On 1/17/06, satria yuliafianto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
'Playboy' Indonesia Beredar Maret
Anindhita Maharrani - detikHot
Playboy (ist)
Jakarta, Nama 'Playboy' pastinya sudah tak asing di telinga kita. Maret 2006 mendatang, majalah yang menyuguhkan kemolekan tubuh wanita ini akan mulai beredar di Indonesia. Tak takut kontroversi?
"Takut sih nggak. Kita kan punya kebijakan editorial. Isinya juga akan disesuaikan mana yang bisa diterima di Indonesia. Pokoknya kita seleksi dengan baik," jelas promotion Playboy, Avianto Nugroho ketika dihubungi detikhot, Kamis (12/1/2006).
Avianto pun mengaku sudah mengantongi izin penerbitan. "Izin penerbitan itu sudah keluar sejak akhir November 2005 lalu," lanjutnya.
Soal isi majalah, 'Playboy' akan berbeda dengan kebanyakan majalah pria lain. "Kita nggak hanya mengeksplor perempuan saja, tapi mau mengeducate orang untuk baca. Selama ini kan orang Indonesia baca Playboy cuma untuk lihat gambarnya," ujar Avianto. Kendati demikian ia tidak membantah majalah pria ini akan menyuguhkan foto-foto 'syur'.
Distribusi majalah sendiri, menurut Avianto lebih dititikberatkan pada sistem berlangganan. Selain itu, 'Playboy' juga dapat diperoleh di toko-toko buku terkemuka. "Jadi paling tidak yang beli terkontrol. Kalau di kios koran atau lapak jadi konsiderasi belakangan," imbuhnya.
Tak jauh berbeda dengan majalah pria lainnya, 'Playboy' akan dijual dengan harga kurang dari Rp 50 ribu.
Siapa yang akan menjadi sampul edisi perdana 'Playboy' Indonesia? "Wah, itu surprise. Pokoknya tunggu saja bulan Maret nanti," demikian Avianto.(dit)
---------
Indonesia Negara Kedua di Asia Tempat Jualan Playboy
Nurul Hidayati - detikcom
Jakarta - Majalah Playboy yang selama ini hanya bisa dinikmati lewat kiriman
teman di luar negeri, dua bulan lagi sudah bisa dinikmati dengan bebas di
Tanah Air.
Anda bisa berlangganan atau pun membelinya di toko buku terkemuka. Playboy
versi Indonesia telah lahir.
Di Asia, selama ini hanya Jepang yang dipercaya manajemen Playboy yang
berpusat di AS sana untuk menerbitkan Playboy. Dengan dirilisnya Playboy
Indonesia, maka Indonesia adalah negeri kedua di Asia yang "mendapat
kehormatan" menerbitkan majalah yang dipenuhi pose syur kaum Hawa ini.
Ini tentu cukup mengagetkan juga, mengingat Indonesia sebelumnya adalah salah
satu negara di Asia yang melarang peredaran majalah ini.
Sebelum Indonesia, Playboy telah diproduksi di 20 negara dengan pola waralaba.
Dua puluh negara itu adalah Argentina, Brasil, Bulgaria, Kroasia, Republik
Ceko, Prancis, Jerman, Yunani, Hungaria, Jepang, Meksiko, Belanda, Rumania,
Serbia, Slovenia, Slovakia, Spanyol dan Ukraina. Dan Indonesia memperpanjang
daftar itu.
Manajemen Playboy pusat mengklaim, pembaca Playboy di seluruh dunia total
jenderal ada 15 juta. Jumlah yang cukup fantastis! Playboy juga mengklaim
sebagai majalah kaum pria paling laris di dunia.
Yang paling menonjol dari Playboy adalah logonya yang sangat terkenal. Kelinci
bertuksedo menjadi maskot yang tidak tergantikan sejak majalah itu memasuki
edisi keduanya pada 1953.
Menurut logoresource.com, logo kelinci majalah Playboy didesain oleh Art Paul,
orang pertama yang menjadi art director majalah tersebut. Menurut Hugh Hefner,
sang kreator dan pemilik Playboy, pemilihan kelinci sebagai logo majalah
Playboy adalah karena simbol kelinci memiliki konotasi humor seksual yang
tinggi, berkesan periang dan suka bermain-main.
Selain itu logo kelinci tersebut sengaja didesain dengan mengenakan pakaian
tuksedo, dengan tujuan untuk memberikan kesan eksklusif. Kebanyakan orang
menggambarkan kesan macho dan maskulin dengan bentuk tubuh yang kekar berotot,
tetapi tidak demikian halnya dengan Hugh Hefner, dia lebih memilih kelinci
sebagai simbolnya dengan pemikiran lain daripada yang lain.
Selain kesan maskulin, pemakaian tuksedo tersebut juga memberikan kesan
charming.
Kesuksesan majalah Playboy dengan kelinci sebagai logonya, membuat ilmuwan
memberikan penghargaan kepada Hugh Hefner dengan menggunakan namanya sebagai
nama spesies kelinci yang baru ditemukan, yakni "Sylvilagus Palustris
Hefneri".
Menurut kamus Wikipedia, Playboy paling laris adalah terbitan November 1972
yang terjual 7.161.561 kopi. Cover kala itu adalah Lena Soderberg yang
didesain oleh Jack Niland.
-----------
DPR Minta Desain Playboy Indonesia Tidak Seperti di AS
Muhammad Nur Hayid - detikcom
Jakarta - Rencana menerbitkan Playboy versi Indonesia mendapat tanggapan
beragam. Kalangan Dewan Perwakilan Rakyat, terutama Komisi VIII berharap agar
desain majalah tersebut nantinya tidak seperti Playboy yang beredar di AS.
"Jika desain Plaboy di Indonesia seperti yang ada di Amerika Serikat, saya
tidak setuju. Dan saya akan menggalang protes bersama dengan kawan-kawan,"
kata anggota DPR Komisi VIII Yoyoh Yusroh saat dihubungi detikcom, Kamis
(12/1/2006).
Yoyoh tidak mempermasalahkan rencana penerbitan majalah bergambar syur
tersebut, asalkan pihak perusahaan ikut memperhatikan nilai budaya bangsa dan
adat ketimuran sebelum menerbitkan Playboy.
Ia berharap jangan sampai majalah tersebut menimbulkan protes di masyarakat.
Menurut Yoyoh, jika menerbitkan majalah menimbulkan reaksi keras dari
masyarakat, maka DPR akan turun bersama dengan Dewan Pers dan Komisi Penyiaran
Indonesia (KPI).
"Kita akan turun kalau penerbitan majalah tersebut tidak sesuai dengan budaya
bangsa dan adat ketimuran," katanya.
Anggota Fraksi PKS ini berharap agar pihak pengusaha jangan hanya mengakomodir
kepentingan pengusaha yang ingin meraup untung, tetapi merusak generasi muda
bangsa. Yoyoh mengingatkan agar pengusaha betul-betul memperhatikan dampak
penerbitan itu, jangan sampai menuai kritik tajam.
Saat ini, DPR sedang merampungkan RUU Pornografi dan Pornoaksi yang diharapkan
bisa segera selesai. Batasan pornografi, menurut Yoyoh, seluruh tampilan
mengenai tubuh manusia yang digunakan untuk komersial masuk kategori
pornografi yang rencananya dilarang UU.
"UU memperbolehkan telanjang kalau itu sesuai budaya bangsa, seperti koteka
untuk pria dan telanjang dada untuk perempuan di Papua, serta kemben di Jawa
Tengah," katanya.
(jon)
------------
Playboy Indonesia Terbit
Hasyim: Itu Bikin Bencana Saja
Nurvita Indarini - detikcom
Jakarta - Citra yang terbentuk selama ini, Playboy adalah majalah syurr. Meski
saingannya kini bejibun -- bahkan banyak yang lebih berani -- namun image
Playboy tidak tergoyahkan. Wajar jika kemudian penerbitan Playboy edisi
Indonesia mengundang pro dan kontra, tidak seperti majalah sejenis lainnya.
Kelompok yang kontra pada Playboy Indonesia salah satunya adalah Hasyim
Muzadi. "Itu bikin bencana saja," kata ketua umum PBNU ini pada detikcom,
Kamis (12/1/2006).
Hasyim menyatakan hal itu usai acara tahlilan untuk korban bencana Jember dan
Banjarnegara di Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat. "Lebih baik
tidak usah," imbuh pengasuh Ponpes Al Hikmah, Malang, ini.
Seperti diberitakan, Playboy yang berpusat di AS mengizinkan pengusaha media
Indonesia untuk menerbitkan edisi lokal dalam bentuk franchise. Majalah ini
akan terbit dua bulan lagi. Saat ini, Playboy Indonesia tengah mengadakan
audisi untuk cover majalah tersebut atau disebut Playmate.(nrl)
--------
MMI Cemas Bila Playboy Versi Indonesia Terbit
Arfi bambani Amri - detikcom
Jakarta - Kabar Majalah Playboy versi Indonesia akan terbit pada bulan Maret
mendatang membuat cemas Majelis Mujahidin Indonesia (MMI). Alasannya, MMI
khawatir keberadaan majalah tersebut akan menambah rusak moral bangsa.
"Kekhawatiran kami, media baru ini akan lebih menjerumuskan bangsa kita dari
krisis moral, karena dengan mudah menampilkan aurat wanita kepada khalayak
umum, termasuk anak-anak di bawah umur," kata juru bicara MMI Fauzan Al
Anshari saat dihubungi detikcom, Kamis (12/1/2006).
Dikatakannya, meski media baru ini dititikberatkan pada sistem berlangganan,
Fauzan mensinyalir hal itu tidak akan menjamin munculnya penyimpangan. "Itu
sama saja seperti melokalisasi yang tidak menyelesaikan masalah kemaksiatan,"
ujarnya lagi.
Fauzan menyatakan, jika Majalah Playboy ini tetap terbit pada bulan Maret
nanti, maka mereka akan melakukan somasi beserta pengaduan kepada kepolisian
dengan tuduhan menampilkan pornografi dan pornoaksi.
Sebelumnya MMI juga telah melakukan somasi terhadap beberapa media lain,
berkaitan dengan masalah pornografi, namun tidak ditindaklanjuti oleh
kepolisian.
Mekanisme yang ada adalah somasi. Kemudian dari somasi tersebut muncul hak
jawab. Namun respons dari kepolisian tidak begitu baik atas laporan MMI
tersebut. "Padahal mereka-lah yang memiliki otoritas. Oleh karena itu, kami
pernah meminta otoritas untuk menertibkan media-media seperti itu," katanya.
Ketika ditanyakan mengenai apa yang dimaksud mengenai pornografi dan
pornoaksi, Fauzan menjelaskan, segala tindakan yang memperlihatkan aurat
kepada umum seperti yang ditentukan oleh Islam. "Seharusnya itulah batasan
sesuatu tindakan disebut pornografi, karena mayoritas masyarakat kita adalah
penganut Islam," katanya.
--------------
Pengamat: Ada Kepentingan Ideologi Dibalik Penerbitan Playboy
Nurfajri Budi Nugroho - detikcom
Jakarta - Belum juga resmi dirilis, rencana penerbitan majalah Playboy edisi
Indonesia sudah mendapat respon. Pengamat Komunikasi UI Effendi Ghazali
menilai ada kepentingan modal dan ideologi yang bermain.
"Jelas ada kepentingan pasar. Modal pasti bermain dibelakangnya. Ini bisa juga
dibaca ke arah upaya penghancuran moral. Tanpa sadar kita sudah masuk kedalam
iklim neo liberalisme yang tidak ada pertanyaan moral didalamnya. Omong kosong
kalau ada alasan lain. Saya selalu katakan itu soal neolib," ujar Effendi saat
dihubungi detikcom, Jumat (13/1/2006).
Kalaupun Playboy edisi Indonesia tersebut tetap akan diterbitkan, Effendi
berharap, majalah tersebut seharusnya menyesuaikan diri dengan peraturan
perundang-undangan. Penerbitan itu juga harus sesuai dengan norma yang berlaku
dalam kultur masyarakat Indonesia.
"Itu standarnya. Selain itu penjualannya harus diperhatikan. Tidak boleh
didisplay di tempat umum. Juga tidak boleh dibaca di tempat umum," imbuh
Effendi.
Hal lain yang juga patut dipertimbangkan, tambah Effendi, adalah soal
kebutuhan masyarakat Indonesia terhadap penerbitan semacam itu. "Harus ada
survey yang valid apakah masyarakat butuh hal-hal semacam itu. Tapi saya yakin
hasilnya pasti masyarakat belum butuh," ucapnya.
Effendi menilai, media massa semacam Playboy selalu mengandung semangat
eksploitasi terhadap wanita. Namun seringkali wanita merasa tidak ada
eksploitasi atas dirinya.
"Saya suka mengatakan wanita yang mau dieksploitasi adalah pelengkap penderita
yang berbahagia. Eksploitasi itu pasti ada," tegas Effendi.(ary)
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "bonsi97" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
SPONSORED LINKS
| School education | Jakarta | Pre school education |
| Bonsi | Bonsi tree |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "bonsi97" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
