Sekadar menanggapi,
Memang betul kita menjadikan "KAYA" sebagai SARANA, bukan TUJUAN. Dan
saya sepakat dengan hal ini.

Akan tetapi TUJUAN kita menjadi kaya tidak hanya untuk "DUAFA"

Diantaranya (menurut saya):
1. Kehidupan sudah begitu kompleks, sehingga hampir tidak mungkin kita
bisa hidup tanpa UANG, untuk itu kita harus KAYA (bekerja mencari
nafkah = Ibadah)
1. Menafkahi PRIBADI & KELUARGA juga merupakan prioritas (Dan ini
termasuk ibadah juga kan?)
2. Dengan kekayaan hidup kita bisa lebih berkualitas, dengan kualitas
hidup yg baik tentu saja kontribusi kita untuk masyarakat (ummat) bisa
lebih baik juga. (ini juga ibadah)
3. Dengan kekayaan kita juga bisa NAIK HAJI (ibadah juga kan?)

Menurut saya kita harus bersemangat untuk menjadi kaya !
dan Tujuan Kekayaan kita adalah untuk beberapa hal diatas, termasuk duafa.

Pada tanggal 22/05/09, Ainun Najib <[email protected]> menulis:
> Terimakasih mas tulisannya mantap sekali.
> Perkenankan saya turut berbagi, pengalaman pribadi dalam memanage hati.
>
> Saya sering merenungkan mengenai konsep "Berusaha menjadi Kaya demi membantu
> Dhu'afa" ini. Saya dapati rupanya rawan sekali. Harus super hati-hati.
> Karena diri (nafs) kita itu cenderung condong pada "Kaya" nya, ketimbang
> "membantu Dhu'afa" nya. Saya khawatir diri saya sendiri akan terjebak
> menjadi "lupa pada dhu'afa", "lupa pada niat semula" apabila kemudian benar2
> menjadi "Kaya".
>
> Tolok ukur yang saya aplikasikan pada diri saya sederhana saja. Ada 2 premis
> di konsep itu, "menjadi kaya" dan "membantu dhuafa". "Menjadi kaya" adalah
> sarana/wasilah, "membantu dhuafa" adalah tujuan/ghoyah. Tentu prioritasnya
> jelas ya ? Tolok ukur yang saya pakai adalah, dengan "kekayaan" yang saya
> miliki (tepatnya, diamanahkan pada saya) saat ini; sudah seberapa besar
> porsi (jumlah, fokus, intensitas, frekuensi) yang saya alokasikan untuk
> tujuan itu (membantu dhuafa) ?
>
> Sejauh ini saya pribadi masih merasa sangat kurang, masih merasa besar jiwa
> kikirnya... Karenanya saya agak khawatir kalau saya mengejar sarana/wasilah
> (menjadi kaya) itu, takut2 saya lupa prioritas (lha wong sekarang aja belum
> bisa mendudukkan prioritasnya) sedemikian hingga wasilah itu justru menjadi
> tujuan/ghoyah....
>
>
> Sekedar berbagi pemikiran pribadi, karena sejujurnya saya agak khawatir
> tulisan-tulisan motivasi "menjadi kaya" semacam ini kalau tidak diimbangi
> akan berpotensi mengompori saudara-saudara kita untuk mengejar
> sarana/wasilah (kekayaan) itu padahal belum berhasil mendudukkan prioritas
> tujuan/ghoyah (membantu dhuafa) di atas sarana/wasilah yang saat ini sedang
> dimiliki.
>
>
>
>
> Salam,
>
> ainun najib
> qıɾɐu unuıɐ
>
>
> 2009/5/22 sir_arifjr2003 <[email protected]>
>
>>
>>
>> Dalam Islam, harta ditempatkan di tengah. Islam menuntut seorang muslim
>> untuk berhati-hati terhadap harta, namun tidak serta merta Islam
>> mengharamkannya. Yang dilarang adalah keterperdayaan pada harta
>> (ditunjukkan
>> dengan sikap hidup bermewah-mewahan). Hal ini dapat disimpulkan saat
>> mengkaji peringatan Allah dalam Al Qur'an. Allah mengingatkan secara
>> langsung (surah At Takaatsur) maupun lewat kisah ummat terdahulu (Surah
>> Saba': 34 dan Surah Al Qashash: 58).
>>
>> Di tengah larangan terperdaya pada harta, seorang muslim tetap butuh untuk
>> menjadi kaya. Kebutuhan pertama adalah karena adanya perintah zakat dan
>> haji. Untuk menjadi muzzaki, nisab harta kita minimal senilai dengan 85
>> gram
>> emas. Untuk bisa melaksanakan haji kita minimal harus mempunyai harta
>> sebanyak $3500. Artinya jika kedua kesempatan itu tidak kita ambil,
>> berkuranglah tabungan kita menuju surga.
>>
>> Kebutuhan yang kedua adalah agar kita secara benar bertanggung jawab atas
>> kewajiban sosial kita. Saat ini realitas kesejahteraan hidup masyarakat
>> kita
>> begitu memilukan.
>>
>> Di Jawa Timur, ramadhan tahun lalu ada 4 orang yang tewas karena
>> terhimpit-himpit saat mengantri zakat.
>> Di pojok-pojok pemukiman kumuh, ada saja saudara kita yang meninggal dalam
>> keadaaan tidak punya uang untuk berobat.
>> Di Leuwi Gajah ada beberapa pemulung yang sesekali makannya makanan sisa
>> yang dipilah dari tumpukan sampah.
>> Di Pelesiran ada seorang anak umur 12 tahun yang harus menjadi penanggung
>> jawab nafkah keluarga: ayahnya pemulung kerjanya mabuk, ibunya minggat
>> kawin
>> lagi,adiknya masih balita.
>> Di sekitar Palasari ada seorang bapak umurnya lebih dari 70 tahun, anaknya
>> tidak ada. Dengan tubuhnya yang kurus renta dan mata sebelah kiri yang
>> sudah
>> hancur beliau bekerja mengumpulkan barang-barang bekas. Berkilometer tubuh
>> itu bergetar membawa gerobak berat tanpa alas kaki.
>>
>> Jika di kumpulkan terus, mungkin ada beribu bahkan berjuta kasus yang
>> semakin membuat kita bertanya: kenapa?. Secara sederhana, bagi saya
>> jawabannya : 1) banyaknya orang kuat yang zalim. 2) banyaknya orang baik
>> yang lemah.
>>
>> Jika kita merasa baik dan cukup sholeh namun ternyata masih lemah, kita
>> harus bergeser dari posisi nyaman. Secara benar kita perlu bertanggung
>> jawab
>> pada kewajiban sosial kita. Kita perlu mencontoh sikap orang-orang shaleh
>> terdahulu. Kita perlu mendidik diri agar seperti seorang tabi'in yang
>> setiap
>> memberi sedekah selalu menangis sambil berdo'a, kira-kira begini do'anya
>> "Ya
>> Allah ampunkanlah hamba atas kemampuan hamba yang sangat kecil sehingga
>> masih banyak saudara-saudara hamba yang kelaparan". Kita perlu melatih
>> diri
>> kita agar bisa seperti Hissan bin Abu Sinan seorang tabi'ut tabi'in, mahir
>> berniaga dengan niat yang terang, seterang pernyataannya "Kalau bukan
>> karena
>> orang-orang miskin, aku tidak akan berdagang".
>>
>> Kebutuhan yang ketiga adalah agar kita ada di posisi terdepan dalam
>> perlombaan kebaikan. Diperbolehkan iri pada orang kaya yang dermawan. Dari
>> Abdullah bin Mas'ud, Rasulullah saw bersabda "Diperbolehkah hasad pada dua
>> hal: Seseorang yang diberikan harta yang selalu diinfakkannya. Dan
>> seseorang
>> yang diberikan ilmu, dia mempergunakan ilmu tersebut dan mengajarkannya
>> kepada orang lain."(HR. Bukhari dan Muslim). Lalu seperti apa contoh
>> perlombahan kebaikan (dengan harta) dari generasi terbaik ummat ini?.
>> Ummar
>> bin Khattab ra memberikan setengah hartanya untuk di sedekahkan. Abu Bakar
>> As Shiddiq ra menyedekahkan seluruh hartanya. Ustman bin Affan ra
>> membiayai
>> seluruh kebutuhan perang 10.000 tentara Islam. Abdurrahman bin Auf ra
>> setiap
>> duduk di majelis Rasulullah saw bersedekah 40 ribu dinar (64 Milyar)!.
>>
>> Kita butuh untuk menjadi kaya. Karenanya mulai saat ini kita perlu
>> mempelajari secara mendalam penjelasan Islam tentang harta. Kemudian, kita
>> perlu membuat tujuan dalam aspek beramal dengan harta. Tujuan setinggi
>> mungkin yang masih bisa kita cerna dalam detail rencana hidup kita. Karena
>> Rasulullah bersabda "Dan seorang hamba yang diberikan rizki oleh Allah
>> berupa ilmu tetapi tidak diberi harta. Dengan niat yang tulus dia berkata:
>> seandainya aku punya harta, aku akan berbuat banyak seperti yang dilakukan
>> fulan. Maka Allah menyamakan pahala keduanya." (HR Tirmidzi).
>>
>> Lalu, kita harus selalu berdo'a kepada Allah saw agar kita diberikan
>> rezeki
>> yang berkah dan melimpah. Berdo'a agar rezeki tersebut diletakkan Allah
>> pada
>> tangan kita, bukan hati kita.
>>
>> Kemudian, kita berusaha.
>>
>> "Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta
>> orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan
>> dikembalikan
>> kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu
>> diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan. " (QS At
>> Taubah:105).
>>
>> "Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah
>> diusahakannya, dan bahwasanya usaha itu kelak akan diperlihat
>> (kepadanya)."(QS An Najm: 39-40).
>>
>> InsyaAllah: Bisa.
>>
>> arif rahman
>> http://arifrahmanlubis.wordpress.com
>> http://infobatik.com
>>
>>
>>
>

Kirim email ke