Gagal Negara atau Gagal Pemerintah?

Oleh: Donny Gahral Adian

Pesimisme seraya menyergap saat membuka halaman demi halaman buku
Collapse (Viking, 2005) karya biolog termasyhur, Jared Diamond.
Diamond mengumbar ontologi kesuraman Malthusian dengan menjelaskan
satu per satu robohnya peradaban kuno di pelosok jagat ini. Kerobohan
yang didefinisikannya sebagai penurunan drastis populasi manusia dan
juga kompleksitas politik, sosial, atau ekonomi.

Kerusakan lingkungan dan buruknya desain sosial, ekonomi, dan politik
adalah sebagian faktor yang menyebabkan kerobohan itu. Tak heran ia
pun memberi dua peta yang menggambarkan titik-titik persoalan politik
dan lingkungan di bumi ini. Indonesia, tak usah ditanya lagi, masuk
dalam kedua peta tersebut.

Optimisme sebaliknya mengemuka saat membuka laporan majalah Time pekan
kedua September lalu. Kishore Mahbubani, dekan Lee Kuan Yew School of
Public Policy, menyusun laporan panjang tentang bagaimana Asia menjadi
modern. Indikator-indikator ekonomi ia jadikan patokan. Bahkan,
kemajuan budaya pun diletakkan dalam kerangka pikir ekonomi. Sebuah
pikiran Marxis yang menyelinap di antara asumsi-asumsi liberal yang
melandasi laporan itu. Mengapa Liberal? Sebab, ujung modernisasi yang
dijadikan patokan adalah nubuat Fukuyama soal berakhirnya sejarah pada
masyarakat demokrasi liberal. Singa-singa Asia mulai mengaum saat
mereka, dalam kadar tertentu, mengadopsi sistem pasar dan membuka diri
pada perdagangan bebas.

Di antara dua posisi di atas, para intelektual republik berayun
pikiran. Tulisan-tulisan Nono Anwar Makarim, Ikrar Nusa Bakti, dan
Imam Cahyono di Kompas menampilkan rona Malthusian pada wajah republik
ini. Pertanyannya apakah itu sungguh mewakili kondisi konkret bangsa
ini? Atau kita mesti menengok kembali nubuat Fukuyama untuk tetap
optimis. Diskusi Lingkar Palmerah di Kompas bertema "Gagal Negara,
Selangkah Menuju Collapse?" tanggal 19 Agustus lalu menggambarkan
dengan jelas fragmentasi pikiran tersebut. Fragmentasi terjadi antara
mereka yang percaya akan desain ekonomi politik liberal dan mereka
yang, paling tidak, mempertanyakannya.

Chatib Basri dari LPEM UI mempersalahkan mereka yang selalu berburuk
sangka pada sistem pasar. Baginya, kegagalan negara terpulang pada
kegagalan pemerintah dalam menjaga pasar tetap bekerja secara
sempurna. Intervensi pemerintah dalam ekonomi terbukti hanya
menghasilkan kroni-kroni yang tak tahu malu. Proteksionisme melulu
menguntungkan kapitalis lokal yang malas berkompetisi.

Posisi ini serta-merta ditanggapi secara keras oleh Dita Indahsari
dari Partai Rakyat Demokrat. Menurutnya, pemerintah sudah tidak
berkutik dalam melindungi kepentingan warganya. Segala produk
perundang-undangan sudah dicemari tangan-tangan kepentingan ekonomi
global. Ini didukung oleh data-data yang dibeberkan Siti Maemunah dari
Jaringan Advokasi Pertambangan (Jatam) tentang konsesi-konsesi
pertambangan di beberapa lokasi di republik ini yang tidak berkorelasi
dengan kesejahteraan masyarakat setempat. Bagi Maemunah, pemerintah
mestinya bertanggung jawab pada rakyat sebagai konstituennya bukan
para pemodal asing.

Ada satu yang menarik. Baik Chatib Basri maupun Dita sama-sama
menyimpan kecurigaan pada negara. Dita curiga pada negara yang
berselingkuh dengan pemilik modal, sementara Chatib pada negara yang
mematikan kemampuan adaptif warganya. Subsidi BBM menurut Chatib
membuat kita tidak pernah melihat indikator kerusakan lingkungan pada
harga yang diserahkan pada mekanisme pasar. Inovasi pun tidak pernah
terjadi. Tidak pernah terlintas di benak kita untuk beralih pada
sumber energi alternatif sebelum harga BBM menjadi menggila seperti
sekarang ini.

Dita dan Maemunah, di sisi lain, curiga akan adanya konspirasi antara
pemerintah dan kelompok korporat multinasional dalam menghancurkan
monopoli Pertamina. Pikiran mereka jelas. Kepemilikan hajat hidup
orang banyak di tangan pribadi hanya akan memakmurkan pemilik saham
bukan rakyat pada umumnya.

Gagal negara atau gagal pemerintah?

Di balik pertengkaran akademis itu terselip pertanyaan, siapa
sesungguhnya yang gagal: negara atau pemerintah? Saya punya pendapat
mengenai hal ini. Pembangunan negara (state building) melibatkan tiga
komponen yang saling melengkapi: masyarakat politik, bisnis, dan
sipil. Parameter kegagalan negara adalah apabila hubungan ketiganya
tak mampu membangun tatanan hidup bersama bersendikan keadilan,
kebebasan, dan kesetaraan.

Menilik republik sendiri, sejak merdeka, masyarakat politik senantiasa
mendominasi tatanan hidup bersama. Masyarakat politik di zaman
Soekarno menjadi begitu kuat dan mematikan demokrasi atas nama segala
cita-cita agung. Begitu pula semasa rezim Soeharto, masyarakat politik
bergandengan tangan dengan pemodal lokal membius kesadaran politik
masyarakat sipil dengan sihir trickle down effect.

Akibatnya, masyarakat sipil selalu terpinggirkan. Kreativitas dan
inovasi tidak pernah muncul dari bawah. Segala kebijakan adalah hasil
perencanaan sepihak masyarakat politik dengan melulu memerhatikan
kepentingan pemodal. Birokrasi pun melulu berpikir jangka pendek.
Bukan kepentingan masyarakat luas yang diperhatikan, melainkan
kelompok kuat yang menjadi sandaran politiknya. Ini jelas bukan model
manajemen yang baik. Sementara, pelbagai korporat sudah mengadopsi
good corporate culture yang memberi keleluasaan bagi inovasi dan
kreativitas.

Sejak reformasi kita melihat geliat masyarakat sipil yang semakin
kentara. Tekanan ini membuat semua rezim bersibuk memoles wajah
politiknya. Setiap rezim senantiasa memulai pemerintahannya dengan
menyatakan perang terhadap korupsi dan kemiskinan. Persoalannya,
masalah tidak bisa diselesaikan lewat slogan. Manajemen pemerintahan
yang bersifat reaktif ketimbang antisipatif adalah sumbu persoalan
sesungguhnya. Masalah busung lapar tidak akan terjadi kalau pemerintah
memiliki manajemen informasi yang baik. Pembaruan data sangatlah
penting bagi kebijakan yang tepat dan efisien. Sayangnya,
totalitarianisme selama puluhan tahun menciptakan mental "peduli amat"
di kalangan birokrat kita. Pusat data dan informasi di pelbagai
departemen bekerja tak ubahnya seperti kantor public relation yang
kerjanya berapologia untuk pelbagai persoalan di lapangan.

Ini artinya, sebelum adanya perubahan paradigma hubungan masyarakat
sipil, politik, dan bisnis, jangan harap kita bisa beranjak maju.
Paradigma yang berlandaskan kesalingan tanpa satu mendominasi yang
lain. Untuk itu, visi dan misi pembangunan negara (keadilan,
kesetaraan, dan kebebasan) harus senantiasa dicamkan baik-baik. Sistem
pasar jelas pilihan terbaik dari yang terburuk guna melandasi
paradigma tersebut. Ia terbuka pada ketidakpastian dan oleh karenanya
selalu bisa dikoreksi. Proteksi jelas berakibat buruk bagi bekerjanya
pasar. Namun, harus dipilah mana proteksi yang sungguh perlu dan mana
yang semata buah perselingkuhan masyarakat politik dan bisnis.

Terobosan-terobosan kreatif perlu diberi tempat. Kita, misalnya, bisa
mencontoh eksperimen Grameen Bank di Banglades untuk mengentaskan
kemiskinan. Bagaimana pinjaman tanpa agunan material bisa diusahakan
bagi masyarakat miskin. Ini contoh buah pikiran sekaligus kerja
konkret masyarakat sipil yang cemerlang. Tanpa melulu menyerang
kebijakan pemerintah yang buruk, masyarakat sipil mengambil inisiatif
dalam mengaksentuasi kesetaraan, kebebasan, dan keadilan. Kita pun
bisa seperti itu. Saya percaya terang senantiasa bersama mereka yang
prihatin akan masa depan bangsanya.

Donny Gahral Adian Pengajar di Departemen Filsafat Universitas Indonesia




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Give at-risk students the materials they need to succeed at DonorsChoose.org!
http://us.click.yahoo.com/Ryu7JD/LpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/

[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke