Indonesia Kembali dalam "Radar Screen"

Senin, 4 Agustus 2008 | 01:38 WIB 
Oleh MUHAMMAD CHATIB BASRI

Ada suatu masa ketika kita begitu galau akan lemahnya sisi permintaan,
daya beli, dan daya dorong perekonomian. Data empiris menunjukkan,
identifikasi itu tak sepenuhnya benar.

Melihat pertumbuhan konsumsi selama 10 tahun terakhir, sulit bagi kita
membuktikan argumen tentang lemahnya daya beli. Kalau begitu, di mana
masalah kita? Di sini pentingnya membaca laporan Economic Assessment of
Indonesia 2008 yang diluncurkan Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan
Pembangunan (OECD) minggu lalu. Hal yang positif, Indonesia masuk
kelompok ”negara-negara dengan keterlibatan yang ditingkatkan” atau
enhanced engagement countries, bersama Brasil, India, China, dan Afrika
Selatan. Indonesia kembali dalam radar screen.

Di sisi lain, laporan ini juga mengandung pesan: problem kita yang utama
adalah sisi penawaran. Problem yang utama bukanlah daya dorong, tetapi
daya dukung perekonomian.

Isu klasik yang disalahkan: iklim investasi, terutama di sektor industri
manufaktur dan pertambangan. Kalau benar lemahnya investasi disebabkan
oleh buruknya iklim investasi, mengapa hal yang sama terjadi di
Malaysia, Thailand, dan Jepang? Bukankah ketiga negara itu iklim
investasinya lebih baik?

Lebih menarik: ternyata rasio investasi terhadap produk domestik bruto
(PDB) di Malaysia (21 persen) lebih rendah dibanding Indonesia (24
persen). Padahal, iklim investasi Malaysia lebih baik dibandingkan
dengan Indonesia, China, atau India. Karena itu, kita tak bisa melihat
iklim investasi sebagai penjelas utama. Iklim investasi hanya sebuah
syarat perlu, bukan syarat cukup.

Selama ini, kita begitu percaya pada mantra bahwa penurunan investasi
yang utama adalah investasi asing. Penghitungan dekomposisi Bank Dunia
(2007) justru bicara sebaliknya: penurunan investasi di Indonesia,
Korea, dan Malaysia ternyata didominasi oleh penurunan investasi swasta
dan domestik.

Di Indonesia, dari 84 persen penurunan investasi swasta, 59 persen dari
domestik. Dari 76 persen kontribusi penurunan investasi domestik, 17
persen dari publik, dan sisanya 59 persen dari swasta. Hal ini menarik
karena soal kita lebih pada investasi domestik: baik publik maupun
swasta.

Penurunan investasi swasta domestik selain disebabkan oleh iklim
investasi dapat juga karena terganggunya aliran kredit (credit channel)
dari perbankan ke sektor barang, yang terjadi karena problem informasi
yang tak simetris antara bank dan sektor produksi sehingga menimbulkan
masalah agency cost. Yang bisa dilakukan adalah memperbaiki informasi,
misalnya melalui biro kredit.

Investasi domestik jelas tak terlepas dari perlunya investasi publik di
dalam infrastruktur. Krisis ekonomi yang terjadi 10 tahun lalu praktis
tak memungkinkan terjadi ekspansi perbaikan infrastruktur. Permintaan
yang meningkat tak bisa dipenuhi karena listrik terbatas dan biaya
logistik mahal. Akibatnya, daya dukung perekonomian menjadi terbatas.

Pertumbuhan ekonomi memang selalu di atas 6 persen sejak triwulan
IV-2006, tetapi setiap kali akselerasi meningkat, kita cenderung
menghadapi problem inflasi.

Studi Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi
Universitas Indonesia (LPEM-FEUI) menunjukkan elastisitas penyediaan
listrik terhadap PDB 0,5-0,67 persen. Artinya kenaikan 1 persen
penyediaan listrik akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi 0,5-0,67
persen. Artinya, untuk pertumbuhan ekonomi 7 persen dibutuhkan input
berupa penjualan listrik 11-14 persen per tahun. Bandingkan dengan
tingkat penggunaan listrik sekarang.

Di luar listrik, kita menghadapi buruknya infrastruktur pelabuhan dan
jalanan. Yang tak kalah serius, hambatan sisi penawaran ini juga bisa
membawa dampak pada kesenjangan.

Statistik industri berbicara: sebagian besar pengguna generator adalah
perusahaan besar, sedangkan persentase penggunaan generator di
perusahaan kecil dan menengah relatif kecil. Perusahaan kecil dan
menengah lebih bergantung pada pasokan PLN. Hal ini logis karena
penyediaan generator atau pembelian listrik dari perusahaan lain
membutuhkan biaya yang lebih tinggi. Artinya, hambatan daya dukung tak
hanya mengganggu pertumbuhan, tetapi juga membebani usaha kecil dan
menengah.

Hambatan sisi penawaran juga tecermin dari pasar tenaga kerja yang kaku
sehingga daya serap menjadi terbatas. Kekakuan ini yang menjelaskan
mengapa elastisitas permintaan tenaga kerja Indonesia menurun.

Jika elastisitas peningkatan tenaga kerja 200.000-300.000 untuk 1 persen
pertumbuhan ekonomi, untuk menyerap tenaga kerja baru dibutuhkan
pertumbuhan ekonomi di atas 7 persen.

Jelas, ini tak mungkin segera tercapai. Yang bisa dilakukan adalah
meningkatkan elastisitas penyerapan tenaga kerja kembali menjadi
400.000, bahkan lebih. Caranya? Kurangi kekakuan pasar tenaga kerja.

Agak ironis sebenarnya karena sampai paruh pertama 2008 masih terlihat
kuatnya permintaan: penjualan sepeda motor, mobil, ritel, dan
pertumbuhan PPN. Impor barang modal juga meningkat, pertanda perusahaan
melakukan ekspansi. Namun, jika daya dukung terbatas karena listrik
serta jalan dan pelabuhan tak memadai, pertumbuhan ekonomi akan
terhambat.

OECD tampaknya mempunyai kegalauan yang sama tentang soal itu. Kegalauan
soal lemahnya sisi penawaran.

Muhammad Chatib Basri Pengamat Ekonomi


===
Immigrate to Canada? Find out if you qualify, please contact:
PT Visi IndoCanada (Jakarta) (021) 830-6585 / 830-6715 email:
mailto:[EMAIL PROTECTED] or Surabaya Office: (031) 501-3570 /
0852 3008-3510, mailto:[EMAIL PROTECTED]


------------------------------------

Kunjungi situs http://www.info-saham.com untuk informasi seputar saham.

DILARANG KERAS MEMOSTING OPINI PRIBADI TENTANG POLITIK DI MILIS INI.
Silahkan lakukan itu di milis [EMAIL PROTECTED]

[EMAIL PROTECTED] untuk berhenti dari milis saham
[EMAIL PROTECTED] untuk bergabung ke milis saham
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/saham/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/saham/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke