Dari milis mediacare:
=======================
"Islam Ragu-ragu" versi Rektor UIN Yogya
Rektor IAIN mengajak mahasiswa `mencurigai' agamanya
sendiri. Metode ini bisa melahirkan sarjana yang
tadinya belajar ushuluddin menjadi "ucul"-"din"
(agamanya lepas). Baca CAP Adian Husaini ke-120
Senin, 31 Oktober 2005
Oleh: Adian Husaini
Di kalangan akademisi muslim Indonesia, nama Prof. Dr.
M. Amin Abdullah tidak asing lagi. Selain menjabat
sebagai rektor Universitas
Islam Negeri Yogyakarta (dulunya IAIN Yogya), dia juga
pernah menjabat posisi penting di PP Muhammadiyah,
sebagai Ketua Majlis Tarjih dan Pemikiran Islam.
Tetapi, dalam Muktamar Muhammadiyah ke-45 di Malang,
tahun 2005, namanya terpental dari jajaran pimpinan
pusat Muhammadiyah.
Dia berlatar belakang pendidikan bidang filsafat
Islam. Lulus PhD dari Department of Philosophy,
Faculty of Art and Sciences, Middle East Technical
University (METU), Ankara, Turki, tahun 1990.
Sebagai akademisi dan penulis, tulisan Amin Abdullah
tersebar di berbagai buku, jurnal, dan media massa.
Bidang yang sering ditulisnya terutama masalah
filsafat dan epistemologi Islam. Tapi, karena sangat
gencar mempromosikan penggunaan hermeneutika dalam
penafsiran Al-Qur'an, dia kadang kala
juga dijuluki "Bapak Hermeneutika Indonesia".
Komitmennya dan kegigihannya dalam mempromosikan
hermeneutika sebagai metode "tafsir baru" pengganti
metode tafsir al-Quran yang klasik,
tampak dalam berbagai tulisannya tentang
hermeneutika.
Di UIN Yogyakarta, penggunaan metodologi hermeneutika
dalam tafsir Al-Qur'an memang sangat digalakkan,
sampai-sampai seorang mahasiswa yang bermaksud
mengritik metode ini mengaku "akan membentur tembok".
Disamping mempromosikan hermeneutika, Amin Abdullah
tentu saja harus
melakukan kritik terhadap metode tafsir Al-Qur'an. Ia
menulis dalam sebuah pengantar untuk buku tentang
hermeneutika, bahwa "tafsir-tafsir klasik Al-Quran
tidak lagi memberi makna dan fungsi yang jelas
dalam kehidupan umat Islam."
Penulis buku itu pun dengan semena-mena mengecam
tafsir-tafsir klasik, tanpa data dan analisis yang
memadai, dimana letak kekurangan
dan ketidakberesan tafsir-tafsir klasik.
Ditulis dalam buku ini: "Apalagi sebagian besar tafsir
dan ilmu penafsiran yang diwarisi umat Islam selama
ini, sadar atau tidak,
telah turut melanggengkan status quo, dan kemerosotan
umat Islam
secara moral, politik, dan budaya." (Lihat, Ilham B.
Saenong,
Hermeneutika Pembebasan, 2002, hal. xxv-xxvi, 10).
Kecurigaan terhadap mufassir dan para ulama Islam juga
tak luput dari
goresan tangan Abdullah. Di dalam tulisannya yang
lain, Amin Abdullah
mengajak pembaca untuk mencurigai ilmu-ilmu keagamaan,
tanpa
membedakan antara ilmu keagamaan dalam Islam, dengan
ilmu keagamaan
yang muncul dalam tradisi peradaban Barat yang
berlatar belakang
sejarah Yahudi dan Kristen. Ia tulis, misalnya:
"Dari studi empiris-historis terhadap fenomena
keagamaan diperoleh
masukan bahwa agama sesungguhnya juga sarat dengan
berbagai "kepentingan" yang menempel dalam ajaran dan
batang tubuh
ilmu-ilmu keagamaan itu sendiri." (Pengantar buku
Metodologi Studi
Agama, 2000, hal. 2)
Bagi mahasiswa baru dalam bidang studi Islam,
pernyataan-pernyataan
profesor dan rektor sebuah kampus berlabel Islam
semacam itu, bisa
jadi melenakan. Sebab, kata-kata yang ditebar cukup
halus. Para ulama
dan ilmuwan keagamaan, apa pun agamanya, adalah
manusia biasa. Karena
itu, mereka pasti punya kepentingan dengan ilmu-ilmu
nyang
disusunnya.
Sepintas, kata-kata Amin Abdullah itu logis. Padahal,
jika didalami,
ada kekeliruan mendasar dalam cara berpikir, karena
metodologi "gebyah uyah" (serampangan) dalam
menyamakan antara
tradisi keilmuan Islam dengan tradisi keilmuan Barat.
Di dalam Islam, ada tradisi penyatuan antara ilmu
dengan amal. Ada
konsep "fasiq", dimana seorang yang meskipun berilmu
tinggi tetapi
berbuat jahat, dapat terkena ketegori fasiq, dan
karena itu,
periwayatan dan beritanya perlu diklarifikasi. Jika
dia fasiq, maka
sebagian ulama melarangnya menjadi saksi di dalam
pernikahan atau
pengadilan.
Di dalam ilmu hadis, ada ilmu Jarah wa Ta'dil, yang
secara terbuka
membeberkan sifat-sifat buruk perawi hadits, seperti
pembohong, dan
sebagainya. Karena itu, di dalam tradisi keilmuan
Islam, kita akan
menjumpai ilmuwan-ilmuwan yang sangat tinggi ilmunya,
sekaligus juga
sangat shalih dalam beragama. Itu bisa kita jumpai
pada Imam-imam
mazhab, Imam Bukhari, Imam al-Ghazali, Ibnu Taymiyah,
dan sebagainya.
Mereka bukan hanya ilmuwan, tetapi juga mujahid dan
ahli ibadah.
Tradisi seperti itu tidak terjadi dalam sistem
keilmuan di Barat yang
sekular. Di dalam tradisi ilmu yang berakar pada
tradisi keilmuan
Yunani, ada pemisahan antara orang pintar dan orang
saleh.
Banyak ilmuwan pintar dan dihormati oleh
masyarakatnya, meskipun
amalnya bejat. Seorang ilmuwan di Barat, tetap
dianggap sebagai
ilmuwan yang dihormati, meskipun tidak jelas agamanya
dan amalan-
amalan agamanya.
Paul Johnson, dalam bukunya "Intellectuals" (1988),
memaparkan
kehidupan dan moralitas sejumlah ilmuwan besar yang
menjadi rujukan
keilmuan di Barat dan dunia
internasional saat ini, seperti Ruosseau, Henrik
Ibsen, Leo Tolstoy,
Ernest Hemingway, Karl Marx, Bertrand Russel,
Jean-Paul Sartre, dan
beberapa lainnya. Ruosseau, misalnya, dicatatnya
sebagai "manusia
gila yang menarik" (an interesting madman).
Pada tahun 1728, saat berumur 15 tahun, dia bertukar
agama menjadi
Katolik, agar dapat menjadi peliharaan Madame
Francoise-Louise de
Warens. Ernest Hemingway, seorang ilmuwan jenius,
tidak memiliki
agama yang jelas. Kedua orang tuanya adalah pengikut
Kristen yang
taat. Istri pertamanya, Hadley, menyatakan, ia hanya
melihat
Hemingway sembahyang selama dua kali, yaitu saat
perkawinan dan
pembaptisan anaknya.
Untuk menyenangkan istri keduanya, Pauline, dia
berganti agama
menjadi Katolik Roma. Kata Johnson, dia bukan saja
tidak percaya
kepada Tuhan, tetapi menganggap `organized religion'
sebagai ancaman
terhadap kebahagiaan manusia. (He not only did not
believe in God,
but regarded organized religion as a menace to human
happiness).
Sebagai ilmuwan, seyogyanya Rektor UIN Yogya itu
memberikan
klarifikasi dan penjelasan yang bertanggung jawab
terhadap
tulisannya, bahwa "Dari studi empiris-historis
terhadap fenomena
keagamaan diperoleh masukan bahwa agama sesungguhnya
juga sarat
dengan berbagai "kepentingan" yang menempel dalam
ajaran dan batang
tubuh ilmu-ilmu keagamaan itu sendiri."
Jika dia katakan, agama termasuk Islam adalah sarat
dengan berbagai
kepentingan yang menempel pada ajaran dan batang tubuh
ilmu-ilmu
keagamaan, maka dia harus menjelaskan, apa kepentingan
Sayyidina
Utsman menghimpun Mushaf Al-Qur'an, apa kepentingan
Imam Bukhari
mengumpulkan dan menyeleksi hadits-hadits Nabi, apa
kepentingan Imam
Syafii menulis Kitab Risalah? Apakah kita harus
mencurigai tindakan
keilmuan sahabat-sahabat Rasululullah dan ulama-ulama
Islam yang
begitu besar jasanya terhadap pengembangan keilmuan
Islam, sehingga
kita harus menyatakan, bahwa mereka semua pasti punya
kepentingan.
Apakah kita tidak bisa berprasangka baik terhadap
mereka, dan
mengakui keikhlasan dan jasa mereka yang luas biasa
dalam menyusun
ilmu-ilmu agama (ulumuddin)?
Metode studi Islam yang maaf, sok bersikap kritis
ini bisa pada
akhirnya berdampak kepada keragu-keraguan pada para
pelajar dan
mahasiswa.
Mereka yang belajar Islam dengan cara-cara seperti
ini, bukan tidak
mungkin akan terjebak pada keraguan dan ketidakyakinan
terhadap
ajaran agamanya sendiri.
Akhirnya, dari metode ini bisa lahir sarjana-sarjana
yang justru
rajin menghujat agamanya, ragu dengan kebenaran
agamanya, dan bahkan
memusuhi agamanya. Orang yang belajar ushuluddin
(dasar-dasar agama),
bukannya semakin yakin dengan agamanya, tetapi bisa
jadi malah "ucul"-
"din"nya (agamanya lepas).
Tidak sedikit para sarjana syariah lulusan perguruan
tinggi Islam,
yang akhirnya justru gigih menentang dan aktif menulis
artikel yang
menghancurkan dan menghina syariat Islam.
Kita sungguh tidak habis mengerti, misalnya, bagaimana
dari sebuah
kampus berlabel Islam, seperti UIN Yogya, bisa muncul
tesis master
yang justru menghujat Al-Qur'an, dan menyatakan, bahwa
"Mushaf itu
tidak sakral dan absolut, melainkan profan dan
fleksibel. Yang sakral
dan absolut hanyalah pesan Tuhan yang terdapat di
dalamnya, yang
masih dalam proses pencarian.
Karena itu, kini kita diperkenankan bermain-main
dengan Mushaf
tersebut, tanpa ada beban sedikitpun, beban sakralitas
yang
melingkupi perasaan dan pikiran kita." (Lihat buku:
"Menggugat
Otentisitas Wahyu Tuhan" (2004), hal. 123)
Penulis tesis itu dan juga para dosen serta rektor
kampus itu seolah-
olah tenang-tenang saja dengan fenomena semacam itu,
dan tidak takut
dengan akibat yang ditimbulkan jika ada orang yang
terpengaruh dengan
ide sesat itu.
Apakah mereka tidak takut dengan dosa jika ada yang
kemudian
meragukan kebenaran Al-Qur'an, karena membaca tesis
yang sudah
dibukukan itu? Jika orang sudah meragukan kebenaran
Al-Qur'an, lalu
bagaimana dia bisa beriman dan meyakini rukun iman
yang disebutkan
dalam Al-Qur'an, seperti Malaikat, Hari Kiamat, dan
sebagainya?
Penanaman keragu-raguan terhadap Islam bagi mahasiswa
Muslim
tampaknya kini banyak dilakukan oleh para
dosen-dosennya sendiri. Dan
itu bukan hal yang aneh, jika kita menyimak tulisan
lain dari Amin
Abdullah, Sang Rektor. Dalam pengantarnya untuk sebuah
buku
berjudul "Hermeneutika Al-Quran" (2005), Amin secara
gamblang
menulis, bahwa:
"Dengan sangat intensif hermeneutika mencoba
membongkar kenyataan
bahwa siapa pun orangnya, kelompok apapun namanya,
kalau masih pada
level manusia, pastilah "terbatas",
"parsial-kontekstual
pemahamannya", serta "bisa saja keliru".
Cara berpikir Amin seperti itu sama saja dengan
membongkar sistem
keilmuan dalam Islam. Sebab, tidak ada lagi pemikiran
yang bersifat
pasti dan qath'iy.
Tidak ada tafsir yang tetap dan pasti kebenarannya.
Semua terbatas
dan bisa saja keliru. Juga, tidak ada lagi konsep
`tawatur', berita
yang dipastikan kebenarannya. Kita bisa mempertanyakan
kepada Rektor
UIN Yogya itu, bagaimana dengan konsep "keadilan para
sahabat" dan
ijma' sahabat? Pengumpulan Mushaf Utsmani adalah
berdasarkan ijma'
sahabat.
Dengan cara berpikir Amin Abdullah, maka bisa saja
pengumpulan Al-
Qur'an itu keliru. Sebab, para sahabat Rasulullah itu
adalah manusia
dan kumpulan manusia. Dan selama mereka pada level
manusia, maka
mereka "bisa saja keliru".
Jadi, ijma' para sahabat Rasululullah saw itu
menurut cara berpikir
Rektor UIN Yogya bisa saja keliru.
Cara berpikir semacam itu bisa kita katakan sebagai
bentuk `Islam
ragu-ragu'. Islam yang serba tidak pasti. Tidak ada
kebenaran yang
pasti. Itulah tugas hermeneutika. Malah, lanjut Sang
Rektor lagi,
tugas hermeneutika itu berseberangan dengan keinginan
egois hampir
semua orang untuk "Selalu Benar".
Tidak mengherankan, katanya, jika kemudian kehadiran
hermeneutika
sebagai salah satu disiplin kajian yang mencermati
proses
epistemologis-ontologis pemahaman manusia banyak
mendapat tentangan.
Dan tentangan paling keras terhadap hermeneutika
muncul dari ranah agama-agama yang harus diakui
merupakan ladang paling subur bagi
lahirnya "Klaim Kebenaran".
Itulah kata-kata Sang Rektor UIN Yogya, yang sangat
membanggakan hermeneutika sebagai metodologi pemahaman
Al-Qur'an, yang menurutnya mampu membongkar hal-hal
yang selama ini dianggap sebagai satu bentuk
kepastian.
Dengan cara berpikir Rektor seperti itu, maka kita
tidak heran, jika dari kampus berlabel Islam itu lahir
sarjana-sarjana versi `Islam ragu-ragu', alias golbin
(golongan bingung) yang tidak pernah
meyakini kebenaran Islam.
Tentu kita patut kasihani manusia-manusia seperti ini.
Meskipun, kita
tidak perlu risau dengan ulah mereka.
Biarlah yang bingung bangga dengan kebingungannya
sendiri. Kita ingatkan mereka, mudah-mudahan mereka
sadar. Kita yang sudah menemukan kebenaran, kewajiban
kita adalah meyakini kebenaran itu, dan berusaha
menegakkannya. Dan Allah SWT sudah mengingatkan kita:
"Kebenaran itu dari Tuhanmu, maka janganlah engkau
menjadi golongan orang-orang yang ragu." (QS Al
Baqarah:147). Wallahu a'lam. (Jakarta,
28 Oktober 2005/hidayatullah.com).
__________________________________
Yahoo! Mail - PC Magazine Editors' Choice 2005
http://mail.yahoo.com
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page
http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/