Sebuah statement yang menarik: 

"Soeharto mengakui bahwa keberhasilannya membangun perekonomian 
Indonesia tidak bisa juga dilepaskan dari faktor keberuntungan. 
Antara lain adanya bonanza minyak pada tahun 1974 yang memungkinkan 
Indonesia memiliki kesempatan untuk membangun infrastruktur yang 
dibutuhkan untuk mempercepat laju pembangunan..."


"keberuntungan" ini perlu kita pertajam dalam analisa kita:


1) Beliau muncul ditengah konflik tajam antara blok barat dan blok 
komunis, dimana di Pacific menyala api peperangan yang dahsyat: 
Perang Vietnam. RRT dan Korea Utara merupakan ancaman strategis yang 
serious bagi blok barat, terutama dibawah USA, dan Inggris sebagai 
pengayom Australia, Malaysia dan Sngapura kala itu (ingat konfontasi 
Malaysia yang disulut bung Karno.

Indonesia dengan orde barunya pak harto adalah pucuk harapan Amerika 
untuk mengalahkan blok komunis, terutama setelah jatuhnya Vietnam. 
Dengan segala otot ekonomi, Indonesia dibangunkan dari kepingsanan 
ekonominya yang parah dimasa bung Karno. Era pembangunan ekonomi 
muncul, dengan 1000% backing barat dengan semua institusi keuangan 
internasional. Dana mengalir bak air bah, investasi bergulir, 
pembangunan lancar, lapangan kerja bermunculan..

2) Sebagai anak mas Barat kala itu tidaklah sulit, karena belum ada 
pergulatan antara Islam dan barat. Sebaliknya, kaum Muslim didalam 
negeri 1000% berdiri dibelakang AS, dan membabat komunis. Musuh AS, 
para "antek" komunis dibantai meminjam tangan manusia Indonesia, 
kebanyakan agamawan.

Kini, kedua hal itu SULIT diulangi.

1) Indonesia bukan lagi anak mas bagi investasi, karena musuh musuh 
kemarin, kini menjadi sobat investasi: RRT, Vietnam, Rusia, dan 
semua negara ex komunis Eropa. Kini mau investasi di Pacific banyak 
pilihan (yang jauh lebih baik dari Indonesia).

2) kembali, menjadi anak mas AS sulit, kalau tak mau digebuki umat 
Islam didalam dan di LN. Jadi, siapapun presiden RI pasca Perang 
Dingin dan pasca 11 September, sulit meniru posisi pak Harto dengan 
orde barunya, yang menjadi momongan manis AS.

Salam

Danardono



--- In [email protected], "Yap Hong Gie" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> http://kompas.com/
> 
> Berita Utama
>  Rabu, 11 April 2007
> Otobiografi
> Soeharto, Patriot atau "Crook"
> Suryopratomo
> 
> Tidak bisa disangkal salah satu keberhasilan yang dicapai Presiden 
Soeharto
> selama 32 tahun menjadi orang nomor satu di Indonesia adalah 
mengubah
> Indonesia dari negara miskin menjadi negara yang beranjak ke 
negara industri
> baru.
> 
> Namun, sebagai orang yang dilahirkan dan dibesarkan di lingkungan 
pertanian,
> Soeharto paham betul kehidupan rakyatnya. Walaupun Indonesia 
hendak beranjak
> menuju negara industri, sebagian besar rakyat Indonesia tetap 
menggantungkan
> hidupnya dari sektor pertanian.
> 
> Ketika perjalanan hidup membawa dirinya menjadi seorang tentara 
yang sarat
> dengan penugasan yang menantang dan akhirnya membawa dirinya 
menggapai
> jenjang tertinggi, yakni meraih jenderal bintang empat bahkan 
kemudian
> bintang lima, Soeharto tetap tidak lupa akan kehidupan yang 
sebenarnya dari
> rakyatnya. Demikian pula ketika kemudian arus besar politik dalam 
negeri
> pada tahun 1965 menarik dirinya ke arena politik dan pengabdian 
sipil, hal
> yang pertama dilakukan adalah melakukan perbaikan kehidupan rakyat.
> Kebutuhan pangan yang tidak memadai sehingga membuat tingkat 
inflasi
> melambung sampai 650 persen membuat ia tidak bisa lain kecuali 
yang pertama
> dilakukan adalah memperbaiki sistem produksi pertanian.
> 
> Bersama para ahli ekonomi dari Universitas Indonesia yang dipimpin 
Prof
> Widjojo Nitisastro dan Prof Ali Wardhana, Soeharto merancang 
sebuah konsep
> pembangunan ekonomi jangka panjang yang terprogram. Konsep 
pembangunan
> yang di zaman Presiden Soekarno berada di bawah bendera "Demokrasi 
> Terpimpin"
> diubah menjadi "Garis Besar Haluan Negara" yang diterjemahkan 
dalam rencana
> pembangunan lima tahunan (repelita).
> 
> Setelah dua tahun mengemban tugas sebagai Penjabat Presiden, 
Soeharto
> menjalankan Repelita I-nya pada tahun 1969. Arah yang ingin dicapai
> sangatlah sederhana, yakni bagaimana bangsa Indonesia bisa memenuhi
> kebutuhan pangan dan juga sandang sendiri.
> 
> Pelibatan dari semua komponen bangsa dilakukan agar program 
pembangunan bisa
> berjalan dan berhasil. Mahasiswa Institut Pertanian Bogor, 
misalnya, 
> dilibatkan
> untuk turun ke lapangan, mendampingi para petani agar bisa 
menjalankan 
> program bimbingan massal.
> 
> Konsistensi dalam menjalankan program pembangunan itulah yang 
akhirnya
> membawa Indonesia menggapai swasembada pangan pada tahun 1984. 
Prestasi
> besar itu membawa Presiden Soeharto meraih penghargaan dari Badan 
Pangan
> dan Pertanian Dunia (FAO).
> 
> Barulah setelah berhasil memenuhi kebutuhan perut, arah 
pembangunan bisa
> dilakukan ke bidang lain. Setelah itu repelita diarahkan ke bidang
> perumahan, pendidikan, kesejahteraan sosial, dan kemudian 
pembangunan
> industri.
> 
> 
> Tidak tertulis
> 
> Pencapaian pembangunan ekonomi yang dilakukan Indonesia selama 32 
tahun
> kepemimpinan Presiden Soeharto sangatlah luar biasa. Tidak hanya 
pujian yang
> diberikan, tetapi konsep pembangunan banyak yang ditiru oleh 
negara-negara
> lain.
> 
> Soeharto mengakui bahwa keberhasilannya membangun perekonomian 
Indonesia
> tidak bisa juga dilepaskan dari faktor keberuntungan. Antara lain 
adanya
> bonanza minyak pada tahun 1974 yang memungkinkan Indonesia memiliki
> kesempatan untuk membangun infrastruktur yang dibutuhkan untuk 
mempercepat
> laju pembangunan.
> 
> Sayang, landasan pembangunan yang bagus itu tidak tercatat dengan 
baik.
> Konsentrasi yang berlebihan kepada pelaksanaan pembangunan membuat
> semuanya seperti terlupa untuk membuat catatan tertulis yang bisa 
dijadikan
> sejarah bagaimana Orde Baru membangun perekonomian bangsa ini.
> 
> Itulah yang disayangkan oleh Soeharto. Kerja keras yang dilakukan 
tidak
> cukup bisa dijadikan bahan pembelajaran bagi generasi yang akan 
datang.
> Padahal catatan seperti itu penting bagi generasi mendatang untuk 
mengetahui
> kekuatan sekaligus kelemahan dari pembangunan ekonomi di zaman 
Orde Baru.
> 
> Di samping hal-hal yang positif, seperti bimas, puskesmas, 
posyandu, dan
> pengendalian tingkat kelahiran, ada hal-hal yang membuat 
perjalanan bangsa
> sempat oleng, seperti kasus Pertamina dan korupsi di Bulog. 
Bahkan, yang
> terakhir ketika perekonomian Indonesia terempas oleh krisis 
keuangan yang
> melanda Asia Tenggara tahun 1997 yang ditengarai disebabkan juga 
oleh
> ditinggalkannya Soeharto oleh para konglomerat yang ia besarkan.
> 
> 
> Mengenang ke belakang
> 
> Buku Soeharto, The Life and Legacy of Indonesia's Second President 
yang
> ditulis Retnowati Abdulgani-Knapp tidak bisa dilepaskan dari 
konteks
> keinginan mantan Presiden RI itu untuk menuliskan perjalanan 
sejarah yang
> telah ia lalui. Buku itu menjadi sebuah otobiografi yang hidup 
karena tidak
> hanya menceritakan kejayaannya, tetapi seluruh kehidupan Soeharto 
mulai
> dari lahir sampai masa tuanya sekarang ini yang tak lepas dari 
kecaman dan
> berbagai tuduhan.
> 
> Retnowati sangat beruntung karena ia putri dari tokoh kemerdekaan 
Roeslan
> Abdulgani sehingga punya akses untuk mendengar langsung semua 
cerita itu
> dari sang mantan Presiden. Sayang, kesempatan itu diperoleh di 
saat Soeharto
> sudah berusia 86 tahun dan berulang kali keluar-masuk rumah sakit. 
Meski
> tidak dimungkiri ingatannya masih sangat kuat, Soeharto tak cukup 
lancar
> menyampaikan pikirannya. Akibatnya, Retnowati terpaksa untuk 
menerjemahkan
> beberapa pikiran Soeharto itu agar bisa ditangkap lebih mudah oleh 
pembaca.
> 
> Meski demikian, buku tentang Soeharto-yang akan diluncurkan 
tanggal 12 April
> di Singapura dan tanggal 25 April di Jakarta-tetap menarik untuk 
diikuti,
> apalagi Retnowati secara baik mampu mengangkat isu-isu sensitif 
yang menjadi
> pertanyaan banyak pihak. Seperti soal siapa orangtua Soeharto yang
> sebenarnya, peran Ibu Tien dalam kehidupan Soeharto, para putra-
putri, soal
> yayasan yang sekarang sedang diutak-utik kembali, hubungan dengan 
para
> konglomerat, serta teman-temannya yang setia dan yang mengkhianati.
> 
> Salah satu episode yang diangkat secara baik dan menarik untuk 
menjadi
> pengetahuan kita adalah saat-saat menjelang Soeharto harus lengser 
dari
> kursi kepresidenan. Bagaimana ia berupaya untuk bisa mengendalikan 
krisis
> ekonomi, termasuk kemungkinan mem-peg rupiah terhadap dollar AS 
seperti
> diusulkan ahli moneter AS, Steve Hanke, dengan Currency Board 
System-nya.
> Untuk mencegah agar Soeharto tak melakukan itu, Presiden AS Bill 
Clinton
> mengirim mantan Wakil Presiden Walter Mondale untuk menemuinya di 
Jakarta,
> Maret 1998.
> 
> Dalam perjalanan pulang dan mampir di Singapura, Mondale bertemu 
PM Goh
> Chok Tong dan Menteri Senior Lee Kuan Yew. Mondale sempat bertanya
> apakah Soeharto seorang pahlawan atau penjahat (crook)?
> 
> Jawaban yang disampaikan Lee Kuan Yew sangat menarik. "Sebagai 
Presiden
> Indonesia, Soeharto merasa dirinya seperti seorang sultan besar 
dari
> kerajaan besar. Ia merasa wajar apabila putra-putrinya mendapatkan 
privilese
> seperti halnya para pangeran dan putri pangeran di Kerajaan Solo.
> Dia melihat dirinya sebagai seorang patriot. Saya juga tidak 
> mengklasifikasikan
> dia sebagai seorang penjahat (crook)."
>


Kirim email ke