________________________________
From: Yunan Buwana <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Cc: fani <[EMAIL PROTECTED]>; engkus ruswana <[EMAIL PROTECTED]>; richadiana
kartakusuma <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Saturday, November 1, 2008 8:04:28 AM
Subject: Gelar Syech
Keur baraya ki sunda
Sampurasun !
Ketika Nabi Muhammad wafat, hanya Imam Ali yang menemani, mengurus hingga
menguburkan beliau, ketiga sahabat Nabi yakni : Abu bakar, Umar dan Ustman
diutus beliau untuk berperang, namun ditengah perjalanan mereka mendengar kabar
wafatnya Nabi, merekapun berhenti disatu daerah yang bernama Syaqifah disanalah
mereka berduka cita namun diselingi oleh rapat dengar pendapat siapa bakal
calon pengganti beliau, disanalah mereka mem'baet Abu Bakar sbg pengganti
kekhalifahan. tanpa dihadiri oleh Imam Ali. ( ingin cerita lengkapnya cari aja
bukunya digramedia sdh lama pisan kalo ga salah "Prahara Bani Syaqifah" hampura
bisi lupa macana geu ditahun 80'an)
Disinilah awal dari disintegerasi dari perpecahan antara Mazhab Suni dan Syiah,
pada buku karangan beliau kalo ga salah juga (lama pisan euy) "kitab Kifayatul
Ahyar" ada beberapa pidato beliau yang menyatakan, Nabi Muhammad telah memberi
tahu kepadanya sebagai penerus beliau, karena nya Nabi mengutus para sahabat
yang lain untuk berperang, tetapi Imam Ali, tetap menemani beliau, hanya atas
nama persatuan dan kesatuan Umat Islam dikala itu pada akhirnya beliau
menerima pemba'etannya kepada Abu Bakar sbg khalifah.
Ketika masa pemerintahan Abu Bakar sbg Khalifah banyak terjadi percikan2
pertikaan antara Puteri Nabi Fatimah (istri Imam Ali) dgn Abu Bakar
dikarenakan ayahnya Nabi Muhammad pernah memberikan satu lahan perkebunan hasil
rampasan perang kepadanya, namun dizaman Abu Bakar tanah tsb tidak diakui sbg
milik Nabi yang diserahkan kepada Fatimah, dikarenakan Abubakar memegang dalil
: "Bahwasannya Nabi tidak mewariskan apapun kecuali Hadist dan AL-qur'an".
Disatu sisi Imam Ali semasa hidup Nabi Muhammad pernah berselisih paham dengan
istri beliau yakni Aisyah binti Abubakar, maka tak heran ketika Nabi wafat
segala permasalahan yg dulu ada terpecik menjadi suatu akumulasi. Hingga
periode Imam Ali menjadi khalifah yang keempat terjadilah perang jamal ( Unta )
yang dipicu oleh ketidak puasan masalah terbunuhnya Ustman bin Affan.
Perang jamal adalah perang terbuka antara Janda Nabi yakni Aisyah binti
Abubakar dengan Imam Ali, dan dimenangkan oleh Imam Ali, Aisyah dikembalikan
dan dibebaskan dalam keadaan sehat wal-afiat, Hal tsb beliau lakukan untuk
menghormati Nabi Muhammad padahal sdh jelas jika di Islam tidaklah boleh
seorang perempuan menjadi pemimpin, apalagi memimpin suatu peperangan.
Sejak peristiwa tsb beliau meninggalkan Makkah dan Madinah menuju para
pendukung dan pengikut setianya yang berwilayah di Basrah dan Persia yaitu Irak
/ Iran ayeuna mah.
Ada cerita yang menarik mengenai Imam Ali disini, dikota Basrah dan Persia lah
beliau menurunkan ilmu sejati nya yang diajarkan oleh sang Nabi Muhammad
kepadanya secara khusus, mengapa ? karena Imam Ali adalah keponakannya dan dari
kecil dibimbing langsung oleh beliau maka tak heran ilmu2nya smuanya diberikan
kepada Imam Ali. Ilmu apakah itu?
Inilah ilmu yang tidak terdapat didalam hadist maupun perilaku keseharian
Nabi ditengah umat2nya. ilmu ini beliau lakukan pada periode waktu sebelum
melakukan perjalanan malam atau Isra dan Mi'raj. disinilah awal perpecahan
antara Ulama dan pemikir islam lainnya mengenai Sunnah Nabi, sebab setelah
peristiwa Isra Mi'raj beliau mengajarkan kpd umatnya mengenai sholat 5 waktu
dan hanya inilah yang diakui mereka, padahal perilaku dan perbuatan nabi ketika
menyendiri, tafakur, bahkan berpuasa berhari-hari di Gua Hira tidak menjadi
Sunnah Nabi padahal disanalah beliau mendapatkan suatu tuntunan yang dapat
mencapai kefanaan yang hakiki... nah ilmu inilah yang diturunkan Imam Ali
kepada Anaknya Hasan dan Husein juga kepada pengikutnya.
Ketika dulu belum dinamai mazhab Syiah, para pengikunya sepeninggal beliau dan
anak, cucunya, banyak skali komunitas atau Ma'had yang dipimpin oleh seorang
pembimbing Rohani yang biasa disebut Sang Syech, mengapa diperlukan pembimbing
rohani oleh sang syech? dikarenakan ilmu ini banyak mempelajari tentang alam
metafisik, ruh dan pergaiban jangan sampai ada yang salah kaprah dalam
menuntutnya dan untuk meraih gelar Syech tersebutpun tidak sembarangan asal
nunjuk, tapi benar2 merupakan orang yang sudah mencapai suatu maqam yang cukup
tinggi mun disunda mah kana Resi Tea.
Ilmu yang Imam Ali turunkan disana berkembang sangat pesat hingga lahirlah
tokoh2 di Irak dan Persia yang cukup terkenal diantaranya ; Syech Abdul Qodir
Jaelani, Syech Junaid albagdadi, Syech Mansyur Alhalaj, Syech Jalaludin Rummi
dll dan ilmu tsb berkembang menjadi suatu ilmu tarekat atau yang biasa disebut
ilmu Tasawuf.
Nah disinilah perbedaan dua kutub ilmu islam yang jelas adanya, Para Ulama dan
Kyai Indonesia banyak menimba ilmu di Arab Saudi dan Mesir yang Notabenenya
bermazhab Suni, jadi hukumnya berdasarkan Hadist dan Al-quran apa adanya, Tapi
Islam yang ada dipersia atau Irak dan Iran banyak skali khazanahnya dan
macamnya dan berkembang menjadi Mazhab Syiah.
Syech Siti Jenar adalah salah satu Wali yang menuntut ilmu dibagdad, dan beliau
sangat mengagumi tokoh Syech Mansyur Al-halaj yang terkenal dengan ajarannya
yaitu Wahdatul Wujud juga fatwa2nya yang tajam dan membuat kuping sang sultan
pada saat itu merah terus, antara lain fatwanya yang terkenal adalah : " Haram
hukumnya naik haji jika kerabat atau tetangganya dalam kondisi kelaparan /
kesusahan " dan Sang Syech Mansyur Al-Hallaj yang berani berkata " Anal Haq "
(Akulah kebenaran sejati) dan karena itulah beliau dihukum mati. oleh sentimen
sultan yang berkuasa pada saat itu.
Di tanah Jawa rupanya Syech Siti Jenar pun menjalankan ajarannya dengan
menerjemahkan " Wahdatul Wujud " menjadi " Manunggaling Kawula Gusti" yang
tentunya ditolak oleh para penyebar islam saat itu yang jelas2 belajarnya di
Mekkah dan Madinah. pada akhirnya sejarah berulang kembali, beliau dihukum mati
karena politik para penguasa.
dan biasanya sang Syech memakai jubah kebesarannya yang berwarna hitam, laen
hejo, laen bodas
jadi gelar syech, jelas bukan orang sembarangan dan bukan gelar asal2an, beda
dengan mereka yang menyebut dirinya syech tapi perilakunya mengumbar hawa
nafsu, komo eta tah Syech Puji etamah Syech pu-pujien
Pun tabe Pun
Yunan Buwana