Toleran, bahkan terhadap yang Intoleran
Oleh: Alfons Taryadi

Seusai acara peluncuran dan diskusi buku Eksistensi Agama dalam
Masyarakat Majemuk di Jakarta yang menampilkan pembicara Prof Diana L
Eck PhD, Prof Dr Azyumardi Azra MA, dan Mohamad Sobary, (lihat
Religiusitas Tidak Dilihat dari Tempat Ibadah, Kompas, 25/8), saya
sempat ngobrol sebentar dengan Mas Sobary.

Kepadanya saya menyatakan gembira bahwa dalam tanggapannya atas
ceramah Prof Eck yang berjudul Amerika Baru yang Religius seperti
judul bukunya yang terjemahannya diterbitkan oleh Penerbit Sinar
Harapan, ia mengklarifikasi makna kata religiusitas. Hal ini penting
karena istilah yang ambigu tersebut tidak secara eksplisit dijelaskan
oleh Prof Eck, juga tidak oleh Prof Azyumardi Azra.

Sebelum diskusi dimulai, saya menemui Prof Eck dan menanyakan apa yang
dimaksudkannya dengan istilah ”religiusitas”. Jawabnya sederhana:
itu ajektiva dari kata religion (agama). Dalam bukunya, ia ingin
menggambarkan bahwa peta agama di Amerika telah berubah drastis selama
40 tahun terakhir.

Seperti dikatakan dalam ceramahnya, dipicu oleh kebijakan imigrasi
tahun 1965, orang- orang dari seluruh dunia datang ke Amerika dan
menjadi warga negara itu. Bersama mereka datang pula tradisi keagamaan
dunia Muslim, Hindu, Buddha, Jainisme, Sikh, Zoroaster, Afrika, dan
Afro-Karibia. Jadi, kebaruan ”Amerika yang baru” adalah bahwa kini
Amerika tidak hanya beragama Kristiani, melainkan beragam agamanya.

Atas pertanyaan apakah istilah religiusitas yang digunakannya mengacu
pada inti dasar keagamaan, yaitu spiritualitas cinta kasih yang
mentransen simbol-simbol keagamaan tertentu dan karenanya melarang
sikap memusuhi penganut agama lain, Prof Eck menegaskan bahwa istilah
religiusitas yang ia pakai tidak mengarah ke sana. Ia mengakui bahwa
istilah tersebut mencakup agama yang penganutnya bersikap fanatik dan
bahkan melakukan tindak kekerasan terhadap penganut agama lain.

Tempat ibadah

Itulah sebabnya mengapa pernyataan Mas Sobary bahwa religiusitas suatu
masyarakat tidak dapat diukur dari banyaknya tempat ibadah yang
dimilikinya sangat menggembirakan hati saya. Apalagi ketika ia dengan
penuh penekanan menegaskan bahwa makna sejati religiusitas ialah
bersikap toleran kepada siapa saja, termasuk mereka yang intoleran.

Dalam omong-omong sehabis acara diskusi, Mas Sobary menceritakan
pengalaman pribadi yang mendasari pernyataannya tersebut. Suatu ketika
ia merasa tidak memperoleh kedamaian batin, betapapun ia rajin dan
sangat khusyuk berdoa. Setelah lama ditelisiknya, ia menemukan bahwa
ia tidak memasukkan dalam doanya itu mereka yang ia ketahui memusuhinya.

Saya tahu, kata Sobary, Ada dua orang yang membenci saya, bahkan
berencana membunuh saya. Baru setelah ia, kata Sobary, memasukkan nama
dua orang tersebut dalam doa-doanya, dan bahkan lewat SMS ia
menyatakan memaafkan mereka pun kalau mereka tetap membencinya, ia
merasakan damai di hati.

Terhadap kisah Mas Sobary yang mengharukan itu, secara spontan saya
berucap, Sikap yang Mas ceritakan itu bagi saya tidak lain daripada
cinta kasih. Waktu itu saya ingat akan ucapan Bapak Gondo Swandito
(almarhum), pendiri Panca Daya, yang menurut pengakuannya menimba
ilham dari kitab-kitab suci berbagai agama, antara Islam, Hindu, dan
Kristen.

Dalam salah satu ceramahnya di Kelompok Kompas-Gramedia, ia berpesan,
Tolong, jangan lupa setiap pagi pada saat bangun tidur, Anda
menembakkan cinta kasih kepada semua orang di sekitar Anda, baik
mereka yang Anda kenal atau tidak, siapa pun, termasuk mereka yang
Anda tahu memusuhi dan membenci Anda. Jika ini Anda lakukan, Anda akan
selalu damai di hati.

Toleran

Mengenai istilah toleran, rupanya kita juga perlu hati-hati
menggunakannya. Sebab, seperti dikatakan Jacques Derrida, asal usul
dan fokus keagamaan konsep toleransi menyebabkan istilah tersebut sisa
sikap paternalistis, yang di dalamnya orang tidak diterima sebagai
mitra sepadan, melainkan sebagai pihak yang lebih bawah (lihat
Giovanni Borradori, Filsafat dalam Masa Teror, Dialog dengan Jurgen
Habermas dan Jacques Derrida, Penerbit Buku Kompas, Maret 2005, hal 25).

Saya sendiri dalam rumusan Mas Sobary tentang makna religiusitas
sejati, saya condong menggantikan kata toleran dan cinta kasih.

Sebagai hadirin dalam diskusi tersebut di atas, saya mencatat bahwa
kata religiusitas perlu digunakan secara lebih kritis dan cermat.
Istilah religiusitas yang makna terdalamnya dicoba dirumuskan oleh
Sobary jelas tidak sama dengan makna religiusitas dalam kutipan
wartawan Kompas tentang keterangan Prof Azyumardi Azra yang berbunyi:
Implikasi dari peningkatan religiusitas adalah peningkatan penggunaan
simbol-simbol agama dalam kehidupan sosial. Apalagi kutipan berikutnya
yang bicara tentang munculnya generasi muda Kristen yang mengharamkan
Darwinisme filosofis dan sosial, bahkan yang demi pro-life tidak
segan-segan melakukan kekerasan terhadap klinik aborsi dan pelakunya.

Benar, yang dibahas di dalam diskusi tersebut adalah masalah
pluralisme agama yang sedang menjadi pembicaraan hangat dalam
masyarakat Indonesia dewasa ini. Namun, jika inti makna religiusitas
seperti yang digarisbawahi oleh Sobary tidak kita pedulikan,
pembahasan tentang pluralisme agama hanya menjadi wacana di atas
permukaan saja.

Alfons Taryadi Pemerhati Masalah Sosial, Tinggal di Jakarta




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital.
http://us.click.yahoo.com/ons1pC/lbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/

[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke