Wahyu dan "Virus" Wirausaha Di kartu namanya tercetak Dr Ir Wahyu Saidi MSc. Tentu tidak istimewa karena masih banyak orang yang memiliki gelar lebih panjang dan lebih banyak. Baru terasa luar biasa ketika membaca profesi yang tercetak pada kartu namanya: tukang bakmi. Boleh jadi dialah satu-satunya tukang bakmi bergelar doktor insinyur.
Beneran, bukan gelar dengan ijazah belian. Alumnus Institut Teknologi Bandung ini kini memang menjadi pengajar di Universitas Negeri Jakarta. Mantan manajer sebuah perusahaan jalan tol dan perusahaan pertambakan terbesar di dunia itu bertekad menularkan virus kewirausahaan kepada sebanyak mungkin orang Indonesia. Ia bercita-cita mencetak sebanyak-banyaknya orang yang mampu menciptakan lapangan kerja buat dirinya sendiri dan orang lain, di tengah semakin ketatnya perebutan lapangan kerja formal. Karena itu, hampir separuh waktunya kini dipakai keliling Indonesia memenuhi undangan berbicara dalam forum seminar, diskusi, atau apa pun namanya. Tidak lain kecuali menggugah orang Indonesia untuk menjadi pengusaha profesional. Ia tidak hanya bicara. Kini, bekerja sama dengan UNJ, ia mulai memformalkan upayanya itu. Mereka yang berminat berwirausaha diberikan pendidikan dan pelatihan secara formal lalu diberi paket usaha, semisal usaha bakso, pijat refleksi, salon kecantikan, dan bengkel. Jadikan bisnis sebagai suatu pilihan hidup. Kalau jadi pengusaha kue apem, jadilah pengusaha apem yang profesional, tekun, disiplin, pasti jadi. Masalahnya, kalau orang Indonesia menjual kue apem, kue cucur, mereka tidak menganggap dirinya sebagai pengusaha. Padahal, di situ ada potensi keuntungan besar. Kalau cuma uang 100 ribu rupiah sehari, gampang dapatnya, katanya. Berawal dari krisis moneter, ketika perusahaan tempatnya bekerja terpaksa tidur, dengan jabatan manajer tentulah sulit mencari pekerjaan di perusahaan lain untuk jabatan dan gaji yang setimpal. Maka, pilihannya adalah berhenti dan mencoba berusaha sendiri. Mulailah ia memasuki agrobisnis dengan bertanam cabe, ternak ayam, pembesaran ikan, buka bimbingan belajar, dan usaha makanan Palembang. Saat berusaha makanan Palembang ini, pengalaman mengajarinya bahwa makanan Palembang adalah makanan besar dan untuk orang dewasa. Seharusnya yang diusahakan adalah makanan untuk semua umur dan semua waktu. Sepanjang jalan di Margonda, Depok, ditelusuri untuk survei. Pilihan jatuh pada usaha mi ayam. Persoalannya, mi ayam apa yang dijual supaya laku? Diupayakanlah untuk bekerja sama dengan bakmi GM yang sudah lebih dulu populer. Tetapi, apa daya tangan tak sampai. Wara laba mereka enggak mau, kerja sama enggak mau juga. Ya belajarlah sendiri. Saya tidak malu-malu mengatakan saya follower GM. Saya sebut bakmi ala GM, dan strategi ini efektif sekali kala itu. Untungnya, bakmi GM tidak ada di mana-mana, hanya tempat tertentu saja, paparnya. Ia pertama kali membuka warung bakmi ala GM itu di Menara Kadin, Jakarta, pada Januari 2002. Omzetnya pada hari pertama sebanyak Rp 66.000. Tak lama kemudian dibukanya lagi satu warung di Jalan Pemuda dengan omzet hari pertama, Rp 200.000. Dua bulan kemudian baru mencapai omzet Rp 1 juta, kenangnya. Setelah dirasa usaha ini sudah bisa berjalan, dipatenkanlah nama sendiri, yakni Bakmi Langgara dan Bakmi Tebet pada tahun 2004. Ketika itu, ia sudah memiliki 36 cabang. Langgara berarti langgar, tempat orang berkumpul, juga bisa diartikan mampir pada saat lewat. Sementara Tebet, diambil dari sebuah nama kawasan yang berkonotasi Jakarta, untuk menciptakan kesan bagi orang yang berdomisili di luar Jakarta. Konsep waralaba mulai dikembangkan pada saat membuka cabang ke-11. Tapi sebenarnya lebih pada konsep joint operation, partnership. Waralaba penuh nanti pada cabang ke-12 untuk bakmi Langgara, kenang Wahyu yang merasa mantap berusaha bakmi pada saat membuka cabang ke-10. Kini Wahyu yang lahir di Palembang tahun 1962 sudah punya 39 cabang restoran bakmi merek Langgara dan 62 cabang bakmi Tebet, di 18 kota di seluruh Indonesia. Total karyawan mencapai 700 orang. Sebentar lagi ia akan membuka cabang di Kucing dan Kuala Lumpur, Malaysia, serta di Mekkah, Arab Saudi. Meski demikian, bukan cerita sukses saja yang mengiringi perjalanan bisnisnya. Ada 15 cabang tutup. Salah pilih lokasi, kontrak tempat habis, dan tidak cocok dengan partner, katanya. Bisnis mi ini, menurut Wahyu, tidak bisa asal-asalan, harus serius dan disiplin. Bagi orang yang sudah punya duit, bisa saja menjadikannya usaha sampingan sehingga tidak serius. Nah kalau berhenti, bagi mereka tidak soal, tetapi bagi saya ya nama rusak, paparnya menjelaskan tentang kriteria mitra usahanya dalam setiap pembukaan cabang. Cintai profesi dan menganggapnya ibadah juga sangat ditekankan kepada semua mitranya. Mengelap meja buat pengunjung, hal biasa baginya. (Andi suruji) Baktos, Rahman, Wassenaar/NL __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 1.2 million kids a year are victims of human trafficking. Stop slavery. http://us.click.yahoo.com/X3SVTD/izNLAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/ [Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
