Menyoal Keberpuasaan Kita
Abd Aa

Bulan Ramadhan hadir kembali. Di Indonesia, nuansa bulan puasa tampak
di mana-mana, menyuguhkan kehidupan berbeda dari bulan-bulan lain.

Religiusitas secara khusus begitu dekat dengan umat Islam dan bangsa.
Dari saat ke saat alunan ayat suci hingga penceramah terdengar di
mana-mana, dari mushala hingga media lain.

Fenomena ini dapat disebut nuansa religius jika ukuran yang dipakai
sekadar merujuk simbol agama, kesemarakan ritual, dan sejenisnya.
Namun, jika parameter yang digunakan adalah substansi ajaran agama,
kita mungkin sepakat, religiusitas keberpuasaan yang selama ini
mentradisi di Indonesia (dan di tempat lain) masih jauh dari
nilai-nilai keberagamaan sejati.

Tengok orang yang berpuasa, tetapi perilakunya sama sekali tidak
mencerminkan nilai-nilai puasa. Sebagian menyikapi puasa sekadar
tradisi dalam kehidupan yang nyaris tanpa perubahan. Yang lain
menjalankan puasa untuk menunjukkan keangkuhan melalui tindakan yang
merugikan orang lain. Karena itu, bulan Puasa tiba, lalu berlalu,
tetapi tidak ada gejala signifikan menuju proses pencerahan kehidupan,
individual maupun sosial.

Hakikat puasa

Realitas puasa yang dijalankan umumnya masih bersifat puasa lahir.
Menurut Syed Ali Asraf (2002), puasa harus dilakukan secara lahir dan
batin. Puasa model terakhir ini merujuk kedisiplinan seseorang dalam
mencegah nafsu agar tidak dilampiaskan serta keinginan agar
dikendalikan sehingga tidak terperangkap kejahatan dalam beragam
bentuk, semisal dari berbohong, memfitnah, iri, atau angkuh. Pada
gilirannya, orang bisa menahan diri dari perbuatan halal yang
dikhawatirkan akan melampaui batas.

Ketika dapat menahan diri dari hal-hal yang sebenarnya dihalalkan,
seorang Muslim meminjam Asraf diharapkan mampu menahan kemarahan
(baca: segala sikap dan perilaku jahat) dalam segala kondisi; sebagai
pengganti, ia menawarkan keramahan (segala sikap dan perbuatan baik).
Melalui proses itu, ia akhirnya melihat sang Pencipta dan tidak yang
lain, serta berpuasa dari segala sesuatu selain Allah.

Kekayaan spritualitas yang dicapai pada tahap akhir ini mengantar
manusia pada upaya intens yang untuk meniru dan mewujudkan sifat-sifat
Allah ke dalam kehidupan. Keindahan sebagai salah satu sifat Allah
menjadi referensi utama dalam setiap sikap dan perilakunya. Ia
menyikapinya sebagai awal dan akhir proses kehidupan yang dijalani.

Salah satu bentuk keindahan yang menjadi rujukan meminjam Nasr (2003)
adalah ihsan yang berarti keindahan, kebaikan, dan moral sekaligus.
Umat Islam yang memiliki ihsan akan mendasarkan pikirannya pada
kebenaran yang aura dan cahayanya keindahan. Dengan ihsan, tiap Muslim
terbuka menerima kasih dan kemurahan Tuhan.

Dimensi moral-spiritualitas berspektrum sosial semacam itulah yang
perlu diraih setiap Muslim yang berpuasa. Puasa batin mengantar
seseorang kepada gerak dinamis menuju kualitas kehidupan yang menyejukkan.

Ketulusan

Pencapaian puasa batin meniscayakan umat Islam melakukan ibadah dengan
penuh ketulusan. Salah satu rukun Islam dilaksanakan dalam rangka
penyucian diri, memperkaya spiritualitas; bukan karena beban agama,
apalagi menganggapnya tradisi yang mengungkung.

Ketulusan menyadarkan mereka menelanjangi kelemahan diri
masing-masing. Berangkat dari kelemahan itu, mereka melakukan proses
menuju pembenahan dan perbaikan diri. Dengan demikian, setiap
menjalani puasa, mereka berusaha melakukan perubahan transformatif
yang mengantar ke dalam kehidupan lebih berarti, bukan hanya bagi diri
sendiri tetapi semua manusia.

Ironinya, puasa yang kita jalani justru dapat dikatakan nyaris absen
dari nilai ketulusan. Kita berpuasa lebih disebabkan sesuatu selain
Allah; demi, misalnya, masuk surga atau demi menunjukkan tingkat
keberagamaan kita kepada orang lain. Tidak heran jika sebagian dari
kita yang berpuasa justru mengedepankan kesombongan, menganggap lebih
baik dari yang lain, bahkan menyebarkan kekerasan karena dibuai
angan-angan sebagai orang yang telah mendapat mandat dari Tuhan untuk
melakukan apa saja bagi orang lain. Maka, puasa bukan lagi
meningkatkan moralitas dan keberagamaan, tetapi tanpa disadari
mendegradasikannya.

Abd Ala Pengajar IAIN Sunan Ampel, Surabaya

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0510/07/opini/2107849.htm




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
DonorsChoose.org helps at-risk students succeed. Fund a student project today!
http://us.click.yahoo.com/O4u7KD/FpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/

[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke