Sorry nug saya jadi tidak tahan untuk komentar setelah baca foward dari kamu :) 
sepertinya ini topik yang bagus untuk diskusi sambil makan indomie ditemani 
sepiring besar gorengan tempe hehehe :) 

Kritik memang bagus dan kadang dengan kritik kita membangun diri kita dan orang 
lain, Tapi janganlah akhirnya kita hanya melihat negara kita dengan kacamata 
minus saja. Beberapa hal yang ditulis dibawah memang ada benarnya tetapi tidak 
semua masyarakat Indonesia seperti itu. mau bukti ? saya percaya satu komunitas 
binusnet ini tidak ada satupun yang beli gelar akademisnya.

Jangan sampai kita hanya melihat keburukan negara kita lalu kita sebarkan 
kemana - mana dan akhirnya mempengaruhi pemikiran orang bahwa tidak ada yang 
baik dinegeri ini. Kita sebagai orang Indonesia harus seimbang disatu sisi 
kririk kekurangan tetapi disisi lain juga propagandakan kebaikan negara kita 
terutama kepada dunia luar. Percayalah kita tidak seburuk itu :)

Seperti kata pepatah "gara - gara nila setitik rusak susu .., sebelahnya". Di 
Amerika yang menjadi acuan kita juga tidak semuanya baik. mereka juga tidak 
berani jalan malam - malam sendirian di harlem seperti kita tidak berani jalan 
sendirian di kota. bahkan menurut teman saya yang dari India, bahkan disiang 
haripun didaerah tertentu dia tidak berani jalan sendiri karena rawan.

Masalah korupsi dan ketidak adilan hukum ada dimana - mana diseluruh dunia. 
sudah rahasia umum kalau anggota senat dan kongres di amerika 'dipelihara' oleh 
pengusaha untuk melancarkan urusan mereka.

Masalah penanganan bencana? masih hangat dalam ingatan kita tentang penanganan 
korban gempa katrina yang secara manajemen juga amburadul (saya baca ini dari 
kompas dan internet juga).

Politikus busuk, korupsi dan money politic juga ada dimana - mana diseluruh 
dunia tidak hanya di Indonesia


Beberapa point dibawah ini juga akhirnya saya komentarin karena menurut saya 
tidak relevan  :) 

Kelihatannnya orang penting, ternyata sangat tahu detail dunia persepakbolaan.
    (Dinegara mana saja orang perlu hobi dan itu tidak berarti buruk. 
    tidak ada salahnya kalau orang penting tahu tentang barcelona yang menang 
atas madrid 1-0 :) hehehe)

Para Pengungsi bisa berjoged dalam tendanya
     (Apakah jadi pengungsi harus menangis terus ?  bahkan kita diharapkan 
untuk menghibur mereka agar melupakan 
     kesedihan dengan memberikan hiburan)

Orang bule mabuk krn kelebihan uang, Orang kampung mabuk beli minuman patungan
    (Tidak semua orang bule mabuk krn kelebihan uang, bule juga tidak semuanya 
kaya ada yang miskin dan jadi
     pengemis yang alkoholic)

62 tahun merdeka, lomba-lombanya masih makan kerupuk saja
    (Apa salahnya lomba makan kerupuk? ini adalah tradisi. di negara lain juga 
ada tradisi yang 'konyol' seperti lomba lari dikejar banteng, ada pesta tomat, 
lomba lempar kayu balok, mandi telanjang diair es, dan mereka bangga dengan itu 
karena tradisi. Yang kasihan negara seperti singapura yang bahkan lagu rakyat / 
folk song saja mereka tidak punya)


Dan jangan lupa kita adalah negara berpenduduk muslim paling demokratis di 
seluruh belahan dunia ini and yes.. 
we should be proude of that,  cause i know i am :) .... 

ok kembali kerja lagi .... deadline .... deadline .....

Warmest Regards,
Chun Khu



  ----- Original Message ----- 
  From: Nugroho Laison 
  To: SMA 1 Bekasi ; Binusnet ; Blue Jackets 
  Sent: Wednesday, December 02, 2009 5:31 PM
  Subject: [BinusNet] Fwd: nDeso


    


  --- In [email protected], "agus" <aguspriyatm...@...> wrote:

  n D e s o

  oleh : Ika S. Creech *)
  *) Penulis adalah Putra Indonesia, kini bertempat tinggal di Paris,
  Perancis dan bekerja sebagai Pembawa Acara di salah satu stasiun
  diPerancis.

  Deso (baca ndeso) itulah sebutan untuk orang yang norak, kampungan,
  udik, shock culture, Countrified dan sejenisnya. Ketika mengalami atau
  merasakan sesuatu yang baru dan sangat mengagumkan, maka ia merasa
  takjub dan sangat senang, sehingga ingin terus menikmati dan tidak ingin
  lepas, kalau perlu yang lebih dari itu. Kemudian ia menganggap hanya dia
  atau hanya segelintir orang yang baru merasakan dan mengalaminya. Maka
  ia mulai atraktif, memamerkan dan sekaligus mengajak orang lain untuk
  turut merasakan dan menikmatinya, dengan harapan orang yang diajak juga
  sama terkagum-kagum sama seperti dia.

  Lebih dari itu ia berharap agar orang lain juga mendukung terhadap
  langkah-langkah untuk menikmatinya terus-menerus. Hal ini biasa, seperti
  saya juga sering mengalami hal demikian, tetapi kita terus berupaya
  untuk terus belajar dari sejarah, pengalaman orang lain, serta belajar
  bagaimana caranya tidak jadi orang norak, kampungan alias deso.

  Semua kampus di Jepang penuh dengan sepeda, tak terkecuali dekan atau
  bahkan Rektorpun ada yang naik sepeda datang ke kampus. Sementara si
  Pemilik perusahaan Honda tinggal di sebuah apartemen yang sederhana.
  Ketika beberapa pengusaha ingin memberi pinjaman kepada pemerintah
  Indonesia mereka menjemput pejabat Indonesia di Narita. Dari Tokyo
  mereka naik kendaraan umum, sementara yang akan dijemput, pejabat
  Indonesia naik mobil dinas Kedutaan yaitu mercy.

  Ketika saya di Australia berkesempatan melihat sebuah acara ceremoni
  dari jarak yang sangat dekat, dihadiri oleh pejabat setingkat menteri,
  saya tertarik mengamati pada mobil yang mereka pakai Merk Holden baru
  yang paling murah untuk ukuran Australia. Yang menarik, para
  pengawalnya tidak terlihat karena tidak berbeda penampilannya dengan
  tamu-tamu, kalau tidak jeli mengamati kita tidak tahu mana pengawalnya.

  Di Sidney saya berkenalan dengan seorang pelayan restoran Thailand. Dia
  seorang warga Negara Malaysia keturunan cina, sudah selesai S3, sekarang
  lagi mengikuti program Post Doc, Dia anak serorang pengusaha yang kaya
  raya. Tidak mau menggunakan fasilitas orang tuanya malah jadi pelayan.
  Dia juga sebenarnya dapat beasiswa dari perguruan tingginya.

  Satu bulan saya di jepang tidak melihat orang pakai hp communicator,
  mungkin kelemahan saya mengamati. Dan setelah saya baca Koran ternyata
  konsumen terbesar hp communicator adalah Indonesia. Sempat berkenalan
  juga dengan seorang yang berada di stasiun kereta di Jepang, ternyata
  dia anak seorang pejabat tinggi Negara, juga naik kereta. Yang tak kalah
  serunya saya juga jadi pengamat berbagai jenis sepatu yang di pakai
  masyarakat jepang ternyata tak bermerek, wah ini yang ndeso siapa yaa?

  Sulit membedakan tingkat ekonomi seseorang baik di jepang atau di
  Australia, baik dari penampilannya, bajunya, kendaraannya, atau
  rumahnya. Kita baru bisa menebak kekayaan seseorang kalau sudah tahu
  pekerjaan dan jabatanya di perusahaan. Jangan-jangan kalau orang jepang
  diajak ke Pondok Indah bisa Pingsan melihat rumah segitu gede dan
  mewahnya. Rata-rata rumah disana memiliki tinggi plafon yang bisa
  dijambak dengan tangan hanya dengan melompat. Sehingga duduknyapun
  banyak yang lesehan.

  Ketika Indonesia sedang terpuruk, Hutang lagi numpuk, rakyat banyak yang
  mulai ngamuk, Negara sedang kere, banyak yang antri beras, minyak tanah,
  minyak goreng dll. Maka harga diri kita tidak bisa diangkat dengan
  medali emas turnamen olah raga, sewa pemain asing, banyak ceremonial
  yang gonta-ganti baju seragam, baju dinas, merek mobil, proyek
  mercusuar, dll, dsb, dst

  Bangsa ini akan naik harga dirinya kalo utang sudah lunas, kelaparan
  tidak ada lagi, tidak ada pengamen dan pengemis, tidak ada lagi WTS (di
  Malaysia "Wanita Tak Senonoh") , angka kriminal rendah, korupsi
  berkurang, punya posisi tawar terhadap kekuatan global. Maka orang Deso
  (alias norak) tidak mampu mengatasi krisis karena tidak bisa menjadikan
  krisis sebagai paradigma dalam menyusun APBD dan APBN. Nah karena yang
  menyusun orang-orang norak maka asumsi dan paradigma yang dipakai adalah
  Negara normal atau bahkan mengikuti Negara maju. Bayangkan ada daerah
  yang menganggarkan Sepak Bola 17 Milyar sementara anggaran kesranya 100
  juta, wiiieh!

  Akhirnya penyakit norak ini menjadi wabah yang sangat mengerikan dari
  atas sampai bawah :
  - Orang bisa antri Raskin sambil pegang hp
  - Pelajar bisa nunggak SPP sambil merokok
  - Orang tua lupa siapkan SPP, karena terpakai untk beli tv dan kulkas
  - Orang bule mabuk krn kelebihan uang, Orang kampung mabuk beli minuman
  patungan
  - Pengemis bisa pake walkman sambil goyang kepala
  - Para Pengungsi bisa berjoged dalam tendanya
  - Orang beli Gelar akademis di ruko-ruko tanpa kuliah
  - harga Ijazah S3 luar negeri bisa buat beli sebuah rumah petakan gang
  sempit di cibubur
  - Kelihatannya orang sibuk ternyata masih sering keluar masuk Mc Donald
  - Kelihatannnya orang penting, ternyata sangat tahu detail dunia
  persepakbolaan.
  - Kelihatan seperti aktivis tapi habis waktu untuk mencetin hp
  - 62 tahun merdeka, lomba-lombanya masih makan kerupuk saja
  - Agar rakyat tidak kelaparan maka para pejabatnya dansa dansi di acara
  tembang kenangan.
  - Agar kampanye menang harus berani sewa bokong-bokong bahenol ngebor
  - Agar masyarakat cerdas maka sajikan lagu goyang dombret dan wakuncar
  - Agar bisa disebut terbuka maka harus bisa buka-bukaan
  - Agar kelihatan inklusif mk hrs bisa menggandeng siapa saja, kl perlu
  jin tomang jg digandeng

  Yang lebih mengerikan lagi adalah supaya kita tidak terlihat kere, maka
  harus bisa tampil keren. Makin kiamatlah kalo si kere tidak tahu dirinya
  kere.

  --- End forwarded message ---

  [Non-text portions of this message have been removed]



  

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke