Pemerintah Gagal Buktikan Relevansi Negara Imam Prihadiyoko Ketika berbicara dalam seminar mengenang 100 tahun tokoh nasional Dr J Leimena dua pekan lalu, Dr Tamrin Amal Tomagola menyebutkan bahwa nasionalisme di Indonesia ini serba terlambat. Terlambat dalam arti, negara-negara yang merdeka setelah perang dunia kedua, kesatuannya yang terbentuk lebih sebagai kesatuan jejak kolonial.
Misalnya saja, negara-negara di Afrika dipenggal-penggal menurut siapa yang pernah menjajahnya. Hal yang sama terjadi di wilayah Timur Tengah. Jadi, nasionalisme yang terjadi bukan sebuah proses hubungan yang muncul dari interaksi sosial budaya dari dalam secara kuat, melainkan diimpor dari Barat. Tidak heran kalau ada sebagian pakar yang mengatakan bahwa nasionalisme seperti sudah usang. Para pendiri bangsa ini pun mengimpor gagasan nation-state dari Barat. Karena itu, founding father kita yang berpendidikan Barat itu juga mengambil alih gagasan nasionalisme untuk membungkus semua keragaman yang begitu tinggi di wilayah Nusantara ini. Pada saat yang sama, nasionalisme itu juga disertai keinginan mewujudkan fungsi negara. Eksistensi negara idealnya diperlukan dalam kerangka menjaga dan membela kepentingan rakyat yang tidak berdaya terhadap pemilik modal asing. Negara dapat melakukan bargaining kepada pemilik modal asing agar menghasilkan kebijakan yang tidak menyakitkan dan memelaratkan rakyatnya. Apalagi dalam modal itu, dengan logika kapitalnya, tidak punya belas kasihan kepada siapa pun. Jika modal mau mengeksploitasi dan menerobos suatu wilayah, dia akan ambil keuntungan sebesar-besarnya, tak peduli dengan kesejahteraan rakyat. Di sinilah saya kira negara masih dibutuhkan menjadi pengawal dan pembela rakyatnya di dalam tarikan kepentingan regional maupun internasional atas nama satu kesatuan politik. Meskipun dalam praktiknya di Indonesia, negara tidak menjalankan fungsi itu, ujar sosiolog Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia ini. Tertarik mendiskusikan lebih lanjut tentang relevansi peran negara dan nasionalisme pada masa sekarang, Kompas mengunjungi Tamrin di rumahnya yang asri di kompleks perumahan yang terletak di kawasan Cimanggis, Bogor. Konteks Indonesia sekarang, apakah nasionalisme itu masih relevan? Seperti sering kali saya katakan, nasionalisme kita itu serba terlambat. Selain itu, wujud negara kesatuan yang dipaksakan secara politik oleh para pendiri bangsa ini merupakan wujud yang tidak cocok. Pasalnya, wujud kesatuan yang diterapkan itu integrasinya tidak bisa bertahan dalam waktu lama. Saya kira, wujud yang paling masuk akal dan cocok dengan pluralisme yang ada di Indonesia adalah wujud federal. Di situ kita mengakui adanya berbagai macam mozaik unit kecil dalam kesatuan yang agak longgar dan kurang lebih bebas. Namun, karena semangat melawan Belanda habis-habisan ketika itu, maka ada kebutuhan harus bersatu untuk melawan musuh bersama. Kemudian dipaksakan dalam unitary state. Saya kira, desain dari awal ini sudah keliru untuk suatu masyarakat yang sangat heterogen seperti Indonesia. Meskipun keliru desain awalnya, nasionalisme Indonesia toh sudah berjalan. Apa sebenarnya yang menjadi persoalan? Masalah nasionalisme itu merupakan persoalan umum yang bukan hanya dihadapi di Indonesia saja. Apalagi sekarang ini semakin universal. Masalahnya biasanya terkait dari tidak samanya batas ekonomi, politik, dan sosial budaya. Bangsa-bangsa yang kekuatan ekonomi, politik, dan sosial budaya tidak berada dalam locus yang sama biasanya mempunyai persoalan dengan nasionalisme dan sering terjadi konflik. Kalau digambar dengan teori himpunan, ketiga batas itu saling memotong dan tidak jatuh pada bidang yang sama. Seperti daerah kelahiran saya, satuan ekonomi masuk dalam Sulawesi Utara, Kalimantan Barat bagian timur, dan Maluku Utara. Namun, satuan politiknya tidak berada dalam satu wilayah yang sama. Hal ini diperumit lagi dengan satuan sosial budaya. Saya kira, bangsa-bangsa yang nasionalismenya cukup kokoh kalau batas-batas satuan ekonomi, politik, dan sosial budaya kurang lebih jatuh sama. Seperti Amerika Serikat, meskipun berasal dari berbagai macam bangsa, AS dapat dikatakan mengacu pada sosial budaya yang sama, yaitu budaya Barat yang dipengaruhi filsafat Yunani dan Kristiani. Kemudian, secara unit ekonomi lebih kurang sama. Bangsa yang batas unit ekonomi, politik, dan sosial budayanya hampir sama akan jauh lebih kuat nasionalismenya dibandingkan dengan bangsa yang hanya disatukan oleh kesamaan nasib, seperti dijajah bangsa lain yang sama. Namun, di dalamnya terdapat mozaik dan keterbelahan yang saling memotong. Kalau memang tidak samanya batas wilayah ekonomi, politik, dan sosial budaya penyebab tidak bertahannya nasionalisme, tentunya Indonesia tidak punya masa depan dengan nasionalismenya. Lantas, bagaimana solusinya menghadapi nasionalisme yang sudah terlambat? Nasionalisme seperti di negara kita sebetulnya mengikuti jejak penjajah. Sebenarnya sekarang ini kelihatannya sudah mulai mengakui dan menyadari bahwa penekanan yang berlebihan pada border politik yang sebenarnya jejak dari penjajah itu tidak mampu bertahan melawan satu border ekonomi yang sekarang makin menerobos border politik. Karena makin menerobos itu, maka sekarang banyak pemikir di dunia seperti di Pakistan yang mengatakan nasionalisme itu menjadi usang dan tidak dapat bertahan lagi karena diterobos kekuatan ekonomi. Jadi, saya kira nasionalisme menjadi semakin tidak relevan sebagai suatu border politik yang harus dipertahankan habis-habisan tanpa mengakui dan menyadari terobosan yang dibuat border ekonomi. Dengan demikian, nasionalisme lama-lama akan menyerah dan perlahan-lahan ditundukkan satuan ekonomi yang lebih masuk akal. Negara tetap diperlukan Tamrin tetap percaya bahwa negara bisa dipergunakan untuk melindungi rakyat. Itu sebabnya, institusi negara tetap diperlukan meskipun ada problem dengan nasionalisme yang dipaksakan. Jadi, negara tidak perlu dibubarkan? Ya, negara masih mempunyai fungsi untuk membela kepentingan rakyat, yang paling tidak berdaya terhadap pemilik modal-modal asing. Negara menjadi benteng terakhir untuk melakukan bargaining yang tidak terlalu menyakitkan dan memelaratkan masyarakat. Indonesia yang menghadapi arus globalisasi terpaksa mengikuti perjanjian pasar bebas, bahkan hampir negara tidak punya kekuatan pada kekuatan modal asing, ditambah dengan perkembangan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang terakhir membuat negara tampak tidak menjalankan fungsinya. Kenaikan harga BBM dilakukan hanya untuk mengejar harga pasar dunia. Dalam kasus BBM pemerintah gagal membuktikan relevansi keberadaan negara. Fungsi paling minimal yang diharapkan dapat dilakukan negara ternyata tidak bisa dilakukan. Dalam tataran yang lebih riil, pemerintah bukan hanya kalah dan gagal, bahkan Aburizal Bakrie cs itu dicurigai sebagai wakil modal- modal asing di Indonesia. Saya kira dalam kasus Indonesia, negara gagal sebagai pengawal dan pembela masyarakat yang ada di lapisan paling bawah. Malah, ada kecenderungan banyak bagian dari negeri ini, baik tanah maupun kekayaan yang ada di dalamnya, dijual habis kepada pemodal asing. Kondisi sekarang semakin tak keruan. Orang lalu semakin tidak melihat relevan NKRI sekarang ini. Keberadaan negara yang dibutuhkan untuk mengawal dan membela bangsa, terutama yang ada di lapisan bawah, ternyata tak dapat berbuat apa-apa. Bahkan, menjadi agen dan pengawal kepentingan asing. Dengan demikian, orang melihat makin tidak relevan arena negara untuk digunakan sebagai alat mempertahankan martabat bangsa ini. Adalah jalan keluarnya, atau paling tidak adakah yang masih bisa dilakukan? Kalau kembali secara teoretik, yang mungkin bisa dilakukan adalah negara tetap ada, tetapi melakukan perluasan kerja sama yang fleksibel. Dengan mengikuti irama satuan ekonomi yang dominan, misalnya, Indonesia memakai Singapura sebagai titik pusat jaringan perdagangannya, kemudian bersama-sama dengan Taiwan, Jepang, dan China, saya kira akan menjadi kekuatan ekonomi yang besar. Jadi, kerja sama regional diperlukan untuk menutup kelemahan tidak samanya border politik dan border ekonomi. Melalui kerja sama regional semacam ini, dapat digunakan untuk mengembangkan potensi yang ada di suatu daerah secara maksimal, dengan melakukan terobosan baru. Di masa depan, unit yang masuk akal ada di tingkat regional. Sekarang ini ada kecenderungan memotong pemerintahan nasional dan melakukan kerja sama langsung dengan pemerintah lokal. Itu sudah terjadi di sejumlah daerah. Misalnya dengan adanya konsep sister city. Sebenarnya national government mulai di bypass. Barangkali kalau kita terus mengamati semua persoalan sekadar dari perspektif nasional, kita akan ketinggalan kereta. Karena, kereta perubahan itu tidak lagi di arena nasional, tetapi di arena regional yang terkadang mem-bypass arena nasional. Arena nasional hanya akan diperhatikan sejauh dia membatasi, menghalangi, atau memungkinkan satu proses di tingkat lokal. ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> DonorsChoose.org helps at-risk students succeed. Fund a student project today! http://us.click.yahoo.com/O4u7KD/FpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/ [Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
