Wah bagus bgt ceritanya. Terima kasih sudah share di sini jam. Akan saya
taruh cerita ini di mading gereja.

2008/2/22 James Maramis <[EMAIL PROTECTED]>:

>   Dear friends,
>
>
>
> kebetulan dapat bacaan menarik hari ini. semoga bisa jadi pelajaran buat
> kita semua.
>
>
>
> Selamat menjelang sabat,
>
>
>
> salam,
>
> jamz!
>
> ---------- Forwarded message ----------
> From: *Fauziah Rasad* <[EMAIL PROTECTED]>
> Date: 2008/2/22
> Subject: Dua Manusia Super
> To: @yahoogroups.com
>
>
>
>
>
> Dua Manusia Super
>
> Siang ini 6 February 2008, tanpa sengaja, saya bertemu dua manusia super.
> Mereka mahluk mahluk kecil, kurus, kumal berbasuh keringat. Tepatnya di atas
> jembatan penyeberangan SetiaBudi, dua sosok kecil berumur kira kira delapan
> tahun menjajakan tissue dengan wadah kantong plastik hitam. Saat menyeberang
> untuk makan siang mereka menawari saya tissue di ujung jembatan, dengan
> keangkuhan khas penduduk Jakarta saya hanya mengangkat tangan lebar-lebar
> tanpa tersenyum yang dibalas dengan sopannya oleh mereka dengan ucapan
> "Terima kasih Oom !" Saya masih tak menyadari kemuliaan mereka dan cuma
> mulai membuka sedikit senyum seraya mengangguk ke arah mereka.
>
> Kaki-kaki kecil mereka menjelajah lajur lain di atas jembatan, menyapa
> seorang laki laki lain dengan tetap berpolah seorang anak kecil yang penuh
> keceriaan, laki laki itupun menolak dengan gaya yang sama dengan saya, lagi
> lagi sayup-sayup saya mendengar ucapan terima kasih dari mulut kecil mereka.
> Kantong hitam tempat stok tissue dagangan mereka tetap teronggok di sudut
> jembatan tertabrak derai angin Jakarta. Saya melewatinya dengan lirikan
> kearah dalam kantong itu, duapertiga terisi tissue putih berbalut plastik
> transparan.
>
> Setengah jam kemudian saya melewati tempat yang sama dan mendapati mereka
> tengah mendapatkan pembeli seorang wanita, senyum di wajah mereka terlihat
> berkembang seolah memecah mendung yang sedang menggayut langit Jakarta.
>
> "Terima kasih ya mbak ... semuanya dua ribu lima ratus rupiah!" tukas
> mereka, tak lama si wanita merogoh tasnya dan mengeluarkan uang sejumlah
> sepuluh ribu rupiah.
> "Maaf, nggak ada kembaliannya ... ada uang pas nggak mbak ?" mereka
> menyodorkan kembali uang tersebut. Si wanita menggeleng, lalu dengan
> sigapnya anak yang bertubuh lebih kecil menghampiri saya yang tengah
> mengamati mereka bertiga pada jarak empat meter.
> "Oom boleh tukar uang nggak, receh sepuluh ribuan ?" suaranya mengingatkan
> kepada anak lelaki saya yang seusia mereka. Sedikit terhenyak saya merogoh
> saku celana dan hanya menemukan uang sisa kembalian food court sebesar empat
> ribu rupiah.
> "Nggak punya!", tukas saya. Lalu tak lama si wanita berkata
> "Ambil saja kembaliannya, dik !" sambil berbalik badan dan meneruskan
> langkahnya ke arah ujung sebelah timur.
>
> Anak ini terkesiap, ia menyambar uang empat ribuan saya dan menukarnya
> dengan uang sepuluh ribuan tersebut dan meletakkannya kegenggaman saya yang
> masih tetap berhenti, lalu ia mengejar wanita tersebut untuk memberikan uang
> empat ribu rupiah tadi. Si wanita kaget, setengah berteriak ia bilang
> "Sudah buat kamu saja , nggak apa..apa ambil saja !", namun mereka
> berkeras mengembalikan uang tersebut.
> "Maaf mbak, cuma ada empat ribu, nanti kalau lewat sini lagi saya
> kembalikan !"
>
> Akhirnya uang itu diterima si wanita karena si kecil pergi
> meninggalkannya.
> Tinggallah episode saya dan mereka. Uang sepuluh ribu digenggaman saya
> tentu bukan sepenuhnya milik saya. Mereka menghampiri saya dan berujar
> "Om, bisa tunggu ya, saya ke bawah dulu untuk tukar uang ketukang ojek !"
> "Eeh ... nggak usah ... nggak usah ... biar aja ... nih !"
> saya kasih uang itu ke si kecil, ia menerimanya, tapi terus berlari ke
> bawah jembatan menuruni tangga yang cukup curam menuju ke kumpulan tukang
> ojek. Saya hendak meneruskan langkah tapi dihentikan oleh anak yang satunya,
>
> "Nanti dulu Om, biar ditukar dulu ... sebentar."
> "Nggak apa apa, itu buat kalian" lanjut saya.
> "Jangan ... jangan oom, itu uang oom sama mbak yang tadi juga" anak itu
> bersikeras.
> "Sudah ... saya ikhlas, mbak tadi juga pasti ikhlas !", saya berusaha
> membargain, namun ia menghalangi saya sejenak dan berlari ke ujung jembatan
> berteriak memanggil temannya untuk segera cepat.
>
> Secepat kilat juga ia meraih kantong plastik hitamnya dan berlari kearah
> saya.
> "Ini deh om, kalau kelamaan, maaf ..".
> Ia memberi saya delapan pack tissue.
> "Buat apa ?", saya terbengong
> "Habis teman saya lama sih oom, maaf, tukar pakai tissue aja dulu".
> Walau dikembalikan ia tetap menolak.
>
> Saya tatap wajahnya, perasaan bersalah muncul pada rona mukanya. Saya
> kalah set, ia tetap kukuh menutup rapat tas plastic hitam tissuenya.
> Beberapa saat saya mematung di sana, sampai si kecil telah kembali dengan
> genggaman uang receh sepuluh ribu, dan mengambil tissue dari tangan saya
> serta memberikan uang empat ribu rupiah.
>
> "Terima kasih Om !"..mereka kembali keujung jembatan sambil sayup sayup
> terdengar percakapan,
> "Duit mbak tadi gimana ..?" suara kecil yang lain menyahut,
> "Lu hafal kan orangnya, kali aja ketemu lagi ntar kita kasihin .......".
>
> Percakapan itu sayup sayup menghilang, saya terhenyak dan kembali ke
> kantor dengan seribu perasaan.
>
> Tuhan ......
> Hari ini saya belajar dari dua manusia super, kekuatan kepribadian mereka
> menaklukan Jakarta membuat saya trenyuh, mereka berbalut baju lusuh tapi
> hati dan kemuliaannya sehalus sutra, mereka tahu hak mereka dan hak orang
> lain, mereka berusaha tak meminta minta dengan berdagang tissue.
>
> Dua anak kecil yang bahkan belum baligh, memiliki kemuliaan di umur mereka
> yang begitu belia.
>
> YOU ARE ONLY AS HONORABLE AS WHAT YOU DO
> Engkau hanya semulia yang kau kerjakan.
>
> Sumber: Unknown (Tidak diketahui)
>  
>

Kirim email ke