Perang 1967 tentukan wajah konflik
Jeremy Bowen
Editor Timur Tengah BBC
Foto kemenangan Israel di Yerusalem
Foto yang diambil di Yerusalem tahun 1967, dan foto dewasa ini
Untuk memahami yang terjadi antara Israel dan Palestina dewasa ini,
orang harus memahami yang terjadi dalam Perang Timur Tengah tahun 1967,
Israel memerlukan hanya enam hari untuk meremukkan angkatan bersenjata
Mesir, Yordania, dan Suriah. Namun, selama lebih dari 40 tahun
terakhir, peninggalan perang itu masih menentukan bentuk konflik yang
terjadi dewasa ini.
Perang ini memaksa sekitar 250.000 warga Palestina lagi hidup dalam
pengungsian. Demikian juga lebih dari 100.000 warga Suriah. Tidak ada
perdamaian mungkin tercapai di Timur tengah tanpa menyelesaikan
masalah mereka.
Israel menjadi negara penjajah.
Israel merebut Semenanjung Sinai dan Jalur Gaza dari Mesir Dataran
Tinggi Golan dari Surian, dan Tepi Barat dan Yerusalem Timur dari
Yordania.
Perang lain
Israel terlibat dalam perang lain yang sangat serius dengan Suriah dan
Mesir tahun 1973, tapi tikaman utama dari pihak Arab terhadap Israel
berasal dari kelompok-kelompok Palestina, yang dipimpin oleh PLO-nya
Yasser Arafat.
Serdadu Israel menawan tentara Arab
Serdadu Israel menawan tentara Arab tahun 1967
Bagi warga Palestina, pelajaran dari kekalahan mempermalukan yang dia
diderita negara-negara yang berbatasan dengan Arab pada tahun 1967
adalah bahwa tidak ada negara lain yang akan bertempur demi mereka.
Kegagalan nasionalisme Arab pada tahun 1967 juga menjadi faktor utama
dalam perkembangan awal Islam politis. Masjid mulai memberikan jawaban
atas pertanyaan yang tidak bisa dijawab secara meyakinkan oleh
orang-orang kuat berhaluan sekuler.
Mitos Perang Timur Tengah 1967 adalah bahwa Israel sebagai David
(Daud) membunuh Goliath (Jalut) yang diperankan pihak Arab. Lebih
tepat jika dikatakan ada dua Goliath di Timur Tengah pada tahun 1967.
Orang-orang Arab, yang dianggap sebagai satu kubu, memiliki angkatan
bersenjata dalam jumlah besar, tapi tidak siap bertempur.
Goliath Yahudi tengah dalam kondisi yang paling kuat, dan
menyadarinya, atau setidaknya para pemimpinnya menyadari hal itu. Pada
tahun 1967, Israel adalah negara benteng. Tidak ada televisi saat itu,
dan para jenderal dan politisi tidak membocorkan urusan mereka kepada
wartawan yang mereka sukai seperti yang terjadi kini.
Petaka nasional
Imbalan yang diraih Israel, selain kemenangan itu sendiri, adalah
hubungan strategisnya dengan Amerika Serikat.
Serdadu Israel
Israel mengerahkan segala sumber daya demi pemukiman Yahudi
Empat hari setelah perang berakhir, Menlu AS Dean Rusk memperingatkan,
jika Israel tetap mencengkeram Tepi Barat, warga Palestina akan
menghabiskan sisa abad ke-20 untuk merebutnya kembali.
Empat tahun kemudian, Israel memukimkan sekitar 450.000 warganya di
tanah yang dicaplok pada tahun 1967, dengan mengesampingkan penafsiran
hukum internasional siapa saja, kecuali penafsirannya sendiri.
Para pemukim dilindungi dengan segala sumber daya negara, termasuk
angkatan bersenjata Israel, IDF, dari orang-orang yang memberontak,
yang banyak di antaranya yakin aksi kekerasan yang kejam terhadap
warga sipil dan tentara adalah reaksi syah terhadap pendudukan oleh
Israel.
Bagi bangsa Palestina, pemukiman Yahudi itu membawa petaka, dan hal
kondisi semakin memburuk mengingat pemukiman-pemukiman itu berkembang
pesat.
Setelah empat puluh tahun, Israel tidak bisa lagi mengandalkan
dukungan internasional yang dia peroleh pada tahun 1967.
Para pemukim yahudi melihat keberadaan mereka sebagai aset nasional,
keniscayaan dan kewajiban, tapi banyak warga lain Israel, dalam
berbagai kadar, yakin pemukiman dan semua peninggalan 1967 yang
memperdalam konflik dengan Palestina, merupakan bencana nasional.