Keun bae rada basi oge nya... poe kamari udar ador teu puguh.

Antar-agama

ARIEL HERYANTO

Ketika pergaulan antar-agama terluka, mungkinkah sebuah dialog yang
beradab? Dengan bahasa dan logika semacam apa orang bisa bicara dan
diterima dengan simpati, walau tidak harus setuju, oleh berbagai pihak
yang bersengketa?

Masalahnya, bukan saja identitas orang yang bicara akan langsung
mengundang curiga pihak lain. Yang lebih gawat: tidak ada bahasa dan
logika yang "netral". Misalnya, dengan menggunakan bahasa dan logika
yang sekuler, seseorang sudah menguntungkan salah satu yang bertikai.
Apalagi jika ia mengandalkan logika, bahasa, dan moralitas dari salah
satu agama yang terlibat sengketa. Di situ bahasa dan nalar terasa mati.

Konflik Hindu-Islam telah bertahun-tahun merebak di India. Dua karya
film mutakhir negeri itu memberi contoh unggulnya puitika film cerita
ketika bahasa prosa dan nalar formal tidak berkutik. Yang pertama film
berjudul Mr. and Mrs. Iyer (2002) arahan Aparna Sen. Yang kedua
berjudul Bombay (1995) arahan Mani Ratnam.

Keduanya telah beredar di mancanegara dan merebut sejumlah anugerah
internasional. Keduanya berkisah tentang hubungan lelaki dan perempuan
dewasa dari dua agama berbeda yang sedang bertikai.

Bentrokan berdarah Hindu-Islam di sekitar penghancuran Masjid Babri di
Ayyodhia (1992) menjadi latar belakang kisah Bombay. Di latar depan,
film ini berkisah tentang cinta antara seorang pria Hindu bernama
Shekhar dan seorang gadis Muslim berjilbab bernama Bano.

Bisa diduga, keluarga masing-masing kekasih ini berlomba menentang
hubungan mereka. Mereka terpaksa kawin lari dan hidup damai di kota
Bombay. Tetapi, sesudah mereka dikaruniai dua anak kembar, ayah-ibu
Shekhar maupun Bano berebut pengaruh atas cucu-cucu mereka. Yang satu
ingin meng-Hindu-kan, yang lain berusaha meng-Islam-kan anak-anak ini.
Kemudian pecah kerusuhan berdarah di kota itu. Semua berantakan lagi
dan menjadi korban.

Awal kisah Bombay mengingatkan kita pada Romeo and Juliet. Bedanya,
kisah Shekhar-Bano tidak berakhir dengan tragedi. Film Bombay juga
bisa mengingatkan kita akan sejumlah kisah bertema "pembauran" pada
zaman Orde Baru. Bedanya, di Indonesia tema demikian berkembang hanya
dalam karya sastra. Dalam film maupun sinetron Indonesia tema itu
sangat langka, dan yang sedikit tampil sangat mentah karena
ditunggangi beban moral dan rasisme Orde Baru.

Film Mr. and Mrs. Iyer tampil jauh lebih canggih, lebih kompleks, dan
puitis ketimbang Bombay. Dibuat untuk kelas menengah, film ini tak
punya ambisi menggapai jumlah penonton dan keuntungan komersial
sebesar-besarnya. Tidak aneh ia kalah populer dibandingkan Bombay yang
sempat mengundang protes kemarahan yang saling bertolak belakang dari
kedua komunitas agama.

Kisah dalam Mr. and Mrs. Iyer berpusat pada hubungan tak sengaja
antara seorang ibu muda Tamil bernama Meenakshi Iyer dan seorang
fotografer bernama Jehangir Chaudhuri alias Raja. Meenakshi membawa
bayinya dalam perjalanan ke Calcutta untuk bergabung dengan suaminya.
Di tempat keberangkatan bus, ia dikenalkan kepada Raja yang juga
menuju kota yang sama. Ayah Meenakshi meminta tolong Raja agar menjaga
putrinya selama perjalanan. Yang terjadi kemudian justru sebaliknya.

Perjalanan jauh bus itu seakan-akan melambangkan gerak sejarah bangsa
India sendiri. Bus terisi penumpang dari aneka latar belakang usia,
pendidikan, ekonomi, jenis kelamin, dan agama. Mirip penduduk India.
Perlahan-lahan Meenakshi dan Raja saling mengenal dan bersahabat.

Mendadak bus terhenti di tengah jalan. Di sebuah desa yang akan
dilewati terjadi konflik berdarah Hindu-Islam. Selama berhari-hari
para penumpang bus telantar di sana. Sementara itu datang kabar bahwa
kaum militan Hindu sedang menuju ke tempat mereka dan mencari
orang-orang Islam untuk menumpahkan balas dendam atas pembakaran desa
mereka.

Mendengar kabar itu, Raja menjelaskan kepada Meenakshi bahwa ia tidak
bisa melanjutkan perjalanan karena ia seorang Muslim. Ia harus segera
melarikan diri. Informasi ini mengejutkan Meenakshi. Sebagai penganut
agama Hindu yang taat, Meenakshi menyesal bukan saja telah bersahabat
dengannya, tetapi ikut minum air botol milik Raja.

Sebelum Raja sempat pergi, kaum militan Hindu telah tiba dan
mengadakan "sweeping" terhadap para penumpang bus. Sepasang
kakek-nenek Muslim "diambil" dan tak pernah kembali. Seorang penumpang
perempuan Hindu yang berusaha membela mereka dipukul. Melihat
kekejaman itu, Meenakshi berubah sikap. Ketika dua militan mendekati
mereka, Meenakshi menyelamatkan nyawa Raja dengan mengakui Raja
sebagai suaminya. Sejak itu Raja dan Meenakshi bersandiwara sebagai
suami-istri bernama Mr dan Mrs Iyer. Dan terjadi serangkaian peristiwa
lucu karena kepura-puraan ini.

Namun, konflik tidak terhenti di situ. Meenakshi dan Raja berhasil
menyelamatkan diri dari para militan agama dan menjauhkan diri dari
rombongan penumpang bus sebagai suami-istri. Ketika berdua, konflik
pribadi menghantam mereka bertubi-tubi karena perbedaan pandangan
masing-masing, khususnya sikap kolot Meenakshi.

Berkat bantuan polisi, mereka berhasil meninggalkan desa itu dan
melanjutkan perjalanan dengan kereta api. Setelah berhari-hari melalui
masa teror, sikap Meenakshi berubah besar. Diam-diam ia menjadi sayang
kepada Raja. Sebelum sikap ini berubah menjadi cinta, kereta mereka
mencapai tujuan dan Meenakshi disambut suaminya. Film berakhir tanpa
romantika cinta, seks, atau penyelewengan.

Akhir cerita itu membedakan Mr. and Mrs. Iyer dari film-film Hollywood
atau Bollywood lainnya. Walau penuh pergulatan, film ini dikisahkan
tanpa ledakan dramatis atau jerit slogan. Kisah kekerasan meliputi
hampir seluruh film, tetapi senantiasa di pinggiran atau menjadi latar
belakang.

Sekitar 1.700 tahun Mahabharata dan Ramayana masuk ke Nusantara dari
India. Keduanya mengajarkan musuh terbesar dalam peperangan kita
adalah saudara sedarah dan diri sendiri. Pada awal abad ke-21 ini kita
masih perlu berguru kepada para pendongeng India bagaimana menghadapi
militansi dan kebencian antar-agama yang merobek-robek bangsa.




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help tsunami villages rebuild at GlobalGiving. The real work starts now.
http://us.click.yahoo.com/T8WM1C/KbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/

[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke