Note: forwarded message attached.
__________________________________
Do you Yahoo!?
Yahoo! Mail - Helps protect you from nasty viruses.
http://promotions.yahoo.com/new_mail
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/Soe_Hok_Gie/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--- Begin Message ---
Gie, Keindahan Idealisme
Dalam sejarah Indonesia yang isinya penuh pekik dan suasana menggemuruh, akhirnya muncul film yang liris, bersuasana kontemplatif. Film ini perlu ditonton bukan hanya oleh kalangan remaja dan muda, tetapi juga kaum tua, supaya insaf.
Suara pidato Presiden Soekarno menyela di antara layar gelap, untuk selanjutnya, di zaman yang melulu tampak buram dan gelap itu hanya pidato dialah yang tampaknya punya semangat hidup. Semangat hidup? Bahkan ironi sudah muncul dari permulaan film. Pidato dan kebesaran Soekarno adalah pupur yang norak di tengah rakyat miskin antre minyak.
Sutradara Riri Riza-tak kalah dari Bernardo Bertolucci- berhasil mendesahkan suasana dan semangat zaman di tahun 1960-an, lewat filmnya yang cukup panjang, 147 menit, Gie. Inilah lagi-lagi kerja samanya dengan produser Mira Lesmana, yang memberikan harapan bukan terbatas pada perkembangan film Indonesia saja, tetapi juga sebuah generasi yang lebih sehat pikirannya.
Gie diangkat dari catatan harian Soe Hok Gie, mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia yang lebih dikenal sebagai demonstran dan pencinta alam. Jejak lain dari Soe Hok Gie yang penting adalah tulisan-tulisannya yang tajam di koran pada awal rezim Orde Baru, sebelum yang bersangkutan mati muda-pada usia 26 tahun-dalam pendakian Gunung Semeru, 16 Desember 1969.
Sunyi dan soliter
Dari catatan harian seorang anak muda yang nadanya lirih, sikapnya nihilis, janji dramatik apa yang bisa disajikan di film? Dengan cerdas Riri menghadirkan kesunyian anak muda itu di tengah kemelut zaman, dan dalam gejolak sejarah ini, kebersahajaan lakon hidup sehari-hari menjadi dramatik.
Soe Hok Gie, anak muda dari keluarga sederhana di Kebon Jeruk, Jakarta, terpengaruh oleh bacaan-bacaan "berat" dari Tolstoy, Camus, sampai Marx, dan Engels, menggugat ketidakadilan di sekelilingnya sejak masih usia sekolah menengah. Dari bacaannya, tampaknya dia menjadi sangat dekat dengan gagasan-gagasan eksistensialis dan kemudian sikap dasarnya sendiri, yang cenderung humanis.
Ketika di tahun 1960-an segregasi di kalangan rakyat Indonesia menajam, semua lapisan dari buruh tani sampai mahasiswa terkotak-kotak dalam aliran ideologi tertentu, Soe menempuh jalannya sendiri. Gugatan atau bahkan perlawanannya terhadap kepincangan politik kian runcing, tapi diungkapkan dalam gaya khas romantisme kalangan eksistensialis: sunyi dan soliter. "Kamu ini kanan atau kiri?" hardik temannya sesama mahasiswa gemas, terhadap posisi ideologis Soe.
Ketika seluruh mahasiswa bersuara kencang di bawah organisasinya masing-masing yang telah menjadi onderbouw partai-partai besar, Soe asyik sendiri dengan memutar film-film art di kampus. Selain itu kegiatan yang membuat Soe Hok Gie selalu dikenang dengan perasaan romantik oleh orang-orang yang pernah mengenalnya, yakni pendakian gunung, yang seindah puisi Elegi Mandalawangi.
Beberapa keraguan
Riri Reza berhasil menghadirkan seluruh risalah itu nyaris tanpa cacat. Detail dia olah dengan teliti, sampai simbolik pluralisme bahwa anjing dan kucing piaraan keluarga Soe pun tidak pernah berantem. Itu semua didukung penata artistik Iri Supit, yang melakukan pekerjaan luar biasa. Dia bukan hanya merekonstruksi fisik sebuah zaman, melainkan sampai ke bau dan semangatnya. Ini masih dipermanis oleh penataan musik oleh Thoersi Argeswara, yang mengantar suasana liris gejolak jiwa Gie, pejuang yang berjalan sendirian.
Ada beberapa keraguan, yang tampaknya harus dimaklumi. Misalnya, suasana penggambaran kebesaran Partai Komunis Indonesia alias PKI di masa itu. Pembuat film ini kelihatannya masih berhitung-hitung dengan sikap penguasa-yang sampai kini pun memang masih banyak yang ketakutan terhadap PKI (dalam compact disc berisi soundtrack film, tidak disertakan lagu Genjer-Genjer. Takut lagu itu menduduki anak tangga?).
Tantangan seni peran paling besar tentu dihadapi oleh Nicholas Saputra yang berperan sebagai Gie. Bagaimana dia harus menghidupkan gejolak jiwa dalam diri seseorang, yang pekerjaannya hanya membaca, menulis, memutar film, serta mendaki gunung? Dalam hal ini, dia beruntung didukung lawan main yang bermain prima, yakni Lukman Sardi (sebagai Herman Lantang), Wulan Guritno (Sinta), dan Sita Nursanti (Ira).
Film ini perlu ditonton bukan hanya oleh kalangan remaja dan muda, tetapi juga oleh para pejabat dan penguasa. Agar para bapak tahu bahwa politik bukan hanya proyek, melainkan juga idealisme. Bahwa keindahan hidup bukan hanya berasal dari uang, tapi juga dari puncak Gunung Gede, Pangrango, serta Semeru.
www.kompas.co.id
[Non-text portions of this message have been removed]
www.mapalaui.info
<*> Attachment tidak diperbolehkan tanpa seijin moderator.
---- LSpots keywords ?>
---- HM ADS ?>
--- End Message ---