Gumam Kembara 97. KEMBALI KE YOGYA kukenal benar yogya di mana remajaku menyusur lorong-lorongnya turun di tugu dari perjalanan puluhan tahun ke yogya aku tunjukkan rindu ke yogya aku tunjukkan kenangan cinta serta sekian kisah jatuhbangun o, tukang becak masih criwis seperti dahulu -- yang beda hari ini mereka punya jaringan -- ada jalur gaza. ada jalur ini dan itu criwis kurasakan bagai pancingan dan aku patut waspada yogya bukan yogyaku dahulu mall dan lesehan sepeda motor mengganti sepeda sektarisme berkeliaran demikian juga pelacuran paralel pembangunan cintaku saja yang tak berganti terlalu tradisional yogya tetap di hati manis, manisku aku datang mencarimu mendapatkan kesia-siaan seperti dahulu aku tersenyum bercanda mencandai suka dan duka siang dan malam turun di tugu yogya masih kukenal kendati tak terbilang yang hilang dengan jari kuhitung hari melepaskan rindu kutelusur malioboro hingga pagi bagai dahulu kehilangan makin menjadi manis, manisku tak juga kudapatkan masa lalu remuk di tragedi demi tragedi kerna itu di sini aku dibuat asing duduk di lesehan ironi "keretanya ndelik, pah" ujar anakku masih bocah ketika ia menoleh ke lain arah kujawab dalam hati "bukan! sejarah yang menghancurkannya, sayang dan aku ayahmu hanya bisa mencoba gagah dikutuk sebagai dayak menolak menyerah!" aku khawatir, nak besar kelak kau keras kepala dan ngotot dengan cintamu padahal zaman ini lebih menyanjung khianat dan perbudakan sedang yogya lambang pertarungan di sini indonesia bertahan terserah, aku hanya bertugas membesarkan kau akhir bulan aku tinggalkan tugu bagai anak terusir yogya, yogyaku cintaku tetap padamu kendati kereta melarikan aku jauh ke ufuk kembara seperti hari itu seperti hari-hari tragedi aku berkereta di rel berdarah Paris, Desember 2006 ----------------------------- JJ. Kusni
Send instant messages to your online friends http://asia.messenger.yahoo.com [Non-text portions of this message have been removed]

