Re: [Keuangan] Washington Post: Making the economy more just

2010-07-27 Terurut Topik papabonbon
form A dan form B toh.  kalau ekspor ke negara negara amerika, jepang dan
eropa suka diminta sih.  mereka untung, biaya beli dari negara outsourcing
seperti indonesia selain lebih murah daripada produksi di negara sendiri,
juga masih dipotong pajak pula (rate pajaknya rendah daripada beli ke sesama
negara berkembang atau bikin di negara sendiri).  seringkali malah triple
outsourcing, barang bikin di vietnam, kirim ke spore, bayar ke prancis (real
buyer yg suka akumulasi order secara global), sementara jualnya masih di
asia tenggara. :Dbahkan jual di indonesia sendiri masih profit
itungannya :p

requirement kayak form B gak susah sebenarnya, dan kalau niat justru
menumbuh kembangkan ekonomi lokal.

misale kudu ada local content di atas 40 persen.  yg repot kalau sebuah tv
aja, ada 4000 an komponen yang terlibat, komponen terpenting dan susah
bikinnya masih dari luar negeri secara penghitungan jumlah item yah gak beda
dengan screw atau grease.  sama sama diitung satu biji.  alih teknologi
tidak terjadi ketika requirement nya dibiarkan tidak detail. :D  sama kayak
ketika dulu kita ngebahas blok mesinnya astra.

tidak ada pekerja anak.  tapi buat linkage education dengan industri, justru
banyak smk yang cari industri buat tempat magang anak anaknya selama
setahun.  kalau anak PSG (pendidikan sistem ganda) di lini produksi
jumlahnya 40 % sendiri dibandingkan total worker di industri yang mekanis
dan tidak terlalu butuh skill tinggi gimana ?  legal tuh, soalnya gak
dianggap pegawai dan dianggap education.  malah bisa bisa dianggap aktivitas
CSR banget sama perusahaan :)

tidak mencemari lingkungan.  kalo mnc biasanya udah built in internal
control.  yg suka nekad malah perusahaan lokal, vendor kecil, dan yang
berhubungan dengan kimia atau tambang.  hehehe :D

salam,
papabonbon.wordpress.com


On Sun, Jul 25, 2010 at 5:35 PM, Bali da Dave  wrote:

>
>
> Artikelnya bagus...
>
> Saya terjemahkan beberapa paragraf saja, khususnya tentang legislasi B dan
> selebihnya sih pengantar historis dari saya:
>
> Negara Amerika sedang melakukan beberapa inovasi yang masih bersifat
> eksperimental agar perekonomian seluruh negara bisa bersifat lebih adil dan
> demokratis, yakni mencapai kesejahteraan yang berkesinambungan (sustainable
> prosperity) yang dinikmati oleh rakyat banyak bersama (shared
> prosperity).
>
> Eksperimen ekonomi pertama: meloloskan undang-undang dimana dasar hukum
> perusahaan adalah bukan semata-mata mencari profit SAJA, tapi dengan
> memperhatikan tujuan publik/komunitas.
>
> Seperti pernah dibahas sebelumnya, perusahaan yang ingin memperbesar
> profitnya saja sering melakukan tingkah laku "eksternalitas biaya". Artinya
> sebisa mungkin sumber daya sekitar (yang umumnya dianggap
> bebas sebab adalah milik publik/komunitas) digunakan sebesar-besarnya
> (sebab bebas dan tanpa harga/biaya). Ini bisa berakibat "merugikan tujuan
> publik (common public purpose)", misalnya polusi berlebihan, mencemarkan
> sumber air, atau bahkan menyedot habis sumber air.
>
> Contoh common public purpose nya adalah kebersihan dan kelestarian
> lingkungan hidup, upaya mencegah peningkatan kriminal di masyarakat, bakti
> sosial, dll. Di Indonesia banyak perusahaan dengan sendirinya masih bersifat
> 'membaur dengan masyarakat', tapi di Amerika yang kultur 'sue and
> countersue'/saling menjegal ke pengadilan sudah kelewat batas, perusahaan
> yang mengorganisir bakti sosial atau pendirian posko banjir atau mendirikan
> sekolah dan rumah sakit gratis malah bisa masuk bui gara-gara ada pemegang
> saham yang gak rela. Akibatnya perusahaan sudah berubah menjadi mahluk
> berdarah dingin, yang sering kali juga berakibat pada proses pemilihan
> manajer/dirikturnya. Banyak orang
> komplein manajer amerika katanya ganas gak peduli lingkungan/masyarakat dan
> cenderung
> bersifat psikopat (neken bawahan).
>
> JAdilah kemudian diusahakan membuat legislasi B, supaya perusahaan ini
> sadar mereka masih merupakan bagian dari masyarakat.
>
> Pertanyaan diskusinya: Apakah perlu dibuatkan proporsi (dari keuntungan)
> yang boleh dikeluarkan untuk menunjang tujuan masyarakat ini? Apakah
> pengeluaran ini bagian dari BIAYA pokok/operasi, ataukah merupakan
> persentase dari KEUNTUNGAN? (cara pikir akuntan -pos biaya vs pos penarikan
> keuntungan). Artinya kalau tidak untung tidak usah memikirkan kesejahteraan
> rakyat sekitarnya?
>
> Menurut saya sih kegiatan sosial ini seharusnya adalah bagian dari biaya
> yang akan mengurangi keuntungan, dan nantinya akan mengurangi pajak juga.
> Jadi biaya 'sosial' ini sejajar dengan biaya bahan mentah, biaya tenaga
> kerja, dan biaya pemasaran. Jadi alih-alih merugikan masyarakat dengan
> tingkah laku eksternalitasnya, perusahaan dapat membantu masyarakat dan
> memperkokoh komunitas. Lalu kemudian
> masalahnya berlanjut pula, tindakan sosial apa yang termasuk memperkokoh
> komunitas? Apakah yang hanya menyalurkan derma ke satu religius saja,
> ataukah yang menyokong 'ke-olahragaan tertentu saja, atau ke orang

Re: [Keuangan] Washington Post: Making the economy more just

2010-07-27 Terurut Topik papabonbon
revisi kang mas, jadi stakeholder.  hehehe 

salam,
papabonbon.wordpress.com


On Tue, Jul 27, 2010 at 6:21 PM, Wong Cilik  wrote:

>
>
> Customer TIDAK sama dengan publik
> Penduduk papua bukan customer Freeport
>
>
> On Sun, Jul 25, 2010 at 5:30 AM, lubeck 
> >
> wrote:
>
> > Perusahaan baru dapat profit kalau ia TERLEBIH DAHULU MELAYANI/MENSERVICE
> > customernya dengan baik dibandingkan kompetitornya.Entah itu melalui
> > produknya yg lebih murah,berkualitas atau sesuai dng keinginan customer.
> > Semakin perusahaan itu dapat men-create produk yg disukai dan dinikmati
> > secara massal oleh konsumen, semakin ia diganjar kekayaan/profit.
> >
> > Jadi saya tdk sependapat jika perusahaan yg mengejar profit dianggap
> > mengabaikan kesejahteraan publik/komunitas.
> >
> > Kalau tdk percaya, jadilah entrepreneur.. :-)
> >
> > Peace,
> > Lubeck
> > -Original Message-
> > From: Bali da Dave >
> > Sender: 
> > [email protected]
> > Date: Sun, 25 Jul 2010 03:35:16
> > To: 
> > 
> >
> > Reply-To: 
> > [email protected]
> > Subject: Re: [Keuangan] Washington Post: Making the economy more just
> >
> > Artikelnya bagus...
> >
> > Saya terjemahkan beberapa paragraf saja, khususnya tentang legislasi B
> dan
> > selebihnya sih pengantar historis dari saya:
> >
> > Negara Amerika sedang melakukan beberapa inovasi yang masih bersifat
> > eksperimental agar perekonomian seluruh negara bisa bersifat lebih adil
> dan
> > demokratis, yakni mencapai kesejahteraan yang berkesinambungan
> (sustainable
> > prosperity) yang dinikmati oleh rakyat banyak bersama (shared
> > prosperity).
> >
> > Eksperimen ekonomi pertama: meloloskan undang-undang dimana dasar hukum
> > perusahaan adalah bukan semata-mata mencari profit SAJA, tapi dengan
> > memperhatikan tujuan publik/komunitas.
> >
> > Seperti pernah dibahas sebelumnya, perusahaan yang ingin memperbesar
> > profitnya saja sering melakukan tingkah laku "eksternalitas biaya".
> Artinya
> > sebisa mungkin sumber daya sekitar (yang umumnya dianggap
> > bebas sebab adalah milik publik/komunitas) digunakan sebesar-besarnya
> > (sebab bebas dan tanpa harga/biaya). Ini bisa berakibat "merugikan tujuan
> > publik (common public purpose)", misalnya polusi berlebihan, mencemarkan
> > sumber air, atau bahkan menyedot habis sumber air.
> >
> > Contoh common public purpose nya adalah kebersihan dan kelestarian
> > lingkungan hidup, upaya mencegah peningkatan kriminal di masyarakat,
> bakti
> > sosial, dll. Di Indonesia banyak perusahaan dengan sendirinya masih
> bersifat
> > 'membaur dengan masyarakat', tapi di Amerika yang kultur 'sue and
> > countersue'/saling menjegal ke pengadilan sudah kelewat batas, perusahaan
> > yang mengorganisir bakti sosial atau pendirian posko banjir atau
> mendirikan
> > sekolah dan rumah sakit gratis malah bisa masuk bui gara-gara ada
> pemegang
> > saham yang gak rela. Akibatnya perusahaan sudah berubah menjadi mahluk
> > berdarah dingin, yang sering kali juga berakibat pada proses pemilihan
> > manajer/dirikturnya. Banyak orang
> > komplein manajer amerika katanya ganas gak peduli lingkungan/masyarakat
> > dan cenderung
> > bersifat psikopat (neken bawahan).
> >
> > JAdilah kemudian diusahakan membuat legislasi B, supaya perusahaan ini
> > sadar mereka masih merupakan bagian dari masyarakat.
> >
> > Pertanyaan diskusinya: Apakah perlu dibuatkan proporsi (dari keuntungan)
> > yang boleh dikeluarkan untuk menunjang tujuan masyarakat ini? Apakah
> > pengeluaran ini bagian dari BIAYA pokok/operasi, ataukah merupakan
> > persentase dari KEUNTUNGAN? (cara pikir akuntan -pos biaya vs pos
> penarikan
> > keuntungan). Artinya kalau tidak untung tidak usah memikirkan
> kesejahteraan
> > rakyat sekitarnya?
> >
> > Menurut saya sih kegiatan sosial ini seharusnya adalah bagian dari biaya
> > yang akan mengurangi keuntungan, dan nantinya akan mengurangi pajak juga.
> > Jadi biaya 'sosial' ini sejajar dengan biaya bahan mentah, biaya tenaga
> > kerja, dan biaya pemasaran. Jadi alih-alih merugikan masyarakat dengan
> > tingkah laku eksternalitasnya, perusahaan dapat membantu masyarakat dan
> > memperkokoh komunitas. Lalu kemudian
> > masalahnya berlanjut pula, tindakan sosial apa yang termasuk memperkokoh
> > komunitas? Apakah yang hanya menyalurkan derma ke satu religius saja,
> > ataukah yang menyokong 'ke-olahragaan tertentu

Re: [Keuangan] Washington Post: Making the economy more just

2010-07-27 Terurut Topik Wong Cilik
Customer TIDAK sama dengan publik
Penduduk papua bukan customer Freeport

On Sun, Jul 25, 2010 at 5:30 AM, lubeck  wrote:

> Perusahaan baru dapat profit kalau ia TERLEBIH DAHULU MELAYANI/MENSERVICE
> customernya dengan baik dibandingkan kompetitornya.Entah itu melalui
> produknya yg lebih murah,berkualitas atau sesuai dng keinginan customer.
> Semakin perusahaan itu dapat men-create produk yg disukai dan dinikmati
> secara massal oleh konsumen, semakin ia diganjar kekayaan/profit.
>
> Jadi saya tdk sependapat jika perusahaan yg mengejar profit  dianggap
> mengabaikan kesejahteraan publik/komunitas.
>
> Kalau tdk percaya, jadilah entrepreneur.. :-)
>
> Peace,
> Lubeck
> -Original Message-
> From: Bali da Dave 
> Sender: [email protected]
> Date: Sun, 25 Jul 2010 03:35:16
> To: 
> Reply-To: [email protected]
> Subject: Re: [Keuangan] Washington Post: Making the economy more just
>
> Artikelnya bagus...
>
> Saya terjemahkan beberapa paragraf saja, khususnya tentang legislasi B dan
> selebihnya sih pengantar historis dari saya:
>
> Negara Amerika sedang melakukan beberapa inovasi yang masih bersifat
> eksperimental agar perekonomian seluruh negara bisa bersifat lebih adil dan
> demokratis, yakni mencapai kesejahteraan yang berkesinambungan (sustainable
> prosperity) yang dinikmati oleh rakyat banyak bersama (shared
>  prosperity).
>
> Eksperimen ekonomi pertama: meloloskan undang-undang dimana dasar hukum
> perusahaan adalah bukan semata-mata mencari profit SAJA, tapi dengan
> memperhatikan tujuan publik/komunitas.
>
> Seperti pernah dibahas sebelumnya, perusahaan yang ingin memperbesar
> profitnya saja sering melakukan tingkah laku "eksternalitas biaya". Artinya
> sebisa mungkin sumber daya sekitar (yang umumnya dianggap
>  bebas sebab adalah milik publik/komunitas) digunakan sebesar-besarnya
> (sebab bebas dan tanpa harga/biaya). Ini bisa berakibat "merugikan tujuan
> publik (common public purpose)", misalnya polusi berlebihan, mencemarkan
> sumber air, atau bahkan menyedot habis sumber air.
>
> Contoh common public purpose nya adalah kebersihan dan kelestarian
> lingkungan hidup, upaya mencegah peningkatan kriminal di masyarakat, bakti
> sosial, dll. Di Indonesia banyak perusahaan dengan sendirinya masih bersifat
> 'membaur dengan masyarakat', tapi di Amerika yang kultur 'sue and
> countersue'/saling menjegal ke pengadilan sudah kelewat batas, perusahaan
> yang mengorganisir bakti sosial atau pendirian posko banjir atau mendirikan
> sekolah dan rumah sakit gratis malah bisa masuk bui gara-gara ada pemegang
> saham yang gak rela. Akibatnya perusahaan sudah berubah menjadi mahluk
> berdarah dingin, yang sering kali juga berakibat pada proses pemilihan
> manajer/dirikturnya. Banyak orang
>  komplein manajer amerika katanya ganas gak peduli lingkungan/masyarakat
> dan cenderung
>  bersifat psikopat (neken bawahan).
>
> JAdilah kemudian diusahakan membuat legislasi B, supaya perusahaan ini
> sadar mereka masih merupakan bagian dari masyarakat.
>
> Pertanyaan diskusinya: Apakah perlu dibuatkan proporsi (dari keuntungan)
> yang boleh dikeluarkan untuk menunjang tujuan masyarakat ini? Apakah
> pengeluaran ini bagian dari BIAYA pokok/operasi, ataukah merupakan
> persentase dari KEUNTUNGAN? (cara pikir akuntan -pos biaya vs pos penarikan
> keuntungan). Artinya kalau tidak untung tidak usah memikirkan kesejahteraan
> rakyat sekitarnya?
>
> Menurut saya sih kegiatan sosial ini seharusnya adalah bagian dari biaya
> yang akan mengurangi keuntungan, dan nantinya akan mengurangi pajak juga.
> Jadi biaya 'sosial' ini sejajar dengan biaya bahan mentah, biaya tenaga
> kerja, dan biaya pemasaran. Jadi alih-alih merugikan masyarakat dengan
> tingkah laku eksternalitasnya, perusahaan dapat membantu masyarakat dan
> memperkokoh komunitas. Lalu kemudian
>  masalahnya berlanjut pula, tindakan sosial apa yang termasuk memperkokoh
> komunitas? Apakah yang hanya menyalurkan derma ke satu religius saja,
> ataukah yang menyokong 'ke-olahragaan tertentu saja, atau ke orang-orang
> tertentu saja? Jadi ini bisa menjadi sumber masalah baru sebab bisa menjadi
> lubang untuk menggalakkan korupsi. Kalau insentif buat koperasi saja bisa
> dijadikan ajang korupsi, apalagi kegiatan-kegiatan semacam bakti sosial yang
> menyebar ke mana-mana. Mana tau di daerah ini memang benar ada klub sepak
> bola "the jangkrik
>
> Tapi tentu saja ada orang yang mendebat bahwa semua kewajiban itu sudah
> dibebankan dengan membayar beban pajak. Dan pajak ini cuma dibebankan dari
> keuntungan.
>
>
> Bagaimana menentukan besaran biaya 'sosial' ini yang masuk akal? Apakah 100
> 

Re: [Keuangan] Washington Post: Making the economy more just

2010-07-27 Terurut Topik lubeck
Perusahaan baru dapat profit kalau ia TERLEBIH DAHULU MELAYANI/MENSERVICE 
customernya dengan baik dibandingkan kompetitornya.Entah itu melalui produknya 
yg lebih murah,berkualitas atau sesuai dng keinginan customer. Semakin 
perusahaan itu dapat men-create produk yg disukai dan dinikmati secara massal 
oleh konsumen, semakin ia diganjar kekayaan/profit.

Jadi saya tdk sependapat jika perusahaan yg mengejar profit  dianggap 
mengabaikan kesejahteraan publik/komunitas.

Kalau tdk percaya, jadilah entrepreneur.. :-)

Peace,
Lubeck
-Original Message-
From: Bali da Dave 
Sender: [email protected]
Date: Sun, 25 Jul 2010 03:35:16 
To: 
Reply-To: [email protected]
Subject: Re: [Keuangan] Washington Post: Making the economy more just

Artikelnya bagus...

Saya terjemahkan beberapa paragraf saja, khususnya tentang legislasi B dan 
selebihnya sih pengantar historis dari saya:

Negara Amerika sedang melakukan beberapa inovasi yang masih bersifat 
eksperimental agar perekonomian seluruh negara bisa bersifat lebih adil dan 
demokratis, yakni mencapai kesejahteraan yang berkesinambungan (sustainable 
prosperity) yang dinikmati oleh rakyat banyak bersama (shared
 prosperity).

Eksperimen ekonomi pertama: meloloskan undang-undang dimana dasar hukum 
perusahaan adalah bukan semata-mata mencari profit SAJA, tapi dengan 
memperhatikan tujuan publik/komunitas. 

Seperti pernah dibahas sebelumnya, perusahaan yang ingin memperbesar profitnya 
saja sering melakukan tingkah laku "eksternalitas biaya". Artinya sebisa 
mungkin sumber daya sekitar (yang umumnya dianggap
 bebas sebab adalah milik publik/komunitas) digunakan sebesar-besarnya (sebab 
bebas dan tanpa harga/biaya). Ini bisa berakibat "merugikan tujuan publik 
(common public purpose)", misalnya polusi berlebihan, mencemarkan sumber air, 
atau bahkan menyedot habis sumber air.

Contoh common public purpose nya adalah kebersihan dan kelestarian lingkungan 
hidup, upaya mencegah peningkatan kriminal di masyarakat, bakti sosial, dll. Di 
Indonesia banyak perusahaan dengan sendirinya masih bersifat 'membaur dengan 
masyarakat', tapi di Amerika yang kultur 'sue and countersue'/saling menjegal 
ke pengadilan sudah kelewat batas, perusahaan yang mengorganisir bakti sosial 
atau pendirian posko banjir atau mendirikan sekolah dan rumah sakit gratis 
malah bisa masuk bui gara-gara ada pemegang saham yang gak rela. Akibatnya 
perusahaan sudah berubah menjadi mahluk berdarah dingin, yang sering kali juga 
berakibat pada proses pemilihan manajer/dirikturnya. Banyak orang
 komplein manajer amerika katanya ganas gak peduli lingkungan/masyarakat dan 
cenderung
 bersifat psikopat (neken bawahan). 

JAdilah kemudian diusahakan membuat legislasi B, supaya perusahaan ini sadar 
mereka masih merupakan bagian dari masyarakat.

Pertanyaan diskusinya: Apakah perlu dibuatkan proporsi (dari keuntungan) yang 
boleh dikeluarkan untuk menunjang tujuan masyarakat ini? Apakah pengeluaran ini 
bagian dari BIAYA pokok/operasi, ataukah merupakan persentase dari KEUNTUNGAN? 
(cara pikir akuntan -pos biaya vs pos penarikan keuntungan). Artinya kalau 
tidak untung tidak usah memikirkan kesejahteraan rakyat sekitarnya?

Menurut saya sih kegiatan sosial ini seharusnya adalah bagian dari biaya yang 
akan mengurangi keuntungan, dan nantinya akan mengurangi pajak juga. Jadi biaya 
'sosial' ini sejajar dengan biaya bahan mentah, biaya tenaga kerja, dan biaya 
pemasaran. Jadi alih-alih merugikan masyarakat dengan tingkah laku 
eksternalitasnya, perusahaan dapat membantu masyarakat dan memperkokoh 
komunitas. Lalu kemudian
 masalahnya berlanjut pula, tindakan sosial apa yang termasuk memperkokoh 
komunitas? Apakah yang hanya menyalurkan derma ke satu religius saja, ataukah 
yang menyokong 'ke-olahragaan tertentu saja, atau ke orang-orang tertentu saja? 
Jadi ini bisa menjadi sumber masalah baru sebab bisa menjadi lubang untuk 
menggalakkan korupsi. Kalau insentif buat koperasi saja bisa dijadikan ajang 
korupsi, apalagi kegiatan-kegiatan semacam bakti sosial yang menyebar ke 
mana-mana. Mana tau di daerah ini memang benar ada klub sepak bola "the jangkrik

Tapi tentu saja ada orang yang mendebat bahwa semua kewajiban itu sudah 
dibebankan dengan membayar beban pajak. Dan pajak ini cuma dibebankan dari 
keuntungan.
 

Bagaimana menentukan besaran biaya 'sosial' ini yang masuk akal? Apakah 100 
ribu setahun masuk akal, ataukah 5% keuntungan masuk akal? Biaya ini tidak ada 
pasarnya dan tentu sulit untuk dicari harga wajarnya menurut hukum ekuilibrium 
supply dan demand. Seperti ada cuplikan dari penulis Oscar Wilde, "nowadays men 
knows the price of everything and the value of nothing" - sekarang ini segala 
macam barang ada harganya, tapi tidak ada yang tau nilai sebenarnya. Dimana 
menurut warren buffet, price is what you pay...  and value is what you get.

Bisa jadi perusahaan cuma

Re: [Keuangan] Washington Post: Making the economy more just

2010-07-25 Terurut Topik Bali da Dave
Artikelnya bagus...

Saya terjemahkan beberapa paragraf saja, khususnya tentang legislasi B dan 
selebihnya sih pengantar historis dari saya:

Negara Amerika sedang melakukan beberapa inovasi yang masih bersifat 
eksperimental agar perekonomian seluruh negara bisa bersifat lebih adil dan 
demokratis, yakni mencapai kesejahteraan yang berkesinambungan (sustainable 
prosperity) yang dinikmati oleh rakyat banyak bersama (shared
 prosperity).

Eksperimen ekonomi pertama: meloloskan undang-undang dimana dasar hukum 
perusahaan adalah bukan semata-mata mencari profit SAJA, tapi dengan 
memperhatikan tujuan publik/komunitas. 

Seperti pernah dibahas sebelumnya, perusahaan yang ingin memperbesar profitnya 
saja sering melakukan tingkah laku "eksternalitas biaya". Artinya sebisa 
mungkin sumber daya sekitar (yang umumnya dianggap
 bebas sebab adalah milik publik/komunitas) digunakan sebesar-besarnya (sebab 
bebas dan tanpa harga/biaya). Ini bisa berakibat "merugikan tujuan publik 
(common public purpose)", misalnya polusi berlebihan, mencemarkan sumber air, 
atau bahkan menyedot habis sumber air.

Contoh common public purpose nya adalah kebersihan dan kelestarian lingkungan 
hidup, upaya mencegah peningkatan kriminal di masyarakat, bakti sosial, dll. Di 
Indonesia banyak perusahaan dengan sendirinya masih bersifat 'membaur dengan 
masyarakat', tapi di Amerika yang kultur 'sue and countersue'/saling menjegal 
ke pengadilan sudah kelewat batas, perusahaan yang mengorganisir bakti sosial 
atau pendirian posko banjir atau mendirikan sekolah dan rumah sakit gratis 
malah bisa masuk bui gara-gara ada pemegang saham yang gak rela. Akibatnya 
perusahaan sudah berubah menjadi mahluk berdarah dingin, yang sering kali juga 
berakibat pada proses pemilihan manajer/dirikturnya. Banyak orang
 komplein manajer amerika katanya ganas gak peduli lingkungan/masyarakat dan 
cenderung
 bersifat psikopat (neken bawahan). 

JAdilah kemudian diusahakan membuat legislasi B, supaya perusahaan ini sadar 
mereka masih merupakan bagian dari masyarakat.

Pertanyaan diskusinya: Apakah perlu dibuatkan proporsi (dari keuntungan) yang 
boleh dikeluarkan untuk menunjang tujuan masyarakat ini? Apakah pengeluaran ini 
bagian dari BIAYA pokok/operasi, ataukah merupakan persentase dari KEUNTUNGAN? 
(cara pikir akuntan -pos biaya vs pos penarikan keuntungan). Artinya kalau 
tidak untung tidak usah memikirkan kesejahteraan rakyat sekitarnya?

Menurut saya sih kegiatan sosial ini seharusnya adalah bagian dari biaya yang 
akan mengurangi keuntungan, dan nantinya akan mengurangi pajak juga. Jadi biaya 
'sosial' ini sejajar dengan biaya bahan mentah, biaya tenaga kerja, dan biaya 
pemasaran. Jadi alih-alih merugikan masyarakat dengan tingkah laku 
eksternalitasnya, perusahaan dapat membantu masyarakat dan memperkokoh 
komunitas. Lalu kemudian
 masalahnya berlanjut pula, tindakan sosial apa yang termasuk memperkokoh 
komunitas? Apakah yang hanya menyalurkan derma ke satu religius saja, ataukah 
yang menyokong 'ke-olahragaan tertentu saja, atau ke orang-orang tertentu saja? 
Jadi ini bisa menjadi sumber masalah baru sebab bisa menjadi lubang untuk 
menggalakkan korupsi. Kalau insentif buat koperasi saja bisa dijadikan ajang 
korupsi, apalagi kegiatan-kegiatan semacam bakti sosial yang menyebar ke 
mana-mana. Mana tau di daerah ini memang benar ada klub sepak bola "the jangkrik

Tapi tentu saja ada orang yang mendebat bahwa semua kewajiban itu sudah 
dibebankan dengan membayar beban pajak. Dan pajak ini cuma dibebankan dari 
keuntungan.
 

Bagaimana menentukan besaran biaya 'sosial' ini yang masuk akal? Apakah 100 
ribu setahun masuk akal, ataukah 5% keuntungan masuk akal? Biaya ini tidak ada 
pasarnya dan tentu sulit untuk dicari harga wajarnya menurut hukum ekuilibrium 
supply dan demand. Seperti ada cuplikan dari penulis Oscar Wilde, "nowadays men 
knows the price of everything and the value of nothing" - sekarang ini segala 
macam barang ada harganya, tapi tidak ada yang tau nilai sebenarnya. Dimana 
menurut warren buffet, price is what you pay...  and value is what you get.

Bisa jadi perusahaan cuma mengeluarkan sedikit uang untuk penyemprotan nyamuk 
malaria di daerahnya, tapi benefit yang diperoleh masyarakat dan juga bagi 
perusahaan (VALUE) seringkali lebih besar dari biaya (PRICE) yang dibayar. 
Namun kasus sebaliknya tentu bisa saja terjadi...



--- On Thu, 22/7/10, sidqy suyitno  wrote:

From: sidqy suyitno 
Subject: [Keuangan] Washington Post: Making the economy more just
To: [email protected]
Received: Thursday, 22 July, 2010, 11:40 AM







 



  



  
  
  Wednesday,  July 21, 

2010http://www.washingtonpost.com/wp-dyn/content/article/2010/07/20/AR2010072002754.html

 

Making the economy more just 

By Katrina vanden Heuvel[1]

Congress has passed the Wall Street Reform and Consumer Protection Act, but the 

task of transforming our economy into one of shared and sustainable prosperity 

has only just begun. Structural