Konvoi Lulusan SMU Rusak Taksi Gondokusuman, Bernas Konvoi menggunakan kendaraan keliling kota dan aksi coret- coret baju masih menjadi tradisi merayakan kelulusan bagi siswa SMU dan SMK di DIY. Seusai pengumuman kelulusan, Rabu (13/6), mereka yang dinyatakan lulus segera "menghiasi" baju mereka dengan coretan spidol dan sempotan cat pylox. Kemudian secara berombongan mereka berkonvoi menggunakan kendaraan bermotor keliling kota. Berdasarkan pengamatan Bernas, Rabu (13/6) di sepanjang jalan Jl Jend Sudirman, Jl Diponegoro, Jl Kyai Mojo, Jl Suroto, Mrican, Gejayan dan beberapa ruas jalan lai, tidak semua peserta konvoi pelajar itu menggunakan helm pengaman. Beberapa di antaranya juga sengaja membuka knalpot sepeda motornya sehingga mengeluarkan suara bising. Gayanya persis seperti waktu kampanye pemilu. Tono, salah seorang siswa yang tengah melakukan konvoi dari SMU 2 Depok menuturkan dirinya bersama teman melakukan konvol berkeliling kota ini untuk merayakan kelulusan. "Kami hanya muter- muter keliling kota saja kok, tidak ada tujuan khusus yang hendak dituju," tukasnya. Berdasarkan pengamatan Bernas, sejumlah sekolah mendapat pengawasan langsung dari pihak kepolisian saat mengumumkan kelulusan. Pada setiap sekolah, setidaknya diterjunkan 2-4 personil untuk melakukan pemantauan. Hal ini seperti terlihat di SMU 6 dan SMU BOPKRI 2. Namun polisi sebatas melakukan pengawasan, tanpa dinstruksikan untuk melakukan tindakan apa-apa, termasuk mencegah konvoi. Berbeda dengan sekolahan lain yang para siswanya langsung melakukan pesta coret-coret dan konvoi, siswa-siswi SMU 6 Yogakarta terpaksa harus menunda aksi mereka. "Kami besok pagi (Kamis hari ini -red) akan mengadakan acara musik. Jadi baju kami masih bersih. Corat-coretnya besok. Mungkin konvoinnya juga besok susai acara pentas musik," papar seorang siswa yang enggan disebut namanya. Aksi corat-coret baju dan konvoi keliling kota tidak hanya terlihat di Kota Yogya saja. Aksi yang sama juga dilakukan pelajar di daerah-daerah di seperti Gunungkidul dan Sleman. Meski beberapa sekolah sudah mencoba membuat aturan yang ketat namun aksi seperti itu tetap terjadi. Mau menolong Sayang, muncul insiden pada aksi konvoi siswa SMU kemarin. Korbannya adalah sopir taksi bernama Agus Asmoro (30) warga Daguran, Trimurti, Srandakan, Bantul. Rabu (13/6) sekitar pukul 13.00, kaca depan taksi yang dikendarainya dipecah sekelompok siswa berseragam SMU di kawasan Patangpuluhan, Wirobrajan, Yogyakarta. Padahal, saat itu Agus justru bermaksud menolong dua siswa pengendara sepeda motor yang senggolan di depan taksinya. Di antara rombongan siswa dengan seragam yang dipenuhi coretan itu, ada siswa yang menghantam kaca depan taksi ASA (PT Arga Surya Alam Perkasa) berpelat nomor AB 1441 AX yang dikemudikan Agus dengan sebongkah batu. Akibatnya, kaca depan taksi bernomor pintu 28 itu hancur berantakan. Beruntung Agus dapat menghindari serangan itu. Bongkahan batu itu jatuh di samping kiri jok yang didudukinya. Tapi, wajah Agus telanjur kecipratan serpihan kaca taksinya. Menurut keterangan Agus Asmoro yang ditemui wartawan di Mapolsektabes Mantrijeron, saat itu dia bermaksud menjemput seorang calon penumpang di kawasan Patangpuluhan, Wirobrajan, Yogyakarta. Pada saat melewati simpang empat Patangpuluhan, korban melihat rombongan siswa berseragam berkonvoi di depan taksinya. Siswa tersebut berjumlah sedikitnya 50-an orang. Pada saat itu korban melihat beberapa siswa melambaikan tangannya sebagai tanda minta bantuan pertolongannya. Agus kemudian menepikan taksinya. Tapi, entah mengapa, tiba-tiba salah seorang dari mereka mengambil sebongkah batu dan langsung melemparkannya ke arah kaca depan taksinya. Agus menjadi bingung. Dia selanjutnya masuk kembali ke dalam taksi dan menyelamatkan diri ke arah timur. Korban akhirnya melarikan taksinya ke kantor polisi terdekat dengan membelokkan taksinya ke Mapolsektabes Mantrijeron. "Saya tak tahu maksud mereka. Kelihatannya minta tolong karena temannya jatuh dari motor. Tapi, kok ada yang melempar batu sampai kaca taksi saya pecah begini. Itu batunya masih ada di jok. Akhirnya saya milih masuk kembali ke taksi. Selanjutnya saya lapor ke sini (Mapolsektabes Mantrijeron -red)," katanya. Pakai kurir Dalam mengumumkan kelulusan siswa, tidak semua sekolah menempuh jalan memasang pengumuman terbuka. Ada sekolah yang mengambil langkah inisiatif dengan memberitahukan ketamatan siswa memakai sistem kurir. Karena langkah ini dinilai lebih aman dan meminimalisir siswa yang tamat untuk melakukan aksi coret-coret. "Kami sengaja mengirim surat ketamatan melalui sistem kurir pada siswa agar siswa tidak terkonsentrasi pada sekolahnya. Karena dengan terkonsentrasinya siswa di sekolah akan sangat memungkinkan timbulnya aksi coret-coret," jelas seorang guru SMUN 3 Yogyakarta. Selain itu upaya mencegah terjadinya aksi coret-coret pada baju seragam ternyata juga dilakukan SMU Muhammadiyah I Yogyakarta. Sekolah ini sengaja mengumpulkan siswa dan orangtua siswa di sekolah untuk menerima ketamatan siswa. (esy/ryo/kun/cr9/m2/rts) file s:1306ydp6.wp5