bung rzain,

Seingat saya, pangkat terakhir ayahnya SBY bukan Letnan tapi Pembantu Letnan 
Satu alias Peltu.

Ngomong-ngomong yang membuat saya ga habis pikir adalah Pak'e Haniwar Syarif 
ini  sulit sekali menerima kenyataan bahwa kalo mbak Mega dihadapkan dengan SBY 
pastilah mbak Mega akan keok dan itu bukan dikarenakan SBYnya curang ato 
pencitraan dll tapi emang secara relatip objektip bobot mbak Mega maseh  berada 
2 level dibawah SBY 
So, kalo PDI-P emang maseh penasaran mo ngalahin SBY, maka jalan satu-satunya 
menurut saya adalah memunculkan pasangan capres-cawapres yang maseh fresh serta 
berasal dari luar struktur PDI-P sehingga diharapkan pasangan tsb dapat mencuri 
pandang para pemilih dalam ajang pilpres Juli yad, tapi kalo PDI-P maseh aja 
utak-atik antara (Mega-Prabowo-Wiranto-JK-Sutiyoso-Sri Sultan) maka saya yakin 
SBY akan melenggang dg sedikit kangkung menduduki RI-1 kembali dan kubu PDI-P 
kudu legowo menerima kenyataan itu, lah abis ibaratnya maap, wong Ellyas Pical 
diadu ama Tyson !? yooo sekali lage maap, konyol namnya, pada hal sesungguhnya 
kubu PDI-P itu pan maseh punya misale Si Pitung; Si Buta dari Gua Hantu; Si 
Pahit Lidah dll he he he...

Salam hangat,
Suhaimi


  ----- Original Message ----- 
  From: rzain 
  To: [email protected] 
  Sent: Tuesday, April 28, 2009 7:34 PM
  Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: Kalau Saja Megawati....





  Analisa ngawur, dipecat GD belum tentu SBY orang bodoh malah dianggap pintar 
maka oleh GD disingkirkan. Dia naik bukan karena jasa Mega tetapi upaya 
sendiri, dia lulusan no 1 1974 AMN, ayah cuma Letnan, Mega cuma bayangan 
Soekarno. Mega kecewa semula mau jadi Wapresnya dan membayangkan menang tetapi 
SBY menganalisa lebih pintar, buat apa jadi Waperes kalau bisa jadi Pres.

 

Kirim email ke