Baraya,

Tah...Genah seuri euy he he he... Boga gelar Humoris Causa!


Doktor Humoris Causa
Soenjono Dardjowidjojo

Akhir-akhir ini orang ramai berbicara tentang perguruan tinggi
gadungan. Mereka mengaku sebagai institusi resmi yang memiliki hak
untuk memberi gelar.

Sebagian adalah ramuan dalam negeri, sebagian lain kemasan dari luar.
Ramuan dalam negeri ada yang dengan izin operasional, bahkan dengan
akreditasi. Kemasan luar mengaku berafiliasi dengan perguruan tinggi
(PT) di luar negeri, yang, jika dilacak belum tentu ditemukan
keberadaannya. Kedua macam PT ini menawarkan komoditas yang sama,
yaitu gelar. Yang menarik, komoditas ini ternyata laris. Oleh pelaku
bisnis kelarisan ini tercium dan diciptakanlah wadah untuk menampungnya.

Siapa peminatnya?

Peminat komoditas ini datang dari berbagai lapisan masyarakat. Di
sektor pengayom rakyat, ada mantan kepala polri yang berlagak oon
Oneng dengan membiarkan ijazah MSc-nya tersimpan di laci meja untuk
sekian lama. Di sektor militer ada jenderal yang tahu-tahu menjadi
doktor, padahal tidak pernah terdengar ikut kuliah. Di sektor politik,
ada mantan pembesar nomor dua yang secara instan menjadi doktor,
katanya honoris causa.

Kegandrungan akan gelar rupanya telah mewabah, dari elite sampai
perdukunan. Pengusaha kosmetik papan atas tampaknya merasa perlu
memiliki gelar doktor. Agar kosmetiknya lebih dipercaya orang?

Ada pula artis yang mendapat dua gelar doktor dari luar negeri pada
waktu yang sama, seperti beli dua buah melon sekaligus! Di kalangan
agama, pendakwah kondang juga ada yang tergiur menambah namanya dengan
gelar doktor. Artis pendangdut pun tidak mau ketinggalan. Mungkin agar
dangdutannya lebih afdal kalau diembel-embeli doktor (meski honoris
causa). Yang paling lucu, gelar honor-honoran ini memikat hati
sebagian dukun. Ada paranormal yang mungkin merasa akan kian laris
jika bergelar doktor. Dengan asap kemenyan dan bantuan tuyul atau wewe
gombel dia perlu menempelkan gelar doktor honoris causa.

Pertanyaannya, Mengapa masyarakat kita begitu gandrung pada gelar?

Pola pandang masyarakat

Sebagian dari hal-hal ini mungkin bisa ditelusuri ke sistem feodal
masa lampau. Dalam masyarakat feodal, manusia menghargai manusia lain
bukan karena kemanusiaannya, tetapi karena atribut. Pada zaman gelar
akademik belum dikenal di masyarakat, banyak orang bangga dengan gelar
kebangsawanan. Orang berdarah biru merasa lebih daripada lainnya
sehingga orang Jawa, misalnya, ramai-ramai mencantumkan R (raden), RM
(raden mas), KRMT (kanjeng raden mas tumenggung), dan lainnya. Di
Sumatera, gelar tengku juga jadi simbol status sosial bergengsi.
Rakyat kecil tertegun melihat gelar-gelar itu.

Dengan kian majunya dunia pendidikan, sedikit demi sedikit sikap
feodal terkikis, tetapi rohnya masih kukuh. Tahun 1950-an orangtua
merasa amat bangga jika anak atau menantunya bergelar Drs/Dra. Gelar
ini kian meningkat dan kini kita memiliki gelar magister serta doktor.

Saking gandrungnya pada gelar, orang sering merenteng gelar- gelar
dari yang terendah sampai tertinggi: Drs Ir Sopo Waeningrat, MSc, MBA,
PhD. Mereka tak sadar (atau tidak tahu?), di dunia akademik betulan,
gelar lebih tinggi menghapus gelar yang lebih rendah.

Penyebab lain, gelar memiliki dampak terhadap karier yang sedang
dibangun. Sebagian meneruskan studi untuk menambah ilmu, sebagian lain
(mungkin mayoritas) hanya mencari secarik kertas yang dinamakan ijazah.

Gejala ini tampak pada jumlah mahasiswa. PT yang ”murah hati”
memberi gelar, dibanjiri peminat. Sedangkan PT yang benar-benar
memberi ilmu tidak banyak diminati. Apa lumrah PT yang tiap wisuda
menghasilkan 600 magister? Padahal untuk membimbing tesis 10 magister
beneran, dosen sudah kewalahan.

Penyebab lainnya, sikap masyarakat yang masih silau terhadap dunia
Barat. Selama ini ilmu dan teknologi menjadi semacam milik eksklusif
ilmuwan Barat. Tetapi, tidak berarti semua yang Barat pasti hebat.
Begitu juga PT-nya. Di Barat memang ada Harvard, Yale, Oxford, dan
Cambridge, tetapi yang gurem dan fiktif juga segudang.

Universitas seperti American World University (AWU), Northern
California Global University (NCGU), dan American University of Hawaii
(AUW) adalah sebagian dari contoh PT non-esksistan. Lebih dari 12
tahun saya mengajar di University of Hawaii. Seingat saya, tidak ada
American University of Hawaii di Hawaii.

PT seperti inilah yang menawarkan aneka gelar kepada siapa pun, asal
membayar. Oleh NDGU, gelar profesor honoris causa diberikan kepada
(mantan) bupati Ponorogo (Kompas, 13/3/2002) dan orang penting di
Sulawesi Selatan. AUW juga memberi doktor honoris causa kepada dua
orang di daerah yang sama.

Dunia akademik pasti tertawa ada profesor honoris causa dan menjadi
bingung saat mendengar dari seorang penerima gelar, ”gelar ini
merupakan penghargaan bukan gelar akademik. Mana ada profesor bukan
akademik! Akademisi tertawa mendengar argumen, gelar penghargaan yang
saya peroleh ini sama dengan gelar haji (fajar.co.id 25/8/2005).

Cermin wajah kita

Dari gambaran itu tampak, larisnya dagangan gelar merupakan cerminan
wajah kita yang lebih menekankan bedak daripada kualitas pipi. Ingin
selalu tampak ayu tanpa menyadari, keayuan hanya sedalam kulit.

Dalam hal intelektual, kita berperilaku sama, ingin tampak pandai
tanpa memerhatikan, kepandaian bukan sekadar ijazah. Dalam mengayukan
atau memandaikan diri, orang terbuai Machiavelli yang menyatakan,
tujuan menghalalkan cara. Jalan apa pun akan ditempuh asal yang
diinginkan tercapai. Jika ijazah bisa dipalsukan, dipalsukanlah ijazah
itu. Juga kalau bisa dibeli, dibelilah ijazah itu.

Gelar doktor mereka bukan doktor honoris causa, tetapi humoris causa
karena lebih humorous (lebih lucu).

Soenjono Dardjowidjojo Profesor Linguistik (bukan humoris causa),
Unika Atma Jaya, Jakarta





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help tsunami villages rebuild at GlobalGiving. The real work starts now.
http://us.click.yahoo.com/T8WM1C/KbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/

[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 




Kirim email ke