Assalaamu'alaikum Wr. Wb.

Walau hasil pilpres belum kita ketahui, tapi kesuksesan ekonomi rakyat
menjadi topik utama perdebatan kontra neoliberal bisa menjadi pelajaran bagi
kita.

Wassalaamu'alaikum Wr. Wb.
------
Muhamad Said Fathurrohman
Blog: http://komentar-ekonomi.blogspot.com
Pelajaran dari Ekonomi Rakyat untuk Ekonomi
Islam<http://komentar-ekonomi.blogspot.com/2009/05/pelajaran-dari-ekonomi-rakyat-untuk.html>
Ekonomi rakyat belum dapat dianggap sebagai disiplin ilmu. Namun terlalu
meremehkan jika menganggapnya hanya sebagai jargon politik. Paling tepat,
ekonomi rakyat ini dikategorikan sebagai sebuah paham atau strategi
pembangunan.

Dengan keberpihakan yang amat kentara, hingga dicerminkan dalam namanya,
ekonomi rakyat ini mudah memperoleh dukungan dari masyarakat. Sayangnya,
konsep ekonomi rakyat sendiri belum terlalu jelas. Literatur yang membahas
konsep ekonomi rakyat sangat sulit diperoleh.

Ketika konsep orisinil tidak ada, maka cara paling mudah untuk
memperkenalkan ekonomi rakyat ke masyarakat adalah dengan melakukan kritik
pada konsep ekonomi lain Maka diambillah neoliberalisme sebagai sasaran
kritik

Pembahasan ekonomi rakyat marak mendekati pilpres ini karena dua fakor:
1. Ekonomi rakyat diusung oleh Prabowo sebagai materi kampanye
2. Salah satu pasangan capres-cawapres disinyalir sebagai neolib yang
menjadi "musuh" ekonomi rakyat

Dibandingkan dengan ekonomi kerakyatan, literatur ekonomi Islam jauh lebih
berkembang dan banyak. Tapi mengapa ekonomi Islam tidak mampu menembus debat
Pilpres 2009?

Pertama, tidak ada parpol yang mau membawa ekonomi syariah, meskipun parpol
Islam. Sepertinya, parpol Islam walau sudah menyatakan diri sebagai parpol
Islam masih ragu untuk secara tegas membawa ide-ide Islam dalam aspek hukum
formal dan tata ekonomi. Parpol Islam perlu menyadari bahwa pemilu dan
pilpres justru merupakan momen yang tepat untuk menjual ide-ide tersebut.
Rumus suksesnya, kritik sistem yang berlaku dan berikan argumen yang kuat
mengapa sistem yang ditawarkan lebih baik.

Kedua, ekonomi Islam selama ini lebih banyak dikemas dalam label kepatuhan
terhadap syariat Islam, bukan pada prospeknya untuk membawa kesejahteraan
pada masyarakat. Padahal, mayoritas masyarakat lebih peduli pada isu kedua,
bukan isu pertama.

Ketiga, perkembangan dan fokus kajian ekonomi Islam lebih banyak pada
keuangan Islam yang tidak nampak perbedaannya dalam praktik maupun dampak.
Apa yang nampak dari keuangan Islam, yakni lembaga-lembaga keuangan Islam,
dianggap identik dengan ekonomi Islam. Ketika lembaga keuangan Islam tidak
memperoleh simpati masyarakat, maka citra ekonomi Islam ikut terimbas.

Kirim email ke