Beginilah kalau Jomblo, tak ada acara malam mingguan,
biasanya usai Sabat, langsung meluncur ke rumah. Di rumah, tidak ada kegiatan
yg paling enak kecuali berbaring sembari menyetel TV. Pas pulak piala Eropa,
jadilah aku nonton sepak bola, musim kompetisi terbesar saat ini.

 

Tak ubahnya dgn boleh atau tidak minum Coca cola, angka
setan 666, menonton bioskop, menstruasi, organisasi SDA, UU hari minggu, dan
pembahasan apakah anda pengikut Lucifer atau tidak?, demikianlah juga sepak
bola, tak ada habis-habisnya untuk dibahas & diceritai. Selalu saja ada
segi yg muncul untuk dikupas habis. Mulai dari nebak siapa yg menang, gosip
transfer pemain, performa team, kaos team mana yg paling laku, dlsb, dlsb.

 

Tapi ada jugak ironinya sepak bola ini, yg awak tonton
& gemari semuanya made in luar negri. Liga 
Inggrislah, Italia lah, Spanyol lah, pokoknya dari luar sana. Kalok
untuk made in lokal, entah kenapa nggak ada niat awak menontonnya," kata
bang Ucok kpd ku sambil sesekali menyeruput kopinya saat kami nongkrong disalah
satu sudut pelabuhan kota Medan. 

Saat peluit terakhir telah ditiup, biasanya pertandingan
besar selalu diakhiri dgn sesuatu yg agak menjijikkan yaitu saling bertukar
kaos. Seluruh tim telah basah oleh keringat kompetisi. Para
pemain telah pegal linu, luka atau lecet, oleh gerakan & benturan. Lalu
tiba sebuah ritual yg tdk higienis tapi tampaknya penting, si menang & si
kalah mencopot kaus seragam masing-masing, lalu mereka saling menukarkannya.

 

Sebagai seorang yg tdk pandai menganalisa Piala Eropa &
piala2 lain, dan cuma sesekali menonton sepak bola dari layar Televisi, saya
selalu menganggap itulah adegan yg paling menarik dari kesibukan di lapangan
hijau itu. Tentu, saya selalu membayangkan bagaimana kecut dan busuknya bau itu
kaos yg kuyup oleh peluh. "Bagaimana kalau Ronaldinho punya panu di
punggungnya, Beckham punya kadas & kurap di lipatan ketiaknya?. Tapi
tampaknya ini bukanlah peristiwa aroma & kebersihan. Ini adalah suatu
peristiwa simbolik. Peristiwa simbolik yg sulit di ulas dengan kata-kata. Cukup
hati yg bercerita.

Ketika kaos tim kesayangan kita ditanggalkan &
dipertukarkan dgn kaos lawan, apa sebenarnya yg dikatakan? Biasanya, ucapan
maaf, penyemangat dan pujian.

Tapi seandainya kaos tim Pasar Minggu Football Club
ditanggalkan & dipertukarkan dgn kaus lawannya, tim Taman Mini FC, apa pula
yg mereka katakan?

Tak perlu dijawab, sebab, tak mungkinlah tim sepak bola SDA
itu bertukaran kaos. Belum pernah. Pasalnya untuk beli kaus saja mereka susah,
tak punya uang dan harus rogoh kocek masing2 anggota timnya. Itupun lama baru
terkumpul. Atau bahkan mereka harus mencari dana dulu agar dapat membeli kaos
utk tim keseblasan mereka. Anak_anak kita minta dana (uang) dari orang tuanya
utk suatu kewajiban, membeli kaos olah raga di sekolahnya.

Sampai paragraf ini, kita melihat orang mencari dana utk
membeli kaos. 

 

Sebaliknya, ada yg sengaja bikin kaos utk mendulang dana,
dgn menjual kaos. Itu tidak jauh dari kita, organisasi kepanitiaan seperti
Panitia Senior Youth Gathering, PAG Wilayah 8, Wilayah 9, sekelompok mahasiswa
UNAI, PA Taman Harapan yg ingin mengadakan KKR dll. Biarpun kausnya tak cantik2
banget mereka tetap pede menjual kausnya dgn metode 3M (memelas, merayu dan
memaksa). Atas nama persatuan dlm pelayanan, maka kaos pun habis terjual.

Berlawanan dgn itu, Panitia Pathfinder Fair, berniat
menghilangkan tradisi kaos di dlm parhelatannya, dgn cara memotong budget
membikin kaos, demi cukupnya dana.

Kaos atau kaus sering juga kita sebut dgn T Shirt. Apapun
perubahan nama2 itu, apapun fungsi kaos itu, jangan sampai kaos bikin kita
chaos (keos). 

 

Sehelai kaos dpt menjadi luar biasa. Dia memiliki daya
magis dan magnetis, sehingga mampu menyihir siapapun  jadi bertindak di luar 
pemikiran yg lumrah.
Lihat saja, Christian Ronaldo, mesin pencetak gol asal Portugal ini rela jauh2
datang ke Nangro Aceh Darusalam utk menemui seorang anak korban Tsunami bernama
Jamal, oleh karena Ronaldo menegok Jamal lewat siaran Televisi dunia, terapung
di laut lepas, memakai kaos sepak bola Nasional Portugal. Tidak hanya itu,
miliader muda yg tampan itupun tak ragu-ragu merogoh kantongnya, memberi
beasiswa pendidikkan jamal sampai perguruan tinggi. 

 

Sepotong Kaos dapat menjadi sesuatu yg harus dijaga kesuciannya,
tak boleh dipakai sembarangan penggunaanya. Seorang mahasiswa Itenas sampai
dikeluarkan secara tidak hormat dari Tim Basket Kampusnya, karena dia memakai
kaos Timnya dalam film porno Bandung Lautan Asmara. Jangan main-main sama kaos.

 

Ada segudang filosofi, pemikiran, komentar, yg timbul dari
sepotong kaos. Dia bisa melambangkan atau sebagai petunjuk suatu kebersamaan,
kekompakkan, identitas, status sosial, syarat, bisnis, keseriusan &
kesiapan, kekuatan, ketakutan,  bahkan
kesucian. Di sebagian wilayah di Indonesia, kaos Tentara, Kaos Pemuda
Pancasila, kaos FBR bisa menimbulkan ketakutan bagi yg melihatnya dan
barangkali memberi rasa aman kpd yg memakainya.

Kaos memang fenomenal. Barangkali bisa dikatakan, kaos
adalah satu benda yg mengalami penolakkan dimana-mana (bahkan sampai saat ini),
namun sekaligus dipakai oleh hampir siapa saja. Itu memang yg banyak terjadi.
Setelah itu, seolah sudah ada tiang larangan untuk memakai kaos di banyak
tempat. Sebut saja : jangan pakai kaos di acara resepsi, acara melamar atau
dilamar, rapat kantor yg bersifat bisnis & sangat penting, menjamu kolega
bisnis di restoran mewah yg terkenal, menyambut tamu penting, berkunjung ke
rumah atasan, dan (sekali lagi) jangan pakai kaos dalam gereja SDA saat
beribadah. Kalau dipikir kembali, semua larangan di atas cocok-cocok saja,
karena tak ada satu pun acara itu "bersifat kaos" yaitu santai.

Sebagaimana halnya dengan Batu, kaos pun dapat berbicara,
berbicara firman Tuhan (menginjil) . Cukup dengan memakai kaos yg bertuliskan 
firman-firman
Tuhan sembari berjalan kemanapun kau pergi.  Terobosan semacam ini sudah 
dilakukan oleh
Jemaat Taman Harapan, HBR, Jambrut dan Jemaat-jemaat lainnya.


Secara Umum, kaos menjadi semata-mata barang jualan.
Orientasinya pada keuntungan. Diproduksi dgn semangat dagang. Sama dgn
memproduksi barang-barang komoditi lain, seperti sandal jepit, celana dalam
atau kutang. Kaos berada di dalam pemilik modal, para pedagang & selera
pasar. Tampangnya bisa musim-musiman yg tak bisa dikontrol dgn nilai2 estetika
atau kultural. Kaos hanya takluk pada hukum2 ekonomi. Dasar keinginan
membuatnya adalah usaha untuk melipat gandakan modal produksi kaos. Proses
pembuatannya pun terkonsen oleh orientasi bisnis. Berproduksi dgn ongkos
serendah-rendahnya untuk menggaet keuntungan semaksimal mungkin. Barangkali
itulah makanya sebahagian SDA Youth, sebahagian mahasiswa UNAI yg miskin,
sebahagian Kepanitiaan memilih kaos sebagai barang  yg strategis untuk mencari 
dana.

 

Kaos yg bagus adalah kaos yg laku, teori awamnya begitu.
Kaos yg.bermutu adalah kaos yg lebih banyak mendulang uang ke kantong
pemiliknya/produsennya. Tapi di SDA kaos yg laku, tdk dgn sendirinya dianggap
bagus & bermutu. Lakunya kaos tak jarang disebabkan oleh rasa sosial dari
pembelinya, tujuan & maksud kaos dibikin, todongan dari penjual kaos
walaupun kaos tersebut bermutu atau tidak.dimata pembeli. Walaupun kaos yg
sejenis & sejudul sudah banyak dimiliki oleh si pembeli. Sampai di sini
pembeli adalah donatur bagi kepentingan si penjual kaos.

 

Dalam suatu kegiatan, kepanitiaan SDA, kaos dapat dijadikan
penarik & pemicu semangat agar cepat mendaftar. Maka dibikinlah pengumuman
:"Bagi calon peserta yg mendaftar dua minggu sebelum hari H, akan mendapat
kaos. Terang saja, peserta pun berbondong-bondong mendaftar, seolah-olah tak
mau kehilangan kesempatan itu. Barangkali trik ini dibikin oleh karena
seringnya peserta menunda-nunda mandaftar atau barangkali juga calon peserta
terperangkap birokrasi yg rumit di jemaatnya dalam hal mengeluarkan uang.
Umumnya keharusan berkomite dululah penyebabnya. Padahal, nilai rupiah yg akan
dikeluarkan sebesar "uang jajan" sekolah anaknya. Hebatnya lagi,
perpuluhan jemaat tsb terbilang besar. Ini suatu nilai kecil yg tak sebanding
dgn harapan besar yg akan di dapatkan anak-anak, Remaja, Pemuda Senior, apabila
mengikuti kegiatan/parhelatan tsb. Keironisan semacam ini sering ditemukan di
dalam jemaat yg masih memegang paham kultur lama.

Membicarakan kaos tak ada
habis-habisnya. Mengoleksi kaos SDA pun tak ada akhirnya, dimana ini terjadi
karena adanya azas kebersamaan dan kekerabatan yg kental di antara sesama umat
SDA di DKI Konferens khususnya, sehingga kita harus berpartisipasi membelinya. 
Paling sedikit, ada dua atau
tiga kaos yg beredar setiap tahunnya. Jadi, tak heran, bilamana acap kali kita
jumpai orang SDA memakai Kaos yg berhubungan dengan SDA. Barangkali hal yg sama
pun terjadi sama kita, dimana kaos-kaos yg kita miliki, yg ada di dalam lemari,
 semuanya tak lepas hubungan dengan SDA. Tulisannya
pun beraneka ragam seperti Spirit On Fire, God Make me away, Delapan,
Fun-Friend & Fresh, PAPA, dan lai-lain.


Tahun 2009 dipastikan ada satu kaos yg
akan beredar, yg berasal dari Parhelatan Master Guide Reinforcement ke tiga
(MGR-3). Kaos MGR-3 ini akan dimiliki oleh hanya Master Guide yg mengikuti
Parhelatan tersebut. Akan tetapi, sejatinya, nilai Kaos ini tak ada apa-apanya
ketimbang acara MGR-3 tersebut. Mari, seluruh Jemaat se DKI Konfrens,
persiapkanlah hati dan pikiranmu untuk mengutus para Master Guide sebagai wakil
Jemaat kita untuk mengikuti Parhelatan MGR-3 tahun 2009 mendatang. 

Milikilah sosok Master Guide yg
Tangguh di jemaatmu.

Janganlah melihat kaosnya dan jangan
pula menghitung uang Pendaftarannya, sebab semuanya itu tak sebanding dengan
harapan besar yg akan didapatkan para Master Guide dari kegiatan MGR-3
tersebut.

Kaos tak abadi, uang apa lagi, namun
ketangguhan Master Guide dapat bertahan lama sampai kedatangan Nya.

Hidup MGR.......

 

 

Salam ,

Kocu Ratuhapis


 

 

 

 




      

Kirim email ke