Itulah yang mencemaskan, emosi yang tak mampu dipendam dibiarkan para pembisik jadi transparan, didengar dilihat mbok bakul sepanjang jalan.
Wahai sang pembisik, dikala sedang bungah, mohon ingatkan kepadanya; ditahun 99 kita yang utama namun tak beruntung jadi yang pertama. Berikutnya kita yang kedua pertanda tentu ada apa-apa karena ulah kita. Mungkin kini kita yang ketiga pertanda yang perlu dibela menjauhi kita. 14% tak jauh beda 10%. Pecinta anda dan ayahanda tak pernah goyah namun kian senja. Mengandalkan senja adalah sia-sia, Kenapa kita tak menyongsong matahari yang menguatkan otot tulang belia. Pasang surut ayahanda ditingkah pengasingan berulang memberi hikmah menambah barisan. Kenapa barisan jadi begini. Dengarlah kata pusaka yang satu ini : alur patut rasa periksa. Ikuti alur pakem kepatutan yang lazim, tetap peka perasa mendengar denyut nadi yang harus dibela dan semuanya diperiksa dijaga dengan rasio logika. Wah lagi asyik mo bikin prosa liris; eh tukang ngamen ngrecokin; ... sungguh mati aku jadi penasaraan... DJP --- In [email protected], Bambang Sulistomo <pembebasan.bsulist...@...> wrote: ... para pembisik yang sudah sekian lama bersama megawati, tentu paham betul kadar atau takaran emosi sang pemimpin,.. tahu betul , kapan sang pemimpin sedang bungah hatinya, atau kapan sang mbak sedang gundah...
