Gagal Negara, Kekhawatiran Bisa Jadi Kenyataan?

Pengantar Redaksi:

Tak kurang dari dua pengamat globalisasi, Dr B Herry
Prijono dan Dr Dedy N Hidayat, mengingatkan agar
hati-hati mendiskusikan ihwal gagal negara.
”Jangan-jangan nanti Indonesia benar-benar jadi contoh
negara yang gagal. Ramalan dan kekhawatiran jadi
kenyataan atau self fulfilling propechy,” pesan mereka
lewat SMS. Tentu mewacanakan soal gagal negara dengan
acuan buku Collapse (2005) karya Jared Diamond berbeda
dengan mengasyiki buku fiksi The Celestine Prophecy
(1995) karya James Redfield.

***

Dalam bukunya yang memperoleh Hadiah Pulitzer, Guns,
Germs, and Steel-The Fates of Human Society (1997),
Diamond mencoba merekonstruksi mengapa bangsa-bangsa
Asia dan Eropa menaklukkan, mencerabut, dan
memusnahkan orang-orang pribumi benua Amerika,
Australia, dan Afrika, dan bukan sebaliknya. Sebagai
pakar biologi evolusioner, Diamond menelanjangi
teori-teori sejarah umat manusia yang berbau rasis
dengan mengetengahkan faktor-faktor lingkungan yang
sebenarnya bertanggung jawab bagi pola-pola besar
sejarah peradaban.

Buku Collapse merupakan tandem buku Guns, Germs, and
Steel yang mencoba menelaah apa yang menyebabkan
beberapa peradaban besar dunia pada masa lampau ambruk
dan apa yang dapat kita pelajari dari nasib mereka.

Ia menunjuk lima faktor penyebab ambruknya peradaban.

Pertama, kerusakan lingkungan yang ditimbulkan
manusia.

Kedua, perubahan cuaca akibat pemanasan global sebagai
efek rumah kaca (lihat saja badai Katrina yang begitu
dahsyat menenggelamkan Kota New Orleans).

Ketiga, tetangga yang bermusuhan yang menginvasi suatu
komunitas yang memang sedang lemah.

Keempat, mengendurnya dukungan dari kelompok
masyarakat yang selama ini menjalin hubungan baik
melalui perdagangan.

Kelima, buruknya penyelesaian persoalan melalui
kerangka institusi politik, ekonom, sosial, dan
nilai-nilai budaya.

Dalam Collapse yang kini masuk sebagai salah satu buku
laris di Amerika, Diamond mencantumkan peta Indonesia
sebagai negara yang sekaligus berada dalam
”environmental trouble spots of the modern world”
maupun ”political trouble spots of the modern world”.
Sebagai negara dengan populasi terbanyak keempat di
dunia (yang bakal terus meningkat jumlahnya dengan
pertumbuhan melonjak jadi lebih dari 3 persen karena
kendurnya program KB yang pernah amat berhasil),
tekanan penduduk terbukti mempercepat laju deforestasi
(penggundulan hutan), meningkatnya limbah kimia
beracun (di antaranya akibat pertambangan), krisis
energi, kekeringan, banjir, kelaparan, dan aneka
masalah lingkungan serta sosial.

Indonesia, juga menurut Diamond, pernah dan sedang
mengalami rentetan masalah politik (political trouble)
yang memenuhi syarat sebagai petanda yang baik (best
predictor) bagi gagal negara (state failure), seperti
pembunuhan massal (genocide)—contoh klasiknya adalah
peristiwa tahun 1965-1966 (yang pernah disebut dalam
bukunya The Third Chimpanzee), perang saudara atau
revolusi, pergantian rezim dengan kekerasan, dan
rontoknya otoritas/pemerintahan.

Penulis seperti Nono Anwar Makarim juga punya
perhatian mendalam terhadap ancaman gagal negara.
Dalam makalahnya, Undergovernance and Conflict (2003),
ia menyebut masalah undergovernance dan under-funding
(kecilnya gaji pegawai negeri) sebagai penyebab
rapuhnya administrasi pemerintahan di Indonesia.
Sementara ekonom Sjahrir dalam artikelnya Indonesia
Pasca-tsunami: Keharusan Rekonstruksi Peradaban
(Kompas, 10/1/2005) mengutip buku Collapse menyebut
bahwa betapa penebangan hutan ilegal dan
ketidakmampuan menjaga lingkungan ketika
mengeksplorasi minyak dan gas alam merupakan hal-hal
serius yang harus diperhatikan Indonesia. Mental korup
bangsa Indonesia yang teramat parah, besarnya beban
utang negara, dikuasainya aset-aset ekonomi oleh kroni
Orde Baru, diabaikannya konflik kepentingan dalam
jabatan kenegaraan, dan rapuhnya transformasi
perbankan, jika tak dibenahi, tidak mustahil Indonesia
akan kolaps, menyusul Rwanda, Somalia dan Haiti.

Keprihatinan

Pengamat politik LIPI, Ikrar Nusa Bhakti, pernah
mengungkapkan keprihatinannya terhadap situasi
Indonesia saat ini lewat tulisannya Lampu Kuning bagi
Negeri Tercinta (Kompas, 25/7/2005). Ia menyebut,
dengan pemerintahan yang legitimasinya sebenarnya kuat
saat ini Indonesia tampaknya sedang menjurus ke
situasi ungovernable, yang terasa seolah-olah kita
tidak memiliki pemerintahan lagi. Jika tidak cepat
diatasi, bukan mustahil negeri ini akan menuju kepada
failed state, negara yang bangkrut dan gagal.

Dalam nada yang sama, penulis muda Imam Cahyono pernah
mengungkapkan keprihatinannya tentang Indonesia yang
Di Ambang Negara Gagal (Kompas, 9/6/2005). Mengutip
Stoddard (Ethnonationalism and the Failed State:
Sources of Civil State Fragmentation in the
International Political Economy Emerge, 2000), ia
menyebut ada empat kategori negara bangsa, yaitu yang
kuat, lemah (weak state), gagal (failed state), dan
runtuh (collapsed state). Sebuah negara bangsa
dianggap gagal jika tidak bisa memenuhi kebutuhan
rakyatnya dengan baik. Adakah krisis BBM akhir-akhir
ini memenuhi kriteria ini?

Lebih jauh Imam Cahoyono, mengutip Rotberg (The Nature
of Nation-State Failure, 2002), menyebut sindrom
negara gagal antara lain berupa keamanan rakyat tidak
bisa dijaga, konflik etnis dan agama tak kunjung usai,
korupsi merajalela, legitimasi negara terus menipis,
ketidakberdayaan pemerintah pusat dalam menghadapi
masalah dalam negeri, dan kerawanan terhadap tekanan
luar negeri.

Masih dalam rangka memperingati HUT ke-60 RI, untuk
membahas tema gagal negara ini, desk opini Harian
Kompas menyelenggarakan seri pertama diskusi bulanan
Lingkar Palmerah yang ditujukan terutama bagi para
penulis dan pemikir muda. Diskusi itu diadakan pada
tanggal 19 Agustus 2005 dengan pembicara Dr Chatib
Basri dari LPEM UI dan Siti Maemunah (Koordinator
Nasional Jaringan Advokasi Tambang) serta Donny Gahral
Adian (pengajar Departemen Filsafat UI) sebagai
moderator. Ulasan tentang diskusi tersebut dapat
disimak dalam dua tulisan di halaman ini.

Menurut rencana, tanggal 30 September ini seri kedua
diskusi Lingkar Palmerah akan diadakan dengan tema
”Mengakhiri Kemiskinan, Menagih Keadilan Sosial”,
membahas buku The End of Poverty karya mutakhir
Jeffrey Sachs, Direktur Program MDGs (Millenium
Development Goals) PBB yang oleh beberapa
pengkritiknya dinilai kelewat utopis. Akan tampil
sebagai pembahas adalah Dr I Wibowo (pengamat
globalisasi), Binny Buchory (Perkumpulan Prakarsa),
dan Sri Palupi (Ecosoc) dengan moderator Zuhairi
Misrawi.

Tema ini relevan dengan baru diadakannya KTT 5 Tahun
Pelaksanaan MDGs di New York pertengahan bulan ini
yang dihadiri oleh Presiden RI. Selain itu juga untuk
menyambut pendistribusian santunan tunai langsung Rp
100.000 per bulan untuk setiap keluarga miskin di
Indonesia yang jumlahnya diperkirakan mencapai 15,5
juta keluarga menyusul rencana kenaikan harga BBM 1
Oktober besok. (IJ)

Baktos,

Rahman, Wassenaar/NL


                
__________________________________ 
Yahoo! Mail - PC Magazine Editors' Choice 2005 
http://mail.yahoo.com


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital.
http://us.click.yahoo.com/ons1pC/lbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/

[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke