Sang "Perpustakaan Berjalan"

Oleh: Khaerul Anwar

Masyarakat etnis Sasak, Lombok, secara sosial budaya
kini dalam kurun peralihan. ”Kita ini, termasuk saya,
cuma menonton saja, sambil coba memahami dinamika
zaman yang cepat berubah,” kata Haji Lalu Lukman,
penulis beberapa buku sejarah dan budaya Sasak,
Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Kurun peralihan yang dimaksud Lukman (85 tahun) alias
Mamiq Djaja adalah berbagai adat tradisi lama, bahasa,
aksara, dan budaya masyarakat Sasak yang terus digusur
oleh peradaban yang lebih praktis. Misalnya, aksara
Jejawan (turunan Hanacaraka–aksara Jawa-Bali) kurang
diminati, bahkan umumnya tidak dikenal oleh kalangan
generasi mudanya. Tahun 1940-1950 para sedahan
(petugas pemungut pajak bumi dan bangunan di tingkat
kecamatan dan desa) masih menggunakan aksara jejawan
untuk keperluan administrasinya.

Nyaris sama nasibnya dengan penggunaan bahasa Sasak
yang memiliki tiga tingkatan: aok-ape (ya-apa) atau
bahasa jamak/biasa), tiang-enggih (saya-ya) atau
bahasa halus, dan kaji-meran (saya-iya) atau bahasa
raden (umumnya dipakai kalangan perwangsa/ningrat).
Yang lebih banyak dipakai kini adalah bahasa jamak dan
halus. Hanya saja dalam pemakaian bahasa halus
terkesan rancu, seperti penggunaan kata mangan,
bekelor, dan medaran (ketiganya berarti makan).
Bekelor diutarakan kepada orang yang lebih tua atau
yang dihormati.

Begitu pun budaya mendongeng dikatakannya kini sudah
punah oleh berbagai cerita sinetron yang ditayangkan
televisi. Upacara Nyongkol (keluarga pengantin putra
bertandang ke rumah keluarga pengantin perempuan),
sebagai bagian acara sorong serah ajikrama atau
perkawinan adat Sasak, pun tidak berjalan seperti tata
cara yang sebenarnya. Pesertanya kebanyakan anak muda,
memakai blue jeans, sepatu, dan sarung, bukan busana
adat.

”Saya sedih, terkadang tertawa melihat itu. Karenanya,
saya mencoba untuk berbuat sesuatu, menulis apa yang
saya ketahui. Apa yang saya lakukan itu paling tidak
sebagai bukti sejarah yang dapat dibaca oleh generasi
kemudian agar mereka tidak kehilangan jejak,” ucap
Lukman.

Dia tahan duduk menulis dari pagi hari hingga larut
malam, terkadang lupa makan. Bahkan buku Sejarah,
Masyarakat, Budaya Lombok yang sebanyak 500 eksemplar
tadi ditulis ketika sakit dan menjalani rawat inap di
rumah sakit.

Beberapa karyanya yang sudah dicetak dan dalam proses
penyelesaian adalah Sejarah, Masyarakat, Budaya Lombok
(edisi Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris), Upacara
Adat Sorong Serah, Lepas dari Mulut Buaya Masuk ke
Mulut Singa, Reramputan Tembang Sasak, di samping
kumpulan dongeng atau cerita rakyat Lombok. Pencetakan
buku-buku dibiayai dari dana pribadinya itu bahannya
dikumpulkan saat aktif sebagai pegawai negeri sipil.

Karena pemahamannya yang bagus tentang budaya Sasak
Lombok, memiliki referensi lengkap berupa koleksi foto
abad ke-18-19, sekaligus pelaku sejarah di zaman
penjajahan Belanda dan Jepang, dan pernah memegang
jabatan strategis, Mamiq Djaja kini menjadi tempat
bertanya maupun narasumber kalangan pemerhati budaya
dan peneliti dari dalam dan luar negeri. Tidak heran
banyak kalangan menyebutnya sebagai ”perpustakaan
hidup”.

Pelopor pariwisata

Lahir di Kampung Pedaleman, Desa Kopang, Lombok
Tengah, 21 Februari 1920, suami Baiq Gita ini
menamatkan sekolah desa di desanya (1927-1930). Dia
melanjutkan ke HIS (Hoogere Inlands School) di Mataram
tahun 1932-1939. Ayah 12 anak dan kakek 30 cucu itu
meneruskan sekolah ke CIBA (Candidat Inlands Bestuur
Ambtenar–Sekolah Calon Pamong Praja) di Makassar pada
1939-1940, namun tidak selesai karena terjadi
pendudukan Jepang atas wilayah Indonesia. Bahkan, saat
itu ia sempat jadi tawanan Jepang di Makassar.

Pulang ke Lombok, Lukman bekerja sebagai relawan pada
Kantor Kepala Pemerintahan di Praya dan menjadi Grifir
(Penitera) berstatus pegawai yang diperbantukan pada
Kantor Pengadilan Sasak di Selong tahun 1942-1943,
kemudian jadi Asisten Pamong Praja di Desa Gerung,
Lombok Barat, tahun 1945 dan menjabat Asisten Distrik
Gerung tahun 1946, dan beberapa tahun setelahnya
menjabat Kepala Distrik Kopang, Kepala Distrik
Narmada, Lombok Barat. Pada saat aktif itulah Lukman
aktif merintis dan membangun lembaga pendidikan di
tempat-tempat tugasnya, bahkan mengundang lulusan
pendidikan guru dari Pulau Jawa untuk mengajar di
sejumlah sekolah di Pulau Lombok.

Dia juga termasuk pelopor bidang pariwisata Lombok dan
ikut berperan membangun Hotel Sasaka Beach yang sudah
”almarhum”. Sampai kini Lukman menjadi Penasihat
Perhimpunan Hotel dan Restoran NTB, dan Persatuan
Wredatama Republik Indonesia NTB, di samping Kerama
(Lembaga) Adat Sasak Lombok.

Baktos,

Rahman, Wassenaar/NL


                
__________________________________ 
Yahoo! Mail - PC Magazine Editors' Choice 2005 
http://mail.yahoo.com


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
1.2 million kids a year are victims of human trafficking. Stop slavery.
http://us.click.yahoo.com/X3SVTD/izNLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/

[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke