Assalamualaikum,
Para mualaf ini, ketika memutuskan masuk Islam mereka membutuhkan bimbingan 
dari sebuah komunitas muslim. Umumnya mereka akan cepat terkesan dg Islam yang 
diamalkan mirip-mirip amalan Rasulullah dulu baik dari segi penampilan dhohir 
maupun kekhusukan batin. Nah komunitas jamaah tabligh karena bergerak dari satu 
tempat ke tempat lain sering kali menemukan para mualaf di berbagai tempat baik 
di jalan, di pasar atau di datangi ke rumah-rumah mereka. Kemudian mengajaknya 
ke masjid dan bergabung untuk belajar agama sesuai waktu yang bisa mereka 
alokasikan.

Wassalam,
Abu Izza


Liano Regar (Muhammad Ismail) : Tertarik Terjemahan Azan  
  
  
  
  
 
 
Nama saya Liano Regar. Liano adalah nama baptis
saya, sedangkan Regar adalah nama fam atau marga kami yang berasal dari
Manado. Saya lahir pada 9 juli 1973. Saya anak kedelapan dari 11
bersaudara. Dari daerah asal saya saja, sudah dapat diduga apa agama
saya.
Saya dibesarkan di lingkungan agama Kristen Protestan. Kerabat saya
dari pihak ibu banyak yang menjadi pendeta. Dari merekalah saya
mengenal ajaran Kristen Protestan. Mereka mendidik saya dan kakak-kakak
saya agar kelak menjadi penganut agama yang taat. Rumah kami persis di
depan gereja. jadi, secara tak langsung menjadi tempat pendidikan saya.

Harapan orang tua kepada saya sempat pupus, ketika saya terjerumus
menjadi pelaku tindak kriminal di lingkungan kami tinggal. Saya lebih
dikenal sebagai pemabuk dan pengguna obat-obatan terlarang (narkoba).
Di lingkungan kompleks, saya sempat dijuluki sampah masyarakat, karena
ulah saya yang sangat meresahkan warga. Oleh pihak Koramil, saya sudah
dianggap musuh utama.

Orang tua saya, tentu sangat kecewa
dengan ulah saya itu. Mereka menyarankan agar saya menghentikan
perbuatan-perbuatan negatif itu. Bahkan, mereka menawarkan saya untuk
menjadi pengurus dan aktivis gereja, dengan harapan agar saya sadar dan
dapat mengubah sikap. Tawaran itu saga turuti. Singkat cerita, resmilah
saya menjadi pengurus dan aktivis gereja. Di sanalah saya dapat kembali
berinteraksi dengan para jemaat dan pendeta. Mereka sangat senang
dengan perubahan saya itu dan berharap agar saya kernbali menjadi hamba
Tuhan yang taat.

Ingin Masuk Islam

Harapan orang tua saya kembali pupas untuk yang kedua kaliya, saat saya
menyatakan diri ingin masuk agama Islam. Harapan agar saya menjadi
penganut agama Kristen Protestan yang taat hanya tinggal harapan. Saya
sudah memutuskan untuk memeluk agama Islam.

Ceritanya begini.
Suatu ketika saya menonton televisi di sore hari. Kebetulan, saat itu
azan magrib tengah disiarkan. Secara sadar saya mendengar azan dan
memperhatikan terjemahannya. Mata saya segera menangkap terjemahan
kalimat azan yang berbunyi. "Tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad
adalah utusan Allah."

Saya tertegun dengan terjemahan
kalimat-kalimat azan itu. Sebab, dalam agama kami ada ajaran yang
menyatakan, "Tuhanku adalah Allah dan Nabi Isa sebagai nabi utusan
Allah.

Lalu, kalimat itu saya tuliskan besar-besar dalam buku
doa yang ada di gereja, dekat meja pendeta. Walaupun saya seorang
Kristen, saya secara tak radar mengakui Muhammad sebagai nabi utusan
Tuhan.

Setelah itu, saya juga bermimpi disunat (dikhitan).
Yang saya tahu sunat itu hanya ada dalam ajaran agama Islam. Untuk
meyakinkan itu, saya bertanya pada teman saya yang beragama Islam.
Mereka mengatakan bahwa sunat itu hanya dilakukan oleh orang Islam
Kepada mereka juga saya ceritakan mimpi saya itu. Mereka kaget, tapi
tak berkomentar apa-apa.

Kepada pendeta juga saya ceritakan
mimpi itu dan perihal penggantian kalimat terjemahan yang ada dalam
ajaran Kristen. Pendeta dan pengurus gereja marah-marah. Mereka tak
menerima mimpi dan terjemahanku itu.

Kejadian itu juga saya
ceritakan kepada ibu. Kepadanya, saya memohon agar saya diizinkan untuk
memeluk Islam. Mendengar cerita dan permohonan saya itu, ibu langsung
menangis. Berat rasa hati ibu memberikan izin. Sebab, saya adalah anak
yang diharapkan oleh ibu menjadi penganut agama Kristen yang taat. Ibu
sangat menaruh harapan kepada saya. Saya tahu ibu sudah kecewa dengan
masuk Islamnya beberapa kakak saya.

Karena ibu terus menangis,
akhirnya saya biarkan saja. Setelah tangis beliau reda, saya pancing
dengan pertanyaan, "Apakah ibu kecewa jika saya masuk agama Islam?"
Dengan berat hati ia menggelengkan kepala. "Terserah kamu. Jika itu
pilihan kamu yang terbaik. Tetapi, kamu harus menjadi lebih baik dari
yang sebelumnya," kata ibu.

Mendengar jawaban ibu seperti itu,
saya sangat gembira. lni berarti ibu memberikan izin kepada saya untuk
pindah agama dan berharap saya menjadi penganut agama Islam yang baik
dari agama yang sebelumnya. lbu juga berpesan, jika kelak saya
mengucapkan syahadat agar dilakukan di masjid di luar kompleks. Sebab,
takut ketahuan warga kompleks yang beragama Kristen, terutama yang
menjadi pengurus gereja.

Untuk pesan ibu yang terakhir ini,
saya sengaja abaikan. Sebab, saya ingin menjadi seorang muslim.
AAkhirnya, keinginan itu saya utarakan kepada teman-teman aktivis
Masjid Baitus Salam. Oleh mereka, saya disarankan untuk latihan
mengucapkan syahadat yang dlbimbing oleh Ustad KM. Hadi. Dalam proses
uji coba itu, saya lancar mengucapkannya. 

Dua hari kemudian,
bertepatan dengan Idul Adha tahun 1995, saya menyatakan diri menjadi
seorang muslim. Dengan disaksikan teman-teman aktivis masjid dan
dibimbing oleh Ustadz H.M. Hadi, saya mengucapkan ikrar dua kalimat
syahadat. Nama saya segera diganti menjadi Muhammad Ismail.

Perpindahan saya menjadi seorang muslim, menimbulkan kegegeran di
lingkungan gereja. Sebab, saya adalah pengurus dan aktivis gereja.
Mereka sangat marah dan kecewa dengan keputusan saya. Mereka
menyarankan agar ibu says mencarikan kontrakan bagiku. Tujuannya, agar
ibu tidak terpengaruh oleh saya.

Sikap mereka pada saya juga
sangat sinis dan curiga. Bahkan, mereka sengaja menjauhkan saya dari
pergaulan, terutama dengan anak-anak mereka. Tujuannya, agar anak-anak
mereka tidak dipengaruhi untuk masuk Islam. Saya hadapi sikap mereka
dengan tenang dan saya tidak menganggap mereka itu musuh, apalagi
mempengaruhi mereka masuk Islam.

Setelah beragama Islam, saya
ingin menjadi penganut yang balk. Saya belajar shalat dari orang-orang.
Saya belajar membaca surah al-Faatihah dari teman kerja, M. lkhsan
namanya. Teman-teman aktivis remaja masjid juga memberikan pelajaran
agama kepada saya. Ada satu hal yang menjadi pedoman saya dalam
beragama Islam, yaitu shalat tepat waktu. Saya tidak ingin
menunda-nunda shalat.

Karena tak ingin menunda shalat, saya
pernah beberapa kali keluar kerja. Masalahnya, pimpinan di tempat saya
bekerja selalu menghalang-halangi saga untuk melaksanakan shalatwajib.
Mereka selalumenunda-nunda waktu buat saya, padahal mereka juga
beragama Islam. Saya heran dan kecewa. Namun pada prinsipnya, saya
tidak ingin menunda shalat. 

Untuk memantapkan rasa keimanan,
saya kini aktif menjadi jamaah pada pengajian Jamaah Tabligh Kebun
jeruk. Dari pengajian ini, saya banyak mendapat bimbingan keagamaan.
Saya ingin agar pesan ibu untuk menjadi penganut Islam yang taat
menjadi kenyataan (Maulana/Albaz - dari Buku "Saya memilih Islam"
Penyusun Abdul Baqir Zein, Penerbit Gema Insani Press website : 
http://www.gemainsani.co.id/) oleh Mualaf Online Center http://www.mualaf.com 



      

Kirim email ke