Ada cara yang lebih sederhana Pak, kira2 begini:
Bagi yang sudah lancar, membaca 1 juz memerlukan waktu kira-kira 20-30 menit. 
Asumsi 30 menit, maka pembagian paling mudah adalah 10 menit setelah sholat 
subuh, 10 menit setelah sholat dhuhur di sela-sela waktu istirahat siang dan 10 
menit menjelang tidur. Maka IngsyaAlloh kita bisa khatam qur'an setiap bulan 
satu kali. Jika kita bisa istiqomah maka dalam satu tahun bisa khatam 12 kali.

Secara logika, ini tidak susah, karena dalam sehari umumnya kita mengalokasikan 
waktu untuk menonton TV, membaca koran, majalah atau buku2 bacaan lainnya 
kurang lebih 2-3 jam. Maka jika ini diarahkan 30 menitnya untuk membaca 
Alqur'an seharusnya tidak menganggu rutinitas kita. 

Selamat mencoba, doakan juga saya bisa istiqomah mengamalkannya... Amiiin.
Wassalam,


 M.Khoerur Roziqin
Recommended blogs for better understanding of the purposes of our life: 
www.dalamdakwah.wordpress.com
www.hidayahku.com
www.mualaf.com.





________________________________
From: Agus Rasyidi <ras...@wicaksana.co.id>
To: jamaah@arroyyan.com; milis_i...@googlegroups.com
Sent: Thursday, August 13, 2009 2:12:49 PM
Subject: [Ar-Royyan-9133] Teori Matematika Sederhana untuk Mengkhatamkan Kitab 
Al-Quran

  
Teori Matematika Sederhana untuk Mengkhatamkan Kitab 
Al-Quran
Sumber: Berita 
Iptek Topik: Fisika   
Tulisan ini lebih menekankan pada aspek ilmiah (scientific) meskipun 
beberapa dasar yang dipakai adalah ayat Al-Qur’an dan Hadits. Dengan bantuan 
matematika sederhana (hanya dengan 11 persamaan), penulis berharap Al-Qur’an 
dapat dikhatamkan dengan waktu yang sistematis dan rapi. Mengkhatamkan 
(menyelesaikan) Al-Qur’an menjadi sangat penting bagi umat Islam apalagi akan 
datang bulan Ramadhan yang penuh keberkahan dan pahala beberapa hari lagi. 
Dasar 
mengapa Al-Qur’an lebih utama untuk dikhatamkan adalah karena ia menjadi amalan 
yang paling dicintai oleh Allah SWT berdasarkan hadist H1 (lihat Appendix).
Struktur Kitab Al-Qur’an 
Al-Qur’an terdiri atas 114 bagian yang dikenal dengan nama surat. Setiap 
surat terdiri atas beberapa ayat. Surat terpanjang berisi 286 ayat yaitu surat 
Al-Baqarah dan surat terpendek hanya memiliki 3 ayat yaitu surat Al-Kautsar. 
Total jumlah ayat dalam Al-Qur’an mencapai 6236 ayat di mana jumlah ini dapat 
bervariasi menurut beberapa pendapat, namun bukan disebabkan perbedaan isi 
melainkan hanya karena perbedaan cara menghitung jumlah ayat. Surat-surat yang 
panjang biasanya terbagi lagi atas beberapa sub-bagian yang disebut ruku’. 
Setiap ruku’ membahas tema atau topik tertentu [1]. Dalam artikel ini, tanpa 
bermaksud menyalahi pendapat ulama manapun, penulis mengikuti pendapat bahwa 
Al-Qur’an terdiri atas 6236 ayat, sehingga kita dapat membuat pernyataan 
matematika berikut
Al-Quran memiliki 6236 ayat. (1)
Di Indonesia, Al-Qur’an juga biasa dibagi menjadi 30 bagian dengan panjang 
sama yang dikenal dengan nama juz. Pembagian ini untuk memudahkan mereka yang 
ingin mengkhatamkan bacaan Al-Qur’an dalam 30 hari (satu bulan). Pembagian 
lainnya yaitu manzil [1]. Al-Qur’an dibagi menjadi 7 bagian dengan tujuan 
penyelesaian bacaan dalam 7 hari (satu minggu). Kedua jenis pembagian ini tidak 
memiliki hubungan dengan pembagian subyek bahasan tertentu. Dengan demikian 
kita 
juga memiliki persamaan
Al-Qur’an dibagi menjadi 30 
Juz (2)
atau
Al-Qur’an dibagi menjadi 7 
manzil. (3)
Kecepatan Membaca
Menurut [1], ditinjau dari segi kebahasaan (etimologi), Al-Qur’an berasal 
dari bahasa Arab yang berarti “bacaan” atau “sesuatu yang dibaca 
berulang-ulang”. Kata Al-Qur’an adalah bentuk kata benda (masdar) dari kata 
kerja qara’a yang artinya membaca. Konsep pemakaian kata ini dapat juga 
dijumpai 
pada salah satu surat Al-Qur’an sendiri yakni pada ayat 17 dan 18 Surat Al 
Qiyaamah (lihat Q1 pada Appendix).
Karena pemahaman di atas, membaca Al-Qur’an tidak sama dengan membaca buku 
lainnya. Untuk Al-Qur’an kita tidak bisa melakukan “membaca cepat” seperti 
misalnya yang disampaikan dalam [2], bahwa kecepatan rata-rata orang Indonesia 
dewasa adalah 175-300 kpm. Kpm adalah kata per menit yaitu jumlah kata yang 
dibaca, dibagi waktu yang dibutuhkan untuk membaca.
Membaca Al-Qur’an begitu istimewa sehingga bagi yang belum mahir mendapat 
pahala 2 kali lipat dan bagi yang sudah mahir akan bersama para malaikat di 
akhirat seperti yang disampaikan dalam hadits-hadist H2 dan H3 (lihat 
appendix):
Oleh karena itu disayangkan jika terhadap Al-Qur’an pun dilakukan “membaca 
cepat” seperti apa yang kita lakukan pada buku-buku biasa. Namun tidak dapat 
dipungkiri, bahwa kecepatan membaca Al-Qur’an akan mempengaruhi kecepatan 
pengkhataman-nya.
Dalam artikel ini, penulis mendefinisikan bahwa kecepatan membaca Al-Qur’an 
tidak didasarkan pada kpm (kata per menit) maupun apm (ayat 
per menit), tapi lebih kepada juz per jam, sehingga Al-Qur’an bisa dibaca 
beserta dengan maknanya karena secara psikologis satuan jam cukup longgar untuk 
memahami makna ayat dibaca. Dengan demikian kita bisa membuat persamaan 
matematika sebagai berikut
k = kecepatan membaca 
Al-Qur’an (juz/jam). (4)
Kesibukan dan Alokasi Waktu Membaca
Kendala utama yang juga merupakan “alasan tradisional” dalam mengkhatamkan 
Al-Qur’an adalah alasan sibuk. Beberapa kegagalan utama biasanya karena tidak 
adanya kedisiplinan dalam membaca. Bagimanapun juga, alokasi waktu untuk 
membaca Al-Qur’an harus direncanakan dalam setiap harian kita. Beberapa cara 
agar kita dapat disiplin dalam mengalokasikan waktu adalah sebagai berikut 
[3]:
1. Melatih diri dengan bertahap untuk misalnya dapat tilawah satu juz dalam 
satu hari. Caranya, misalnya untuk sekali membaca (tanpa berhenti) ditargetkan 
setengah juz, baik pada waktu pagi ataupun petang hari. Jika sudah dapat 
memenuhi target, diupayakan ditingkatkan lagi menjadi satu juz untuk sekali 
membaca.
2. Mengkhususkan waktu tertentu untuk membaca Al-Qur’an yang tidak dapat 
diganggu gugat  (kecuali jika terdapat sebuah urusan yang teramat sangat 
penting). Hal ini dapat membantu kita untuk senantiasa komitmen membacanya 
setiap hari. Waktu yang terbaik menurut penulis adalah pada malam hari dan 
ba’da 
subuh.
3. Menikmati bacaan yang sedang dilantunkan oleh lisan kita. Lebih baik lagi 
jika kita memiliki lagu tersendiri yang stabil, yang meringankan lisan kita 
untuk melantunkannya. Kondisi seperti ini membantu menghilangkan kejenuhan 
ketika membacanya.
4. Memberikan iqab (hukuman) secara pribadi, jika tidak dapat 
memenuhi target membaca Al-Qur’an. Misalnya dengan kewajiban infaq, menghafal 
surat tertentu, dan lain sebagainya, yang disesuaikan dengan kondisi pribadi 
kita.
5. Diberikan motivasi dalam lingkungan keluarga jika ada salah seorang 
anggota keluarganya yang mengkhatamkan al-Qur’an, dengan bertasyakuran atau 
dengan memberikan ucapan selamat dan hadiah.
Dengan demikian kita perlu mendefinisikan satu faktor lagi yang 
mempengaruhi pengkhataman yaitu
a = alokasi waktu dalam 
sehari (jam/hari). (5)
Teori Akhir
Dengan persamaan (2), (4) dan (5), kita bisa mendefinisikan bahwa Al-Qur’an 
dapat dikhatamkan jika memenuhi persamaan berikut
30 
= h.a.k,(6)
di mana h adalah faktor yang menunjukkan jumlah hari yang diperlukan 
dalam mengkhatamkan al-Qur’an (hari), a adalah alokasi waktu tilawah 
dalam sehari (jam/hari) dan k adalah kecepatan membaca dalam satu jam 
(juz/jam). Persamaan (6) juga bisa dimodifikasi untuk satuan lainnya misalnya 
sebagai ganti Juz dalam (4), bisa dipakai ayat dalam (1) sehingga 
menjadi
6236 = h.a.k, (7)
di mana k adalah kecepatan dalam satuan ayat/jam, faktor h dan a tetap.
Formula dan Realitas
Persamaan (6) ini bisa diuji sebagai berikut. Misalnya seseorang yang yang 
hampir tidak pernah belajar Al-Qur’an, sehingga kecepatan membaca k mendekati 
nilai nol (tapi tidak sama dengan nol), secara simbol matematika ditulis k –> 
0+, maka meskipun a=24 jam/hari, nilai h akan menjadi
 (8)
yang artinya bahwa diperlukan waktu yang sangat lama (= tak terhingga) bagi 
orang tersebut untuk mengkhatamkan Al-Qur’an. Hal yang sama (h tak 
terhingga) juga terjadi jika a mendekati nol (tapi tidak sama dengan 
nol), a–>0+, yang artinya hampir tidak pernah mengalokasikan waktu 
untuk membaca Al-Qur’an meski bisa/lancar membacanya (k tidak sama 
dengan nol).
Akan tetapi, barang siapa yang tidak pernah membaca Al-Qur’an sama sekali 
(yaitu k sama dengan nol), k–>0, sehingga (meski a=24 
jam/hari) nilai h akan menjadi
.            (9) 
Jadi orang yang bersangkutan tidak pernah mengkhatamkan Al-Qur’an sampai 
kapanpun. Hal yang sama juga berlaku kepada orang yang tidak pernah 
mengalokasikan waktunya untuk membaca Al-Qur’an, a –>0, sehingga 
nilai h juga tidak ada (does not exist).
Persamaan (7) bisa dijadikan acuan jika pembaca ingin mengetahui berapa lama 
waktu yang diperlukan untuk melaksanakan Hadist H4 (lihat appendix). Jadi jika 
kecepatan (k) x alokasi waktu (a), sehingga k.a=1 ayat, 
maka total hari yang diperlukan untuk menyampaikan seluruh ayat adalah
 (10)
Sebagai perbandingan dasar, bahwa nilai h pada persamaan (10) ini 
lebih kecil daripada waktu yang diperlukan oleh Allah SWT dalam menurunkan 
Al-Qur’an (lewat malaikat Jibril) kepada Nabi Muhammad SAW. Dipercayai oleh 
umat 
Islam bahwa penurunan Al-Qur’an terjadi secara berangsur-angsur selama 23 tahun 
(para ulama membagi masa turun ini menjadi periode Mekkah 13 tahun dan periode 
Madinah yang dimulai sejak peristiwa hijrah berlangsung selama 10 tahun).
Nilai h pada persamaan (10) ini juga menjadi jawaban jika ada 
seseorang yang membaca Al-Qur’an hanya satu ayat per hari (a.k=1). Jadi 
setidaknya, waktu yang diperlukan untuk khatam adalah sekitar 17.32 tahun atau 
17 tahun 4 bulan selama hidupnya.
Bagaimana Menggambar Grafik Pengkhataman ?
Untuk menggambarkan sebuah grafik yang mudah dipahami, sepertinya kita perlu 
merenungi pesan seorang ulama besar, Imam Syahid Hasan Al-Banna berikut 
ini.
“Usahakan agar Anda memiliki wirid harian yang diambil dari 
kitabullah minimal satu juz per hari dan berusahalah agar jangan mengkhatamkan 
Al-Qur’an lebih dari sebulan dan jangan kurang dari tiga hari”
Dengan dasar pesan beliau, misalnya, faktor h bisa di-set agar 
memiliki nilai minimal h = 3 dan maksimal h = 30. Untuk 
penentuan nilai h = 3, juga berlandaskan pada hadist H5 (lihat 
appendix).
Sedangkan untuk faktor a, kita bisa set dari a = 0 (tidak 
pernah mengalokasikan waktu untuk membaca) sampai a = 24 (dalam 24 jam, 
terus menerus membaca Al-Qur’an). Dengan nilai paramater di atas, kita bisa 
mendapatkan grafik k seperti ditunjukkan pada Gambar 1.
Gambar 1. Grafik kecepatan membaca Al-Quran beserta 
jumlah hari yang dicapai dan alokasi waktu yang diperlukan
Cara Membaca Grafik dan Membuat Rencana Pengkhataman 
Gambar 1 menunjukkan beberapa kurva untuk k =1/4, 
1/2, 1, 2 dan 3 juz/jam. Sebagai contoh dengan k=1 juz/jam, maka 
sesorang yang menginginkan khatam 2 kali selama ramadhan, harus mengalokasikan 
waktu a=2 jam per hari untuk tilawah. Jika hanya 
punya a=1 jam sehari untuk tilawah, maka paling cepat, ia akan 
khatam pada hari ke-30 (h=30).
Dengan persamaan (6), dapat dicari kecepatan minimal k_min, sehingga 
dengan alokasi waktu maksimal a=24 jam/hari Al-Qur’an dapat dikhatamkan 
dalam 3 hari (h=3), yaitu dengan kecepatan
 .                                  
(11)
Demikianlah teori perhitungan matematika sedeharna dalam mengkhatamkan 
Al-Qur’an. Wallahu ‘alam bishawab. Semoga tetap bermanfaat.
Appendix:
H1: Dari Ibnu Abbas r.a., beliau mengatakan ada 
seseorang yang bertanya kepada Rasulullah saw. “Ya Rasulullah, amalan apakah 
yang paling dicintai Allah?” Beliau menjawab, “Al-hal wal 
murtahal” Orang ini bertanya lagi, “Apa itu al-hal wal murtahal, wahai 
Rasulullah?” Beliau menjawab, “Yaitu yang membaca Al-Qur’an dari awal 
hingga akhir. Setiap kali selesai ia mengulanginya lagi dari awal” (HR. 
Tirmidzi)
Q1: “Sesungguhnya mengumpulkan Al-Qur’an (di dalam 
dadamu) dan (menetapkan) bacaannya (pada lidahmu) itu adalah tanggungan Kami. 
(Karena itu), jika Kami telah membacakannya, hendaklah kamu ikuti 
bacaannya”.(75:17-75:18).
H2: Dari Aisyah ra, berkata; bahwa Rasulullah saw. bersabda, 
“Orang yang membaca Al-Qur’an dan ia mahir membacanya, maka kelak ia akan 
bersama para malaikat yang mulia lagi taat kepada Allah.” (HR. Bukhari 
Muslim)
H3: “Dan orang yang membaca Al-Qur’an, sedang ia masih 
terbata-bata lagi berat dalam membacanya, maka ia akan mendapatkan dua 
pahala.” (HR. Bukhari Muslim)
H4: “Sampaikan dariku walaupun hanya satu ayat” ( 
HR. Ahmad, Bukhari dan Tarmidzi).
H5: Dari Abdullah bin Amru bin Ash, dari Rasulullah saw., 
beliau berkata, “Puasalah tiga hari dalam satu bulan” Aku berkata, 
“Aku mampu untuk lebih banyak dari itu, wahai Rasulullah” Namun beliau 
tetap melarang, hingga akhirnya beliau mengatakan, “Puasalah sehari dan 
berbukalah sehari, dan bacalah Al-Qur’an (khatamkanlah) dalam sebulan” Aku 
berkata, “Aku mampu lebih dari itu, wahai Rasulullah?” Beliau terus 
malarang hingga batas tiga hari. (HR. Bukhari).
www.kamusilmiah.com


      

Kirim email ke