Puasa dan Transformasi Multikultural
Oleh Choirul Mahfud
11/10/2005
Salah satu ajaran yang memperlihatkan adanya kesamaan
nilai dalam keragaman budaya adalah puasa. Ia
merupakan ajaran agama yang diwariskan dari
agama-agama sebelumnya. Sebagaimana tercatat dalam
sejarah Islam, bahwa sebelum kedatangan Muhammad, umat
Nabi yang lain diwajibkan berpuasa. Ibnu Katsir dalam
tafsirnya mengatakan, sejak Nabi Nuh hingga Nabi Isa
puasa wajib dilakukan tiga hari setiap bulannya.
Selamat Menjalankan Ibadah Puasa, begitulah
kira-kira pesan pendek lewat pesan pendek (SMS) yang
saya terima dari sahabat saya non-muslim Tionghoa.
Kata-kata tersebut mungkin biasa, tapi setelah saya
hayati terkandung makna yang cukup universal dan
selaras dengan nilai-nilai multikultural. Karena,
selama ini penyelenggaraan ritual keagamaan, seperti
puasa, hari raya Idul Fitri, dan Natal, seolah hanya
menghadirkan kegembiraan subyektif atau sektoral.
Puasa dan Idul Fitri hanya menjadi kebanggaan umat
Islam, Natal menjadi milik umat Nasrani, dan begitu
seterusnya. Budaya saling menyapa, menghormati
kebebasan beragama di negeri ini masih sepi. Padahal
negeri ini katanya bhineka tunggal ika. Ironis
memang.
Dalam konteks lebih luas, seolah agama hanya dipahami
sebagai persembahan untuk Tuhan. Pada titik ini Tuhan
dibingkai sesuai dengan keyakinan masing-masing.
Padahal Tuhan "memproklamirkan" dirinya sebagai
penebar cinta kasih untuk semua umat manusia dalam
keragaman budaya (multikulturalisme) tanpa merendahkan
satu budaya dan mengagungkan budaya lainnya,
anti-dominasi.
Sebagai bulan suci, puasa hendaknya bisa dijadikan
titik tolak untuk menyemaikan nilai-nilai
multikultural. Dahulu kala, dalam menyebarkan misi
Islam di Indonesia, para Wali Songo pernah memakai
metode dakwah multikultural. Yaitu agama lintas budaya
tanpa membedakan ragam budaya, lintas etnik tanpa
mengagungkan etnik tertentu, dan lintas jender tanpa
memuliakan jenis kelamin tertentu. Apalagi
kaya-miskin. Pendek kata, agama dihadirkan di ruang
publik sangat humanis-multikulturalis.
Dalam multikulturalisme tidak ada dominasi budaya
mayoritas dan tirani budaya minoritas. Semuanya tumbuh
bersama dan memiliki peluang yang sama untuk menggapai
kesejahteraan bersama (achieve of welfare).
Masing-masing budaya memiliki kesempatan yang sama
untuk menampakkan eksistensinya tanpa diskriminasi.
Oleh sebab itu, perlu adanya upaya pemberdayaan
terhadap seluruh potensi yang ada dalam masyarakat
tanpa membedakan latar belakang agama maupun sosial
budaya.
Dimensi multikulturalisme ini sebenarnya tersirat kuat
dalam Islam dengan pernyataan bahwa Islam adalah
penebar kasih sayang bagi seluruh alam (rahmatan lil
alamin). Pengejawantahan dari pernyataan tersebut
tidak hanya dalam konteks teologis, tetapi sosial
budaya. Islam, seperti yang tercermin dalam sikap
Rasulullah, juga sangat menghargai eksistensi
pluralitas budaya dan agama.
Salah satu ajaran yang memperlihatkan adanya kesamaan
nilai dalam keragaman budaya adalah puasa. Ia
merupakan ajaran agama yang diwariskan dari
agama-agama sebelumnya. Sebagaimana tercatat dalam
sejarah Islam, bahwa sebelum kedatangan Muhammad, umat
Nabi yang lain diwajibkan berpuasa. Ibnu Katsir dalam
tafsirnya mengatakan, sejak Nabi Nuh hingga Nabi Isa
puasa wajib dilakukan tiga hari setiap bulannya.
Bahkan, nabi Adam diperintahkan untuk tidak memakan
buah khuldi, yang ditafsirkan sebagai bentuk puasa
pada masa itu. "Janganlah kamu mendekati pohon ini
yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang
zalim". (Al-Baqarah: 35).
Begitu pula nabi Musa bersama kaumnya berpuasa empat
puluh hari. Nabi Isa pun berpuasa. Dalam Surah Maryam
dinyatakan Nabi Zakaria dan Maryam sering mengamalkan
puasa. Praktek puasa Nabi Daud sehari berpuasa dan
sehari berbuka pada tiap tahunnya yang dikenal dengan
Puasa Daud. Nabi Muhammad SAW Sendiri sebelum diangkat
menjadi Rasul telah mengamalkan puasa tiga hari setiap
bulan dan turut mengamalkan puasa Asyura yang jatuh
pada hari ke 10 bulan Muharram bersama masyarakat
Quraisy yang lain. Malah masyarakat Yahudi yang
tinggal di Madinah pada masa itu turut mengamalkan
puasa Asyura.
Refleksi Esoteris
Secara teoritik, multikulturalisme mengandaikan adanya
kesadaran internal yang inklusif dan mengejawantah
dalam perilaku sosial. Ritual puasa, idealnya
mengantarkan para pelakunya menemukan kesadaran hati
nurani yang bersifat universal sehingga memiliki daya
pandang egaliter terhadap sesama. Sebuah kesadaran
yang mengikat kecerdasan emosi seorang hamba dengan
Tuhannya dan menjadi landasan bagi terbangunnya
kecerdasan relasi-rasional antar-sesama.
Dalam konteks pelaksanaan ibadah puasa ini, maka
refleksi-esoteris dan kesadaran-eksoteris harus tumbuh
sebagai manifestasi dari proses internalisasi
nilai-nilai ketuhanan yang berlangsung selama
Ramadhan. Inilah sebuah proses yang oleh filosof
Kierkegaard (1813-1855) disebut sebagai proses dari
aesthetic stage menuju religious stage. Maksudnya,
puasa bukan sekadar firman (perintah) yang bersifat
personal, tetapi juga amal (aktualisasi) yang bersifat
sosial.
Puasa sebagai tradisi agama-agama yang memiliki makna
universal harus dijadikan energi positif bagi
menguatnya pemahaman multikultural yang disemangati
oleh nilai-nilai ketuhanan (rabbaniyah) dan
kemanusiaan (insaniyah). Transformasi spiritual dan
semangat multikultural yang dicapai lewat puasa
idealnya bisa dinikmati dan dirasakan oleh seluruh
umat manusia tanpa terjebak oleh sekat-sekat budaya,
etnik, jender, bahasa, ataupun teologis, apalagi
politis.
Dalam rangka itu, maka pemahaman terhadap agama-agama
harus dilakukan dalam konteks kesamaan misi universal
kemanusiaan. Universalitas ini tidak akan mematikan
potensi-potensi khas yang ada dalam agama maupun
budaya yang beragam. Justru potensi-potensi tersebut
bisa tumbuh bersama dalam keragaman (multikultural).
Dan ini hanya akan terselenggara apabila ada komitmen
dan kesungguhan semua komunitas atau jamaah budaya dan
agama baik sebagai mayoritas maupun minoritas untuk
bersikap inklusif dan toleran secara setara untuk
kepentingan bersama. Inilah semangat dalam pelaksanaan
puasa, yaitu sebuah semangat keagamaan yang ramah
terhadap ragam budaya. Dengan demikian, agama bisa
tampil sebagai milik semua untuk bersama. Semoga!. []
Choirul Mahfud, Direktur Eksekutif Lembaga Kajian
Agama dan Sosial (LKAS) Surabaya, penulis buku
Pendidikan Multikultural,Pustaka Pelajar, 2005, Yogyakarta.
Baktos,
Rahman, Wassenaar/NL
__________________________________
Yahoo! Music Unlimited
Access over 1 million songs. Try it free.
http://music.yahoo.com/unlimited/
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
DonorsChoose.org helps at-risk students succeed. Fund a student project today!
http://us.click.yahoo.com/O4u7KD/FpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/
[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/