Selamat Tinggal Seragam Sekolah "Ayo, ayo ... rapi, mau difoto nih Oke, Yogya peace ... aman selalu" SUASANA ceria tampak di antara siswa-siswa SMU/SMK yang baru saja menerima kabar kelulusan mereka. Ada yang meluapkan kegembiraan itu dengan berjalan kaki dan bersepeda motor secara berkelompok, melintasi jalan-jalan di Yogyakarta, Rabu (13/6). Sekelompok dari mereka yang berjalan kaki melewati depan Museum Pusat TNI AD Dharma Wiratama di Jalan Jenderal Sudirman, mendapat sambutan hangat dari sejumlah warga. Bahkan seorang warga tertarik memotret aktivitas para remaja itu. Pelajar- pelajar yang baru lulus itu pun kian gembira, ketika penjaga museum menawarkan untuk memotretnya. Mereka pun langsung menaiki tank, salah satu koleksi museum yang dipajang di halaman. Mereka yang mengaku dari SMU de Britto langsung mengucapkan terima kasih, sambil bersalaman kepada penjaga yang telah memfotonya. Mereka kemudian melanjutkan perjalanannya sambil meneriakan perdamaian. Kepada Bernas salah seorang siswa mengatakan, ia dan teman-temannya akan berkeliling sambil melihat-lihat kampus perguruan tinggi yang menjadi harapannya. Sementara mereka yang bersepeda motor melakukan konvoi keliling kota. Dengan berboncengan tanpa mengenakan helm, mereka meraung-raungkan mesin sepeda motor. Ada dari mereka yang mengusung bendera warna-warni, dengan alasan agar lebih meriah. Yang umum dari kegiatan para siswa itu adalah mencorat-coret pakaian seragam dengan cat semprot dan spidol. Paling tidak itulah cara mereka mengucapkan "selamat tinggal" pada seragam sekolah. Bahkan ada yang mencorang-coreng wajah dan rambut mereka dengan cat warna-warni. "Namanya juga anak-anak. Meski pengumuman ebtanas dikirim ke rumah masing-masing. Mereka tetap saja mendatangi sekolah dan berkumpul bersama temannya. Sebagai guru, kita mengharapkan mereka tidak melakukan sesuatu yang tidak diinginkan selama di jalanan," ungkap Samidi BA, Waka Kurikulum SMUN 9 Yogyakarta yang ditemui Bernas, Rabu kemarin. Kedatangan mereka ke sekolah memang punya banyak alasan, mulai dari membicarakan selamatan bersama sampai acara yang akan dilakukan hari itu. "Wajarlah mas, kita kan akan berpisah. Jadi, ya sekadar perpisahan walau mungkin hanya sementara, karena pasti akan bertemu lagi. Kalau soal pakaian seragam yang dicorat-coret, hanya sekadar buat kenang-kenangan saja, sekaligus menandakan kita tidak akan menggunakan seragam lagi," ujar salah seorang siswa yang lulus dari SMUN 6 Yogyakarta. Sebenarnya pihak sekolah sudah berusaha untuk memperkecil kemungkinan terjadinya luapan kegembiraan dari para siswanya, yang dimungkinkan menimbulkan sesuatu yang tidak diinginkan. Hampir semua SMU di Yogyakarta mengumumkan hasil ebtanasnya melalui surat yang ditujukan ke rumah siswa, bahkan ada yang hanya mengundang orangtua/wali siswa ke sekolah. Namun, tetap saja banyak siswa yang mendatangi sekolah, dengan tujuan saling menumpahkan kegembiraan bersama "teman-teman seperjuangan". Sebenarnya sudah berbagai cara dilakukan untuk mengantisipasi perayaan yang menjurus pada hura-hura ini. Seperti dilakukan SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta, yakni sehari sebelum pengumuman kelulusan, orangtua siswa diundang ke sekolah. Tujuannya adalah bahwa siswa dikembalikan atau diserahkan pada orangtua, dan agar orangtua bisa menyampaikan pada putra-putrinya untuk tidak merayakan kelulusan secara berlebihan. "Kita mengumumkannya pagi-pagi sekali, agar tidak terjadi bergerombolnya siswa. Setiap siswa datang, langsung diberi surat tanda kelulusan. Jadi tidak sampai mereka bergerombol. Datang satu, langsung kasih, datang lagi, kasih lagi," ujar Kepala Sekolah Drs H Adi Waluyo saat ditemui Bernas di ruang kerjanya kemarin. Selain itu, lanjutnya, agar siswa tidak melakukan aksi corat-coret baju, siswa diharap membawa ganti baju dan sekolah meminta baju seragam mereka yang lulus untuk dikumpulkan, kemudian disumbangkan dalam acara bakti sosial. Tercatat, 200 baju seragam terkumpul. Itu pun akan bertambah lagi pada saat siswa melakukan cap tiga jari. (cr10/m1)