Dampak Memburuknya Kinerja Ekonomi
Perekonomian Indonesia Masuki Periode Koreksi

BANDUNG, (PR).-
Pengamat ekonomi Rizal Ramli memperkirakan setahun ke depan akan
menjadi periode koreksi untuk perekonomian Indonesia. Karena dengan
kondisi tingginya tingkat suku bunga, inflasi tinggi, dan penurunan
kinerja indikator makro lainnya, akan menjadikan pertumbuhan ekonomi
mendapat hambatan serius.

"Semua ini akan mengerem pertumbuhan ekonomi, artinya jumlah
pengangguran akan meningkat lebih besar. Apalagi jika program
kompensasi BBM tak kunjung jalan, bukan hanya pengangguran, tapi
jumlah orang miskin yang bertambah," ujar mantan Menko Ekuin tersebut
saat berbicara pada Majelis Guru Besar ITB, akhir pekan lalu.

Menurutnya, buruknya kinerja ekonomi makro dapat diindikasikan di
antaranya dalam defisit transaksi berjalan. Defisit sudah terjadi
kuartal pertama dan kedua tahun ini dan diperkirakan juga akan terjadi
pada kuartal berikutnya.

Hal tersebut menurutnya sangat mengkhawatirkan. Karena jika suatu
negara mengalami defisit transaksi, akan menjadi sasaran para
spekulator. Dicontohkannya, krisis ekonomi di Thailand tahun 1997,
yang diawali aksi spekulan karena melihat defisit transaksi berjalan
negara tersebut.

"Empat bulan lalu saya sudah mengingatkan, perekonomian Indonesia
mulai memperlihatkan banyak kembang api. Kalau ini dibiarkan, bisa
berkembang menjadi bola api," katanya.

Menurutnya, memburuknya kondisi ekonomi makro disebabkan tim ekonomi
dalam kabinet Indonesia Bersatu dinilainya belum melakukan tugas
dengan semestinya. Hal tersebut secara langsung dan tak langsung terus
memperburuk keadaan.

Dicontohkannya dalam realisasi sisi pengeluaran APBN 2005, yang hingga
bulan September baru dikucurkan 10% saja. Sehingga sepanjang 2005
fungsi APBN sebagai pendorong perekonomian relatif tidak berjalan
seharusnya.

Sementara pada sisa waktu yang tersisa, APBN juga tidak mungkin dipacu
sebagai motor perbaikan ekonomi. Pasalnya, pengeluaran APBN tak
mungkin dipacu lebih dari 20%, karena bisa menjadi inflatoir, yang
memicu inflasi yang saat ini sudah tinggi menjadi lebih tinggi lagi.

"Sekarang ini APBN sedang diperbaiki, kemungkinan baru selesai Oktober
nanti. Jadi waktu efektif untuk meningkatkan stimulus dari APBN hanya
2 bulan. Jadi pengeluaran paling mungkin ditingkatkan di bawah 20%,
agar tak memicu inflasi besar-besaran," katanya.

Indikator lainnya, masalah pengangguran juga tak memperlihatkan hal
yang menggembirakan. Malah menurutnya, sejak kabinet SBY terbentuk
angka pengangguran terbuka terus meningkat, dari sebelumnya 9,4% (dari
jumlah pekerja), saat ini menjadi menjadi 10%. "Inflasi juga terus
naik sampai 10% - 15%. Dan kalau semua ini sampai menjadikan krisis,
akan membutuhkan recovery 3 hingga 4 tahun mendatang," katanya. (A-135)***





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
DonorsChoose.org helps at-risk students succeed. Fund a student project today!
http://us.click.yahoo.com/O4u7KD/FpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/

[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke