Hati Yang Berserah

By: agussyafii 

Malam temaram menyelimuti hari yang berserah kepada Allah Subhanahu Wa ta'ala. 
Seorang Ibu bersama Putranya dan juga suaminya yang dicintainya. Dulu Sang Ibu 
awalnya datang sendiri ke Rumah Amalia. Beliau banyak bercerita dan memohon 
doanya dari anak-anak Amalia agar keluarga bisa terselamatkan dari kehancuran. 
Beliau berjanji bila keluarga bisa berkumpul kembali akan mengajak anak dan 
suaminya berkunjung ke Rumah Amalia. 

Alhamdulillah malam itu kehadirannya menyiratkan kebahagiaan diwajahnya, 
anaknya terlihat mungil, suaminya tersenyum mengembangkan pertanda adanya 
kebahagiaan dilubuk hatinya yang paling dalam. 'Subhanallah, Allah masih sayang 
kepada kami sekeluarga..Hanya kepada Allahlah kami berserah diri dan memohon 
perlindungan.' Ucap Sang Ibu dengan untaian air mata yang bening, berkali-kali 
beliau mengucapkan puji syukur kehadirat Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Dulu Sang Ibu bercerita, waktu itu diawal tahun saya mengandung putra pertama. 
Kami bergembira, kami kabarkan kepada orang tua, kakak dan mertua. Mereka semua 
senang dan mereka ingin merayakan tujuh bulan kehamilan saya di kampung. 
Bertepatan pada tahun ajaran baru bapak mengantarkan adikku untuk melanjutkan 
kuliahnya. Mengingat susahnya cari kontrakan maka saya meminta adik perempuan 
saya untuk tinggal bersama kami sekeluarga. Jadilah rumah kami semakin ramai, 
ada saya, suami, adikku dan pembantu kami.

Ditengah suami sedang sibuk dengan tugas kantornya, tidak tega rasanya saya 
mengganggunya. Meskipun begitu terkadang saya ingin mendampingi suami namun 
saya sering menahan diri,' tuturnya.

Rumah tangga kami bahagia, penuh tawa dan keceriaan, banyak tetangga yang 
selalu mengatakan, 'jeng, aku ngiri loh ama keluarga kamu..bahagia banget...' 
Saya selalu menjawabnya dengan tersenyum. Suami mencukupi kebutuhan kami bahkan 
berlebih dan sisanya saya tabung untuk kebutuhan putra kami kelak. Ipah, 
pembantu kami sangat setia pada keluarga kami karena saya memperlakukannya 
seperti keluarga sendiri. Sementara adik saya juga nampak gembira, jika ada 
tugas yang tidak dimengerti, dia selalu bertanya pada kakak iparnya. Saya 
senang melihat kedekatan suami dan adik saya perempuan.  Mereka terlihat akrab, 
terkadang saya merasa cemburu atas kedekatan mereka. perasaan seperti itu 
buru-buru saya menyingkirkannya. Tidaklah pantas cemburu dengan adik kandung 
sendiri, malu rasanya..!

Putra kami pertama lahir, anaknya cakep seperti ayahnya. Namun disaat suami, 
bapak dan ibu membezuk adik saya tidak ikut. Katanya, 'adikmu sedang sakit.'  
Terlihat diwajah kedua orang tua saya seperti menyembunyikan sesuatu. Setelah 
seminggu kelahiran putra kami, kami mengadakan syukuran sekaligus aqeqahan 
dengan mengundang para tetangga sekitar rumah kami tinggal. Secara tidak 
sengaja saya melintas kamar adik perempuan saya yang tertutup, saya mendengar 
isak tangis, isak tangis ibu, isak tangis bapak disela-sela isak tangis adik 
perempuan saya. Terdengar suara adik perempuan saya yang mau muntah.

'Mengapa kau lakukan itu?' tanya bapak. 'Sudah pak..nanti terdengar orang,' 
jawab ibu. Tak kuasa saya mendengar percakapan itu. Dunia terasa kiamat. Saya 
kesal, menangis, kecewa, marah. Saya ini apa? saya perempuan yang malang. 
bodohnya saya, dan tidak bergunanya saya. Saya berlari ke kamar, tiba-tiba 
putra saya menangis, air mata saya mengalir. Sehari semalam saya tidak keluar 
kamar. 

'Saya teringat status di FB Mas Agus...'Sayangilah mereka yang pernah menyakiti 
hatimu' Tutur Sang Ibu. Malam itu beliau mengendong putranya. Wajahnya terlihat 
bersedih, kemudian saya menyarankan untuk mengambil air wudhu dan memperbanyak 
istighfar. Tak lama kemudian, duka dihatinya terlihat berkurang. Beliau memohon 
doanya dari anak-anak Amalia agar keluarga bisa terselamatkan dari kehancuran 
dan dirinya mampu memaafkan orang-orang telah menyakiti hatinya. Beberapa malam 
kemudian Sang Ibu memenuhi janjinya bahwa dirinya telah memaafkan suami dan 
adiknya serta melupakan semua yang telah menyakitkan hatinya, hal terbukti 
kehadirannya bersama putra dan suaminya ke Rumah Amalia dengan senyum yang 
merekah. Subhanallah..Maha Suci Allah...

---
Yaitu mereka yang bisa menahan emosi, memaafkan manusia dan Allah senang kepada 
mereka yang berbuat ihsan (QS. Ali-Imran:134).


Wassalam,
agussyafii
-
Tulisan ini dibuat dalam rangka kampanye program Kegiatan 'Munajat Amalia 
(MULIA)' Hari Ahad, Tanggal 7 Maret 2010 Di Rumah Amalia. Kirimkan dukungan dan 
partisipasi anda di http://www.facebook.com/agussyafii atau 
http://agussyafii.blogspot.com, http://www.twitter.com/agussyafii, atau sms di 
087 8777 12 431




      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke