Menjadi Generasi Gemilang e
STUDIA Edisi 340/Tahun ke-8 (7 Mei 2007)
http://dudung.net
http://gaulislam.com
Kamu pernah dengar nama-nama beken dan keren kayak Imam Syafi’i, Ibnu Abbas,
Umar bin Abdul Aziz, Ali bin Abi Thalib; Sufyan ats-Tsauriy; Ibnu Qayyim
al-Jauziyah, Ibnu Sina, al-Khawarizmi dan ratusan bahkan ribuan nama-nama
generasi emas yang dilahirkan Islam? Atau jangan-jangan nama-nama ini kalah
sama idola kamu saat ini: Pasha, Bams, Tompi, Luna Maya, Titi Kamal, dan
Omaswati? Hehehe.. maaf-maaf aja, kalo kamu lebih kenal deretan nama yang
kedua, berarti sungguh sangat memprihatinkan. Why?
Yup, sebab deretan nama-nama yang disebut pertama adalah nama-nama ulama dan
ilmuwan Islam dari generasi sahabat, tabiin, tabiut tabiin, dan salafus shalih
Sementara nama-nama di deretan kedua adalah seleb di dunia hiburan saat ini.
Jelas beda dong kelas dan kualitasnya.
Oke. Back to laptop, eh, back to tema. Iya, seenggaknya kita bisa merenung
dengan deretan nama ulama dan ilmuwan Islam tersebut. Betapa hebatnya Islam
memoles manusia biasa menjadi yang luar biasa. Manusia yang sederhana menjadi
manusia istimewa. Oya tentu, di atas nama-nama itu, Muhammad Rasulullah saw.
adalah orang yang paling keren dan beken dalam sejarah panjang peradaban Islam
dan peradaban manusia.
Sobat, kamu pasti pada penasaran dong kenapa mereka bisa sampe “dahsyat” dan
“luar biasa”, iya kan? Hmm.. mari kita temukan jawabannya dalam tulisan ini.
Kita akan eksplor beberapa nama yang bisa mewakili betapa hebatnya Islam dalam
mendidik dan mengarahkan manusia menjadi lebih mulia. Nggak kayak sekarang,
dalam kehidupan masyarakat yang dinaungi kapitalisme-sekularisme, tumbuh banyak
generasi ‘sampah’ ketimbang generasi emasnya. Menyedihkan banget!
Oya, itung-itung ‘memperingati’ Hardiknas yang jatuh pada 2 Mei (nah, pas
tulisan ini dibuat memang tepat tanggal 2 Mei 2007), maka STUDIA juga bahas
tentang pendidikan. Tapi, STUDIA ingin fokus bahas tentang generasi gemilang
yang berhasil dihasilkan peradaban Islam. Generasi yang dididik oleh keluarga
yang hebat, dididik oleh masyarakat yang peduli, dan dibina negara yang
bertanggung jawab. Sebab, jujur aja bahwa keluarga dan masyarakat yang hebat
seperti ketika Islam digdaya itu adalah hasil dari pemerintahan yang menerapkan
Islam sebagai ideologi negara. Sudah terbukti kok. Sumpah!
Lahir dari keluarga hebat
Ibnu Qayyim al-Jauziyah pernah menyampaikan bahwa, “Bila terlihat kerusakan
pada diri anak-anak, mayoritas penyebabnya adalah bersumber dari orangtuanya.”
Nah, lho. Benar firman Allah Swt. yang tercantum dalam al-Quran agar kita
waspada dengan anak-keturunan kita dan diwajibkan untuk menjaga diri kita dan
diri mereka dari siksa api neraka:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api
neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (QS at-Tahrim [66]: 6)
Sabda Rasul saw.: “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua
orangtuanyalah yang menjadikannya nasrani, yahudi atau majusi. (HR Bukhari)
Bro, untuk bisa dapetin keluarga yang hebat dalam mendidik anak, hebat dalam
kualitas keimanannya kepada Allah Swt., tentunya kita sendiri wajib menjadi
baik berdasarkan tuntutan dan tuntunan ajaran Islam yang benar pula. Kita dan
calon pasangan hidup kita kudu baik dua-duanya. Sebab, tentu bagai pungguk
merindukan bulan berharap dapet keturunan yang berkualitas tapi kita sendiri
sebagai ayahnya atau ibunya nggak taat total sama Allah Swt. dan RasulNya. Iya
nggak sih? So, mari kita menjadi baik dan mencari pasangan yang baik pula suatu
saat nanti.
Ini mutlak dipenuhi. Sebab, hanya dari keluarga hebat yang menanamkan
nilai-nilai Islam kepada anak-anaknya yang akan melahirkan generasi gemilang
super keren. Kamu pernah tahu Zubair bin Awam? Ia adalah salah seorang dari
pasukan berkudanya Rasulullah saw. yang dinyatakan oleh Umar ibnul Khaththab,
“Satu orang Zubair menandingi seribu orang laki-laki.” Ia seorang pemuda yang
kokoh akidahnya, terpuji akhlaknya, tumbuh di bawah binaan ibunya, Shafiyah
binti Abdul Muthalib, yakni bibinya Rasulullah atau saudara perempuannya Hamzah
ra (pamannya Nabi). Wuih, pantes aja keren!
Ali bin Abi Thalib juga nggak kalah keren. Sejak kecil hidup bersama
Rasulullah saw. (bahkan masuk Islam pada usia 8 tahun), beliau adalah pemuda
teladan bagi pemuda seusianya. Beliau dibina langsung oleh ibunya, yakni
Fathimah binti Asad dan yang menjadi mertuanya, Khadijah binti Khuwailid ra.
Waduh, jaminan mutu dah!
Begitu pula dengan Abdullah bin Ja’far, seorang bangsawan yang terkenal
kebaikannya. Beliau dididik langsung oleh ibunya yang bernama Asma binti Umais.
Sobat, tiga nama ini tentu menjadi bukti bahwa bakalan lahir generasi hebat
dan gemilang jika keluarganya juga hebat. Tentu keluarga seperti ini pasti udah
menyiapkan generasi penerusnya agar lebih baik dari mereka. Nggak main-main,
gitu lho.
Kalo kamu belum puas dengan tiga nama tadi, Islam masih memiliki Umar ibnu
Abdul Aziz. Beliau pernah menangis sedih ketika usianya masih sangat kecil.
Ibunya bertanya kenapa Umar menangis? Beliau menjawab, “Aku ingat mati, Bu!”
Saat itu, beliau sudah hapal al-Quran. Mendengar jawaban sang buah hati, ibunya
pun menangis terharu. Duh, pantes aja udah dewasanya beliau menjadi Khalifah
(kepala negara pemerintahan Islam). Subhanallah!
Boys, berkat didikan dan pembinaan ibunya yang shalihah, Sufyan ats-Tsauriy
tumbuh menjadi ulama besar dalam bidang hadist. Saat ia masih kecil ibunya
berkata padanya, “Carilah ilmu, aku akan memenuhi kebutuhanmu dengan hasil
tenunanku.” Wuih, berbahagialah memiliki ibu yang bisa memotivasi kita untuk
menjadi lebih baik. Benar-benar udah disiapkan dengan matang. Semoga kita juga
bisa seperti beliau-beliau ya. Amin. Sekarang belum terlambat kok untuk
berbenah. Insya Allah.
Girl, sosok ayah juga kerap mampu memberikan warna bagi anak-anaknya. Kalo
baik dalam mendidik anaknya, insya Allah akan melahirkan generasi yang super
keren. Salah satunya adalah ulama penulis tafsir Fizilalil Quran, yakni Syaikh
Sayyid Quthb. Beliau menyampaikan testimoni untuk ayahnya, “Semasa kecilku,
ayah tanamkan ketakwaan kepada Allah Swt. dan rasa takut akan hari akhirat.
Engkau tak pernah memarahiku, namun kehidupan sehari-harimu telah menjadi
teladanku, bagaimana prilaku orang yang ingat akan hari akhir.” (Majalah
al-Muslimun No. 298, Januari 1995)
Duh, keluarga yang hebat. Maka, wajar pasti akan lahir generasi gemilang
hasil pendidikan keluarga yang keren seperti itu. Pantas saja Imam Syafi’i udah
bisa hapal al-Quran seluruhnya pada usia 7 tahun dan menjadi qadhi (hakim) pada
usia 17 tahun. Luar biasa dan super genius!
Di bawah lindungan negara
Sobat, generasi gemilang Islam juga bisa kian mengkilap setelah ‘diproduksi’
oleh pemerintahan yang menerapkan Islam sebagai ideologi negara. Untuk
mencerdaskan kaum Muslimin dan rakyatnya secara umum, Khilafah Islamiyah
menyediakan lembaga-lembanga keilmuan. Islam membangun ribuan al-Katatib, yakni
wadah keilmuan untuk mempelajari al-Quran, menulis dan berhitung. Dibudayakan
juga diskusi-diskusi keilmuan di masjid-masjid untuk melayani
pertanyaan-pertanyaan dari masyarakat soal fikih, hadis, tafsir dan bahasa.
Bahkan Muqri Rasy’an bin Nazhif ad-Dimasyqi mendirikan lembaga keilmuan Quran
(untuk mempelajari al-Quran) pada tahun 400 H di Damaskus. Sementara khusus
untuk hadis, didirikan oleh Nuruddin Mahmud bin Zanky, juga di Damaskus. Selain
itu, madrasah (sekolah) dan Jami’ah (universitas) juga didirikan.
Al-Hakam bin Abdurrahman an-Nashir telah mendirikan Universitas Cordova yang
saat itu menampung (mahasiswa) dari kaum muslimin maupun orang Barat. Selain
itu dibangun pula Universitas Mustanshirriyah di Baghdad. Sekadar tahu aja,
universitas-universitas ini telah mencetak para ilmuwan yang pengaruhnya
mendunia hingga saat ini melalui berbagai temuan-temuannya, seperti
al-Khawarizmi, Ibnu al-Haisam, Ibnu Sina, Jabir bin Hayan, dan lainnya
(Muhammad Husein Abdullah, Studi Dasar-dasar Pemikiran Islam, hlm. 158-159)
Hasil pendidikan dan penyediaan fasilitas yang bagus ini paling nggak dalam
sejarah tercatat beberapa perkembangan ilmu pengetahuan dan penemuan oleh
ilmuwan-ilmuwan Muslim. Beberapa di antaranya: bidang kedokteran (kaum muslimin
berhasil mengembangkan teknik pembiusan untuk pertama kalinya dalam sejarah
kedokteran dunia, dikembangkan juga teknik operasi, pendirian rumah sakit dan
obat-obatan).
Dalam ilmu kimia (di sini kaum muslimin mengenalkan istilah alkali, menemukan
amonia, teknik destilasi atau penyulingan, penyaringan, dan sublimasi,
memperkenalkan belerang dan asam nitrit, mempopulerkan industri kaca dan
kertas, serta penemuan lainnya). Dalam ilmu tumbuh-tumbuhan (melakukan
penelitian terhadap tumbuh-tumbuhan yang bisa digunakan untuk pengobatan,
bahkan mengklasifikasikan berbagai jenis tumbuhan).
Terus, dalam ilmu pengetahuan alam (penemuan neraca, penemuan pendulum untuk
jam dinding, ilmu optik, dan telah mampu merumuskan perbedaan antara kecepatan
cahaya dan kecepatan suara, termasuk kaum muslimin berhasil menemukan teknologi
kompas magnetis untuk mengetahui arah mata angin); matematika (berhasil
dikembangkan perhitungan desimal dan kwadrat, juga menciptakan berbagai rumus)
(O. Solihin, Yes! I am MUSLIM, hlm. 315-316)
Bro, kalo mo ditulis semua kayaknya nggak bakalan cukup cuma di satu edisi
buletin kesayangan kamu ini. Mungkin perlu beberapa edisi. Tapi yang pasti,
kita pun bisa menjadi generasi gemilang seperti pendahulu kita tersebut. Insya
Allah bisa dengan mencontoh model pendidikan yang dikembangkan Islam.
Ya, sebab tujuan pendidikan dalam Islam adalah (1) membentuk manusia agar
memiliki kepribadian Islam, (2) mengarahkan peserta didik agar bisa menguasai
tsaqafah Islam, (3) menciptakan manusia yang ngerti soal iptek, dan (4) Islam
mendidik manusia agar memiliki keterampilan yang memadai untuk pelengkap dalam
kehidupannya.
So, tentunya dibutuhkan jaringan dan kerjasama pembinaan yang mantap antara
keluarga, sekolah, masyarakat, dan juga negara. Semua komponen wajib serius dan
penuh perhatian untuk menghasilkan generasi gemilang. Jangan sampe beda arah
dan salah mendidik, sehingga ketika di rumah udah oke, eh, di sekolah nggak
benar (atau sebaliknya) karena beda cara dan kebijakan. Nggak banget!
Yuk, kalo emang benar meneladani Rasulullah saw., maka kita teladani juga
cara beliau dalam mendidik manusia dengan Islam. [solihin:
www.osolihin.wordpress.com]
[Non-text portions of this message have been removed]