huuwuuu...
hanya air mata yg bicara setelah membaca note ini.

--- Pada Rab, 9/12/09, aini prasetio <[email protected]> menulis:

Dari: aini prasetio <[email protected]>
Judul: [Ayahbunda-Online] (fwd) true story : Jangan benci aku Mama!!!
Kepada: [email protected], [email protected], 
[email protected], [email protected]
Tanggal: Rabu, 9 Desember, 2009, 7:11 AM







 



  


    
      
      
      ada cerita dr milis sebelah...very2 touching story....

Ada cerita yang 
sangat menyentuh nih, untuk para Moommie's ;-)

Dua puluh tahun yang lalu 
saya melahirkan seorang anak laki-laki,
wajahnya lumayan tampan namun 
terlihat agak bodoh. Sam, suamiku,
memberinya nama Eric. Semakin lama semakin 
nampak jelas bahwa anak ini
memang agak terbelakang. Saya berniat 
memberikannya kepada orang lain
saja untuk dijadikan budak atau 
pelayan.
Namun Sam mencegah niat buruk itu. Akhirnya terpaksa 
saya
membesarkannya juga. Di tahun kedua setelah Eric dilahirkan saya 
pun
melahirkan kembali seorang anak perempuan yang cantik mungil. 
Saya
menamainya Angelica.
Saya sangat menyayangi Angelica, demikian juga 
Sam. Seringkali kami
mengajaknya pergi ke taman hiburan dan 
membelikannya pakaian anak-anak
yang indah-indah.
Namun tidak demikian 
halnya dengan Eric. Ia hanya memiliki beberapa
stel pakaian butut. Sam 
berniat membelikannya, namun saya selalu
melarangnya dengan dalih penghematan 
uang keluarga. Sam selalu
menuruti perkataan saya. Saat usia Angelica 2 tahun 
Sam meninggal
dunia. Eric sudah berumur
4 tahun kala itu. Keluarga 
kami menjadi semakin miskin dengan hutang
yang semakin menumpuk. Akhirnya 
saya mengambil tindakan yang akan
membuat saya menyesal seumur hidup. Saya 
pergi meninggalkan kampung
kelahiran saya beserta Angelica. Eric yang sedang 
tertidur lelap saya
tinggalkan begitu saja. Kemudian saya tinggal di sebuah 
gubuk setelah
rumah kami laku terjual untuk membayar hutang. Setahun, 2 
tahun, 5
tahun, 10 tahun.. telah berlalu sejak kejadian itu.
Saya telah 
menikah kembali dengan Brad, seorang pria dewasa. Usia
Pernikahan kami telah 
menginjak tahun kelima. Berkat Brad, sifat-sifat
buruk saya yang semula 
pemarah, egois, dan tinggi hati, berubah
sedikit demi sedikit menjadi lebih 
sabar dan penyayang. Angelica telah
berumur
12 tahun dan kami 
menyekolahkan dia di asrama putri sekolah perawatan.
Tidak ada lagi yang 
ingat tentang Eric dan tidak ada lagi yang
mengingatnya.
Sampai suatu 
malam. Malam di mana saya bermimpi tentang seorang anak.
Wajahnya agak tampan 
namun tampak pucat sekali. Ia melihat ke arah
saya.
Sambil tersenyum ia 
berkata, "Tante, Tante kenal mama saya? Saya lindu
cekali pada 
Mommy!"
Setelah berkata demikian ia mulai beranjak pergi, namun 
saya
menahannya, "Tunggu..., sepertinya saya mengenalmu. Siapa namamu 
anak
manis?"
"Nama saya Elic, Tante."
"Eric? Eric... Ya Tuhan! Kau 
benar-benar Eric?"
Saya langsung tersentak dan bangun. Rasa bersalah, sesal 
dan berbagai
perasaan aneh lainnya menerpa diri saya saat itu juga. 
Tiba-tiba
terlintas kembali kisah ironis yang terjadi dulu seperti sebuah 
film
yang diputar dikepala saya. Baru sekarang saya menyadari 
betapa
jahatnya perbuatan saya dulu.Rasanya seperti mau mati saja saat 
itu.
Ya, saya harus mati..., mati..., mati... Ketika tinggal seinchi 
jarak
pisau yang akan saya goreskan ke pergelangan tangan, 
tiba-tiba
bayangan Eric melintas kembali di pikiran saya. Ya Eric, Mommy 
akan
menjemputmu Eric...
Sore itu saya memarkir mobil biru saya di samping 
sebuah gubuk, dan
Brad dengan pandangan heran menatap saya dari samping. 
"Mary, apa yang
sebenarnya terjadi?"
"Oh, Brad, kau pasti akan membenciku 
setelah saya menceritakan hal
yang telah saya lakukan dulu." tTpi aku 
menceritakannya juga dengan
terisak-isak. ..
Ternyata Tuhan sungguh baik 
kepada saya. Ia telah memberikan suami
yang begitu baik dan penuh pengertian. 
Setelah tangis saya reda, saya
keluar dari mobil diikuti oleh Brad dari 
belakang. Mata saya 
menatap
lekat pada gubuk yang terbentang dua meter dari hadapan saya. 
Saya
mulai teringat betapa gubuk itu pernah saya tinggali beberapa 
bulan
lamanya dan Eric..
Eric...
Saya meninggalkan Eric di sana 10 
tahun yang lalu. Dengan perasaan
sedih saya berlari menghampiri gubuk 
tersebut dan membuka pintu yang
terbuat dari bambu itu. Gelap sekali... Tidak 
terlihat sesuatu apa
pun! Perlahan mata saya mulai terbiasa dengan kegelapan 
dalam ruangan
kecil itu.
Namun saya tidak menemukan siapapun juga di 
dalamnya. Hanya 
ada
sepotong kain butut tergeletak di lantai tanah. Saya mengambil 
seraya
mengamatinya dengan seksama... Mata mulai berkaca-kaca, saya 
mengenali
potongan kain tersebut sebagai bekas baju butut yang dulu 
dikenakan
Eric sehari-harinya. ..
Beberapa saat kemudian, dengan perasaan 
yang sulit dilukiskan, saya
pun keluar dari ruangan itu... Air mata saya 
mengalir dengan deras.
Saat itu saya hanya diam saja. Sesaat kemudian saya 
dan Brad mulai
menaiki mobil untuk meninggalkan tempat tersebut. Namun, saya 
melihat
seseorang di belakang mobil kami. Saya sempat kaget sebab suasana 
saat
itu gelap sekali. Kemudian terlihatlah wajah orang itu yang 
demikian
kotor.
Ternyata ia seorang wanita tua. Kembali saya tersentak 
kaget manakala
ia tiba-tiba menegur saya dengan suaranya yang 
parau.
"Heii...! Siapa kamu?! Mau apa kau kemari?!"
Dengan memberanikan 
diri, saya pun bertanya, "Ibu, apa ibu kenal
dengan seorang anak bernama Eric 
yang dulu tinggal di sini?"
Ia menjawab, "Kalau kamu ibunya, kamu sungguh 
perempuan terkutuk!
Tahukah kamu, 10 tahun yang lalu sejak kamu 
meninggalkannya di sini,
Eric terus menunggu ibunya dan memanggil, 'Mommy..., 
mommy!' Karena
tidak tega, saya terkadang memberinya makan dan mengajaknya 
tinggal
Bersama saya. Walaupun saya orang miskin dan hanya bekerja 
sebagai
pemulung sampah, namun saya tidak akan meninggalkan anak saya 
seperti
itu! Tiga bulan yang lalu Eric meninggalkan secarik kertas ini. 
Ia
belajar menulis setiap hari selama bertahun-tahun hanya untuk 
menulis
ini untukmu..."
Saya pun membaca tulisan di kertas 
itu...
"Mommy, mengapa Mommy tidak pernah kembali lagi...? Mommy marah 
sama
Eric, ya? Mom, biarlah Eric yang pergi saja, tapi Mommy harus 
berjanji
kalau Mommy tidak akan marah lagi sama Eric. Bye, Mom..."
Saya 
menjerit histeris membaca surat itu. "Bu, tolong katakan...
katakan di mana 
ia sekarang? Saya berjanji akan meyayanginya sekarang!
Saya tidak akan 
meninggalkannya lagi, Bu! Tolong katakan..!!"
Brad memeluk tubuh saya yang 
bergetar keras.
"Nyonya, semua sudah terlambat. Sehari sebelum nyonya datang, 
Eric
telah meninggal dunia.. Ia meninggal di belakang gubuk ini. 
Tubuhnya
sangat kurus, ia sangat lemah. Hanya demi menunggumu ia rela 
bertahan
di belakang gubuk ini tanpa ia berani masuk ke dalamnya. Ia 
takut
apabila Mommy-nya datang, Mommy-nya akan pergi lagi bila 
melihatnya
ada di dalam sana ... Ia hanya berharap dapat melihat Mommy-nya 
dari
belakang gubuk ini... Meskipun hujan deras, dengan kondisinya 
yang
lemah ia terus bersikeras menunggu Nyonya di sana .
Saya kemudian 
pingsan dan tidak ingat apa-apa lagi.

(kisah 
nyata di irlandia utara) 



    
     

    
    


 



  






      Yahoo! Mail Kini Lebih Cepat dan Lebih Bersih. Rasakan bedanya sekarang! 
http://id.mail.yahoo.com

Kirim email ke