Martabat sebagai Papua dan sebagai Indonesia
Oleh
Habel Rumbiak
Guru Besar filsafat Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Frans Magnis
Suseno mengatakan, Papua dapat terintegrasi sepenuhnya kalau martabat orang
Papua dihormati dan mereka dapat merasakannya. Persoalan mendasar berkaitan
dengan Papua adalah rakyatnya belum merasa sebagai warga negara Indonesia
sepenuhnya. Mereka merasa sebagai suatu bagian yang dieksploitasi (Kompas,
16/3).
Karena Papua bagian yang tak terpisahkan dari NKRI, pemerintah pun memberikan
perlakuan istimewa secara formal (bukan secara faktual) sebagai wilayah otonomi
khusus (otsus) melalui UU No 21/2001. Untuk melengkapi wilayah NKRI ini dengan
otsus-nya, dibentuklah Majelis Rakyat Papua (MRP) yang konon mewakili rakyat
Papua secara kultural. Dengan Inpres No 1/2003, Papua pun dimekarkan lagi
menjadi tiga provinsi. Alasannya, melaksanakan UU No 45/1999, sekaligus untuk
mempercepat kesejahteraan rakyat Papua.
Bila kami juga adalah anak kandung ibu Pertiwi NKRI, kenapa mesti
diberlakukan sebagai anak tiri dan sebagai warga kelas dua di negeri ini,
itulah dalil rakyat Papua. Rakyat Papua pun menyodorkan sejumlah bukti dan
fakta yang hampir-hampir tak dapat diruntuhkan Jakarta. Dan bahkan untuk
meruntuhkan dan membungkam suara-suara anak tiri rakyat Papua, kekerasan,
pembunuhan politik, pemenjaraan dan pembunuhan kilat terus terjadi di sana.
Ekploitasi sumber daya alam (SDA) Papua oleh Jakarta, seolah merupakan hal
utama dibanding kesejahteraan penduduk. Menurut rakyat Papua, pengelolaan SDA
Papua oleh Jakarta, ibarat pemerintah kolonial Belanda dan VOC-nya yang
menguras SDA Indonesia. Kini, berkembang asumsi Papua bukan wilayah NKRI,
melainkan wilayah pendudukan NKRI, karena bagi Jakarta bukan manusia Papuanya
yang penting, tapi sumber alamnya.
Sejumlah bukti dan fakta kini menjadi pegangan generasi muda Papua yang tidak
mengalami berbagai peristiwa yang telah menjadi catatan sejarah Papua dan RI.
Misalnya, hingga kini tidak ada satu catatan pun yang membuktikan generasi muda
Papua hadir pada acara sumpah pemuda yang fenomenal, yang diikrarkan pada tahun
1928.
Tidak Sah
Rakyat Papua pun tidak dilibatkan dalam proses persiapan dan pelaksanaan
Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera). Bahkan pelaksanaan Pepera itu sendiri yang
seharusnya menggunakan prinsip one man one vote secara sepihak diganti pihak
Jakarta dengan sistim perwakilan tanpa mendapatkan persetujuan rakyat Papua.
Otsus yang diberlakukan pun bukan kehendak rakyat Papua, tetapi lagi-lagi
tawaran dan ciptaan Jakarta untuk meredam perasaan bukan Indonesia menjadi
orang Indonesia dari rakyat Papua. Pemberlakuan Otsus melalui UU No 21/2001
ternyata dicederai dengan Inpres No 1/2003 tentang percepatan pemekaran Papua
yang tidak bersumber pada UU Otonomi Khusus. Pemekaran ini lagi-lagi
mengabaikan pendapat rakyat Papua.
Lalu lembaga kultural MRP yang merepresentasikan agama, perempuan dan adat
rakyat Papua serta merupakan lembaga utama yang dikehendaki UU Otsus, baru
terbentuk tahun 2004, setelah diperjuangkan rakyat Papua selama 3 tahun.
Pemerintah bilang Papua bagian integral Indonesia, tetapi PP tentang MRP saja
tidak diberikan pada waktunya, bahkan terkesan takut diberikan kepada warga
Papua yang adalah rakyatnya sendiri.
Keberpihakan bukan pada rakyat Papua sangat nyata juga pada kasus PT Freeport
Indonesia (PT FI). Papua (Irian Barat saat itu) waktu itu secara de facto,
maupun de jure belum merupakan wilayah NKRI (belum Pepera) tapi pemerintah
Jakarta melakukan negosiasi dan meneken kontrak karya dengan PT FI pada tahun
1967 untuk melakukan penambangan tembaga.
Lagi pula Soeharto yang menandatangai kontrak tersebut belum lagi jadi pejabat
presiden, baru pengemban TAP IX MPRS 1966 (Red SH). Kemudian, sekalipun Papua
telah menjadi bagian dari NKRI melalui Pepera tahun 1969, pemerintah tetap saja
tidak memandang keberadaan rakyat Papua ketika memperpanjang kontrak karya PT
FI untuk kedua kalinya pada tahun 1991.
Kalau selama 43 tahun perlakuan dan kebiasaan pemerintah yang tak sepenuhnya
berpihak pada rakyat Papua terus terjadi, apakah salah bila Ibu Pertiwi adalah
Ibu Tiri bagi rakyat Papua? Apakah salah jika rakyat Papua belum merasa
sebagai orang Indonesia? Apakah salah bila rakyat Papua merasa martabatnya
tidak dihormati?
Penulis adalah advokat dan Ketua LBH Damai Sejahtera Jakarta (tpn/opm)
---------------------------------
How low will we go? Check out Yahoo! Messengers low PC-to-Phone call rates.
[Non-text portions of this message have been removed]
****
HELP ME !
Gemuk ? Insomnia ? Phobia ? Psikosomatis ?
Relapse ? Trauma ? Takut ? Cemas ? Sedih ? Depresi ? Stress ?
Kurus ? Marah ? Kebiasaan Buruk ? Pengalaman Negatif ? Dll. ?
di SERVO aja...!
TESTIMONIAL
Dimuat di Majalah Good Housekeeping, September 2005, hal. 52.
Hadi (37 tahun)
....... Saya perfeksionis. Ketika Ada pekerjaan yang kurang sempurna hasilnya,
saya selalu merasa tidak tenang dan tegang. Saya akan menghabiskan hampir
seluruh waktu saya untuk menyempurnakan dan memikirkan pekerjaan tersebut.
...... hasil yang saya rasakan sekarang adalah perasaan lebih gembira. Saya
merasa lebih rileks menghadapi segala sesuatu yang terjadi, tidak ada lagi
beban yang berlebihan yang saya rasakan dan saya lebih mudah tersenyum.
Cinthya (23 tahun)
Saya menjalani Servo Therapy demi membenahi insomnia yang saya derita. Biasanya
saya tidak bisa tidur sebelum memasuki waktu subuh. Setelah diterapi, saya
mulai bisa tidur dengan teratur, sekitar jam 10 malam.
Terapi kedua dilakukan dua minggu kemudian. Kali ini untuk menyembuhkan fobia
darah. Biasanya, kalau melihat darah saya langsung tidak tahan dan merasa
pusing sekali.
Kini saya sudah menikmati hasilnya setelah diterapi, tidak lagi merasa takut
dan tidak pusing lagi saat melihat darah. ..............
Kristin (30 tahun)
Pada bulan April 2005 lalu, saya menjalani terapi dengan tujuan ingin
menurunkan berat badan. Sebelum di Servo, berat badan saya mencapai 71 kg. Saya
sebelumnya sudah mencoba beberapa cara, tapi tidak berhasil. Pernah juga
mencoba mengonsumsi obat untuk melangsingkan tubuh, kemudian berat badan saya
berhasil turun, namun kembali bertambah berat lagi setelah berhenti
mengonsumsinya. Akhirnya saya putuskan untuk mencoba metode ini. ..........
Sekarang, bobot tubuh saya sudah turun menjadi 66 kg. Saya tidak lagi merasa
tergoda untuk ngemil dan melahap gorengan.
SERVO CENTER - VISI GLOBAL INDONESIA
Pusat Pemrograman Diri dan Prestasi
021) 5574 5555, 554 6009, 554 5257
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/TaManBinTaNG/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/