Mumpung tahun baru Imlek, saya melihat sebuah pelajaran berharga. Di negeri yang ribuan mil dari asalnya, masyarakat China di belahan dunia manapun merayakannya. Kesenian barongsai, mengunjungi orangtua, memasak kue bulan, membakar uang kertas sebagai penyirat untuk lebih makmur. Ada kebanggaan bahwa budaya cina masih dipegang dengan kuat dimanapun bumi beranjak. Yang saya amati adalah sikap yang berbeda, menanggapi 'penjualan' asset budaya untuk turis. Bukannya marah tapi malah senang.
Kembali ke 'budaya asli Indonesia'. Yang menjadi pekerjaan rumah adalah menanamkan rasa bangga, memiliki dan berbagi. Yaitu meningkatkan apresiasi budaya pada negeri sendiri. Kita masih suka hipokrit. Teriak soal Rasa Sayange tapi membilang Ndangdut itu ndeso. Well, bagaimanapun jelek, kampungan, udik, ndeso itu ndangdut adalah budaya kita yang berbaur cantik dari Hindustan. Apakah India marah kendang timpulnya kita pinjam? Saya sendiri menyarankan orang untuk travel ke luar negeri. Kenapa? biar bisa membandingkan dan membuka mata bahwa luar negeri itu terkadang tidak se'indah' yang dibilang. Kalau kita terperangkap pada jargon 'luar negeri pastilah sip' dan melihat Indonesia dengan kacamata miring, berarti ia memang belum ada apresiasi budaya sendiri (atau ndak pernah mau menyelami budaya sendiri). Sewaktu makan malam di Malaka, kami dilayani seorang perempuan dari Surabaya. Kami jadi berbahasa Suroboyoan, meski ia sedikit kikuk. Saya tanya, ngga pengen pulang mbak? Jawabnya, tidak. Saya sudah jadi orang Malaysia katanya. Penasaran saya tanya, "lah sampeyan njuk isih sok ngrungokna wayang ta? Jawabnya sungguh mengejutkan. "Isih mbak, nang kampungku malah ono kelompok gamelan. Padahal nduk Jawa aku ra tau nyekel iku". Rupanya ketika di rantau, rasa kebanggaan berbudaya-nya lebih subur. Kembali soal klaim mengklaim. Cobalah merenung kembali budaya tahun baru cina. Apakah pemerintah Cina marah jika kota San Francisco mengklaim Parade Tahun Baru di Chinese Town sebagai produk jualan pariwisata-nya? Di lain waktu saya memergoki sesorang memakai kaos Dagadu di Mountain View. Tulisannya berbahasa jawa dan indonesia, tidak ada gambar gamelan, atau becak atau angklung dsb. Kaosnya nampak tua, tapi dia tetap bangga memakai. Saya tegor, dia membilang. Biarlah, dengan begini saya ingat Indonesia. Nasionalisme kah? Yang kita perlukan adalah menentukan identitas itu. Banggalah dengan ndangdut, congkekan, engklek, wayang, batik, dagadu, bekiak, etc. Tugas kita adalah membuatnya unik, mengenalkan ke orang Indonesia sendiri (ini yang lebih berat sebenarnya) betapa cantiknya budaya kita. Tak cuma berkata, tapi praktikkan. Tak kenal maka tak sayang. Salam, Ambar *mencoba menyimak wayang (alm) Ki Hadi Sugito "Apakah anda masih sering mendengarkan wayang kulit ?" "Masih, di kampung saya malah ada kelompok gamelan dan wayang. Padahal di Jawa saya ngga pernah pegang alat." 2009/1/29 army gulardi <[email protected]> > Sekedar berbagi..... > > Waktu nunggu beach trem di Sentosa Island sempat denger instrumen lagu > Rasa Sayange diputar di haltenya. Antara rasa bangga dan terenyuh juga > kalau > mengingat 'riwayat' lagu ini..... bangga lagu ini bisa digunakan di tempat > wisata sekelas Sentosa Island (meskipun pantainya nggak ada apa2nya > dibanding > pantai2 di Indonesia) sekaligus terenyuh kalau banyak pengunjung lebih ngeh > lagu itu dari Malaysia dibanding Indonesia...... > > Kebetulan di Singapore tanggal 30 Januari 2009 ada acara parade Chingay > 2009 > informasinya semacam Mardi Gras tapi dengan nuansa Lunar New Year (Imlek) > yang cukup menggembirakan salah satu performance yang bakal tampil adalah > grup kesenian dari Wonogiri juga Reog.... semoga ini bisa membantu > pengakuan > atas karya cipta seniman tradisional Indonesia di kancah > internasional...... > . > > > [Non-text portions of this message have been removed]
