:: air mata di taman baca :: Mar 27, '06 9:29 PM
for everyone
Seindah apapun perpisahan dipersiapkan, dia tetap akan menyisakan
kesedihan yang mendalam, tak terkecuali untuk anak-anak. Sebuah masa dimana
mereka baru mengenal arti sebuah persahabatan. Sahabat yang menjadi teman
bermain, belajar, dan tak jarang teman bertengkar, tiba-tiba harus pergi dan
terpisah dalam jarak ratusan kilometer. Sesuatu yang tak pernah terbayangkan
sebelumnya. Berjumpa dan kemudian berpisah, adalah bagian dari hidup manusia.
Dan hari ini, di Melati Taman Baca mereka belajar melepaskan kepergian seorang
sahabat.....
Minggu (26/3), matahari begitu terik, panasnya terasa sampai ke dalam ruang
belajar Melati Taman Baca (MTB) di daerah Ampera, Jakarta Selatan. Kipas angin
yang sejak tadi dinyalakan tak sanggup menghalau panas dalam ruangan, jendela
pun dibuka lebar-lebar sekedar untuk mengurangi udara yang semakin panas.
Pukul 16.00 BBWI, Kak, taman bacanya buka ya? tanya Ardi, Vie cuma
mengangguk mengiyakan, tanda MTB memang akan dibuka. Ardi pun lari memanggil
teman-temannya yang lain. Melati Taman Baca dibuka sedikit terlambat sore ini,
ada pernikahan Meity dan Manggi, relawan yang menemukan cintanya di KKS Melati.
Sebuah pesta kecil tergelar di sebuah wisma yang masih terletak di dalam
kawasan kampus Universitas Indonesia, Jakarta. Ardi masih terdengar
berteriak-teriak diluar sana, memanggil teman-temannya yang lain untuk datang
ke taman baca. "Woi.... taman bacanya dah dibuka woiiiii!!!!"...
Sejak Olimpiade Taman Baca tiga minggu lalu, Melati Taman Baca sedikit
melonggarkan kegiatan anak-anak. Mereka bebas untuk melakukan kegiatan apa saja
yang mereka sukai, ada yang bermain operet pertunjukan, belajar meditasi ala
Dyah, membaca buku, bermain lego atau mewarnai gambar. Semua tertawa dan
bergembira, namun Vera terlihat cemberut dan jelas sekali dia sedang sedih,
beberapa kali dia berkata, Kak, ini terakhir Vera ke KKS Melati
. Sebuah
mimik yang sangat Vie kenal, mimik Vera jika ada sesuatu yang tidak sesuai
dengan kehendaknya. Vie cuma bisa mengelus rambutnya
mengajaknya bermain
bersama teman-temannya yang lain.
..
Kak, Vera mau pindah ke kampung kak kata Ajeng kemarin sore, ketika Vie
bersiap-siap membuka pintu Melati Taman Baca.
Kenapa? Tanya Vie,
Papa Vera kan sakit kak kata Cindy,
Sakit tumor ganas kak kata Dwi,
Tadinya sakit amandel kata Ajeng lagi,
Iya kak, sekarang jadi tumor, sebesar buah jambu klutuk kak kata Vera
melanjutkan.
Berarti sekarang papa Vera ga bisa kerja dong? Tanya Vie lagi.
Iya kak, karena sakit, papa ga bisa kerja, dan ga bisa bayar kontrakan,
makanya kami sekeluarga mau pindah ke kampung, nanti kalo papa sembuh, kata
mama, Vera bisa balik lagi ke Jakarta Vera menjelaskan.
Kapan pindahnya Tanya Vie lagi.
Kata Mama, Minggu depan kak kata Vera lagi.
..
Percakapan sore itu memang tidak panjang, apalagi setelah Vie perlihatkan
mainan-mainan baru pemberian Mbak Vivi. Mbak Vivi kerap memberikan mainan bekas
anaknya ke Melati Taman Baca. Hari itu, dia memberikan magic jar kecil, kulkas,
teko kecil, dan banyak lagi lainnya. Semua terlihat surprise saat melihat
mainan-mainan itu, mainan yang mungkin tak pernah mereka bayangkan bisa mereka
mainkan. Vie cuma tersenyum melihat tingkah mereka, namun demikian percakapan
pendek tentang Vera yang akan pindah membuat Vie bersedih. Mungkin ini memang
jalan yang terbaik yang harus diambil oleh orang tua Vera. Kata Vie dalam hati
sekedar menghibur diri.
Wanti dan Dwi memberitahukan bahwa Vera akan pergi hari Kamis mendatang.
Persiapan untuk membuat acara perpisahanpun dirancang mendadak. Kenang-kenangan
untuk Vera dan Nova pun di persiapkan. Puisi untuk Vera telah dibuat oleh Dwi
dan Wanti. Nova adalah adik Vera, sejak usia 3 tahun dia selalu datang bersama
Vera ke MTB. Nova adalah adik kecil di taman baca, semua menyayanginya,
menganggapnya sebagai adik kecil mereka sendiri. Tak jarang, mereka menjaga
Nova jika Vera tidak bisa datang ke taman baca. Nova suka sekali bernyanyi,
walau kadang ucapannya masih belum jelas, semua lagu-lagu yang diajarkan dia
hapal luar kepala. Vie pun kadang harus sedikit memutar otak ketika berbicara
dengannya, kadang suara yang terdengar cuma tat ti tita ttiti tatu
.. bahasa
khasnya balita.
Minggu sore itu, semua masih terlihat seperti biasa. Anak-anak MTB sedang
bermain AFI-AFIan, sebuah kontes menyanyi ala Indosiar, ketika Vie terpaksa
menyudahi permainan itu sudah waktunya untuk memberikan kenang-kenangan buat
Vera dan Nova. Diawali dengan salam pembuka seperti biasa, foto-foto bersama
dan Selanjutnya seperti biasa, Ajeng menunjuk diri untuk membaca puisi,
dilanjutkan dengan anak-anak lainnya.Vera masih terlihat diam duduk dideretan
paling belakang, tidak seperti Nova yang masih cerewet dengan bahasa balitanya
sambil berjalan hilir mudik, dia mungkin belum menyadari apa yang terjadi.
Vie kemudian memanggil Vera dan Nova untuk maju ke depan. Kami pun berbagi
cerita bersama, saat-saat ketika kami semua mengawali taman baca ini. Ada
cerita kala Ramadhan berbuka puasa bersama, belajar menggambar dengan kak
Prima, bernyanyi, pergi ke toko buku dengan kak Rini hingga jalan-jalan ke
World Book Day di diknas dan OTBA di menpora. Ada ucapan-ucapan manis untuk
Vera dan Nova dari teman-temannya di Melati Taman Baca,
Jangan lupakan kami dan kakak-kakak di kks melati ya Ver?" Kata Nia
Semoga papa Vera cepat sembuh ya kata Ajeng
Maapin kalo kak Vita punya salah ya Ver kata Vita
Semoga Vera sekeluarga selalu baik-baik saja kata Tomo, yang baru hadir
kembali di MTB, setelah lama menghilang. Sebuah puisi indah pun dibuat Dwi dan
Wanti untuk Vera,
Teman Sejati
Vera, kamu adalah teman sejati bagiku
Ketika kau tiada hatiku amat sedih
Vera, kalau kau pergi jangan lupakan aku dan teman-teman
Vera, Apakah kau akan kembali lagi ?
Kalau kita berpisah, aku akan selalu ingat padamu teman.
Vera, pertama kali kita bertemu aku amat senang.
Tetapi saat kita berpisah hatiku amat sedih
Jangan pernah melupakan aku dan teman-teman
Dan jangan pernah lupa pada guru dan kakak-kakak di KKS Melati
Kamu adalah sahabat yang baik
Kebaikanmu akan selalu kukenang untuk selamanya
Vera, yang amat lucu dan baik
Sampai jumpa!
Jakarta, 26 Maret 2006
Hampir semua mengucapkan hal yang sama, dan berharap agar papa Vera cepat
sembuh dan bisa bersama-sama lagi bermain juga belajar di Melati Taman Baca.
Tiba-tiba Pandu berteriak, Kak eVIe, kak fifi nangis kak dan disusul oleh
beberapa anak lain. Dan tanpa bisa dikendalikan semua pun menangis memeluk Vera
dengan erat. Vera pun menangis, kesedihan yang sejak tadi dia pendam dengan
memasang muka cemberut itupun akhirnya luluh, bulir-bulir air mata membasahi
pipi Vera. Vie, Rini dan Arie berusaha menghibur semua, tak ada lagi yang bisa
bernyanyi, semua menangis, seorang sahabat akan pergi dan hari ini mereka
melepaskannya. Beberapa orang tua yang mendengar sempat bertanya-tanya apa yang
terjadi, setelah dijelaskan mereka pun memaklumi dan bahkan raut mereka pun
juga ikut bersedih. Dan rangkulan itupun semakin erat, tak ada yang mau pulang
padahal matahari sudah lama tenggelam. Bahkan Pandu, si bocah flamboyan itu pun
ikut menangis, beberapa kali ia menghibur Vera. Kak Vera
sudah kak jangan nangis lagi ya
. Akhirnya kami putuskan untuk bersama-sama
mengantar Vera kerumahnya.
Setelah semuanya pulang, Vie, Rini dan Arie kembali berkunjung ke rumah Vera.
Ibu Aminah (29 tahun), mama Vera sambil menggendong Agit (5 bulan) adik Nova,
menerima kami dengan ramah. Papa Vera duduk di luar rumah, badannya terlihat
kurus, kepalanya miring ke kanan, mungkin karena beratnya tumor ganas yang
terlihat jelas menggantung di leher atas sebelah kanan.
Bapak Agus Salim, papa Vera (32 tahun), sebelum sakit adalah seorang supir
mobil rental di daerah Kemang. Menurut cerita mama Vera, semua berawal dari
sakit amandel yang dirasakan suaminya sekitar 6 bulan lalu. Karena keterbatasan
biaya, pak Agus meminta seorang tabib untuk mengobati amandelnya yang sakit.
Karena peralatan yang tidak steril dari sang tabib, bekas luka amandel itu
mengenai kelenjar getah bening di leher sebelah kanan atas dan mengakibatkan
tumor ganas seperti saat ini. Dalam waktu enam bulan tumor itu sudah sebesar
buah alpukat. Saat ini pak Agus mengalami kesulitan untuk makan, Oleh salah
seorang kerabatnya yang perawat, pak Agus pernah dipasangkan selang dimulutnya
untuk memudahkan penyaluran makanan namun terasa sangat menyakitkan dia memilih
untuk dilepas.
Ketika berbicara pun, pak Agus mengalami kesulitan, suaranya sudah sangat
tidak jelas, lebih seperti orang bergumam dan air liur pun menetes deras dari
mulutnya, belum lagi tubuhnya yang terlihat kurus. Sungguh suatu penderitaan
yang amat sangat.
Saat ini pengobatan yang dilakukan hanyalah pengobatan alternative di daerah
puncak. Pengobatan medis rumah sakit pernah dilakukan di RSCM, dokter disana
menyarankan untuk dilakukan kemoterapi. Namun biaya kemoterapi sebesar Rp.
4.000.000,- untuk sekali kemoterapi adalah harga yang sangat mahal untuk
keluarga ini. Dan pengurusan kartu Gakin-pun memakan waktu yang lama karena
sudah tiga bulan ini tak kunjung ada kabar beritanya, mungkin karena
ketidaktahuan mereka, sedang desakan hidup untuk membiayai ketiga anak mereka
yang masih balita menjadi semakin sulit. Konon dengan kartu itupun hanya dapat
keringanan separuh dari biaya per kemoterapi, entah harus berapa kali
kemoterapi yang akan dijalani. Bisa dibayangkan besarnya jumlah biaya
pengobatan yang harus ditanggung keluarga ini.
Di ruang tengah keluarga yang merangkap ruang makan, kamar tidur dan kamar
tamu itu pun terlihat sangat sumpek, aura beban hidup yang berat terasa sekali
disana. Sementara pak Agus tidak bekerja, ibu Aminah berjualan kelontong di
ruang depan rumah mereka yang sempit, para pembelinya hanya keluarga-keluarga
di sekitar gang buntu itu, bisa dipastikan hasil penjualannya tak kan mencukupi
biaya hidup yang diperlukan. Nova sangat senang dengan kehadiran kami di
rumahnya malam itu, dia memperlihatkan sebuah album foto keluarga, sambil
sesekali memberitahukan siapa-siapa saja yang ada di foto itu dan tentu saja
dengan suara lucunya. Di album keluarga itu pula terlihat bahwa pak Agus
sebelumnya terlihat gagah dan tampan, jauh berbeda dengan orang yang Vie lihat
didepan rumah itu. Dan foto-foto itupun tampaknya belum terlalu lama, sekitar
1-2 tahun lalu.
Rumah kontrakan yang harus dibayar setiap bulan, susu untuk Agit, biaya
pengobatan pak Agus, dan berbagai pengeluaran lain yang semakin mahal, membuat
keluarga ini memutuskan untuk pulang ke kampung tinggal di rumah orangtua,
kakek nenek Vera dan Nova. Mereka akan tinggal di Indramayu, Jawa Barat. Ibu
Aminah masih belum tahu apa yang akan dikerjakan di kampung sana. Yang
terpenting saat ini adalah mengobati penyakit suaminya dan bertahan hidup demi
anak-anaknya.
Vera Apriani, tepat pada tanggal 7 April yang akan datang usianya genap 10
tahun, tapi beban hidupnya terasa berat untuk gadis sekecil itu. Inilah mengapa
dia sampai menangis dalam doanya ketika shalat di beskem Melati dulu, inilah
mengapa dia ingin menjadi juara menggambar di OTBA ketika Vie bacakan akan ada
hadiah uang untuk pemenangnya, isemua alasan yang tak pernah Vie tahu selama
ini. Vera adalah anak yang pintar, anak yang sangat berbakat, dia pandai
menggambar, bernyanyi, suka membaca, dia juga yang pusing ketika mendapat
kesempatan untuk membeli buku seharga Rp. 20.000,- di toko buku Gunung Agung,
dia yang sangat menyayangi Nova
. Dia yang walaupun memiliki postur tubuh yang
besar namun sangat penakut
dia yang terlihat manis dengan senyum simpulnya
.
dia yang membanggakan kami ketika memenangkan juara II menggambar di OTBA,
namun hanya bisa tersenyum pahit ketika tak ada hadiah uang untuk
dipersembahkan kepada papanya
.. Vera, semoga Tuhan memberikan banyak
kesabaran untukmu dan keluargamu, semoga papamu cepat sembuh, tetap menjadi
anak yang baik ya
kami semua menyayangimu, sampai jumpa sayang.[v]
Jakarta, 27 Maret 2006
Photo-photo : http://virgina.multiply.com/photos/album/15
Jika ada rekan relawan yang ingin membantu keluarga Vera,
Silahkan menghubungi :
Melati Taman Baca
Kelompok Kerja Sosial Melati
Jl. Ampera Raya II RT 005/09 No. 17A
Jakarta Selatan 12550
eVIe - 08161109737
E-mail : [EMAIL PROTECTED]
Terima kasih :
- Mbak Vivi, terima kasih untuk mainannya, yang mbak berikan telah
membuat malaikat-malaikat kecil itu menebarkan senyumannya di Melati Taman Baca.
- Rini, terima kasih untuk selalu mendampingi dan bersama
menyaksikan bagaimana belajar dari mereka.
- Arie, terima kasih untuk semua pengorbanan dari ujung Bekasi sana
hanya untuk datang dan bermain juga belajar bersama mereka.
- Prima dan Dyah, duo yang tidak ada tandingannya, hampir setiap
akhir pekan, ada saja yang bertanya Kak, kak Prima dan Kak Dyah datang ga?
mereka selalu merindukan kalian
percaya deh
- Coy, Thanks bro!!... terimakasih untuk selalu ada bila
diperlukan
.
- Ningsih, terima kasih untuk menjadi tim bebenah terbaik yang
pernah dimiliki beskem
. Datanglah kapan saja kamu mau
pintu beskem selalu
terbuka buatmu
untuk dibenahi tentu saja ;p
- Shanti, terima kasih untuk akhirnya datang dan berkunjung di
beskem melati, suatu hari nanti, akan datang saatnya kamu berjumpa dengan
relawan-relawan melati lainnya.
- Ika, terima kasih untuk sebuah niat tulus membantu di melati,
ketika tak ada siapapun, kamu datang disaat yang tepat, sepertinya Tuhan telah
mendatangkan satu bidadari lagi untuk membantu di Melati.
- Dan untuk semua relawan-relawan KKS Melati, terima kasih atas
dukungannya.
Tags: mtb
Prev: Cinta Sejati, Tidak Pernah Mati
http://asia.groups.yahoo.com/group/bintangpelajar/
Tiada hari tanpa belajar, tiada prestasi tanpa dikejar
---------------------------------
To help you stay safe and secure online, we've developed the all new Yahoo!
Security Centre.
[Non-text portions of this message have been removed]
****
HELP ME !
Gemuk ? Insomnia ? Phobia ? Psikosomatis ?
Relapse ? Trauma ? Takut ? Cemas ? Sedih ? Depresi ? Stress ?
Kurus ? Marah ? Kebiasaan Buruk ? Pengalaman Negatif ? Dll. ?
di SERVO aja...!
TESTIMONIAL
Dimuat di Majalah Good Housekeeping, September 2005, hal. 52.
Hadi (37 tahun)
....... Saya perfeksionis. Ketika Ada pekerjaan yang kurang sempurna hasilnya,
saya selalu merasa tidak tenang dan tegang. Saya akan menghabiskan hampir
seluruh waktu saya untuk menyempurnakan dan memikirkan pekerjaan tersebut.
...... hasil yang saya rasakan sekarang adalah perasaan lebih gembira. Saya
merasa lebih rileks menghadapi segala sesuatu yang terjadi, tidak ada lagi
beban yang berlebihan yang saya rasakan dan saya lebih mudah tersenyum.
Cinthya (23 tahun)
Saya menjalani Servo Therapy demi membenahi insomnia yang saya derita. Biasanya
saya tidak bisa tidur sebelum memasuki waktu subuh. Setelah diterapi, saya
mulai bisa tidur dengan teratur, sekitar jam 10 malam.
Terapi kedua dilakukan dua minggu kemudian. Kali ini untuk menyembuhkan fobia
darah. Biasanya, kalau melihat darah saya langsung tidak tahan dan merasa
pusing sekali.
Kini saya sudah menikmati hasilnya setelah diterapi, tidak lagi merasa takut
dan tidak pusing lagi saat melihat darah. ..............
Kristin (30 tahun)
Pada bulan April 2005 lalu, saya menjalani terapi dengan tujuan ingin
menurunkan berat badan. Sebelum di Servo, berat badan saya mencapai 71 kg. Saya
sebelumnya sudah mencoba beberapa cara, tapi tidak berhasil. Pernah juga
mencoba mengonsumsi obat untuk melangsingkan tubuh, kemudian berat badan saya
berhasil turun, namun kembali bertambah berat lagi setelah berhenti
mengonsumsinya. Akhirnya saya putuskan untuk mencoba metode ini. ..........
Sekarang, bobot tubuh saya sudah turun menjadi 66 kg. Saya tidak lagi merasa
tergoda untuk ngemil dan melahap gorengan.
SERVO CENTER - VISI GLOBAL INDONESIA
Pusat Pemrograman Diri dan Prestasi
021) 5574 5555, 554 6009, 554 5257
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/TaManBinTaNG/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/