Anniversary Years Ticker]() ![Lilypie 2nd BirthdayTicker]()
|
Hati-hati,
gejala DBD sudah tidak khas.
Sampai meninggalnya Libby, tidak timbul
bercak-bercak merah di sekujur tubuhnya, tidak mimisan, tidak
muntah darah. Salah satu cara termudah untuk mendeteksi dini DBD
adalah dengan menekan salah satu kuku ibu jari, kemudian lihat
apakah permukaan yang putih ketika ditekan langsung kembali merah.
DBD menyebabkan darah agak mengental, sehingga ketika selesai
dipencet, biasanya kuku yang terkena
DBD agak lambat kembali ke warna merah. Raba
denyut nadi, penderita DBD biasanya denyut nadinya agak
lemah.
|
|
|
|
Dear, Libby. Akhir-akhir ini ayah kangen dan ingat
terus sama Libby, apalagi saat ini sedang berjangkit penyakit demam berdarah,
yang mengantarkan Libby menghadap Tuhan YME setahun yang lalu.
Ayah ingat, waktu itu,
Sabtu pagi 19 April, Libby sudah mengeluh kurang enak badan. Ayah langsung
membawa Libby ke dokter spesialis di Mall Ambassador hari itu juga untuk
mendapatkan perawatan. Dokter menyatakan bahwa Libby sakit radang tenggorokan.
Walaupun sudah agak membaik, hari Senin, 21 April, Libby tidak masuk ke sekolah
agar bisa beristirahat. Lagipula, esoknya Libby akan perform ballet untuk pertama
kalinya. Ketika ayah pulang kantor, Libby terlihat sangat
bersemangat untuk pertunjukan balet besok. Bahkan, Libby menunjukkan semua
kostum yang akan dipakai. Ayah tahu, kamu sangat mencintai balet. "Ayah lihat
Libby perform besok,
kan ?" pinta Libby, yang langsung ayah jawab,
"iya, Sayang." Keesokan harinya, tanggal 22 April, Ayah sengaja
mengambil cuti agar bisa leluasa hadir ke pertunjukan balet Libby. Pukul 06.15,
ayah mengantarkan Libby sekolah. Sepanjang perjalanan Libby terus saja bercerita
mengenai pertunjukan itu. Karena hari itu cuti, ayah pun bisa menjemput Libby
ketika pulang sekolah pada 11.30. Kamu terlihat sangat senang melihat ayah
menjemputmu, karena biasanya ayah tidak bisa menjemput karena msih di kantor.
Dalam perjalanan, Libby sempat bertanya, "Ayah, siapa Kartini itu?". Ayah jawab,
"Kartini itu seorang putri yang berjasa pada kaum wanita, karenanya hari
kelahirannya diperingati sebagai hari Kartini." Kamu yang selalu kritis kemudian
menaggapi, "kok putri tidak pakai baju Cinderella?" Ya, Libby selalu menganggap
sosok putri mirip dengan karakter dalam dongeng-dongeng ala
Disneyland . Ayah berusaha menjawab semua pertanyaan Libby.
"Kartini sudah meninggal ya, Ayah?", tanyamu lagi. Ayah jawab dengan anggukan.
Kamu pun terus bertanya, "kalau Libby mau diperingati, harus meninggal dulu
ya?". Mendengar pertanyaan itu, Ayah agak bingung juga menjawabnya. Namun
akhirnya Ayah menjawab, "tidak perlu. Karena ada juga yang masih hidup sudah
diperingati. " Pertanyaan itu tadinya hampir tidak berarti apa pun,
kecuali menunjukkan rasa keingintahuanmu yang memang sangat tinggi. Namun
belakangan ayah mulai menyadari bahwa mungkin ini adalah firasat tepat seminggu
sebelum kepulanganmu ke Tuhan YME. Ketika perform balet, ayah ingat Libby kelihatan
masih lemas. Beberapa teman dalam kelompokmu juga tidak menari dengan baik,
sehingga secara keseluruhan penampilan balet itu tidak terlalu menggembirakan.
Kamu yang sangat perfecsionis kelihatan sangat kecewa dengan penampilan
kelompokmu yang kurang kompak. Ketika pulang, Libby kelihatan agak murung. Ayah
terus menerus berusaha untuk menghibur Libby dengan mengatakan bahwa pertunjukan
tadi cukup baik. Tapi tidak dapat ditutupi, Libby kecewa sekali.
Hari Kamis malam, Libby
panas lagi, suhu badannya mencapai 40 derajat celcius. Tanggal 25 April, Libby ulang tahun
yang kelima, kamu masih sakit sehingga tidak masuk sekolah. Ayah dan Mommy
kembali membawamu ke dokter. Dokter menyatakan bila sampai Senin belum turun
juga panasnya, Senin harus diambil darah untuk diuji. Tanggal 26 April 2003, Libby
merayakan pesta ulang tahun di McDonald Arion. Suhu panas sudah mulai turun,
hanya kamu masih terlihat lemas. Pesta ini adalah permintaan pertama Libby,
karena biasanya ulangtahun hanya dirayakan di sekolah dengan membawa kue ulang
tahun. Entah kenapa waktu itu Libby menginginkan pesta di McDonald lengkap
dengan badut Teletubbies. Ayah minta maaf karena terlambat mengurus pesta,
sehingga badut yang kamu minta tidak bisa hadir. Ayah tidak tahu bahwa McD tidak
memperbolehkan badut dari luar. Libby kelihatan kecewa dengan ketidakhadiran
badut itu, karena t erny ata kamu sudah
bercerita pada teman-temanmu. "Badutnya nggak bisa datang ya, Yah? Gimana ya kalau
nanti Libby dibilang pembohong. Tapi nggak apa-apa lah, teman-teman pasti
ngerti". Ayah tahu betul, Libby adalah seorang yang sangat
patuh terhadap janji dan tak pernah mau mengecewakan orang lain.
Pulang dari pesta Libby
terlihat sakit lagi. Ayah mencoba mengompres agar panas tubuhmu turun. Kamu
terlihat lemah, sampai-sampai hadiah yang banyak pun hampir tak tersentuh. Ayah
masih ingat percakapan kita saat itu, "Liv, uang yang dari Nini
kan banyak, mau dibeliin apa sama Libby? beliin mainan ya?". Libby malah bilang,
"Ayah, mainan Libby udah banyak sekali...bahkan sebagian mau Libby kasiin ke
orang miskin. Kasihan
kan mereka nggak punya mainan. Libby juga mau
kirim bunga yang banyak sekali untuk Nini. Nini pasti senang."
Ayah kaget mendengar
jawaban Libby, tapi sama sekali tidak menyangka apa-apa. Belakangan ayah baru
sadar ini adalah firasat lain kepergianmu, karena t
erny ata, rumah Nini tempat kamu disemayamkan sebelum
pemakaman, penuh bunga dari para pelayat. Libby ingat nggak, hari Minggu, ayah
dan mommy membawa Libby ke Rumah Sakit Bunda untuk diambil darah. Ayah tidak mau
lagi menunggu sampai hari Senin. Ayah ingat Libby masih minta ayam goreng dan
minuman rasa stroberi. Ayah senang sekali karena akhirnya Libby minta makan,
setelah dua hari kamu selalu menolak makanan. Selama sakit, kamu tidak pernah
mengeluh sakit perut atau lainnya, hanya pusing dan mual.
Senin pagi, mommy membawa
hasil tes darah ke dokter, trombosit kamu masih 149.000.. Kata dokter, Libby
terkena gejala Thypus dan disarankan untuk beristirahat dan banyak minum. Sore
harinya panas Libby sudah mulai turun. Ayah senang sekali pada saat itu, bahkan
ayah sempat mengabari keluarga di
Bandung bahwa kamu sudah agak baikan, hanya
masih sangat lemas dan terkadang muntah. Malamnya, t
erny ata Libby terus mengigau. Ayah, mommy dan uti
tidak berhenti berdoa, kita putuskan untuk membawa kamu ke dokter besok
pagi-pagi sekali. Sama sekali tidak terbersit dalam pikiran ayah bahwa Libby
mungkin sudah mulai didekati oleh malaikat maut, karena panas kamu sudah turun
hingga 36 derajat celcius. Keesokan harinya, mommy dan uti mengantar kamu ke
dokter. Saat itu trombosit kamu sudah turun ke 59.000 dan langsung diperintahkan
untuk masuk rumah sakit. Mommy membawa kamu ke RS Mitra Jatinegara karena kata
dokter, pelayanan PICU (ICU anak-anak) cukup baik. Kata mommy, dalam perjalanan
ke rumahsakit kamu masih minta mi dan pisang. Mommy ingat di dalam mobil Libby
ngomong, "Ma, kok orang-orang itu tidurnya aneh ya?" Mommy yang panik tidak bisa
menjawab, ia hanya bilang, "Libby kuat ya...." Sampai di rumah sakit Libby sudah
tidak sadar. Ketika sampai di ruang gawat darurat, Libby langsung kejang dan
pergi untuk selamanya sebelum dokter sempat melakukan
pertolongan.. Ayah minta maaf ya,
tidak bisa menemani kamu pulang ke rumah kamu di surga. Ayah merasa bodoh
sekali, memilih ikut meeting di kantor ketika kamu sedang berjuang dengan
maut. Tapi memang jalannya sudah harus begitu, ayah rela Libby pulang ke
rumah pemilik Libby karena ayah hanya diberi kesempatan untuk merawat Libby
selama tepat
lima tahun. Mommy sekarang sedang hamil lagi,
Adelle sudah mulai cerewet, maunya sekarang pake baju punya Libby.
Kemarin-kemarin dia terus berbicara mengenai kamu, Libby datang ke mimpinya
Adelle ya? Ya sudah dulu ya Liv, ayah mau buat
surat buat teman-teman ayah biar mereka belajar
dari pengalaman kita. Pembaca, saya hanya ingin berbagi pengalaman dari
kejadian ini. Saya tidak ingin Anda mengalami apa yang saya rasakan. Saran saya,
1.
Pelajari dan kenali berbagai jenis penyakit dan
gejalanya. Libby terkena demam berdarah dan kami sudah
terlambat untuk membawanya ke rumah sakit. Jika anak-anak kita, atau kita
sendiri panas selama dua hari berturut-turut, lebih baik langsung ke dokter dan
minta periksa darah. Minta sekalian periksa darah untuk dengue rapid karena kadang-kadang kadar
trombosit dalam darah masih 200.000 (batas normal antara 150.000-400. 000),
tetapi sebenarnya sudah terkena virus dengue. Jika dokter menyatakan thypus atau
radang tenggorokan, atau flu biasa, lebih baik cari second opinion dari dokter
lain. 2.
Hati-hati, gejala DBD sudah tidak khas. Sampai meninggalnya Libby, tidak
timbul bercak-bercak merah di sekujur tubuhnya, tidak mimisan, tidak muntah
darah. Salah satu cara termudah untuk mendeteksi dini DBD adalah dengan menekan
salah satu kuku ibu jari, kemudian lihat apakah permukaan yang putih ketika
ditekan langsung kembali merah. DBD menyebabkan darah agak mengental, sehingga
ketika selesai dipencet, biasanya kuku yang terkena DBD agak lambat kembali ke
warna merah. Raba denyut nadi, penderita DBD biasanya denyut nadinya agak
lemah. 3.
Pantau terus kondisi pasien jika sudah positif DBD. Beberapa rumah sakit hanya mengecek
darah sehari sekali,. Sebaiknya, mintalah pengecekan dilakukan setiap 6 jam
sekali. Jika
trombosit sudah mulai memasuki angka 30.000, segera siapkan beberapa
teman dan keluarga yang memiliki golongan darah yang sama dengan penderita untuk
berjaga-jaga bila sewaktu-waktu tranfusi darah dibutuhkan. Saat ini sulit
mendapatkan darah dari PMI. 4.
Pakaikan selalu penghalau nyamuk
berupa lotion atau lainnya pada anak-anak kita di waktu siang,
untuk menghindari gigitan nyamuk aedes aegepty. 5.
Jika anak sakit, tinggalkanlah urusan kantor atau urusan apa
pun.
Keluarga jauh lebih penting daripada apa pun di dunia ini, atau Anda akan
menyesal seumur hidup jika mengalami apa yang saya alami.
6.
Setelah semua usaha kita lakukan, pasrahkan semua kepada Tuhan
YME.
Karena bagaimanapun kita berusaha, jika Tuhan berkehendak lain, maka tidak ada
yang dapat menghalangi keputusan-Nya.
|