Konflik Palestina dan Isu Skenario Barat

Budi Suwarna

Rentetan peristiwa politik di Palestina akhir-akhir ini mengingatkan
kita pada skenario untuk menggulingkan pemerintahan Hamas yang
dibocorkan The New York Times Februari 2006. Apakah skenario
penggulingan itu benar-benar ada?

Padal 14 Februari 2006, surat kabar terkemuka Amerika Serikat, The New
York Times (NYT), mengungkap sebuah skenario terselubung Israel dan AS
untuk menjatuhkan pemerintahan Hamas dalam beberapa bulan.

Skenario penggulingan dibuat setelah Hamas secara tegas menolak
kemauan kelompok Kuartet, yang terdiri dari AS, Rusia, Uni Eropa, dan
PBB, untuk mengakui keberadaan Israel, menghentikan serangan, dan
menaati perjanjian yang dibuat Pemerintah Palestina sebelumnya dengan
Pemerintah Israel.

Menurut skenario itu, upaya penggulingan pemerintahan Hamas dilakukan
secara sistematis antara lain dengan mengisolasi Palestina. AS dan
Israel akan memotong akses keuangan serta hubungan internasional
sehingga Otoritas Palestina segera bangkrut.

Israel akan membekukan pengembalian dana pajak dan cukai yang mereka
kumpulkan dari warga Palestina di perbatasan. Jumlahnya sekitar 50
juta dollar AS per bulan. Israel juga akan menutup pinta masuk dan
keluar di Jalur Gaza dan Tepi Barat. AS dan UE menambah tekanan dengan
menghentikan dana bantuan untuk Otoritas Palestina yang berjumlah
sekitar 110 juta dollar AS per bulan.

Dengan skenario isolasi ini, perekonomian Palestina diharapkan hancur
dan rakyat hidup tidak bahagia. Selanjutnya, Presiden Palestina
Mahmoud Abbas yang juga pemimpin Fatah memiliki alasan untuk
menyerukan pemilu baru. Melalui pemilu baru inilah, riwayat
pemerintahan Hamas akan diakhiri dan Fatah kembali berkuasa.

Skenario ini tentu saja dibantah Pemerintah AS dan Israel. "Tidak ada
rencana, proyek, plot, dan konspirasi AS-Israel untuk menjatuhkan
pemerintahan Palestina mendatang," kata juru bicara Departemen Luar
Negeri AS Sean McCormack sehari setelah skenario konspirasi diungkap NYT.

Terlepas dari bantahan tersebut, beberapa rencana dalam skenario yang
diungkap NYT ternyata benar-benar berjalan di Palestina. Apakah ini
sebuah kebetulan? Kalaupun kebetulan, ini adalah kebetulan-kebetulan
yang berturut-turut dan segaris dengan alur skenario versi NYT. Mari
kita bandingkan.

Tanggal 17 Februari 2006 atau lima hari setelah NYT mengungkapkan
skenario itu, Pemerintah Israel menyatakan Hamas sebagai musuh.
Menteri Pertahanan Israel Shaul Mofaz merekomendasikan sejumlah daftar
tindakan keras terhadap pemerintahan Hamas, antara lain memutuskan
hubungan antara Tepi Barat dan Gaza, membekukan dana pengembalian
pajak, membatasi ekspor, mencegah transfer uang ke Palestina, dan
mencegah masuknya bantuan internasional ke Palestina.

Tiga hari setelah itu, giliran Pemerintah AS dan UE yang menekan
Palestina dengan menghentikan dana bantuan. Tidak hanya itu, Menteri
Luar Negeri AS Condoleezza Rice juga bersafari ke beberapa negara Arab
untuk meminta mereka menghentikan bantuan kepada Pemerintah Palestina.

Tidak makan waktu lama, pengisolasian yang dilakukan secara ketat
menghancurkan perekonomian Palestina. Pemerintah tidak mampu membayar
gaji sekitar 150.000 pegawai negeri dan anggota pasukan keamanan.
Buntutnya, pertengahan April 2006, pasukan keamanan yang loyal kepada
Fatah berunjuk rasa memprotes Hamas.

Dari sinilah bentrokan-bentrokan berdarah antara pendukung Fatah dan
Hamas dimulai. Bentrokan semakin meruncing ketika kedua faksi berebut
pengaruh dan kekuatan militer. Situasi keamanan pun memburuk. Rakyat
yang berharap akan ada perubahan di Palestina mulai menumpahkan rasa
frustrasi mereka.

Untuk mengatasi kegentingan di Palestina, Hamas dan Fatah menggelar
dialog. Abbas dan PM Ismail Haniya dari Hamas beberapa kali bertemu
untuk membicarakan pemerintahan persatuan nasional. Namun, upaya
menyatukan Hamas dan Fatah tampak sama sulitnya dengan upaya
menyatukan minyak dan air.

Kedua pihak selalu tersandung masalah Israel. Atas dukungan Barat,
Abbas mencoba membujuk Hamas agar bersedia mengakui Israel. Namun,
Hamas menolak dengan tegas. Bisa ditebak, upaya dialog itu pun
akhirnya menemui jalan buntu.

Tuntutan pemilu

Setelah jalan dialog gagal, pada 9 Desember 2006 Abbas menyerukan
percepatan pemilu parlemen dan presiden yang tujuan akhirnya adalah
menyingkirkan Hamas dari pemerintahan. Sekali lagi, manuver politik
ini sejalan dengan skenario Israel-AS yang disebutkan di atas.

Pernyataan Abbas mendapat reaksi keras dari Haniya. Dia menegaskan,
seruan Abbas untuk mempercepat pemilu hanya akan memicu kerusuhan.
Haniya menganggap manuver Abbas merupakan upaya kudeta terhadap
pemerintahan Hamas. Secara terpisah, pemimpin Hamas di Damascus,
Suriah, Khaled Meshaal mengatakan manuver Abbas harus dihentikan.

Situasi politik Palestina mendidih lagi. Pada saat yang sama,
tampaknya ada pihak-pihak tertentu yang mengail di air keruh dengan
melancarkan serangan mematikan terhadap pejabat Hamas dan Fatah secara
bergantian. Yang terakhir adalah upaya pembunuhan terhadap PM Haniya
pada 14 Desember lalu. Mungkinkah ini upaya mengadu domba?

Yang jelas, serangan berdarah yang dilancarkan bergantian terhadap
pejabat Hamas dan Fatah berikut keluarganya efektif untuk memicu rasa
saling curiga dan mempertajam polarisasi. Kubu Fatah dan Hamas pun
segera berhadapan dalam pertempuran berdarah di Jalur Gaza.

Di tengah situasi keamanan yang kian buruk, pada 18 Desember 2006
Mahmoud Abbas sekali lagi menyatakan niatnya untuk menggelar pemilu
presiden dan parlemen lebih dini. Kali ini, Barat secara
terang-terangan mendukung manuver Abbas. Bahkan, PM Inggris Tony Blair
menemani Abbas ketika dia mengumumkan keinginannya untuk menggelar
pemilu di depan para wartawan di Ramallah, Senin (18/12). Pada
kesempatan itu, Blair juga meminta dunia internasional untuk berada di
belakang Abbas.

Pada hari yang sama, Pemerintah AS menegaskan dukungannya pada rencana
Abbas. "Kami mendukung Presiden Abbas yang sedang mencoba menerobos
kebuntuan (politik) saat ini dan kami tentu saja berharap
langkah-langkah yang dia ambil dapat mengurangi kekerasan," kata Sean
McCormack di Washington.

McCormack mengatakan tidak tahu pasti apakah Abbas bertindak secara
konstitusional dengan meminta percepatan pemilu presiden dan parlemen.
"Menurut pemahaman saya atas masalah ini, berdasarkan UUD, itu tidak
dilarang. (Memang) tidak ada alasan yang spesifik, tapi tidak
dilarang," katanya.

Washington juga berencana membantu memperkuat pasukan keamanan yang
loyal kepada Abbas. Hal itu dilakukan untuk mengimbangi kekuatan Hamas
yang dituduh AS sedang mempersenjatai diri.

Dari Jerusalem, sejumlah diplomat mengatakan, Pemerintah Israel akan
mencairkan ratusan juta dollar dana pajak milik warga Palestina yang
mereka bekukan untuk menyokong rencana Abbas. Dana itu akan dicairkan
secara bertahap kepada Abbas. Dengan dana itu, Abbas dapat membayar
pegawai negeri dan pasukan keamanannya yang tidak menerima gaji penuh
sejak Hamas berkuasa Maret lalu.

Kantor PM Israel Ehud Olmert tidak bersedia memberikan komentar
mengenai isu pencairan dana itu. Pihak Abbas pun memilih tutup mulut.

Pekan lalu, sejumlah diplomat juga membeberkan rencana negara-negara
Barat dan sekutunya untuk menggelontorkan dana ke kantor Abbas. Mereka
juga akan membiayai program-program yang menguntungkan Abbas secara
politik. Lengkap sudah tekanan yang dilancarkan terhadap Hamas.

Tuduh AS

Rupanya manuver Barat telah dicium oleh Hamas. Sehari setelah Abbas
menegaskan kembali rencananya untuk menggelar pemilu, Ismail Haniya
melontarkan tuduhan serius kepada AS. Washington dianggap Haniya
memprakarsai upaya-upaya kudeta terhadap pemerintahan Hamas yang
dipilih secara demokratis.

Jika melihat manuver Barat sejak Februari lalu hingga Desember ini,
wajar jika Haniya menuduh AS dan sekutu-sekutunya memprakarsai kudeta.

Betapa tidak, rentetan kejadian di Palestina selama 11 bulan ini
linier dengan skenario yang diungkap NYT.

Kita hanya menunggu apakah rentetan peristiwa ini akan memperkeras
soliditas Hamas, atau sebaliknya, Palestina terpecah. 

Kirim email ke