Re: [balita-anda] RE: Masyarakat Diimbau Waspadai Peralatan Makan dari Melanin

2006-01-31 Terurut Topik Noni Mira Timotius
Beberapa hari setelah menurunkan artikel tentang racun yang terkandung di 
melamin, Onyx (merek salah satu produsen peralatan makan melamin) menuliskan 
surat pembaca yang menyatakan keberatan atas berita yang diturunkan oleh 
Kompas. Dalam surat itu, Onyx menyatakan bahwa produknya bebas dari 
kandungan racun yang disebutkan Kompas. Dan Kompas sendiri memberikan 
jawaban bahwa produk melamin yang mengandung racun tersebut merupakan 
peralatan makan TANPA MEREK yang banyak dijual di pasar2 tradisional maupun 
grosir.
Dan sejak saat itu, produk Onyx juga mencantumkan stiker *Bebas Bahan 
Beracun* di setiap produknya.



noni
*bukan bantuin promosi atau pemulihan nama baik lhooo*


- Original Message - 
From: "Mama Kavindra" <[EMAIL PROTECTED]>

To: 
Sent: Saturday, January 28, 2006 11:26 AM
Subject: [balita-anda] RE: Masyarakat Diimbau Waspadai Peralatan Makan dari 
Melanin



Pak, coba saya Bantu yah.

Ttg  melamin yah ini saya kutipkan dr temen milis
sebelah yah..)
Piring or peralatan makanan dr melamin yg merupakan
suatu
polimer, hasil persenyawaan kimia (polimerisasi)
antara monomer formaldehid dan fenol.spt halnya
Formalin yg merupakan larutan formaldehyde dalam air
(kadarnya sekitar 37%).  Formaldehyde ini bersifat
reaktif.  Ia mudah sekali mengadisi ikatan rangkap
yang terdapat dalam berbagai jenis senyawa penyusun
bahan makanan; juga dalam tubuh kita.

Piring or peralatan makanan dr melamin yg merupakan
suatu
polimer, hasil persenyawaan kimia (polimerisasi)
antara monomer formaldehid dan fenol.. Simpelnya nih
gini piring melamin nih trutama klo kena makanan or
minuman panas zat2 kimianya yg notabene mengandung
racun tu ikut meleleh juga. dikit sih lelehannya
bahkan ga terlihat..but klo keseringan kan jd
terakumulasi tuh.. Ini yg bahaya bagi tubuh.

Artikel lengkapnya aku punya nih..
KOMPAS Minggu, 10 Juli 2005

Melamin, Piring Cantik yang Menyimpan Racun


Di banyak toko yang menjual perabot rumah tangga,
peralatan makan dan
minum yang disebut melamin relatif mudah ditemukan.
Kalau sekitar
tahun 1970-1980-an melamin masih terbatas warna maupun
coraknya, maka
kini desain melamin bisa bersaing dengan barang pecah
belah lainnya.

Produk pecah belah melamin begitu banyaknya sehingga
barang ini tak
hanya bisa dibeli di toko tertentu, tetapi juga di
pasar tradisional
sampai di pedagang kaki lima.

Cikal bakal melamin dimulai tahun 1907 ketika ilmuwan
kimia asal
Belgia, Leo Hendrik Baekeland, berhasil menemukan
plastik sintesis
pertama yang disebut bakelite. Penemuan itu merupakan
salah satu
peristiwa bersejarah keberhasilan teknologi kimia awal
abad ke-20.

Pada awalnya bakelite banyak digunakan sebagai bahan
dasar pembuatan
telepon generasi pertama. Namun, pada perkembangannya
kemudian, hasil
penemuan Baekeland dikembangkan dan dimanfaatkan pula
dalam industri
peralatan rumah tangga. Salah satunya adalah sebagai
bahan dasar
peralatan makan, seperti sendok, garpu, piring, gelas,
cangkir,
mangkuk, sendok sup, dan tempayan, seperti yang
dihasilkan dari
melamin.

Peralatan makan yang terbuat dari melamin di satu sisi
menawarkan
banyak kelebihan. Selain desain warna yang beragam dan
menarik,
fungsinya juga lebih unggul dibanding peralatan makan
lain yang
terbuat dari keramik, logam, atau kaca. Melamin lebih
lebih ringan,
kuat, dan tak mudah pecah. Harga peralatan melamin pun
relatif lebih
murah dibanding yang terbuat dari keramik misalnya.

Potensi formalin

Dengan segala kelebihan melamin, tak heran kalau
sebagian orang tidak
menyadari bahwa melamin menyimpan potensi membahayakan
bagi kesehatan
manusia. Menurut pengajar pada Fakultas Matematika dan
Ilmu
Pengetahuan Alam Institut Teknologi Bandung, Bambang
Ariwahjoedi PhD,
MSc, melamin berpotensi menghasilkan monomer beracun
yang disebut
formaldehid (formalin).

Selain berfungsi sebagai bahan pengawet, formaldehid
juga digunakan
untuk bahan baku melamin. Menurut Ariwahjoedi, melamin
merupakan suatu
polimer, yaitu hasil persenyawaan kimia (polimerisasi)
antara monomer
formaldehid dan fenol. Apabila kedua monomer itu
bergabung, maka sifat
toxic dari formaldehid akan hilang karena telah
terlebur menjadi satu
senyawa, yakni melamin.

Berdasarkan kerja sama penelitian antara Universitas
Indonesia dan
Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), diketahui
kandungan
formaldehid dalam perkakas melamin mencapai 4,76-9,22
miligram per
liter.

"Permasalahannya, dalam polimerisasi yang kurang
sempurna dapat
terjadi residu, yaitu sisa monomer formaldehid atau
fenol yang tidak
bersenyawa sehingga terjebak di dalam materi melamin.
Sisa monomer
formaldehid inilah yang berbahaya bagi kesehatan
apabila masuk dalam
tubuh manusia," ujar Ariwahjoedi.

Dalam sistem produksi melamin yang tidak terkontrol,
bahan formaldehid
yang digunakan cenderung tidak sebanding dengan jumlah
fenol. Maka,
kerap terjadi residu.

Ini bukan berarti proses produksi yang sudah
menerapkan well
controlled dan tidak menghasilkan residu terbebas dari
potensi
mengeluarkan racun. Menurut Ariwahjoedi, f

RE: [balita-anda] RE: Masyarakat Diimbau Waspadai Peralatan Makan dari Melanin

2006-01-29 Terurut Topik Anton Hartanto
Terima kasih Mama Kevin
Bakal banyak peralatan di rumah yang harus di pensiun dini nich.

-Original Message-
From: Mama Kavindra [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Saturday, January 28, 2006 11:26
To: balita-anda@balita-anda.com
Subject: [balita-anda] RE: Masyarakat Diimbau Waspadai Peralatan Makan dari
Melanin

Pak, coba saya Bantu yah...

Ttg  melamin yah ini saya kutipkan dr temen milis
sebelah yah..)
Piring or peralatan makanan dr melamin yg merupakan
suatu
polimer, hasil persenyawaan kimia (polimerisasi)
antara monomer formaldehid dan fenol...spt halnya
Formalin yg merupakan larutan formaldehyde dalam air
(kadarnya sekitar 37%).  Formaldehyde ini bersifat
reaktif.  Ia mudah sekali mengadisi ikatan rangkap
yang terdapat dalam berbagai jenis senyawa penyusun
bahan makanan; juga dalam tubuh kita.  

Piring or peralatan makanan dr melamin yg merupakan
suatu
polimer, hasil persenyawaan kimia (polimerisasi)
antara monomer formaldehid dan fenol Simpelnya nih
gini piring melamin nih trutama klo kena makanan or
minuman panas zat2 kimianya yg notabene mengandung
racun tu ikut meleleh juga... dikit sih lelehannya
bahkan ga terlihat..but klo keseringan kan jd
terakumulasi tuh Ini yg bahaya bagi tubuh...

Artikel lengkapnya aku punya nih..
KOMPAS Minggu, 10 Juli 2005

Melamin, Piring Cantik yang Menyimpan Racun


Di banyak toko yang menjual perabot rumah tangga,
peralatan makan dan
minum yang disebut melamin relatif mudah ditemukan.
Kalau sekitar
tahun 1970-1980-an melamin masih terbatas warna maupun
coraknya, maka
kini desain melamin bisa bersaing dengan barang pecah
belah lainnya.

Produk pecah belah melamin begitu banyaknya sehingga
barang ini tak
hanya bisa dibeli di toko tertentu, tetapi juga di
pasar tradisional
sampai di pedagang kaki lima.

Cikal bakal melamin dimulai tahun 1907 ketika ilmuwan
kimia asal
Belgia, Leo Hendrik Baekeland, berhasil menemukan
plastik sintesis
pertama yang disebut bakelite. Penemuan itu merupakan
salah satu
peristiwa bersejarah keberhasilan teknologi kimia awal
abad ke-20.

Pada awalnya bakelite banyak digunakan sebagai bahan
dasar pembuatan
telepon generasi pertama. Namun, pada perkembangannya
kemudian, hasil
penemuan Baekeland dikembangkan dan dimanfaatkan pula
dalam industri
peralatan rumah tangga. Salah satunya adalah sebagai
bahan dasar
peralatan makan, seperti sendok, garpu, piring, gelas,
cangkir,
mangkuk, sendok sup, dan tempayan, seperti yang
dihasilkan dari
melamin.

Peralatan makan yang terbuat dari melamin di satu sisi
menawarkan
banyak kelebihan. Selain desain warna yang beragam dan
menarik,
fungsinya juga lebih unggul dibanding peralatan makan
lain yang
terbuat dari keramik, logam, atau kaca. Melamin lebih
lebih ringan,
kuat, dan tak mudah pecah. Harga peralatan melamin pun
relatif lebih
murah dibanding yang terbuat dari keramik misalnya.

Potensi formalin

Dengan segala kelebihan melamin, tak heran kalau
sebagian orang tidak
menyadari bahwa melamin menyimpan potensi membahayakan
bagi kesehatan
manusia. Menurut pengajar pada Fakultas Matematika dan
Ilmu
Pengetahuan Alam Institut Teknologi Bandung, Bambang
Ariwahjoedi PhD,
MSc, melamin berpotensi menghasilkan monomer beracun
yang disebut
formaldehid (formalin).

Selain berfungsi sebagai bahan pengawet, formaldehid
juga digunakan
untuk bahan baku melamin. Menurut Ariwahjoedi, melamin
merupakan suatu
polimer, yaitu hasil persenyawaan kimia (polimerisasi)
antara monomer
formaldehid dan fenol. Apabila kedua monomer itu
bergabung, maka sifat
toxic dari formaldehid akan hilang karena telah
terlebur menjadi satu
senyawa, yakni melamin.

Berdasarkan kerja sama penelitian antara Universitas
Indonesia dan
Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), diketahui
kandungan
formaldehid dalam perkakas melamin mencapai 4,76-9,22
miligram per
liter.

"Permasalahannya, dalam polimerisasi yang kurang
sempurna dapat
terjadi residu, yaitu sisa monomer formaldehid atau
fenol yang tidak
bersenyawa sehingga terjebak di dalam materi melamin.
Sisa monomer
formaldehid inilah yang berbahaya bagi kesehatan
apabila masuk dalam
tubuh manusia," ujar Ariwahjoedi.

Dalam sistem produksi melamin yang tidak terkontrol,
bahan formaldehid
yang digunakan cenderung tidak sebanding dengan jumlah
fenol. Maka,
kerap terjadi residu.

Ini bukan berarti proses produksi yang sudah
menerapkan well
controlled dan tidak menghasilkan residu terbebas dari
potensi
mengeluarkan racun. Menurut Ariwahjoedi, formaldehid
di dalam senyawa
melamin dapat muncul kembali karena adanya peristiwa
yang dinamakan 
depolimerisasi (degradasi). Dalam peristiwa itu,
partikel-partikel
formaldehid kembali muncul sebagai monomer, dan
otomatis menghasilkan
racun.

Ariwahjoedi menjelaskan, senyawa melamin sangat rentan
terhadap panas
dan sinar ultraviolet. Keduanya sangat berpotensi
memicu terjadinya
depolimerisasi. Selain itu, gesekan-gesekan dan abrasi
terhadap
permukaan melamin juga berpotensi mengakibatkan
lepasnya partikel
formaldehid.

Ariwahjoedi menambahkan, fo

RE: [balita-anda] RE: Masyarakat Diimbau Waspadai Peralatan Makan dari Melanin

2006-01-29 Terurut Topik Hardiandika.P
Dear All
Mama kavin...jadi kalo mo nyari melamin yang amanyang kayak gimana
yach...?atau memang gak ada melamin yang baik untuk digunakan..? Terima
kasih banyak sebelum dan sesudahnya

Regards,

Papanya Muhammad Hilmi Pasha Pranotosetyo
http://www.babiesonline.com/babies/h/hilmi/


-Original Message-
From: Mama Kavindra [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Friday, January 27, 2006 8:26 PM
To: balita-anda@balita-anda.com
Subject: [balita-anda] RE: Masyarakat Diimbau Waspadai Peralatan Makan
dari Melanin

Pak, coba saya Bantu yah...

Ttg  melamin yah ini saya kutipkan dr temen milis
sebelah yah..)
Piring or peralatan makanan dr melamin yg merupakan
suatu
polimer, hasil persenyawaan kimia (polimerisasi)
antara monomer formaldehid dan fenol...spt halnya
Formalin yg merupakan larutan formaldehyde dalam air
(kadarnya sekitar 37%).  Formaldehyde ini bersifat
reaktif.  Ia mudah sekali mengadisi ikatan rangkap
yang terdapat dalam berbagai jenis senyawa penyusun
bahan makanan; juga dalam tubuh kita.  

Piring or peralatan makanan dr melamin yg merupakan
suatu
polimer, hasil persenyawaan kimia (polimerisasi)
antara monomer formaldehid dan fenol Simpelnya nih
gini piring melamin nih trutama klo kena makanan or
minuman panas zat2 kimianya yg notabene mengandung
racun tu ikut meleleh juga... dikit sih lelehannya
bahkan ga terlihat..but klo keseringan kan jd
terakumulasi tuh Ini yg bahaya bagi tubuh...

Artikel lengkapnya aku punya nih..
KOMPAS Minggu, 10 Juli 2005

Melamin, Piring Cantik yang Menyimpan Racun


Di banyak toko yang menjual perabot rumah tangga,
peralatan makan dan
minum yang disebut melamin relatif mudah ditemukan.
Kalau sekitar
tahun 1970-1980-an melamin masih terbatas warna maupun
coraknya, maka
kini desain melamin bisa bersaing dengan barang pecah
belah lainnya.

Produk pecah belah melamin begitu banyaknya sehingga
barang ini tak
hanya bisa dibeli di toko tertentu, tetapi juga di
pasar tradisional
sampai di pedagang kaki lima.

Cikal bakal melamin dimulai tahun 1907 ketika ilmuwan
kimia asal
Belgia, Leo Hendrik Baekeland, berhasil menemukan
plastik sintesis
pertama yang disebut bakelite. Penemuan itu merupakan
salah satu
peristiwa bersejarah keberhasilan teknologi kimia awal
abad ke-20.

Pada awalnya bakelite banyak digunakan sebagai bahan
dasar pembuatan
telepon generasi pertama. Namun, pada perkembangannya
kemudian, hasil
penemuan Baekeland dikembangkan dan dimanfaatkan pula
dalam industri
peralatan rumah tangga. Salah satunya adalah sebagai
bahan dasar
peralatan makan, seperti sendok, garpu, piring, gelas,
cangkir,
mangkuk, sendok sup, dan tempayan, seperti yang
dihasilkan dari
melamin.

Peralatan makan yang terbuat dari melamin di satu sisi
menawarkan
banyak kelebihan. Selain desain warna yang beragam dan
menarik,
fungsinya juga lebih unggul dibanding peralatan makan
lain yang
terbuat dari keramik, logam, atau kaca. Melamin lebih
lebih ringan,
kuat, dan tak mudah pecah. Harga peralatan melamin pun
relatif lebih
murah dibanding yang terbuat dari keramik misalnya.

Potensi formalin

Dengan segala kelebihan melamin, tak heran kalau
sebagian orang tidak
menyadari bahwa melamin menyimpan potensi membahayakan
bagi kesehatan
manusia. Menurut pengajar pada Fakultas Matematika dan
Ilmu
Pengetahuan Alam Institut Teknologi Bandung, Bambang
Ariwahjoedi PhD,
MSc, melamin berpotensi menghasilkan monomer beracun
yang disebut
formaldehid (formalin).

Selain berfungsi sebagai bahan pengawet, formaldehid
juga digunakan
untuk bahan baku melamin. Menurut Ariwahjoedi, melamin
merupakan suatu
polimer, yaitu hasil persenyawaan kimia (polimerisasi)
antara monomer
formaldehid dan fenol. Apabila kedua monomer itu
bergabung, maka sifat
toxic dari formaldehid akan hilang karena telah
terlebur menjadi satu
senyawa, yakni melamin.

Berdasarkan kerja sama penelitian antara Universitas
Indonesia dan
Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), diketahui
kandungan
formaldehid dalam perkakas melamin mencapai 4,76-9,22
miligram per
liter.

"Permasalahannya, dalam polimerisasi yang kurang
sempurna dapat
terjadi residu, yaitu sisa monomer formaldehid atau
fenol yang tidak
bersenyawa sehingga terjebak di dalam materi melamin.
Sisa monomer
formaldehid inilah yang berbahaya bagi kesehatan
apabila masuk dalam
tubuh manusia," ujar Ariwahjoedi.

Dalam sistem produksi melamin yang tidak terkontrol,
bahan formaldehid
yang digunakan cenderung tidak sebanding dengan jumlah
fenol. Maka,
kerap terjadi residu.

Ini bukan berarti proses produksi yang sudah
menerapkan well
controlled dan tidak menghasilkan residu terbebas dari
potensi
mengeluarkan racun. Menurut Ariwahjoedi, formaldehid
di dalam senyawa
melamin dapat muncul kembali karena adanya peristiwa
yang dinamakan 
depolimerisasi (degradasi). Dalam peristiwa itu,
partikel-partikel
formaldehid kembali muncul sebagai monomer, dan
otomatis menghasilkan
racun.

Ariwahjoedi menjelaskan, senyawa melamin sangat rentan
terhadap panas
dan sinar ultraviolet. Keduanya sangat berpotensi