----------------------------------------------------------
Live and work in the USA legally:
Register for the GREEN CARD LOTTERY!
Visit http://www.us-immigration.org

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Indonesia Daily News Online
http://www.indo-news.com/

Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Hentikan Pertikaian Elite Politik
* Sulit Jatuhkan Gus Dur lewat SI MPR

Media Indonesia - (Kamis, 28 Sept 2000)
MATARAM (Media):

Pengamat politik dari Universitas Indonesia (UI) Arbi Sanit mengatakan kalau
ingin meneruskan perjuangan reformasi, maka pertikaian antarelite politik
harus segera dihentikan.

"Fokuskan perhatian pada persoalan bangsa terutama segi keamanan dan ancaman
disintegrasi. Ini masalah mendesak, kenapa tidak dipikirkan bersama,"
katanya kepada wartawan di Mataram, kemarin.

Pengamat politik dari Universitas Indonesia berbicara di hadapan peserta
halqah

(seminar--red) bertajuk `Ulama dan Demokratisasi Lapis Bawah` di Pondok
Pesantren Al Islahuddiny, Kediri Lombok Barat. Acara itu diselenggarakan
Pimpinan Wilayah Remaja Masjid Indonesia (PW-RMI) NTB dan Perhimpunan
Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M).

Menurut Arbi Sanit, para elite politik sekarang ini terjebak dalam konflik
kekuasaan, karena mereka terpecah dalam lembaga-lembaga DPR, MPR dan
birokrasi. Intinya, para elite politik ini terjebak hubungan kontrol antara
legislatif dan eksekutif yang sebenarnya didasarkan atas prinsip demokrasi.
Namun, mereka lupa antara kedua lembaga tersebut sebenarnya ada kerja sama.

Pada Pemilu 1999 semua organisasi politik berbicara tentang reformasi,
tetapi setelah presiden terpilih dan kabinet terbentuk, para elite politik
lupa pada janjinya. Menurut Arbi Sanit, mereka lebih banyak membicarakan
kursi dan bagaimana mempertahankan kekuasaan serta strategi menjatuhkan
lawan. Sementara persoalan reformasi menjadi terpinggirkan dan mulai
ditinggalkan.

Arbi mengatakan, para elite politik tidak mampu membangun keputusan bersama
untuk menentukan apakah Pak Harto seorang yang bersalah secara politik. Ini
tidak dilakukan sama sekali oleh MPR dan DPR. "Dalam kondisi seperti ini
para pendukung HM Soeharto merasa mendapat angin segar, karena lawannya
`tidur` dan bertengkar," katanya.

Yang kemudian terjadi, silih berganti peristiwa meletus. Kata Arbi, demo
pendukung mantan Presiden Soeharto terus beraksi, peledakan bom kian marak
yang mengacaukan proses pengadilan keluarga Cendana. "Semua itu, peluang
yang diberikan politisi yang masih sibuk memikirkan kekuasaan, sehingga
reformasi tertinggal," kata Arbi Sanit lagi.

Pada bagian lain, Arbi Sanit juga mengungkapkan relatif sulit menjatuhkan
Presiden Abdurrahman Wahid melalui Sidang Istimewa MPR. Karena, tidak
gampang menggelar SI MPR berkaitan dengan kebijakan Presiden Gus Dur
memberhentikan Kapolri yang dinilai melecehkan lembaga DPR dan MPR. "Tap MPR
No. VII/2000 yang mengatur tentang prosedur pemberhentian Kapolri itu masih
diperdebatkan," katanya.

Sejauh ini, menurut Arbi Sanit, belum ada undang-undang yang menentukan
bahwa Tap MPR bisa berlaku langsung. Karena itu Presiden Gus Dur mengacu
pada undang-undang lama untuk mengganti Kapolri. Undang-undang lama
membenarkan Presiden memberhentikan Kapolri tanpa berkonsultasi dengan DPR.
"Tap MPR tersebut juga bertentangan dengan UUD 1945 yang menetapkan bahwa
Presiden adalah Panglima Tertinggi ABRI," katanya.

Dengan alasan tersebut, kata Arbi Sanit, Presiden bisa memberhentikan atau
memecat anggota TNI atau polisi. "Karena itu secara konstitusional Presiden
Gus Dur tidak bisa dipersalahkan dalam kasus ini, karena konstitusi dan
hukum memang kacau," katanya.

Dalam kasus ini, persoalan substansi hukumnya tidak pasti dan ada kaitannya
dengan persoalan politik serta keamanan dan terpojoknya kaum reformis oleh
gerakan pendukung mantan Presiden Soeharto. Dalam kaitan itu anggota MPR,
terutama orang-orang daerah akan menyadari mereka terpojok, karena
dihadapkan dengan rakyat.

"Jadi secara politis dalam pemberhentian Kapolri ini Gus Dur akan berlindung
di balik kepentingan rakyat," katanya.

Selain itu, kata Arbi, kalau digelar SI MPR, dari segi ekonomi relatif mahal
karena membutuhkan anggaran cukup besar mencapai Rp 25 miliar.

"Persoalan lain yang lebih pelik lagi, kalau memang Gus Dur berhasil
diturunkan melalui SI MPR, siapa calon yang akan menggantikannya. Karena
hingga kini Gus Dur merupakan tokoh nasional yang memiliki dukungan paling
luas di kalangan elite politik," katanya.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 28 Sep 2000 jam 11:13:58 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke